
Siang itu Rayyan sudah berada di sebuah rumah bernuansa putih dan gold yang menjadi kediaman bapak Harsha Juniawan dan Fanny Azura. Ia seperti seorang terdakwa yang siap memberikan keterangan. Dia tidak memiliki kebranian menatap dua orang di hadapan nya.
Ray menceritakan semua peristiwa yang terjadi antara dirinya dan juga Shafa. Kecuali bagian dimana ia menampar Shafa tidak di ceritakannya. Bukan nya takut, Rayyan hanya tidak ingin Mommy nya semakin marah.
"Kamu yakin yang Shafa lakukan pada tante dan sepupumu itu hanya berdasarkan tuduhan saja Ray?" Tanya Momny yang sejak tadi menahan amarahnya.
"Ray yakin mom. Karena Ray melihat sendiri Shafa melakukan hal itu pada Yola dan tante Lilis. Ray juga mendengar langsung Shafa menuduhnya yang bukan-bukan" Jawab Ray berusaha menjelaskan sesuai apa yang ia lihat dan ia dengar.
"Mommy tidak percaya!" Tegas Fanny.
"Berarti kamu sama sekali belum mengenal Shafa Ray. Mommy tahu betul siapa anak Mommy. Mommy akui, Shafa memang sedikit liar, boros dan susah di atur. Tapi Shafa bukanlah seorang pembohong apa lagi pemfitnah seperti yang kamu katakan tadi" Ujar Fanny dengan air mata yang tak bisa di bendung. Ia tidak bisa menyembunyikan kemarahan nya pada menantu yang selama ini ia banggakan. Ia juga menyesal, kenapa waktu itu ia melarang Shafa untuk pulang ke rumah.
"Selama kalian menikah, pernah Shafa berkata tidak jujur padamu Ray? Bahkan saat ia mau menemui Sam, dia terlebih dahulu meminta izin padamu. Dan sekarang kamu masih ragu bahwa yang di katakan Shafa adalah kebohongan semata." Rayyan tak mampu menjawab pertanyaan Mommy. Karena ada dasarnya Shafa memang tidak pernah berbohong pada Rayyan. Bahkan saat hendak mengirim uang kepada Nisa, Shafa pun mengatakannya pada Ray. Padahal bisa saja ia mengirimnya secara sembunyi-sembunyi.
"Apa menurut Mommy tante Lilis dan Yola yang berbohong?"
"May be!" Jawab Mommy acuh.
"Benar Ray! Shafa memang tidak sebaik wanita lain. Tapi Shafa kami tidak mungkin berbohong" Kali ini Daddy menimali membuat Ray semakin tak berdaya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa pada Shafa. Mommy tidak akan memaafkan kamu Ray!" Ujar Mommy sambil menatap tajam pada Rayyan.
"Tenang dulu Mom. Rayyan juga sedang bingung. Mommy jangan malah menambahi" Ujar Daddy.
"Mau tenang bagaimana Dad. Shafa pergi ga bawa apa-apa. Gimana kalau dia kelaparan di luar sana, dia mau tinggal dimana Dad. Daddy pikir Shafa bisa hidup tanpa uang. Apalagi kalau dia benar-benar hamil, bagaimana janin dalam kandungannya kalau ibu nya sendiri luntang-luntung tanpa tujuan yang jelas" Ujar Fanny berapi-api.
Rayyan merasa seperti oksigen dari dalam tubuhnya di tarik paksa. Sakiiit hatinya mendengar ucapan Mommy.
"Daddy tahu mom, tapi Mommy tenang dulu. Shafa bukan anak kecil lagi Mom. Kita harus yakin dia akan baik-baik saja" Daddy mencoba menenangkan.
"Mommy gak mau tahu, Kalian harus temukan Shafa secepatnya! Kalau perlu bayar semua intelegen yang ada di kota ini untuk menemukan Shafa" Ujar Mommy yang sudah tidak bisa di tenangkan dengan cara apapun.
Daddy segera meraih ponsel di atas meja untuk menghubungi seseorang.
"Hallo,Jefri! Lacak keberadaan Shafa lewat GPS yang tepasang di handphonenya. Sekarang!" Perintahnya pada salah seorang Intelejen. Sebelum menikahkan Shafa dengan Rayyan, Harsha tidak pernah membiarkan Shafa tanpa pengawasan. Sifatnya yang liar dan hobi traveling ke berbagai negara di dunia membuat Harsha was was. Terlebih ia pernah punya keinginan untuk menikah dengan Sam di luar negeri. Harsha selalu memasang GPS tersembunyi di handphone Shafa agar mudah di ketahui keberadaan nya dan di pantau.
