
Happy Reading 😍😍❤️
Jangan lupa like, comnt and vote ya..
Terimakasih yang sudah setia membaca novel ini. Buat yang nggak suka konflik harap sabar. Author nggak mungkin ngikutin maunya reader satu-satu karena novel ini sudaah di tentukan alur samai endingnya. Anggap saja konflik itu hujan yang karenanya akan muncul pelangi yang indah.😍😍😍
________________________
Setelah mengelilingi rumah mertuanya, mencari di setiap sudut dan sisi, tetap saja Rayyan tidak menemukan keberadaan Shafa. Ia juga beberapa kali menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif. Ia juga mengirimkam pesan namun tidak ada balasan bahkan tidak terbaca sama sekali.
Rayyan melajukan mobilnya menuju rumah ibu nya. Berharap Shafa berada di sana. 15 menit kemudian ia telah tiba di sebuah rumah bergaya khas Timur Tengah tersebut. Ia segera berlari masuk ke dalam mencari ibunya.
"Bu... Ibu" Panggilnya.
"Ada apa Ray? datang-datang kok nggak ngucap salam?" Jawab ibunya yang menghampirinya dari arah belakang.
"Apa Shafa disini bu?" Tanyanya langsung. Kepanikan tergambar jelas di wajahnya yang selalu di bingkai dengan sebuah kaca mataa bening itu.
"Shafa? Ga ada Ray! Memang dia bilang mau kesini?" Jawab ibu yang mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan anak dan menantunya.
"Duduk sini!" ibu menarik tangan Rayyan
Mengajaknya duduk di sofa ruang tengah agar ia bisa berbicara dengan nyaman.
"Semalam Shafa pergi bu." Ucap Ray dengan mimik serius. Beberapa kali ia mengacak rambutnya.
"Apa? Pergi?" Teriak ibu seolah tidak percaya. Teriakan ibu itu mencuri perhatian seseorang pria yang juga baru tiba.
"Apa yang terjadi Ray?" Tanya Ayah yang ikut bergabung di ruang tengah.
"Shafa pergi yah! Kamu apain Shafa Ray? sampai dia pergi dari rumah." Tanya ibu dengan wajah yang tak kalah panik.
"Tenang dulu bu! Rayyan, benar Shafa pergi dari rumah?" Tanya ayah yang lebih bisa bersikap tenang.
__ADS_1
"Iya Ayah. Dia bilang mau pulang tapi Ray tidak menemukannya di rumah Mommy" Jawabnya.
"Apa kamu sudah menghubunginya?" Taanyanya lagi.
"Sudah yah, tapi handphonenya mati"
"Kenapa kamu biarkan dia pergi Ray!" Bentak ibu yang mulai marah dengan putra kesayangannya itu.
"Sabar bu!" Ayah memperingatkan.
"Sabar gimana yah, Shafa pergi nggak tau kemana dan ayah masih bisa bilang sabar?" Omel ibu yang tak terima.
"Ray, sekarang kamu jelaskan, kenapa Shafa sampai pergi dari rumah!" Pinta Ayah.
Rayyan menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
"Dua minggu terakhir ini Shafa mulai bertingkah aneh ayah. Rasa curiga dan cemburunya terhadap Ray terlalu besar. Dia selalu berfikir Rayyan selingkuh di belakangnya. Bahkan dengan Yola dan tante Lilis pun dia selalu berfikir bahwa mereka akan mengambil Ray dari nya. Selain itu dia selalu mencari tahu tentang Hana, wanita yang pernah Ray ceritakan pada ibu waktu di Kairo. Na'as nya Hana itu adalah Nisa, sahabat Shafa yang dibawa nya untuk tinggal di rumah sementara waktu. Rayyan sengaja tidak memberi tahu Shafa kalau Hana adalah Nisa karena Rayyan takut Shafa akan marah. Sampai akhirnya Shafa tahu setelah membaca pesan yang di kirim Hana ke ponsel Ray. Disitulah dia mulai hilang kendali dia bahkan menampar Yola dan menyerang tante Lilis saat berusaha menegur nya. Rayyan sudah berusaha menjelaskan tapi kemarin saat makan malam dia kembali menyerang Yola sampai dia kesakitan bu. Dia juga menyuruh tante Lilis pergi dan tidak muncul kembali di hadpannya dengan kasar..." Rayyan tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dadanya terlalu sesak mengingat semuanya.
