Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Pertengkaran di Meja Makan


__ADS_3

Yang ga sabar nungguin kapan si Rayyan menyadari semuanya harap sabar ya๐Ÿ˜ Tunggu beberapa episode ke depan. Karena Alurnya udah aku tentuin sampai endingnya. Kalau langsung ketahuan ntar ga seru ceritanya๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Intinya semua akan indah pada waktunya๐Ÿ˜


Sekarang kita nikmati dulu Ray dan ketidak tahuannya. Tenang konfliknya ga akan belibet seperti sinetron Cinta Fitri kok๐Ÿคฃ


Happy Reading๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


Jangan lupa Vote, Like and Coment yang banyak yaโค๏ธโค๏ธโค๏ธ


___________________________________________


Rayyan Mandi dan Mengganti pakaiannya di kamar sebelah. Ia sengaja mengunci Shafa di dalam kamar agar ia tidak pergi kemana-mana. Kemudian ia turun kee bawah untuk mengambil air minum.


"Loh, tante dan Yola mau kemana?" Tanya Rayyan saat melihat tante Lilis dan Yola menarik koper keluar dari kamar mereka.


"Kita mau cari kontrakan saja kak. Yola dan mamah takut kalau kak Shafa marah seperti tadi" Jawab Yola pura-pura sedih. Rayyan memperhatikan pipi Yola yang memang nampak lebam kehitaman karena tamparan Shafa.


"Apa itu sakit Yol" Tanya Rayyan menunjuk pipi Yola. Yola hanya mengangguk.


"Maafin kak Shafa Yol, Kak Ray jamin, dia nggak akan melakukan itu lagi sama kamu." Ucap Rayyan.


"Tante. Rayyan mohon tante jangan pergi. Rayyan janji tante, Shafa tidak akan berbuat kasar lagi sama tante dan Yola." Rayyan menggenggam kedua tangan tante Lilis yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


"Baiklah Ray, demi kamu tante akan tinggal" Ucap tante Lilis.


"Terima kasih tante"


Rayyan memotong beberapa buah-buahan yang telah di beli Shafa dan meletakannya di atas piring. Ia tahu bahwa istrinya sangat menyukai buah-buahan.


"Ma.mas Ray" Panggil bi Lastri gugup. Ia masih gemetar menyaksikan pertengkaran antara Shafa dan Rayyan juga tante Lilis.


"Iya bi" Jawabnya sambil menata beberapa Strawberry di atas piring.


"I..itu bu..buat mbak Shafa ya Mas?" Tanyanya. Ia mendadak menjadi gagap. Bi Lastri mengusap matanya yang tanpa sengaja meneteskan air mata mengingat Shafa yang di caci habis-habisan oleh tante Lilis dan juga Rayyan yang dengan tega menamparnya.


"Bi.. Tolong jangan beritahu ibu atau ayah tentang kejadian tadi. Biarkan Rayyan sendiri yang menjelaskan kepada mereka" Pinta Rayyan, karena ia tahu betul bahwa bi Lastri adalah mata-mata sang ibu untuk mengawasi mereka berdua.


"I..iya Mas" Jawab bi Lastri.


Mbak Shafa maafkan bibi tidak bisa membantu. Mas Rayyan pasti tidak akan percaya dengan ucapan bibi. Gumam bi Lastri


Ceklek,

__ADS_1


Rayyan membuka pintu kamar kemudian kembali menguncinya. Ia melihat Shafa tertidur di atas karpet. Hati Rayyan terasa teriris saat melihat tubuh istrinya tergeletak di atas karpet dengan lengan merah menampakkan bekas jari-jari yang mencengkeram nya tadi. Wajah Shafa terlihat sembab sesekali ia sesunggukan menandakan luka hatinya yang cukup dalam meski tengah tertidur.


Rayyan melangkah menuju balkon kamarnya. di tutupnya pintu balkon yang terbuat dari kaca, juga hordennya karena waktu sudah hampir menjelang magrib. Dengan perlahan ia berusaha membangunkan Shafa.


"Shafa... Bangun" Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Shafa mulai membuka matanya yang sayu dan segera bangkit saat melihat Ray sudah berada di sebelahnya. Pandangannya tertuju pada sepiring buah yang di letakkan Ray di atas nakas sebelah tempat tidur.


Tanpa perintah ataupun izin ia langsung mengambil piring tersebut dan memakan isinya.


"Setelah selesai, segera ambil wudhu. Kita sholat berjamaah" Ucapnya yang tak di tanggapi sama sekali oleh Shafa.


Mereka berdua beribadah seperti biasanya, tetapi kali ini Shafa lebih banyak diam dia bahkan sama sekali tidak menyentuh Al-Quran nya. Setelah Sholat ia langsung membuka mukenanya dan mengganti bajunya dengan sweeter dan celana panjang. Hanya Rayyan yang terdengar sedang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran untuk menenangkan hatinya. Shafa hanya termenung di atas sofa karena ia tidak bisa kemana-mana. Amarahnya belum benar-benar mereda itu sebabnya ia masih tetap bungkam.


