
"Yola? Ngapain kamu disini?" Ternyata saudara yang di maksud oleh staf tadi adalah Yola.
"Tadi Yola habis ketemu teman, Jadi sekalian mampir. Mau nebeng kak Ray" Jawabnya .
"Ya sudah ayo!" Rayyan dan Yola berjalan menuju tempat parkir.
Yes! Akhirnya berhasil. Kak Shafa pasti bakalan panas. hi.hi.hi.
"Gimana kursusmu Yol?" Tanya Rayyan pada wanita yang sudah ia anggap sebagai adik.
"Lancar kak, sekarang sudah naik ke tingkat 2" Jawabnya.
"Syukurlah, yang penting ingat pesan kak Ray. Nanti kalau sudah di Kairo jaga diri baik-baik dan belajar sungguh-sungguh"
"Iya kak. Emh.. Kak, kak Shafa kok pakaiannya ga syari sih kak? Bukannya kakak dulu pernah bilang sama Yola, kalau wanita itu harus menutup aurat" Tanya Yola. Karena telah merasa dekat dengan Rayyan ia jadi tak sungkan menanyakan hal tersebut.
"Biarkan kak Shafa belajar pelan-pelan. Sampai tahap inipun sudah Alhamdulillah. Hal itu biar kakak yang urus. Tolong Yola jangan mengomentari penampilan kak Shafa secara langsung ya. Kakak takut nanti kak Shafa jadi salah paham sama Yola" Ujarnya mencoba memberikan pengertian pada Yola.
Hmm. aku jadi penasaran seperti apa kak Shafa sebenarnya.
"Iya kak. Oh ya kak, berhenti didepan sebentar ya" Pinta Yola. Rayyan pun menuruti. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga. Yola segera turun dan masuk kedalam toko.
Setelah membayar di kasir, Yola keluar dengan membawa sebuah bucket bunga mawar merah.
"Untuk apa beli bunga Yol?" Tanya Rayyan.
"Untuk mamah kak. Hari ini anniversary mamah dan almarhum papah" Ujar Yola yang nampak sedih. Ray merasa terenyuh melihat ekspresi sedih Yola.
"Yola ga mau beli yang lain lagi? Biar kak Ray traktir" Ray mencoba untuk menyenangkan Yola.
"Gimana kalau cheese cake kak? Mamah suka banget sama cheese cake." Ujar Yola dengan mata berbinar.
"Oke" Mereka pun membeli sebuah cheese cake untuk di bawa pulang.
Aku ga sabar lihat ekspresi kak Shafa melihatku bersama kak Ray.
Mobil Rayyan memasuki gerbang rumah. Nampak Shafa dan pak Madi tengah sibuk menurunkan kantong kantong berisi belanjaan. Dengan penuh rasa percaya diri Yola turun dari mobil dengan menggendong sebuah bucket bunga mawar merah. Hal itu tentu tak luput dari pengamatan Shafa yang hatinya mulai memanas.
__ADS_1
"Makasih ya kak Ray untuk semuanya" Ujarnya kemudian masuk ke dalam rumah dengan senyum penuh kepuasan.
"Sayang baru pulang?" Rayyan menghampiri Shafa yang berdiri mematung dengan tatapan tajam. Ray sudah tahu pasti dia akan marah melihat Yola turun dari mobilnya. Ia mencoba menenangkannya dengan memeluk dan mencium keningnya. Tapi, nyatanya hal itu sama sekali tidak berpengaruh.
"Pak Madiiiiiiiii" Teriaknya. Membuat pak Madi kelimpungan.
"Iya bu, saya di sini" Jawabnya gugup. Ia tahu bahwa nyonya nya sedang dalam kondisi marah berat.
"Bawa masuk semua buah-buahan saya. Jangan sampai berkurang satu pun!" Ucapnya ketus. Kemudian berlalu menuju kamarnyaa tanpa menghiraukan Rayyan.
"Maaf pak Rayyan, tadi ibu..." Pak Madi namak ragu untuk mengatakan nya.
"Ga papa pak Madi, ibu cuma lagi ngambek aja. Pak Madi ikuti saja perintahnya. Saya masuk kedalam dulu" Ujar Ray, kemudian menyusul Shafa ke kamarnya.
"Aduuh.. Maksud saya itu bu Shafa tadi muntah-muntah terus. Siapa tahu beliau hamil" gumam pak Madi.
"Ono opo to pak Madi? " Tanya bi Lastri yang jendak membatu mengangkat belanjaan.
"Itu loh bu Shafa tadi di mol mutah-mutah terus. Dan dia borong buah-buahan sebanyak ini. Jangan-jangan bu Shafa hamil" Terang pak Madi.
"Beneran pak Madi? Pantesan kok tiap malam pak Rayyan bangun buatin bu Shafa makan. Padahalkan pak Rayyan ga bisa masak. Wah berita bagus ini. Nyonya Wina harus segera tahu" Ucap bi Lastri kegirangan.
