
Setelah melihat gelagat mencurigakan dari wanita bernama tadi, Rayyan memilih untuk ikut Shafa menyusul Zafran yang tengah bahagia dalam gendongan paak Benny. Bagaimana tidak para gadis-gadis cantik silih berganti memberinya makanan yang di sukai nya. Entah karena mereka memang gemas pada bocah tampan bermata sipit tersebut atau mereka hanya ingin mencuri perhatian pak Benny.
"Sayang, lihat nggak tadi keluarga Mr.Ray? Harmonis banget ya? Aku jadi pengen punya keluarga kecil seperti mereka" Bisik Sonya yang tengah berdiri menyalami beberapa tamu yang baru datang.
"Iya cinta, aku juga udah nggak sabar pengen punya anak seganteng Zafran, jiwa ke bapak an ku sudah mulai memanggil. Kamu nggak minum pil KB kan cinta? Biar aku semakin semangat menanamnya" Ujar Briyan.
"Hish, apaan sih kok jadi ngomongin pil KB." Sonya menyikut Briyan lantara ucapannya yang selalu menjurus pada hal-hal berbau ranjang.
"Ehm..."
Suara deheman itu mengalihkan perhatian Briyan dan Sonya yanhbsedang asyik mengobrol hingga tak menyadari seseorang tengah mengantri untuk berjabat tangan dengannya.
"Hi...Dear selamat ya" Tiba tiba saja wanita itu memeluk dan mencium pipi Briyan di hadapan Sonya. Seorang wanita cantik berkulit putih dengan rambut yang di sanggul tinggi dengan beberapa rambut menjuntai di sisi kiri dan kanannya berhasil mengusik hati terdalam Sonya.
"El...Ellena?" Briyan cukup terkejut melihat wanita yang pernah tinggal bersamanya di Los Angeles hadir di acara pernikahannya.
Ellena Elizabeth merupakan putri salah satu pengusaha tambang di Kalimantan yang juga menimba ilmu di negeri paman Syam. Ia berkenalan dan meenjadi kekasih Briyan selama kurang lebih 1 tahun. Ellena ini jugalah wanita yang pernah di pergoki Shafa tengah bermesraan dengan Briyan. Di antara semua kekasihnya, hanya Ellena yang berhubungan paling jauh dengan Briyan. Keduanya bahkan pernah tinggal se atap selama hampir 2 bulan. Meski tidak terjadi apa-apa, tetap Ellena menganggap Briyan lebih dari sekedar kekasih dan berharap Ia yang akan menjadi pendampingnya.
"Kamu pasti heran kenapa aku berada disini. Oh ya, aku lupa, aku ingin mengembalikan ini" Ia memberikan sebuah kartu yang merupakan kunci apartemen Briyan.
"Terimakasih, atas semua kenangan indah selama kita tinggal bersama. Semoga kamu bahagia dengan pilihan orang tuamu" Ujarnya di sertai senyuman kecut.
"Terima kasih El, aku sudah sangat bahagia dengan istri tercintaku ini" Balas Briyan yang hatinya cenat-cenut takut Sonya salah paham atau marah.
"Baiklah, kalau kamu butuh aku, kamu bisi menghubungiku" Bisik Ellena yang terdengar oleh Sonya.
Setelah menyalami Briyan Ellena langsung turun pelaminan tanpa menyalami ataupun melirik Sonya. Hal ini tentu membuat Sonya geram, tapi sebisa mungkin ia tahan mengingat banyak tamu undangan yang mengantri untuk mengucapkan selamat padanya.
"Cinta, kamu jangan salah paham ya?" Ujar Briyan sambil menatap Sonya yang pandanganya luris ke depan.
Sabar Sonya. Ini baru satu wanita. Bukan tidak mungkin jika selanjutnya akan ada lagi wanita seperti dia. Mengingat Briyan adalah mantan Play Boy kelas paus. Kenapa hatiku jadi ragu kembali ya? Bagaimana jika dia hanya membual kalau dia hanya mencintai aku.
"Cinta, please percaya padaku!" Bisik Briyan sambil menggenggam tangan Sonya. Sonya masih tidak mau menatap Briyan. Ia masih memfokuskaan pandangannya ke pada para tamu undangan.
__ADS_1
"Briyan, selamat! Aku nggak nyangka kamu beneran menikah" Ujar seorang wanita yang lagi-lagi mengalihkan perhatian Sonya. Kali ini bukan hanya satu, tapi tiga sekaligus yang berbaris siap menunggu giliran mengucapkan selamat. Mereka semua tampil cantik dengan make up tak kalah tebal dari make up Sonya. Sudah bisa di tebak mereka semua pasti seseorang yang pernah memiliki hubungan dengan Briyan.
"Terima kasih Sela, semoga kamu juga segera menemukan jodohmu" Jawab Briyan. Wanita bernama Sela tersebut kemuadian beralih menyalami Sonya. Sonya mencoba tersenyum ramah meski hanya di tanggapi ekspresi datar dari wajahnya.
"Selamat Briyan, semoga kali ini kamu benar-benar insyaf" Ujar wanita berikutnya.