"Kita akan segera menemukan Shafa!" Ujar Daddy penuh keyakinan.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti di halaman rumah Daddy. Seorang pria gagah berpakaian serba hitam masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana Jeff?"
"Saya sudah menemukan lokasi Shafa. Saat ini ia berada salah satu pusat perbelanjaan. Kita harus segera kesana" Ucap pria itu tegas.
"Baik! Ayo Ray" Ujar ayah.
"Mommy ikut!!!" Sela Mommy yang tidak mau ketinggalan.
Tak cukup 10 menit mereka semua telah tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang di maksud. Jeffri berada di depan diikuti oleh Rayyan dan kedua orang tua Shafa di belakang nya.
Alat pendeteksi yang di bawa oleh Jeffri mengarah ke sebuah toko yang berada di tempat itu. Jefri nampak bingung menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Jeff, Dimana Shafa" Tanya Momny tak sabar.
"Ini lokasi yang di tunjukan oleh GPS yang terpasang di handphone nona Shafa bu" Jawab Jefri.
Mereka berhenti di sebuah Gallery yang menjual handphone kelas atas.
"Ada yang bisa saya bantu pak, bu" Ucap menager itu dengan sopan.
"Saya sedang mencari anak saya, dan GPS khusus yang terpasang di handphone nya menunjukan lokasi ini" Jawab ayah.
"Apakah ada karyawan baru di tempat ini pak?" Tanya Mommy. Ia tiba-tiba kepikiran mungkin saja Shafa mencari pekerjaan.
"Maaf bu, kami tidak memiliki karyawan baru disini"Jawabnya.
"Tapi, Informasi ini tidak mungkin salah pak" Ujar Jeffri menunjukan alat yang seperti tablet yang dengan titik hijau yang terus menyala.
"Apakah ada seorang wanita yang baru-baru kemari untuk menjual handphone nya pak?" Tanyaa Rayyan tiba-tiba.
"Kalau itu ada! Kalau tidak salah kemarin" Jawab manager tersebut.
"Bisa saya lihat handphone nya pak" Tanya Rayyan antusias.
"Tunggu sebentar ya pak"
__ADS_1
Semoga bukan handphone Shafa ya Allah.
"Ini dia handphonenya pak!" Manager tersebut memperlihatkan sebuah i-phone keluaran terbaru yang setara dengan harga 2 buah motor matic.
Jeffri mengambil handphone tersebut dan mulai mengeceknya.
"Benar, Ini handphone nona Shafa" Ujar Jeffri.
"Tidaaaak!!!" Teriak Mommy yang langsung tak sadarkan diri.
"Mommy... Bangun Mom" Daddy dan Rayyan nampak panik.
"Jeff, bantu ibu ke mobil" Ujar Daddy pada Jeffri.
"Baik pak" Jeffri segera mengangkat tubuh Fanny dan membawanya ke mobil.
"Ray, kamu cari Shafa dulu, Daddy akan urus Mommy" Ucap Daddy yang langsung meninggalkan Rayyan membawa istrinya.
"Pak, saya akan membeli kembali handphone ini" Ucap Rayyan pada manager toko tersebut.
"Baik pak"
Setelah mendapatkan kembali handphone Shafa, Rayyan meninggalkan pusat perbelanjaan tadi dengan hati yang kian tak menentu. Setelah Shafa menjual handphone nya, tentu akan sangat sulit untuk menemukan nya apa lagi menghubungi nya. Bahkan mungkin Shafa telah mengganti nomor telrphone nya.
Kenapa sulit sekali menemukanmu Shafa. Dimana kamu sekarang? Aku merindukan mu. Pulang lah!!!
Rayyan menyusuri jalanan ibu kota yang biasa di lewatinya. Berhenti di tempat-tempat yang biasa di singgahi Shafa. Seperti penjual es buah simpang 3 yang beberapa hari terakhir ini menjadi tempat wajib yang harus ia datangi.
"Silahkan pak! Seperti biasa ya?" Tanya mamang penjual es buah yang sudah sangat hafal dengan Rayyan.
"Iya" Jawabnya singkat.
"Kemarin mbaknya sendiri, sekarang Mas nya. Kok nggak sama-sama sih Mas" Ucap penjual es tersebut yang membuat Rayyan tersentak!
_________________
Like, and Vote nya Plisss😍❤️❤️❤️😘😘😘
__ADS_1