Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Manusia Biasa


__ADS_3

"Hhff... Dia adalah wanita yang pernah disukai mas Ray waktu di Kairo. Dia.."


"APAAA?" Nisa langsung menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya, bahkan sebelum Shafa menyelesaikan ucapannya.


"Gue lanjutin dulu Nis...!!!"


"Oh iya, Sorry..Sorry" Ujar Nisa.


"Jadi waktu di Kairo mas Ray suka dengan mahasiswa yang bernama Hana. Katanya lagi, Hana tuh orangnya pinter gitu dan dia sering bawain makanan buat mas Ray" Terang Shafa. Sampai saat ini ia masih penasaran dengan wanita bernama Hana tersebut sekalipun ia tahu bahwa Hana sudah bersuami.


"Kamu yakin Fa? kalau suamimu suka sama Hana? Bisa aja orang yang kasih info ke kamu salah" Tanya Nisa.


Mana mungkin kak Zidane suka sama aku. Sementara banyak wanita cantik dan kaya yang juga mendekatinya.


"Ya enggak lah Nis. Selain aku tahu dari teman teman Mas Ray, aku juga tahu dari ibu mertuaku dan juga dari mulut mas Ray langsung!" Imbuhnya.


Ya Allah, apa benar semua yang ku dengar ini. Pantasan sikap kak Zidane berubaah saat mengetahui aku dan Ahmed akan bertunangan. Ternyata dia menyimpan perasaan yang sama kepadaku. Bodoh..kamu bodoh Nisa. Seandainya aku tidak kerass kepala pasti sekarang aku bahagia bersama kak Zidane!


"Nis...Woyyy, kok bengong" Shafa mengayunkaan tangannya di depan waajah Nisa.


"Ah, Enggak aku cuma sedang mengingat ingat sesuatu"


"Sekarang loe ceritain ke gue, sosok Hana tuh kaya gimana sih. Gue takut aja suatu saat kalau mas Ray ketemu dia cintanya bakal tumbuh lagi. Secara dia kan dicintai langsung dari hatinya sementara gue, dia cibta sama gue mungkin karena rasa tanggung jawabnya sebagai suami" Ujar Shafa sedih.


"Memangnyaa apa yang akan kamu lakukan Fa? kalau tahu bagaimana sosok Hana?" Tanya Nisa lagi. Dia harus mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan terjadi jika Shafa benar-benar mengetahui siapa Hana.


"Yah, paling tidak aku harus belajar menjadi seperti dia Nis, biar bisa buat mas Ray benar-benar melupakannya"


Kamu kok tega sih Fa? buat kak Zidane lupain aku. Andai saja dia ga nikah sama kamu mungkin dia akan mencariku.


"Berat Fa, Dia itu cerdas"


"Aku juga cerdas!" Jawab Shafa tak mau kalah.

__ADS_1


"Dia kalem"


"Aku juga bisa kalem!" Lagi-lagi tak mau


kalah.


"Dia jago masak"


"Masak mah kecil" Jawab Shafa.


"Dia Sholehah"


"Aku kan lagi on process menuju sholehah..hehheeh" Jawabnya sambil nyengir.


"Dia taat pada aturan dan syariat agama. Menutup aurat, menjaga sholat, tidak bermaksiat" Ujar Nisaa panjang lebar membuat Shafa menahan napasnya. Sosok Hana yang begitu sempurna dalam pandangan Shafa.


"Huuuh" Shafaa merwbahkan kepalanya di atas sofa.


"Jadi gue harus gimana Nis? Gue beneran takut dia clbk lg sama Hana, walaupun Hana katanya sudah menikah tapi kan nama rasa ga bisa di ajak kompromi. Gue gak mau dia punya perasaan dengan wanita lain siapapun itu. Mas Ray cuma boleh cinta sama aku.Titik!" Rengek Shafa.


"Kalau kamu yakin suamimu mencintaimu kenapa harus takut Fa"


"Entahlah Nis, gue sekarang jadi suka paranoid sendiri. Gue kayaknya mulai stress deh sejak kedatangan tante Lilis dan Yola. Makanya gue seneng banget lo mau tinggal disini" Benar saja sejak seminggu terakhir Shafa memang tidak seperti biasanya. Dia menjadi sangat possesive dan cemburuan.


