Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Hampir Saja


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti ruang tamu rumah Shafa sesaat setelah Shafa memperkenalkan Aini, istri Jeffri. Aini terlihat sedikit menunduk tak berani menatap Daddy Shafa yang sedang memangku Zafran atau pun Mommy Shafa yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Hafiz ayo kita main motol-motol" Suara Zafran sedikit meramaikan ruangan itu. Ia mengajak Hafiz yang masih memakai seragam sekolah bermain motor listrik miliknya di teras depan.


"Kak Aini silahkan di minum" Shafa mempersilahkan Aini minum minuman yang baru saja di bawakan oleh bi Lastri.


"Terima Kasih Fa" Ujarnya.


"Mommy sama Daddy kenapa diam aja? Ini istri kak Jeff lho Mom" Tanya Shafa yang merasa aneh dengan kedua orang tuanya.


"Oh... Mmm Jeffri kapan pulang?" Tanya Mommy sekedar basa - basi.


"Mas Jeffri tidak mengatakan kapan dia akan pulang bu" Jawab Aini sopan.


"Oh ya? Kamu kan istrinya, mana mungkin dia tidak bilang kapan dia akan pulang?" Mommy menaikan sebelah alisnya.


"Mas Jeffri hanya mengatakan tugasnya kali ini bisa jadi cepat bisa jadi lama" Balasnya lagi.


"Oh ya kak, kak Jeff sudah nelfon kakak?" Tanya Shafa. Aini menggeleng.


"Mas Jeffri berpesan, jangan menghubunginya. Jika senggang dia yang akan menelfon."


"Astaga kak Jeff ini. Dan kakak percaya? Bagaimana kalau Kak Jeff disana di ganggu cewek lain? Bagaimana kalau kak Jeff dapat istri baru.. OMG" Shafa membayangkan yang tidak-tidak.


"Shafa!" Daddy memberi peringatan atas ucapan Shafa.


"Dasar sebuah hubungan itu adalah rasa saling percaya Shafa. Aku percaya sama Mas Jeffri, kalaupun dia di sana menikah lagi, dia pasti punya alasan lain. Karena tidak selamanya sesuatu yang kita anggap buruk benar-benar buruk" Jawab Aini tenang. Jawaban Aini itu seperti menampar ke dua orang tua Shafa.


"Kak Aini memang keren. Pantesan kak Jeff ga pernah berpaling" Ujar nya yang begitu mengagumi sosok Aini.


"Oh ya Fa, aku harus pulang. Insha Allah lain kali aku main lagi" Ujar Aini yang hendak berpamitan.


"Loh kok buru-buru kak? Makan siaang disini saja" Tahan Shafa.


"Ga bisa Fa, nenek nya Hafiz sendiri di rumah. Pak, bu saya permisi dulu" Ujar Aini undur diri.


Shafa mengantar Aini sampai di depan rumahnya sebelum ia benar-benar hilang dari pandangannya.


"Mommy dan Daddy kenapa sih, kok nggak welcome sama istri kak Jeff" Ujar Shafa sedikit kesal dengan mommy dan daddynya.


"Ah, itu perasaan kamu saja Fa, kamu kaan lagi hamil jadi perasa banget" Jawab Mommy.


"Mom, justru karena Shafa hamil Shafa bisa merasakan ada sesuatu yang momnybdan daddy sembunyikan dari Shafa!" Shafa menatap kedua orang tuanya bergantian.

__ADS_1


"Yah, daddy jujur. Daddy kecewa sama Jeffri karena menikah tanpa memberi tahu kami. Padahal kami adalah salah satu orang terdekatnya. Daddy dan mommy baru tahu setelah beberapa waktu" Ujar Daddy.


"Benar!" Timpal mommy membenarkan.


"Mommy dan Daddy nggak tahu jalan cerita kak Jeff dan kak Aini!" Shafa semakin kesal mendengar alasan Mommy dan Daddynya marah pada Jeffri.


"Memangnya kamu tahu? Kami lebih mengenal Jeffri daripada kamu Shafa" Balas Mommy.


"Aku tahu mom. Kak Aini sudah menceritakan semuanya"


"Apa?" Sahut mommy cepat.


"Ih mommy kepo deh" Ledek Shafa. Shafa ingin tertawa melihat ekspresi mommynya.


"Katakan cepat atau mommy akan pulang" Ancam mommy.


"Yah, mommy pake ngancam segala. Jadi gini...."


Shafa mulai bercerita tentang perjalan cinta Jeffri dengan Aini seperti yang ia dengar dari Aini. Shafa menceritakannya dengan mata berkaca-kaca.


"Ya Allah Jeffri!!!" Mommy menutup mulutnya. Dadanya terasa pedih mendengar cerita Shafa. Daddy merangkul mommy menenangkan.


"Kita sudah salah sangka dad dengan wanita itu" Ujar Mommy.


"Tuh, makanya mommy jangan asal marah, kak Aini itu orang baik Mom, dia selalu bantuin Shafa, mengingatkan Shafa ketika di sekolah. Dia sama seperti kak Jeff yang selalu menjaga Shafa" Kali ini Shafa tidak dapat menahan air matanya.


"Ya Itukan karena kak Jeff, nggak mau ngenalin dia ke orang tuanya. Jadi bukan sepenuhnya salah kak Aini" Ujar Shafa.