"Benar bu, Ray sudah berusaha bersabar menghadapi semua tingkah anehnya selama beberapa hari ini, tapi kemarin Ray benar-benar sudah tidak kuat bu. Makanya Ray biarkan saat dia pergi karena Ray pikir dia tidak akan pergi jauh. Ray sudah mengambil kunci mobil dan dompetnya." Imbuh Ray.
"Ya Allah Rayyan!!!" Ayah mendengus sambil menggeleng seolah tak percaya dengan apa yang di lakukan putra nya.
"Tunggu Ray!" Ibu menyela.
"Kamu bilang tadi Shafa bertingkah aneh? Seperti apa itu?" Tanya ibu yang mulai memikirkan sesuatu.
"Banyak bu. Dia selalu merasa panas bu, Rayyan harus bolak balik ruang tengah buat ngambil kipas angin padahal AC di kamar nggak rusak. Dia juga selalu bangunin Ray tengah malam buat minta makan. Dia jadi sangat labil dan pemarah, setiap kali nonton iklan selalu ingin ini dan itu. Ray sampai berfikir membawanya ke psikiater karena Ray capek bu di curigai terus." Jelas Ray.
"Ray! Kapan terakhir Shafa menstruasi?" Tanya ibu serius.
"Kenapa ibu nanya begitu?"
"Udah! Jawab saja!"
__ADS_1
"Kalau tidak salah, sebelum kita ke Aceh." Jawab Ray bingung melihat ibunya seperti sedang menghitung.
"RAY!!!" Teriak ibu tiba-tiba membuat Rayyan dan Ayah tersentak.
"Shafa Hamil." Ujar ibu.
"Hamil?" Jawab keduanya bersamaan.
"Iya, Ayah ingat bagaimana dulu ibu waktu hamil Rayyan?" Ibu menatap Ayah. Rayyan masih tidak yakin dengan yang di katakan ibu. Pasalnya Shafa tidak menunjukan ciri-ciri wanita hamil pada umumnya seperti muntah-muntah dan pusing.
"Bagaimana ayah lupa kalau setiap waktu ayah harus laporan sama ibu, sedang apa, dimana dan dengan siapa. Ibu juga tidak pernah membiarkan ayah tidur dengan tenang karena setiap malam selalu minta di buatin makanan. Selain itu yang paling memaalukan saat ibu datang ke kampus marah-marah dengan teman-teman ayah karena ayah sedang jalan dengan mereka" Ungkap ayah mengenang masa kehamilan ibu dulu.
"Ibu yakin, Shafa benar-benar hamil! Ray kamu harus cari dan temukan dia secepatnya!" Perintah ibu.
"Masalah Yola dan Lilis biar ayah yang urus" Jawab ayah tegas.
"Maksud Ayah?" Ray bingung dengan pernyataan ayah.
"Sejak awal ayah ragu. Tapi ibu mu memaksa supaya Lilis dan Yola tinggal di rumah mu. Ayah tidak bisa mempercayai ucapan kamu sepenuhnya Ray. Shafa tidak mungkin berbuat kasar pada Yola dan Lilis jika dia tidak di usik."
"Tapi hormon wanita hamil bisa saja ayah. Seperti ibu dulu" Sela ibu yang tidak terima di salahkan karena membawa Yola dan tante Lilis.
"Kalau seperti itu tentu Nisa yang akan di serang terlebih dahulu oleh Shafa karena di anggap telah menghianati nya. Tapi nyatanya, Nisa baik-baik saja. Kenapa justru Yola dan mama nya? Kamu harusnya fikirkan hal itu Ray" Ujar ayah.
Benar kata ayah. Kenapa Yola dan tante Lilis? ya Allah, apa aku telah salah menilai istriku?Tapi kemarin aku benar-benar melihat dengan mata kepalaku sendiri Shafa dengan brutalnya menyakiti Yola.
Rayyan terdiam tak mampu membalas kata-kata ayah. Ia merasa benar-benar bersalah karenaa membiarkan Shafa pergi tanpa membawa apapun.
Jika benar Shafa hamil. Ya Allah, ampuni aku telah menyakiti istri dan anak dalam kandungannya.
Air mata Rayyan tiba-tiba lolos dari matanya. Ia mengingat kembali bagaimana kemarin dia menampar Shafa dan mencengkeram lengannyaa sampai ia meraskan kesaakitan.
Maafkan aku Shafa!!! Maafkan aku!!!
__ADS_1