
Kalau dosennya kaya gini, mau dong jadi mahasiswanya๐
Hari ini pakai baju tertupup donk ya๐๐
Happy Reading... Jangan lupa tinggalin jejak yea๐๐
___________________________________
Mas Ray memarkirkan mobilnya dengan mulus di parkiran khusus guru. Aku segera turun dari mobilnya, namun sebelum itu dia tiba-tiba menarik tanganku membuat aku tersentak.
CUP!
Satu kecupan mendarat di bibirku.
"Selamat bekerja" Ucapnya dengan senyum manisnya.
"Mas Ray Genit!" Ucapku. Aku sih seneng-seneng aja di perlakukan seperti itu tapi masalahnya ini di parkiran loh. Kalo ada yang liat gimana. Kita bisa di sidang karena melanggar kode etik sebagai guru. Ngomong-ngomong soal disidang, aku jadi ingat kejadian sebulan lalu. Kayaknya aaku harus meenarik kembali kata-kataku waktu itu. Jadi pengen berterima kasih dengan warga desa jodoh yang udah nggrebek aku malam itu. Kan aku jadi bisa bareng mas Ray seperti saat ini.
Aku merasa banyak mata yang memperhatikan kedatanganku. Pasti karena aku bareng mas Ray. Kamu harus kuat Shafa. Ga boleh lemah. Aku yang pada dasarnya kebal dengan aneka gunjingan dan berita miring tentang penampilanku. Mendadak was-was kalau mereka menggunjing tentang hubunganku dengan pak Ray.
"Eh bu Shafa kemana aja, beberapa hari gak masuk, jangan jangan bener ya kabarnya mau nikah" Ucap bu Tania dengan ekspresi mengejek.
"Benar, jangan lupa datang ya bu" Balasku dengan senyuman seramah mungkin. Kata mommy harus rajin-rajin senyum dan kurangi cemberut. Karena cemberut dapat mempercepat proses kerutan di wajah. Ihh Serem.
"Eh.. eh bener kan aku bilang bu Shafa mau nikah lo teman-teman" Ujarnya kepada beberapa guru orang yang baru datang. Sedangkan mas Ray aku tidak melihatnya. Mungkin dia sedang sholat sunnah atau apalah. Terlalu banyak ibadah sunnah yang di kerjakan nya sampai aku ga bisa menyebutnya satu-satu.
"Serius bu Shafa?" Tanya bu Anne yang baru duduk di kursinya.
"Iya donk, kan capek sendiri mulu. Pengen juga lah kaya bu Anne dan pak Adit" Ucapku.
"Bu Shafa bisa Aja" Ucap bu Anne tersipu.
__ADS_1
"Tunggu-tunggu, aku kok baru perhatikan cincin yang di pakai bu Shafa. Kayaknya ini belum lama deh. Jadi bu Shafa beneran mau nikah?" Bu Ita histeris melihat ke arahku.
Aku hanya tersenyum getir melihat bu Ita. Ada rasa bersalah dalam hatiku. Ingin sekali aku jujur padanya tapi aku harus mulai dari mana?
Jam pertama akan dimulai 10 menit lagi, aku hendak ke toilet memperbaiki penampilanku yang hari terlihat sangat tertutup. Leherku dan tanganku benar-benar tertutup sempurna hari ini. Semua ini karena ulah mas Ray yang pagi tadi sengaja memberikan beberapa tanda merah di leherku. Jadi mau tidak mau aku harus memakai outfit seperti ini.
"Bu Shafa hari ini penampilannya beda ya, padahal aku pengen banget loh lihat tatonya secara langsung" Cibir Tania saat aku baru saja kembali dari toilet. Aku melihat mas Ray juga sudah berada di ruang guru sedang membaca buku.
"Bu Tania ini kenapa sih kok senewen banget ama bu Shafa" Ujar pak Rudi yang berada di sebelah mas Ray. Ku lihat mas Ray sejenak melirik ke arahku sebelum kembali fokus dengan bukunya.
"Kayaknya pak Rudi harus siap-siap patah hati deh, Udah ada tau belum kalau bu Shafa mau nikah, tuh liat cincin tunangannya" Ujar Tania.
