Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Perpisahan


__ADS_3

Malam ini, kediaman Sonya Adam nampak berbeda dari biasanya. Beberapa penjaga berpakaian serba hitam terlihat tengah berjaga di depan gerbang dan pintu masuk rumah megah tersebut. Nampak juga beberapa orang yang sedang lalu lalang membawa box. Papa dan mama Sonya tengah berbincang-bincang dengan sanak keluarga di ruang keluarga yang terletak tepat di sebelah tangga.


Sonya menuruni anak tangga dengan perasaan hampa. Wajahnya sayu, tatapan matanya kosong dan tubuhnya gontai. Ia terlihat tidak memiliki semangat untuk hidup.


"Sonya? Mau kemana?" Tegur kakak Sonya yang bernama Surya.


"Mau cari udara segar kak" Jawabnya datar tanpa menatap kakaknya. Ia melanjutkan langkahnya menuju teras samping.


"Kalian berdua awasi Sonya" Titah Surya pada dua orang pembantu yang berusia sekitar 30 tahunan.


Sonya tidak peduli dengan dua orang yang mengikutinya dari belakang. Ia terus melangkah menuju ayunan yangvterbuat dari besi dan mendudukan dirinya di ayunan tersebut. Pandangannya menatap langit malam yang begitu cerah, sangat berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini.


Briyan... Are you okey there...


Pikirannya masih tertuju pada satu orang yang telah berhasil menyusup ke dalam hatinya yang dingin. Seseorang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mungkin inilah yang di sebut benci jadi cinta atau cinta datang karena terbiasa.


Sonya menutut wajahnya dengan telapak tangannya. Merenungi nasib pahit yang ia rasakan. Malam ini adalah malam terakhir ia menyandang status sebagai wanita single. Besok malam, ia sudah bukan lagi Sonya yang bebas. Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya esok malam. Hingga detik ini ia sendiri tidak berniat mengetahui siapa yang akan papanya nikahkan dengan dirinya esik hari. Yang pasti papanya mengatakan ia seorang pengusaha mapan, bertanggung jawab dan bukan play boy seperti Briyan.


"Sonyaaaaaaaa!!!!"


"Sonyaaaaaaaa!!!"


Sayup-sayup ia mendengar namanya di panggil. Ia sangat hafal suara tersebut. Suara yang hampir dua bulan ini mengisi hari-harinya. Terdengar suara keributan dari arah depan. Ia melihat keluarganya berlarian keluar.


"Briyaaan!!!" Sonya pun berlari menuju pintu keluar. Namun langkahnya di tahan oleh kakaknya saat berada di depaan pintu.


"Briyaaaan!!!!" Jeritnya saat melihat Briyan sudah di bekuk oleh pengawal yang berjaga di depan rumahnya.


"Masuk Sonya!!!" Bentak kakaknya.


"Nggak kak, aku ingin bertemu dia kak!!!" Lawan Sonya sambil berusaha mencari celah.

__ADS_1


"Kamu nekat juga Briyan? Apakah papamu belum menjelaskan semuanya ha? Masih bagus aku memberimu kesempatan hidup! Jangan coba-coba mengusik Sonya lagi!" Bentak papa Sonya.


"Briyan mohon om, berikan kesenpatan Briyan sekali lagi. Briyan akan lakukan apapun om!!!" Ujar Briyan dengan tatapan memohon.


"Tidak Briyan. Sonya akan menikah besok!!! Jadi jangan pernah datang lagi untuk menemuinya atau....." Papa Sonya menghentikan ucapannya.


"Atau apa om?"


"Atau bukan hanya kamu yang aku hancurkan tapi juga perusahaan keluargamu!!!" Ujar papa Sonya dengan tatapan tajam.


"Papa.... Ijinkan Sonya berbicara pada Briyan untuk terakhir kalinya pa. Sonya mohon" Pinta Sonya sambil menatap papanya. Tatapan Sonya begitu sayu membuat siapapun tak akan tega melihatnya.


"Baik! Papa beri kamu waktu 10 menit. Tidak lebih! Setelah itu pergi dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di tempat ini!" Ujar Papa Sonya sambil menatap tajam kepada Briyan.