Di salam kamar, Shafa melemparkan tas nya ke sembarang tempat. Ia membuka baju dan rok panjangnya kemudian membantingnya di atas sofa.
"Mas Ray jahaaaaaaat!!!" Teriaknya kemudian menjatuhkan dirinya di atas karpet sambil duduk memeluk lututnya. Ia menangis tersedu-sedu.
"Hiks..hiks... Kenapa kamu jahat mas? Kenapa kamu berduaan sama Yola? Kenapa kamu beliin Yola bunga? Kenapaaaaaa" Ujarnya dengan air mata berlinang.
Dengan hati-hati Rayyan masuk kedalm kamar ia melihat Shafa meringkuk di bawah kaki ranjang hanya memakai pakaian dalam sambil meemeluk lututnya. Pelan-pelan ia dekati istrinya yang tengah salah paham tersebut.
"Sayang, jangan nangis" Ia berusaha memeluk tubuh Shafa tapi di tolaknya.
"Jangan dekat-dekat aku. Pergi sama Yola sana!" Ucapnya ketus.
Sudah kuduga. Shafa masih saja cemburu pada Yola.
"Dengerin mas dulu" Sekuat tenaga Rayyan menahan tubuh Shafa yang berontak hingga akhirnya ia berhasil memeluknya. Shafa lebih mudah di tenangkan ketika sudah berada dalam pelukannya.
__ADS_1
"Mas jahat hiks.. Kenapa mas berduaan sama Yola? Kenapa mas beliin Yola bunga? Sedangkan aku ga pernah mas beliin bunga!" Ujarnya sambil memukuli dada Rayyan.
"Sshrrrk" Shafa menarik kemeja Rayyan dan menggunakannya untuk membuang ingusnya. Rayyan hanya bisa pasrah.
"Bunga itu Yola beli sendiri buat tante Lilis sayang. Hari ini Anniversary tante Lilis dan almarhum suaminya jadi Yola beliin mamanya bunga. Mas cuma beliin kue aja. Shafa mau bunga apa? Nanti mas beliinnkalau perlu dengan tokonya sekalian " Rayyan mencoba menjelaskan dan menenanhkan Shafa.
"Terus kenapa bisa pulang bareng?" Tanyanya lagi, masih tak puas dengab jawaban Rayyan.
"Yola tadi mampir di kampus mas buat ketemu temannya jadi sekalian pulang bareng" Jelasnya sambil mengusap usap lembut punggung Shafa.
"Bohong!"
"Demi Allah mas ga bohong. Rayyan menatap mata Shafa dan mengecup keningnya, kemudian pipinya dan bibirnya. Shafa masih cemberut tapi sudah terlihat tenang.
"Sekarang mandi yuk, udah sore" Bujuknya mengalihkan pembicaraan.
"Mandiin!" Ucapnya ketus.
Rayyan tersenyum mendengar permintaan Shafa. Meskipun dalam keadaan ngambek tapi sifat manjanya tak berkurang sedikit pun.
"Dengan senang hati" Ucapnya kemudian menggendong Shafa menuju kamar mandi. Ia menurunkan Shafa di dalam bathup dan dengan telaten ia memandikan istri tercintanya dengan sesekali menggodanya membuat Shafa beberapa kali memekik karena kaget dengan tangan jahil Rayyan. Setelah selesai ritual mandi memandikan, Rayyan memakaikan jubah mandi dan menggendong Shafa keluar dari kamar mandi.
"Mas Rayyan jangan tinggalin aku" Ucapnya manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan. Ia duduk di pangkuan Rayyan dengan masih memakai jubah mandi.
"Iya sayang... iya" Rayyan masih memeluk tubuh Shafa dalam pangkuannya.
"Shafa tadi kemana aja sama pak Madi?" Tanyanya. Mencoba keluar dari pembahasan seputar Yola.
"Aku ke Mall mas, tapi ga jadi nyalon soalnya tempatnya bau. Jadi aku beli buah-buahan aja" Jawabnya sambil memainkan jarinya di dada Rayyan.
"Beli buah banyak untuk apa? Shafa mau bikin es buah?" Tanyanya, pasalnya hampir setiap hari Shafa selalu minta es buah di simpang 3 jalan menuju rumahnya.
"Buat diet mas. Kan mas bilang kalau aku gendutan. Kalau aku gendut ntar ga seksi lagi, ga cantik lagi. Ntar mas Ray ga cinta lagi"
"Ga usah diet. Mas suka Shafa yang gendut. Mas cinta Shafa bukan karena Shafa cantik atau seksi. Mas Cinta Shafa karena..
"Karena Shafa istri mas. Iya kan?" Shafa menyambung ucapan Rayyan.
__ADS_1
Cup!
"Benar! Karena Shafa istri ku, Bidadari surgaku, belahan jiwaku, separuh agamaku. Mas hanya akan mencintai wanita yang halal bagiku" Ujarnya sambil menghujani Shafa dengan ciuman ciuman lembut membuatnya lupa akan amarahnya.