"Sudah...sudah... Sepulangnya Jeffri nanti kita harus minta maaf dan memanggilnya bersama istrinya ke rumah" Ujar Daddy yang di angguki oleh mommy.


"Iya kalau kak Jeff pulang kalau tidak? Bukannya kak Jeff bilang...."


"SHAFA..!!!" Bentak Mommy berhasil membungkam Shafa. Ia kaget melihat mommynya melotot ke arahnya.


"Setiap ucapan adalah doa, jangan berucap yang tidak-tidak. Kita doakan Jeffri pulang dengan selamat" Ujar Daddy.


"Amiiin... Mom, pinggang Shafa kok kram ya? Apa Jangan-Jangan Shafa mau melahirkan" Ujar Shafa yang merasakan kaku pada bagian pinggangnya.


"Iti karena kamu bandel! Mulai besok tidak usah mengantar Zafran ke sekolah lagi!" Mommy mendekati Shafa dan menuntunnya menuju sofa di ruang tengah.


"Mommy galak banget sih sama Shafa. Giliran sama kak Jeff dan mas Rayyan baik. Yang anak mommy siapa sih sebenarnya? "


"Semua anak Mommy! Sudah jangan banyak bicara. Sekarang miring!" Titah mommy menyuruh Shafa berbaring memiringkan tubuhnya.

__ADS_1


"Bagaimana? Sudah enakan?" Tanya Mommy. Tangannya dengan telaten mengurut lembut punggung Shafa.


"Iya mom, udah enakan. Itu kenapa yah mom?" Tanyanya.


"Ini biasa di usia kandungan yang sudah semakin tua. Nanti kalau terasa pegal dan kram lagi, suruh Rayyan melakukan seperti mommy tadi" Ujarnya sambil menurunkan kembali baju Shafa.


"Mom, mommy tinggal di sini sampai Shafa melahirkan ya" Rengeknya sambil memeluk mommynya.


"Selama kamu nurut apa kata Mommy" Jawab mommy.


"Iya.. mom iya, Shafa kan anak yang penurut" Jawabnya.


Waktu menunjukan pukul empat sore, tapi Rayyan masih berada di kampus. Ia dan beberapa rekan dosen lainnya termasuk Sonya tengah menguji mahasiswa sidang thesis.


"Mr. Ray, kalau nanya jangan yang susah-susah supaya cepat di jawab. Briyan sudah menunggu di parkiran" Bisik Sonya. Ia hafal betul, saat sidang mahasiswa Rayyan merupakan salah satu dosen yang paling teliti dan kritis dalam memberikan pertanyaan kepada mahasiswa. Rayyan tersenyum mendengar bisikan bu Sonya. Ia pun sama, tak ingin berlama-lama berada di ruang ujian karena keluarga kecilnya pasti sudah menunggu di rumah.


Setelah selesai menguji, Rayyan segera bergegas keluar ruang ujian dan tanpa sengaja ia ditabrak oleh seseorang.


"Aww..." Pekiknya sesaat setelah menabrak Rayyan.


"Maaf...maaf, saya tidak sengaja" Ujara Rayyan, padahal ia lah yang di tabrak.


"Ga papa" Ujar wanita yang menabrak Rayyan sambil memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai. Karena merasa tidak enak Rayyan membantu wanita tersebut memungut kertas kertas hasil ujian mahasiswa.


"Pak Rayyan? Pak Rayyan kan?" Tanya wanita itu sambil menatap Rayyan. Rayyan segera mengalihkan pandangannya dan berdiri hendak pergi.


"Saya Dewi, yang pesta bu Sonya. Apa bapak masih ingat" Ia menahan langkah Rayyan.


"Oh iya, maaf bu Dewi. Saya buru-buru" Ujar Rayyan sambil melangkah pergi.


"Tunggu" Panggilnya membuat Rayyan kembali menoleh.


"Emm... Bisa saya numpang mobil pak Rayyan? Kebetulan jemputan saya belum datang sejak tadi" Pintanya dengan wajah memohon.


"Ga Boleh! Soalnya Mr. Ray ada keperluan lain yang teramat sangat mendesak. Mommynya Zafran pasti sudah menunggu. Iyakan Mr. Ray?" Sahut Sonya yang tiba-tiba muncul.


"Iya, benar! Maaf bu Dewi saya duluan. Assalamualaikum!" Ujarnya melangkah beriringan dengan Sonya meninggalkan bu Dewi sendirian. Rayyan sebenarnya kasihan tapi ia tidak mau membangunkan macan yang sedang tidur. Karena apabila Shafa mengetahuinya dia bisa marah 7 hari 7 malam. Lagi pula, haram bagi seorang muslim laki-laki berduaan dengan wanita yang bukan muhrimnya.


"Terima kasih bu Sonya telah membantu saya" Ujar Rayyan saat berjalan menuju parkiran.


"Sama-sama. Mr. Ray tau nggak sih kalau dia itu terkenal suka godain dosen-dosen kece. Pak Dekan aja pernah punya skandal sama dia. Tapi ini rahasia ya?" Bisik Sonya.


"Yang bener bu Sonya?" Rayyan sedikit ragu.

__ADS_1


"Beneran, ini anak-anak mahasiswa loh yang cerita" Ujarnya.


Huh... Hampir saja!


__ADS_2