Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Maryam


__ADS_3

Berbeda dengan malam sebelumnya, malam tadi, Shafa tertidur dengan nyenyak setelah membaca surah Al-Mulk. Dan pagi ini terlebih dahulu bangun, membangunkan Rayyan untuk Shalat subuh.


"Sayang, kok tumben bangun cepat" Rayyan merengkuh tubuh Shafa meski terhalang oleh perut besarnya.


"Mas ih, ayo bangun! Kita Shalat sunnah dulu" Ujar Shafa. Tidak biasanya ia mengajak Rayyan Shalat sunnah duluan.


"Cium!!!" Pinta Rayyan manja sambil memajukan bibirnya.


CUP! Satu kecupan di pipi kiri


CUP! Satu kecupan di pipi kanan


CUP! kecupan terakhir di bibir.


"Udah sekarang bangun!" Ujar Shafa. Ia turun dari ranjang setelah menekan remot lampu. Terlihat jelas wajah Shafa yang begitu berseri.


"Sayang, habis mimpi ya?" Tanya Rayyan. Begitu bangkit ia langsung merengkuh tubuh istrinya dari belakang.


"Enggak! Memangnya kenapa mas?" Tanya Shafa keheranan.


"Kok Shafa kelihatannya bahagia banget, wajahnya lebih berseri dari sebelumnya" Ujar Rayyan.


"Seriously?" Shafa berbalik memandang Rayyan. Rayyan mengangguk menatap dalam manik mata bening istrinya. Rasa cintanya rasanya kian bertambah saja. Semakin ingin memilikinya lebih lama dan tak ingin kehilangannya lagi.


"Mungkin ini efek lampu kali mas!" Balasnya.


"No, istriku memang makin hari makin cantik" CUP! Satu kecupan mendarat mulus di kening Shafa. Sungguh sebuah pagi yang sangat menyenangkan dan menenangkan bagi pasangan suami istri tersebut.


Setelah selesai melaksanakan Shalat sunnah qobliyah dan sholat subuh, Shafa kembali mengambil Al-Qur'annya untuk mengaji. Pagi ini ia membaca surah Maryam. Ia membaca dengan khusuk dan tartil sedangkan Rayyan mendengarkan dan sesekali membenarkan jika ada bacaan yang meleset. Namun sejauh ini bacaan Al-Quran nya sudah semakin baik meski kini nafasnya sedikit tersengal. Sejak mengandung Shafa jadi mudah lelah dan ngos-ngosan.


"Shodakallaahuladziim" Ia menutup bacaan Al-Quran nya kemudian mencium kitab suci tersebut sebelum meletakkannya kembali ke atas nakas.


"Sayang tahu apa yang di baca tadi?" Tanya Rayyan sambil merangkul istrinya sambil bersandar pada badan Ranjang.


"Itu surah Maryam mas, kata abah waktu di pesantren, kalau hamil sering-sering baca surah Yusuf dan surah Maryam" Ujar Shafa yang masih berbalut mukena.


"Benar, Shafa tau kandungan dari surat Maryam itu sendiri?" Tanya Rayyan. Tangannya mengusap lembut bahu yang di rangkul nya.


"Apa? Kayaknya abah belum pernah cerita soal isinya" Shafa mengingat-ingat.


"Surat Maryam merupakan surat ke-19 dalam Alquran. Surat ini dinamai Maryam karena isinya mengandung kisah ibu Nabi Isa alaihi salam, yaitu Maryam atau Maria dalam agama Nasrani. Surah ini menceritakan tentang perjuangan, ketaatan dan kesabaran Maryam, si wanita suci yang melahirkan anak ajaib tanpa pernah di gauli oleh seorang laki-laki. Surat ini juga menerangkan tentang ke Maha baik kan Allah terhadap nabi nabi Zakaria yang di beri keturunan sebagai penerus, padahal saat itu usianya sudah lanjut dan istrinya adalah seorang yang mandul" Ujar Rayyan.


"Iya, aku pernah dengar katanya Maryam itu hamil tapi nggak punya suami. Tapi bukan hamil di luar nikah. Ajaib ya mas? Eh terus gimana dia ngelahirinnya kalau nggak ada suaminya?" Balas Shafa sambil berfikir.


"Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak sayang. Maryam, adalah seorang wanita yang sangat taat kepada Allah, waktunya siang dan malam semata-mata hanya ia gunakan untuk beribadah. Jangankan bersentuhan dengan laki-laki, berbicara dengan laki-laki pun ia tak pernah. Suatu ketika malaikat Jibril datang kepadanya dan membawa berita tentang kehamilannya, Maryam takut dengan apa yang akan dipikirkan oleh masyarakat dan bagaimana dia bisa melakukan ini sendirian. Tapi Allah maha baik, Allah selalu mencukup kan kebutuhan Maryam. Hingga suatu hari ia memutuskan untuk pergi mengasingkan diri ke tempat yang jauh." Terang Rayyan.


"Lalu bagaimana Maryam melahirkan mas?" Tanya Shafa penasaran.

__ADS_1


"Maryam melahirkan tanpa bantuan teman ataupun saudara. Saat ia merasakan rasa sakit yang tidak tertahankan, dia merindukan kematian dan belas kasihan Allah yang tak terbatas. Hal ini di sebutkan dalam Surat Maryam ayat ke 23-25 yang artinya, Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata : wahai betapa baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan. Jibril berkata janganlah engkau bersedih. Goyangkan Lah pohon kurma itu niscaya akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”.


"Itu adalah bukti bahwa Allah maha baik, Allah tidak pernah meninggalkan hambanya yang selalu mengingat nama Nya. Makanya Shafa harus selalu berprasangka baik ya sama Allah, Insha Allah semua akan di mudahkan"


"Amiiin, Aku selalu berprasangka baik kok mas, lagi pula bukankan kah Allah menjanjikan syahid bagi yang gugur saat melahirkan? Bukankah itu sebuah kematian yang di mimpikan oleh setiap muslim?" Ujar Shafa sambil tersenyum menatap Rayyan.


Deg! Jantung Rayyan rasanya nyeri saat mendengar ucapan istrinya tersebut. Ia tak senang jika Shafa membahasa tentang kematian apalagi di saat seperti ini. Disaat ia akan berjuang mengeluarkan buah hati mereka.


"Benar" Jawab Rayyan singkat.


"Yah, setidaknya kalau aku gagal aku akan mati syahid yang mungkin bisa meringankan pertanggung jawabanku di hadapan Allah" Shafa menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan.


"Sstt! Mas tidak suka Shafa bicara seperti itu" Rayyan meletakan telunjuknya di bibir Shafa. Ia menatapnya dengan dahi berkerut tanda tak suka dengan ucapan istrinya.


Shafa membalas nya dengan senyum manis, ia menangkup kan kedua tangannya di wajah Rayyan.


"Mas, kematian itu adalah hal yang pasti. Bukankah mas yang mengatakan bahwa jika sudah sampai ajal seseorang maka tak seorang pun dapat memajukan atau memundurkan nya. Kita tidak pernah tahu kan, kapan dan dengan cara apa kita mati? Mas Rayyan suamiku yang paling baik, dan paling aku cintai, Shafa minta maaf yah utuk semua dosa-dosa Shafa sama Mas Ray. Shafa yang suka marah-marah dan curigaan." Ujarnya sambil menatap wajah Rayyan. Shafa mengatakan itu dengan tenang seolah tanpa beban sementara yang di tatap dan mendengarkan matanya sudah berkaca-kaca.


Rayyan memeluk Shafa dengan penuh kasih sayang.


"Ana Uhibbuki Lillah" Bisiknya.


Dog...dog...dog...


"Ayah....Mommy!!!" Teriakan Zafran dari luar pintu sambil memukul mukul pintu.


Ceklek,


Benar, Zafran mendongak menatap Rayyan. Ia masih memakai baju tidur bermotif bulan dan bintang. Ia langsung saja masuk sambil menoleh ke kiri kanan.


"Mommy di sini sayang" Ujar Shafa yang masih bersandar pada badan ranjang di sisi kanan sehingga tak nampak oleh Zafran. Zafran segera menuju ke mommy nya dan tiba-tiba duduk di pangkuannya sambil mengalungkan tangannya di leher Shafa. Ia menempel seperti bayi koala.


"Anak mommy kenapa? Kok jadi manja banget? Shafa menepuk-tepuk punggung Zafran. Sepertinya ia sangat merindukan mommy nya.