"Kayaknya bu Tania deh yang harus siap-siap patah hati" Ucapku sebelum meninggalkan ruangan guru. Rasain, bukan cuma patah hati mungkin kamu akan spot jantung kalau tahu siapa yang akan bersanding denganku di pelaminan.
Jam Istirahat aku sengaja tinggal di kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat terbengkalai.
Drrt...Drtt..
Handphone di atas mejaku bergetar. Ku lihat satu pesan dari mas Ray yang sudah berganti nama di kontakku.
Uhh... perhatiannya. Aku godain ahh..
Shafa : Makan Mas๐๐๐๐. Send
Hihihi... kira- kira gimana ya Reaksinya. Ku lihat di layar di sedang mengetik...
Suami Shafaโค๏ธ : Ayo, pulang sekarang!
hahahahahaha aku tertawa membaca pesan balasnya. Segitu pengennya kamu aku makan mas. Tiba-tiba dia muncul di hadapanku membuatku gelagapan.
"Ini makan, kamu harus makan yang banyak jika ingin memakanku" Ucapnya dengan tatapan genit.
Aku menoleh ke kiri kanan. Huuuhh aman ga ada yang liat. Guru-guru lain sedang sibuk makan siang semua.
"Thank You Sayang" Ucapku dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Setelah mengantarkan makananku mas Ray pemit ke ruang kepala sekolah. Mas Ray bilang hari ini kita pulang lebih awal karena sudah tidak ada jam mengajar. Mommy dan ibu meminta kita untuk fitting baju yang akan di gunakan saat resepsi nanti. Secepat ini?Luar biasa the power of emak-emak. Kita yang mau nikah tapi mereka yang sibuknya ngalahin pengantin.
Aku membuka kotak makanan yang di bawakan mas Ray. Tiba - tiba seseorang datang dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa maksud ucapanmu tadi pagi?" Tanyanya langsung to the point tanpa basa-basi.
"Ucapan yang mana?" Aku berusaha menahan diriku. Karena berada di lingkungan pendidikan maka aku pun harus bersikap layaknya pendidik.
"Ga usah sok polos di depanku. Apa maksudmu menyuruhku siap-siap patah hati hah?" Ia menggebrak mejaku. membuatku menghentikan keinginanku untuk makan.
"Ga ada maksud apa-apa" Ucapku cuek.
"Aku tahu, kamu sedang berusaha mendekati pak Rayyan kan? Dasar ga tahu diri. Harusnya kamu ngaca. Perempuan kaya kamu tu ga cocok dengan pak Ray. Seharusnya tempatmu bukan di sini, tapi di club malam" Ucapnya dengan wajah sinis. Entah mengapa aku justru merasa tertantang dengan ucapannya yang tidak layak di sebut sebagai pendidik. Apa lagi dia adalah guru BK yang harusnya meminimalisir masalah di sekolah bukannya membuat masalah.
Aku tersenyum sambil menyandarkan tubuhku pada kursi putar dan memutar-mutar nya pelan.
"Jadi, Seperti apa wanita yang cocok untuk pak Ray bu Tania? Apakah seperti anda yang sama sekali tidak mempunyai etika dalam berbicara?" Tanyaku. Ku lihat dia semakin terlihat murka mengepalkan ke dua tangannya.
"Brengs*k! Dasar murahan, ku ingatkan sekali lagi, jangan pernah coba-coba mendekati pak Rayyan atau kamu akan menyesal" Ancamnya padaku. Loe pikir gue takut. Siapa loe ngancam- ngancam gue buat ga deketin suamiku. Pen nabok deh rasanya!
"Kalau aku ga mau gimana" Ucapku sambil menyedot jus Strawberry yang di belikan Mas Ray, lumayan buat ngademin hati.
"Coba saja, dan ku pastikan kamu ga akan tenang berada tempat ini lagi" Jawabnya penuh amarah.
"Aku tunggu! dan sepertinya aku telah jatuh cinta pada MAS RAY, Jadi maaf aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu" Ucapku dengan menekankan pada kata Mas Ray membuat dia semakin memanas. Beruntung para guru-guru sudah kembali membuat bu Tania menjauh.
Fiuuuuhhh....Gini banget sih punya suami ganteng dan Sholeh. Mas kamu pake apa sih?kok mereka pada ngebet banget.
.
.
.
.
__ADS_1