Sonya melangkah perlahan menghampiri Briyan. Air matanya masih meleleh membasahi pipinya. Di raihnya tangan kiri Briyan kemudian menariknya ke sebuah bangku taman tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Briyan menggenggam erat tangan Sonya seakan tak ingin melepaskannya lagi.


"Maafkan aku Sonya. Aku terlambat menyadari perasaanku padamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu Sonya" Balas Briyan dengan tatapan sendu sambil menangkup wajah Sonya.


"Mungkin ini sudah rencana Tuhan Bri. Dimanapun kamu nantinya, dengan siapapun kamu akhirnya, aku harap Tuhan memberikan kebahagiaaan untukmu." Balas Sonya.


"Bahagiaku hanya bersamamu Sonya" Ujar Briyan.


"Jangan gombal Bri! Apakah sekarang kamu sudah jatuh cinta dengan wanita es penyuka sesama jenis ini?" Ledek Sonya mencoba menghibur tapi justru membuat keduanya semakin larut dalam tangisnya. Semuanya terkenang, awal mula pertemuan mereka, pertentangan sampai saat saat mereka saling mengusili satu sama lain.


Briyan menarik tubuh Sonya kedalam dekapannya. Keduanya menangis mengenang cinta mereka yang harus pupus sebelum berkembang.


"Jaga dirimu baik-baik Sonya! Doaku selalu menyertaimu" Bisiknya dengan suara paraunya.


"Kamu juga Briyan! Hiduplah dengan baik, semoga kamu dipertemukan dengan orang yang lebih baik dari ku" Ujar Sonya sambil terisak.

__ADS_1


"Tidak ada yang lebih baik darimu Sonya. Wanita yang rela mengirbankan dirinya demi aku. Anda aku tahu semua akan seperti ini, aku lebih memilih mati di tangan papamu kemarin"


"Stttt.... Jangan berkata seperti itu Bri, aku lebih baik melihatmu bersama orang lain dari pada tidak melihatmu sama sekali." Balas Sonya sambil meletakan ujung jarinyaa di bibir Briyan.


"Waaktunya sudah habis! Silahkaan teinggalkan tempat ini" Ujar papa Sonya tegas.


Sebelum pergi Briyan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ia memberikannya sambil menjabat tangan Sonya.


"Simpanlah sebagai hadiah pernikahan dari ku. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu Sonya" Ujar Briyan sebelum ditarik pergi oleh pengawal papa Sonya.


Sonya semakin tak bisa menahaan tangisnya. Ia terduduk kembali sambil meletakkan tangannya di dadanya


Ia menangis pilu sejadi-jadinya tapi tak di hiraukan oleh papanya.


"Ma, bawa Sonya masuk ke kamarnya" Perintah papanya.


Beberapa orang kemudian menuntun Sonya masuk kedalam kamarnya. Ia berjalan sambil terus menangis mendekap benda pemberian Briyan.


"Sudah nak, sudah. Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah untukmu. Yakinlah semua akan berlalu. Tak lama lagi kamu pasti akan melupakannya dan mulai mencintai suamimu" Ujar mama Sonya. Ia juga terlihat sedih melihat putrinya seperti itu. Tapi apa daya. Papa Sonya adalah pemegang kekuasaan di rumah itu. Setiap ucapannya tak bisa di bantah. Ia bukan saja di takuti oleh anggota keluarganya tapi juga rekan bisnisnya.


Setelah lelah menangis Sonya membuka genggaman tangannya perlahan. Ia ingin melihat benda yang tadi Briyan berikan padanya. Sonya menyunggingkan senyum di sertai air mata saat melihat sebuah kalung berantai kecil dengan sebuah liontin berbentuk hati yang terbuat dari susunan berlian berlian kecil. Sonya tahu itu bukanlah kalung biasa. Mamanya adalah seorang pengusaha perhiasan, sehingga Sonya tahu betul dengan barang yang ada di tangannya saat ini. Briyan mungkin telah menguras semua tabungannya untuk membelikannya kalung kecil tapi bernilai fantastis itu.


Dasar bodoh! Kamu bahkan bisa membeli 5 buah mobil dengan kalung ini Briyan! Gumamnya sambil tersenyum getir.


.


.


.


.

__ADS_1


_____________________


__ADS_2