
Rasanya baru kemarin aku terjebak di desa Jodoh bersama orang asing yang saat itu ku katakan bukan tipeku. Laki-laki kaku, tua, datar dan entah julukan apa lagi yang pernah ku lontarkan pada sosok tegas yang pernah teramat sangat ku benci itu. Pria yang ku pikir merusak masa depan dan mimpi-mimpiku sebagai selebgram cantik nan seksi. Sepertinya aku harus menarik kembali ucapanku kala itu, jika pada akhirnya aku sendiri takhluk pada sosok tampan yang mampu mengubah duniaku.
Zidane Ar-Rayyan, satu-satunya laki-laki yang mengisi ruang-ruang kosong di dalam hati ku. Ia yang tak pernah lelah mengajariku, dan yang selalu sabar menghadapi semua tingkah polahku.
Waktu serasa begitu cepat berlalu, baru kemarin aku merasakan hamil dan melahirkan Am yang sakitnya tak bisa di gambarkan oleh kata-kata, kini bayi kecil nan menggemaskan buah cinta ku dengan mas Rayyan sudah memasuki bulan ke 3. Makin hari wajahnya semakin menunjukan kemiripannya dengan sang ayah. Aku cemburu, aku yang mengandung dan melahirkan tapi wajahnya benar-benar dominan menyerupai mas Rayyan. Padahal ketika membuatnya aku pun ikut andil banyak di dalamnya. Jika punya anak selanjutnya, dia harus mirip aku. Astaga! Aku sampai lupa, ini kan sudah tiga bulan. Mas Ray pasti akan menagih janjiku. Bulan lalu saja dia terus merengek dengan alasan tidak kuat lah, terlalu lama lah, nggak bersemangatlah dan masih banyak alasan lain yang membuatku geli mendengarnya.
Drt...Drt...
Suara getar ponselku mengagetkanku yang sedang mengkhayalkan masu laluku bersama mas Ray.
"Hallo, ya? Oke saya segera keluar" Ucapku pada kurir yang menelpon untuk mengantarkan paket.
"Ok, makasih pak!" Ucapku sebelum masuk kembali kedalam rumah. Sebuah paket yang berisi jam tangan pria merk Mont Blanc yang ku pesan khusus untuk mas Rayyan. Sekali-kali tak apalah memberikan hadiah untuknya, toh selama ini dia bekerja keras dan menyerahkan semua uangnya untuk ku belanjakan sesuka hatiku. Mengapa aku membelikannya jam tangan? Karena dia baru saja mengadu bahwa jam tangannya hilang sewaktu ia berwudhu di masjid, dan sebagai istri yang baik dan peka, segera ku pesan sebuah jam tangan merk dunia dengan harga yang lumayan membuat dompet menangis. Tak apalah, hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahun yang belum sempat ku berikan.
Aku mematut tubuhku di depan cermin, well sudah lebih baik dari pada pertamakali aku melihatnya setelah melahirkan Am. Aku berputar-putar memastikan tidak ada gelambir yang terselip di sekitar perutku ataupun streachmark yang lebih mengerikan dari tatto yang pernah melekat lenganku dulu. You know? Demi mendapatkan tubuh seperti ini aku harus rutin minum ramuan-ramuan aneh yang di buat ibu yang katanya selain membantu memperbaiki bentuk tubuh juga membuat **** * kembali rapet dan kencang. Thats why I willing to drink it. Meskipun udah nggak seramping dulu tapi lumayan, balance dengan ukuran dadaku yang masih besar karena menyusui Am.
Setelah memastikan jaam pulang mas Ray dari kampus, aku segera menghubungi salon langganan untuk melakukan perawatan tubuh. Sebelum malam pertama kedua ku terjadi, aku harus memastikan tubuh ku bersih, mulus, kinclong, dan singset. Ini sudah dua minggu ku lakukan tanpa sepengetahuan mas Ray, aku sengaja memanggil mereka ke rumah karena tak mungkin meninggalkan Am yang masih butuh ASI.
Begitu selesai melakukan perawatan tubuh, aku segera menghubungi dokter Lily untuk berkonsultasi. Dokter belum menyarankan aku untuk hamil lagi, artinya aku harus KB, tapi mas Ray tak mungkin mengijinkan. Atau dia aja yang ku suruh pake pelindung? Ahh...tapi dia mana mau. Aku jadi pusing sendiri kaya anak perawan yang baru mau di "ea ea" in, padahal ini mah udah jebol untuk yang kesekian kalinya.
Aku menyusui Am sejenak, ku lirik jam yang menggantung di kamar sudah menunjukkan pukul 3 sore, artinya satu jam lagi mas Ray tiba.
"Mommy... mommy" Teriak anak sulungku sambil terisak yang sudah bisa ku tebak pasti habis bertengkar dengan Aira.
"Ya Sayang" Aku membuka lengan kananku agar mudah ia peluk.
"Abang kenapa?" Tanya ku sambil mengelus kepalanya yang masih bau matahari. Sejak mendapatkan sepeda baru dari ayahnya, dia jadi suka bermain panas-panas di halaman dengan mengayuh sepeda kecilnya.
"Aila nakal mommy" Sudah ku duga. Siapa lagi yang membuat Zafran ngambek atau menangis kalau bukan gadis cantik super cerewet itu.
__ADS_1
"Aira kenapa sayang?"
"Aila malah-malah mommy, gala-gala sepedanya ga bisa jalan, dia mau pinjam sepeda aku, tapi aku ga boleh" Ucapnya sambil sesunggukan. Kadang aku sampai pusing melihat mereka berdua yang kalau lagi akur seperti lem dan perangko tapi kalau lagi marahan bisa ngambek sampai berjam-jam.