"Mommy, apa ini sakit?" Zafran memegang perut besar Shafa.


"Enggak sakin sayang. Ini kan ada adik Zafran di dalam" Ujar Shafa.


"Aku mau bobo sama mommy" Ujar Zafran sambil memeluk Shafa.


"Iya, tapi sayang mommy dulu" Ujar Shafa.


"Muach...Muach. Aku sayang mommy" Peluknya manja setelah mencium pipi dan bibir Shafa.


"Ayo sekarang kita jalan-jalan subuh di halaman, mommy rasanya pengen hirup udara segar" Ujar Shafa. Udara subuh memang sangat bagus, karena belum tercemar debu-debu polusi dari asap kendaraan.


Mereka jalan pagi di sekitar halaman sampai beberapa meter dari rumah mereka. Nampak juga Aira bersama mami dan papinya tengah jalan pagi.

__ADS_1


"Aila..." Zafran langsung menghampiri sahabat karibnya tersebut.


"Kamu kenapa tidak sekolah kemalin Zaflan? Hafiz juga tidak ada" Ujar Aila sambil bersendekap tangan.


"Aku pelgi ke lumah sakit. Ayahnya Hafiz sedang sakit. Adik ku juga mau keluar jadibaku ga sekolah" Jawab Zafran.


"Bu Shafa, saya pikir sudah lahiran, karena kemarin kata pak Ali sedang ke klinik" Ujar Mommy Aira.


"Belum bu, cuma kemarin kontraksi palsu aja, mungkin beberapa hari kedepan" Balas Shafa.


"Oh ya, pak Ray sudah dengar di kampus pak Ray kemarin ada kejadian kriminal" Ujar papi Aira.


"Kejadian apa itu pak? Soalnya sudah dua hari ini saya memang tidak ke kampus, khawatir mommy Zafran melahirkan sewaktu-waktu" Balas Rayyan.


"Penganiayaan salah satu dosen oleh mahasiswa bimbingannya. Gara-gara skripsi" Ujar papi Aira.


"Innalillah... Terima kasih informasinya pak"


"Mahasiswa sekarang, berani sekali sama dosen. Di saat akhir harusnya mereka fokus malah membuat masalah yang akan berujung penyesalan." Balas Papi Aira.


"Tugas pendidik jaman sekarang memang berat. Karena moral dan karakter anak-anak muda sekarang yang menjadi tantangan utama yang perlu di tanamkan"


"Papi, aku kapan punya adik seperti Zaflan" Tanya Aira. Ia juga mulai iri dengan Zafran yang tak lama lagi memiliki adik.


"Aira kan sudah punya kakak, adiknya nanti pinjam adik Zafran saja ya" Balas mami Aira.


"Tapi ga boleh di bawa pulang ya? Aku tan mau di bikinkan adik lima Aila" Pamernya lagi sambil mengangkat lima jarinya.


"Zafran, tidak boleh begitu, itu pamer namanya" Tegur Shafa. Anaknya ini memang suka sekali pamer akan di buatkan adik.


"Mami...Mami aku mau adik pokoknya mau adik kaya Zafran" Rengek Aira sambil menghentak hentakan kakinya.


"Itu karna Zafran sudah pintar membaca dan rajin belajar makanya dia di buatkan adik. Aira kan kalau di suruh belajar suka malas, jadi mami ga mau buatkan adik" Balas mami Aira.


"Iya Aila, kamu halus lajin supaya bisa ajal adikmu nanti kaya aku. Iya tan mommy"


"Iya... Iya" Jawab Shafa sambil mengusap kepala Zafran.


Di sela-sela obrolan mereka tiba-tiba handphone Rayyan berdering. Sebuah paanggilan masuk dari dekan fakultas di tempatnya mengajar. Iaa nampak berbincang serius dengan dekan dalam telfon. Mungkin ada hubungannya dengan kasus penganiayaan atau mungkin ada hal lain yang mereka bicarakan.


"Kenapa Mas?" Tanya Shafa yang melihat perubahan raut wajah suaminya.



Mommy Shafa habis sholat Subuh.


__ADS_1


Ayah siaga menanti kelahiran baby Boy😘😘


__ADS_2