"Amin, Terima kasih Sandra" Jawab Briyan sekedarnya. Diapun melewati Sonya tanpa menjabat tangannya seperti yang di lakukan Ellena di awal tadi.
Fix, pasti itu mantannya si play boy cap paus ini. Gumam Sonya setelah wanita itunmelewatinya begitu saja.
"Selamat Briyan, Jangan lupakan aku ya?" Ucap wanita ketiga, sontak membuat Sonya menoleh ke arahnya.
"Terimakasih Gea, tapi maaf sepertinya aku harus melupakanmu" Ujar Briyan. Sonya sedikit tersenyum mendengar jawaban Briyan berbeda dengan Gea, dia justru menampakaan muka masam dan kembali melewati Sonya begitu saja.
"Huhhh" Briyan mendengus lega, setelah tiga wanita tersebut turun dari pelaminan.
"Ada berapa banyak lagi mantanmu yang belum mengucapkan selamat?" Tanya Sonya dingin.
"Oh ya? Bagaimana dengan yang ini?" Ujar Sonya.
"Briyan...."
"Selamat..." Ujar Devi lirih, wanita yang malam sebelumnya menghubungi Briyan via video call. Juga wanita terakhir yang dekat dengan Briyan bahkan janjian akan liburan bersama sebelum Briyan benar-benar terpaut pada Sonya.
"Terima kasih Dev"
Grep!
Tiba-tiba Devi memeluk Briyan dihadapan semua orang membuat mereka terperanjak.
"Lepas Dev!" Ujar Briyan.
"Kenapa Bri? Kenapa kamu ninggalin aku" Ujar Devi masih terus memeluk leher Briyan meski Briyan menolak.
__ADS_1
"Briyan! Apa apaan kamu!" Tegur mama yang duduk mendampingindi sebelah Briyan.
"Dev Lepas!" Akhirnya Briyan berhasil melepaskan pelukan Devi. Hampir semua mata tertuju pada Briyan dan Devi yang terlihat seperti drama pacar yang di tinggal menikah. Sedangkan Sonya hanya menunduk. Ia malu, malu bahwa suaminya menjadi pusat perhatian terlebih ada wanita lain di dekatnya.
"Aku tidak akan menyerah Briyan!" Ujarnya sambil mengusap butiran bening di sudut matanya. Devi bergeser tepat di depan Sonya. Ia mengulurkan tangannya. Dengan ragu Sonya menyambut uluran tangan Devi.
"Awww" Pekik Sonya ketika Devi menekan dengan keras jari-jari Sonya. Sonya segera menarik tangannya dan mengibas-kibaskannya. Devi tersenyum sinis pada Sonya sebelum meninggalkannya.
"Kamu tidak apa-apa Cinta?" Tanya Briyan sambil menyentuh tangan Sonya.
"Selanjutnya, kalau ada mantan pacarmu lagi, sebaiknya beri tahu aku agar aku tidak perlu repot repot menjabat tangannya. Mereka bisa mematahkan jari-jariku" Jawab Sonya ketus.
"Maafkan aku Sonya" Ujar Briyan menatap sendu wajah Sonya yang cantik meski tanpa senyum.
"Sejujurnya bukan ini yang aku harapakan di momen bahagia kita." Imbuhnya.
"Diharapkan atau tidak, semuanya sudah terjadi. Jadi nikmatilah!" Jawab Sonya. Tak bisa di pungkiri, hatinya sakit saat melihat Briya di peluk dan dicium oleh wanita lain, meski mereka duluan hadir di hidup Briyan. Terlebih saat salah satu di antara mereka mengatakan pernah tinggal bersama, membuat Sonya yakin beribu persen bahwa Briyan yang katanya masih perjaka dan original itu semua hanyalah omong kosong belaka. Dua orang yang saling mencintai tinggal bersama di bawah satu atap, bukankah mustahil jika mereka hanya tinggal bersama tanpa di sertai kagiatan lain yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah? Terlebih saat keduanya jauh dari keluarga dan orang tua.
"Huhhhhhh" Sonya menghembuskan nafas panjang saat melihat 4 orang wanita cantik berjalan menuju pelaminan.
"The next mantan is coming sayang" Ujar Sonya dengan lirikan tajam pada Briyan.
"Oh God!!!" Ujar Briyan saat melihat ke 4 wanita tersebut mendekat.
"Hai Briyan, selamat ya?"
"Terimakasih Silvi" Balasnya sambil tersenyum canggung.
"Selamat ya, semoga pernikahan kalian bertahan" Ujarnya pada Sonya dengan senyum manis meski di balik ucapan tersebut tersirat makna terselubung.
"Terimakasih" Jawab Sonya dengan senyum seramah mungkin.
Satu demi satu para wanita tersebut menyalami Briyan dan Sonya. Namun wanita terakhir yang mengucapkan selamat pada mereka, membuat Sonya ingin menjatuhkan air matanya. Dadanya terasa sesak dan hatinya teriris mendengar Ucapan wanita bernama Angel tersebut.
__ADS_1