Rayyan memposikan dirinya di samping Shafa. Ia mencoba meraih tangannya.


"Shafa Mas mohon buang jauh-jauh semua fikiran negatifmu. Ga ada yang akan ngambil mas dari Shafa. Mas hanya milik Shafa ga ada yang lain" Ujarnya berusaha membujuk.


Kamu pikir aku percaya dengan mulut manismu? Untuk apa aku menjelaskan kalau kaamu sendiri lebih percaya omongan Yola dan ibunya.


"Sekarang kita turun ya? Bi Lastri pasti sudah siapin makan malam." Ucap Ray yang merasa istrinya sudah tenang.


Aku ga sabar ingin melemparkan gelas ke wajah kalian!


Rayyan menuntun Shafa menuruni anak tangga menuju meja makan. Tante Lilis, Yola dan Nisa juga sudah nampak disana. Rahang Shafa seketika mengeras. Ia mengeratkan gigi-giginya, tatapan mata seperti hendak memangsa lawannya. Tangan kirinya di gandeng Rayyan sedangkan tangan kanannnya mengepal kuat.


Bi Lastri tersenyum lega melihat Shafa yang sudah mau kembali muncul di meja makan. Berbeda dengan Nisa, ia hanya menunduk. Rasa bersalahnya semakin besar saat Shafa bahkan tidak mau memandangnya. Ia tak memiliki keberanian untuk menyapanya. Harapannya kini hanya pada Rayyan. Ia berharap pria yang kini mengusik hatinya mau melindunginya dari amukan istrinya.


"Kamu duduk dulu yah, Mas ambilin jus Strawberry dulu" Rayyan mendudukan istrinya kemudian bergeser mengambil jus Strawberry yang sengaja di buatnya tadi dari dalam kulkas.


"Cih, punya nyali juga buat turun" Cibir Yola dengan senyum sinis.


"Dasar ga tau malu!" Gumam tante Lilis yang masih bisa di dengar oleh Shafa.


"BRAAAKK!!!!" Ia menggebrak meja makan dengan keras.


"Nyaliku bukan cuma turun nemuin kalian, bahkan mencabik-cabik kalian pun aku berani.!!!" Ucap Shafa tanpa gentar. Ia berdiri menuju ke arah Yola dan menarik kuat-kuat rambutnya yang terbalut kerudung instat itu.


"Katakan sekali lagi Yola! Kalau kamu mau melihat nyaliku yang lebih dari ini!" Bentaknya semakin menarik kuat rambut Yola.


"Ray..Ray...!!!" Tante Lilis berteriak histeris. Rayyan segera menghampiri begitu mendengar keributan di meja makan.

__ADS_1


"Shafa kasian Yola!" Ujar Nisa.


"Diam Lo!!! Lo sama busuknya dengan mereka!" Bentaknya.


"Hentikan Shafa!!!" Rayyan berusaha melepaskan tangan Shafa dari kepala Yola.


"Kak Ray tolong.. kak Ray" Yola merengek kesakitan.


Akhirnya Rayyan berhasil melepaskan Yola dari Shafa. Yola langsung memeluk mamahnya dan menangis tersedu-sedu.


"Mamah, kita pergi saja mah" Ujar Yola.


"Bagus! Pergi kalian yang jauh dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" Teriak Shafa berapi-api. Ia tak perduli lagi bahkan jika Rayyan kembali menamparnya.


"Cukup Shafa!!! Kamu sudah benar-benar melewati batasmu!" Bentak Rayyan.


"Sekarang kamu pilih mas, Mereka yang pergi atau aku yang pergi dari rumah ini?" Ia menatap Rayyan tajam.


"Mereka tidak akan kemana-mana Shafa!" Ujar Ray dengan tegas.


"Baik! Berarti aku yang keluar dari rumah ini!"


"Dan kalian!!! Nikmatilah kebebasan kalian disini tanpa aku!"


Shafa melangkah keluar rumah tanpa di tahan oleh Rayyan. Rayyan tidak berfikir Shafa akan benar-benar pergi dari rumahnya.


"Mbak Shafa... Mbak Shafa Mau mau kemana?" Bi Lastri mengejar Shafa keluar dari rumah.


"Pergi bi" Jawabnya singkat.


"Jangan pergi mbak... mbak Shafa mau kemana malam-malam begini? Bibi telfonkan Ibu ya mbak" Ujarnya menahan tangan Shafa.


"Ga usah bi, kalau mas Rayyan suamiku sendiri ga percaya sama Shafa apalagi Ibu bi" Balas Shafa sedih.


"Tapi mbak Shafa mau kemana?"


"Pulang" Jawabnya kemudian berlalu meninggalkan rumahnya.


___________


Aku udah crazy up please like and votenya ya yah... Author sayang kalian๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2