"Hush, ga baik ngomong gitu. Oh ya Fa, seandainya.. Ini seandainya loh. Kalau suamimu ternyata masih memiliki perasaan kepada Hana dan mereka bertemu kembali. Apa yang akan kamu lakukan?" Nisa mberanikan diri menanyakan hal tersebut pada Shafa. Toh Shafa tidak tahu bahwa Hana adalah dirinya.


"Enggak boleh. Mas Ray ga boleh ketemu sama Hana. Apalagi sampai jatuh cinta lagi. Kalu itu terjadi gue akan kabur" Jawab Shafa kesal.


"Kalau kamu kabur nanti dia nikah lagi gimana?" Tanya Nisa. Tiba-tiba Nisa senang melihat ekspresi Shafa yang kesal. Ada perasaan bahagia yang membuncah di hatinya bahwa ternyata dia adalah orang yang pernah di cintai oleh sosok Zidane Ar-Rayyan. Sebuah cinta yang tumbuh tulus dari hati. Bukan karena paksaan atau tekanan. Sesaat Nisa merasa dirinya lebih unggul dari Shafa. Terlihat egois, namun manusia dan egonya adalah hal yang tak bisa di naffikkan.


"Tau ah Nis. Gue mumet, Gue ke kamar dulu yah. Loe istirahat gih. Jangan capek-capek. Bye bye baby... Aunty ke kamar dulu ya!" Ucapnya mengelus perut Nisa.


Shafa meninggalkan kamar Nisa dengan seribu tanda tanya di kepalanya.

__ADS_1


Bagaimanaa kalau mas Ray masih mencintai Hana?


Bagaimana Kalau mereka ketemu lagi?


Bagaimana..... Bagaimana.....?


"Arrrgh" Shafa frustasi sendiri memikirkan hal itu.


"Maaaasss....Maaaasss Ray?!" Shafa mencari keberadaan suaminya di dalam kamar tapi tak menemukannya. Ia mulai khawatir.


"Jangan-jangan dia sama Yola" Shafa nampak gusar.


"Kenapa Sayang" Suara kalem tersebut berhasil mematahkan fikirannya. Rayyan baru saja keluar dari kamar mandi langsung di sergap dengan pelukan Shafa.


"Mas.. jangan tinggalin aku" Ucapnya. Dia sangat takut Ray meninggalkannya.


"Kamu kenapa sih? Mas ga kemana-mana kok" Ray menuntunnya duduk di atas Sofa. Shafa masih tak melepaskan pelukannya.


"Mas Cinta sama aku?" Pertanyaan klasik yang belakangan kerap di tanyakan.


"Cinta sayang..cinta" Ucapnya sambil menggesekan hidungnya ke hidung Shafa karena gemas.


"Kalau suatu saat nanti Mas ketemu dengan wanita lain yang sempurna mas ga boleh jatuh cinta lagi ya?!" Pinta Shafa.


Ray terkekeh mendengar permintaan istrinya.


"Mana ada manusia sempurna sayang" Jawabnya.


"Ada kok, seperti Hana!" Ujarnya. Shafa masih saja menganggap Hana adalah sosok wanita sempurna. Terlebih setelah mendengar penjelasan Nisa tadi.


Apa yang sebenarnya kamu dengar tentang Hana Shafa? Tidak mungkin Hana mengatakan bahwa dia adalah Nisa.


"Sayang, tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan para Nabi dan Ulama pun bukan manusia sempurna. Shafa tahu kenapa?" Tanyanya lembut. Shafa hanya menggeleng, yang ada di benaknya Nabi dan orang yang dekat dengan Allah sudah pasti masuk dalam kategori manusia sempurna.

__ADS_1


"Karena mereka adalah manusia biasa. Sama seperti Shafa, mas, dan Hana. Manusia memiliki ego dan Nafsu. Manusia dan nafsunya adalah hal yang tak dapat di pisahkan. Tapi Allah menganugrahi kita akal dan hati untuk mengendalikan nafsu tersebut" Terangnya. Shafa hanya manggut manggut.


"Shafa tidak boleh terlalu menyanjung kelebihan seseorang sehingga membuat Shafa merasa rendah. Percayalah Allah menciptakan kita dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. Kita akan sempurna jika bersama. Mas menutupi kekurangan Shafa dan Shafa menutupi kekurangan Mas. Jadi tidak ada yang paling sempurna di antara kita. Karena tanpa Shafa mas pun bukan laki-laki sempurna karena kamu adalah separuh dari Agamaku!" Rayyan memeluk erat istrinya. Ia cukup tau kegusaran di hatinya.


__ADS_2