"Udah-udah, jangan nangis, malu sama adek Am. Tuh dia liatin abang" Ucapku sambil memangku Am yang sudah kenyang.
Ku dengar suara klakson mobil mas Ray, tandanya ia sudah pulang. Segera ku pakai daster panjang dengan kancing tertutup. Aku menghindari memakai pakaian seksi karena takut membangunkan macan yang sedang tidur. rambutku yang tadi sudaah di blow segera ku kuncir satu ke atas agar nampak seperti emak-emak pada umumnya.
"Zafran mandi dulu sama bibi Ati ya, habis mandi kita main sama ayah" Ucapku pada Zafran yang langsung mengangguk dan berlari mencari mbak Yati untuk mandi.
"Mom?"
"Eh, ii..ya mas. Sudah pulang?" Pertanyaan bodoh, nyata-nyata dia udah di belakangku. Sumpah gue gugup bener.
"Shafa kenapa?" Tanyanya membalikan badanku menghadap kepadanya. Ya Allah gue pengen kabur ke planet pluto saat tatapan matanya menelisik wajahku yang rasa udah panas deg-degan nggak jelas. Ia menyunggingkan senyum. Apa dia bisa baca pikiranku?
Ciumannya kali ini membuatku membulatkan mata. Jangan sampai mas Ray mau "ea ea" in aku disini! sekarang! Oh Nooooo!!! Ish, inikan masih sore, mana aku belum mandi lagi, meskipun bau wangi bekas spa tadi masih melengket di tubuhku, tetap aja aku nggak pede.
"Emm... Mas ganti baju gih, ini pasti gerah yah" Ucapku sambil menyentuh dadanya yang masih berbalut kemeja berwarna putih dengan dasi hitam.
"Shafa mau godain mas?" Ia menahan tanganku. Oh may God! aku cuma nempelin tangan aja di bilang menggoda. Mungkin benar, terlalu lama puasa membuat tingkat sensitivitas dan kepekaan seseorang bertambah. Ini baru nyentuh lo, gimana kalau aku cium, peluk, bisa auto di garap di sini juga gue.
"Eng... enggak. Itu aku..." Rasanya gue pengen nabok ini mulut yang tiba-tiba menjadi gugup gagap kaya Aziz gagap.
Yah..yah... Mas Ray melingkarkan tangannya di pinggangku sambil menatapku seperti meledek, menggoda atau nafsu? Ah, aku tak bisa mengartikan tatapannya. Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya padahal ini laki gue loh, bapak dari anak yang baru gue lahirin. Tapi rasanya udah kaya lagi berhadapan dengan kapten Ri aja.
"Shafa habis nyalon?" Ia menaikkan satu alisnya sambil mengelus pipiku.
Glek! Mati aku, apa dia tau aku nyalon dirumah? Ih, bisa ge er dia nanti. Dikiranya aku nyalon buat dia, padahal kan emang iya.
__ADS_1
"Kenapa? Mas nggak suka uangnya aku pake buat nyalon?" Tanyaku sedikit ketus untuk menutupi kegugupan ku.
"Enggak, mas suka kok. Suka sekali" Bisiknya di telingaku membuatku meremang seketika. Ini jadi gue yang kepancing sih, apa lagi tangannya yang sudah bergerak naik mengelus lembut punggungku.
Rengekan Am yang terbaring di ranjang ku anggap sebagai pertolongan Tuhan kali ini. Aku segera melepaskan pelukan mas Ray dan menghampiri anakku yang tengah merengek minta di timang-timang.
"Am haus mom" Ujarnya ikut duduk di sebelahku.
"Nggak kok, barusan udah minum ampe kenyang" Balasku sambil menepuk-nepuk pantatnya agar ia tenang.
"Kalau gitu ayah yang haus" Ucapnya yang langsung mendapat tatapan tajam dariku. Ia malah sok sibuk mengalihkan pandangannya kepada Am.
"Am, anak ayah yang paling ganteng... Ayah nanti pinjam mommy nya ya?" Ucapnya sambil memainkan jarinya. Am juga, sepertinya mengerti dengan keinginan ayahnya hanya tertawa menampakkan gusi merah muda yang belum di tumbuhi gigi tersebut.
"Mas, jangan ngeracuni otak Am dong mas. Ngeres aja pikirannya" Ucapku sambil menatapnya sinis.
"Mas memangnya bilang apa?" Mulai deh ekspresi sok polos tanpa dosa.
"Shafa baru tiga bulan gak di sentuh, mikitnya udah kemana-mana? Gimana kalau setahun? Bisa-bisa mas nafas aja di kira mesum" Dia menatapku dengan senyum sok coolnya.
"Yakin mau setahun? Situ lupa siapa yang selalu merengek pengen di kelonin, siapa yang ngerayu-rayu biar aku mau padahal Am masih 2 bulan. Kalau yakin kuat ampe setahun ga masalah" Wajah Mas Ray langsung menegang, siapa suruh buat aku kesel. Gini-gini ya, aku masih bisa nahan walaupun pengen.
"Kuat kok" Ucapnya seolah tanpa beban.
"Yakin?" Aku menatapnya dalam. Mana mungkin dia kuat kalau jelas-jelas aku sudah bisa di sentuh.
"Emmm... Kita liat saja nanti malam" Ucapnya dengan sebuah senyum di sudut bibirnya.
"Pakai baju seksimu mom" bisiknya sebelum beranjak menuju ruang ganti. Seperti nanti malam bakal kejadian beneran deh! Mommy help! Aku harus gimana? Ini beneran udah rapet kan?
__ADS_1