Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Kisah Cinta Jeffri


__ADS_3

Suara bel yang menandakan apel pagi telah di bunyikan. Anak-anak berlarian menuju halaman sekolah untuk berbaris mendengarkan arahan dari ibu guru sebelum masuk ke dalam kelas. Terlihat Zafran dengan tenang dan antengnya berbaris di barisan paling depan, begitupun Aira yang berada di sebelahnya. Saat ibu guru memberikan aba-aba siap, anak-anak nampak tenang dan berdiri tegap. Namun, baru beberapa kata penyampaian yang di sampaikan oleh ibu guru, mereka sudah merubah posisinya, ada yang dalam posisi pistirahat, ngangkang, jongkok dan lain sebagainya.


"Anak-anak tenang ya, dengarkan ibu guru" Ujar ibu guru lain yang berada di belakang barisan anak-anak tersebut sambil mengatur barisan uang mulai kacau. Menjadi guru PAUD memang butuh ketelatenan dan kesabaran ekstra. Bagaimana tidak, setiap hari mereka harus mengurus puluhan anak-anak dengan tingkah polohnya masing masing.


Shafa tersenyum melihat putranya dari bangku panjang yang ada di depan kelas mereka bersama ibu-ibu yang lain. Ia melihat Zafran begitu anteng dan tenang tidak seperti teman-temannya yang lain yang sudah mulai bergerak tak tenang. Shafa mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang sejak tadi tak di lihatnya.


Kak Aini dan Hafiz kok belum datang ya? Apa mereka nggak sekolah? Aku baru mau nanya-nanya soal kak Jeff.


Ia kembali memfokuskan pandangannya pafa sekumpulan anak-anak yang sedang melakukan peregangan sebelum masuk kelas. Baru sebentar, sudah terdengar suara tangisan dari salah satu anak yang katanya di ganggu oleh temannya. Ternyata bakat jahil, nakal dan bandel seorang anak bukan hanya di sekolah dasar sampai atas. Mereka yang masih berada di level pendidikan usia dini pun ternyata sudah menunjukan bakat-bakat unik tersebut.


"Fa...." Suara tersebut berhasil mengalihkaan fokus Shafa yang sedang memperhatikan anak-anak di halaman sekolah. Seseorang yang sejak tadi di carinya sudah duduk di sebelahnya sambil memegang tas putranya.


"Eh kak, kok tumben telat? Aku pikir nggak masuk" Ujar Shafa.


"Aku tadi bawa mobil sendiri, jadi agak lama. Oh ya, kamu kok masih nganter aja, bukannya ini udah dekat HPL ya?" Tanyanya sambil mengusap lembut perut Shafa.


"Aku bosan kak di rumah, lagian perkiraan masih 3 minggu lagi. Dan babynya nggak rewel kok di dalam" Balasnya.


Setelah anak-anak masuk ke dalam kelas, Shafa dan Aini memutuskan untuk ngobrol di kantin sekolah tersebut. Kantin di sekolah tersebut sangat bersih dan nyaman. Makanan yang di sediakan pun makanan bergizi yang bebas bahan pengawet. Shafa kali ini memilih meminum kelapa muda. Karena dari beberapa sumber yang ia dapat, kelapa muda dapat membuat janin lahir putih dan bersih.


"Oh ya kak, kak Jeff kemana sih?" Tanya Shafa tiba-tiba membuat Aini menghentikan minumnya.


"Kenapa Shafa tanya soal mas Jeffri?" Tanya Aini sambil mengerutkan dahinya.


"Kak Aini jangan salah paham! Jadi kemarin kak Jeff ke rumah mommy pas Shafa ada disana. Yah dia lagi ngedrama sedih-sedihan gitu sama mommy dan daddy Shafa. Katanya mau pamit" Balas Shafa. Raut wajah Aini yang tadi tenang nampak terkejut.


"Mas Jeffri ke rumah orang tua Shafa?" Tanyanya seakan tak percaya.


"Iya, kan kemarin aku nggak sengaja ngintip. Mommy nangis gitu sambil meluk kak Jeff. Aku jadi sedih deh" Ujar Shafa sambil menekuk wajah cantiknya.


"Mas Jeffri nggak bilang apa-apa tuh sama kakak. Cuma pamit mau ke Singapura ada tugas. Itu aja" Balas Aini.


Ya Ampyun. Jangan-jangan kak Jeff nggak ngasih tahu kak Aini kalau dia dalam misi berat supaya kak Aini nggak khawatir. Lha kenapa jadi aku yang ember!


"Oh ya kak, kak Aini udah lama ya kenal sama kak Jeff?" Tanya Shafa mengalihkan pembicaraan.


"Emm... Lumayan" Jawabnya singkat.


"Terus gimana ceritanya kakak bisa nikah dengan kak Jeff?" Shafa semakin penasaran.


"Shafa penasaran ya?" Tanyanya sambil tersenyum menatap Shafa.


"Ho.oh, ceritain dong kak, kakak kok mau sih sama kak Jeff yang kaku dan serem itu. Kak Jeff tu galak banget tau nggak" Ujar Shafa.


"Kalau Jodoh mau di apa"

__ADS_1


"Cerita dong kak, ih aku kok jadi kepo gini yah. Ah pokoknya aku penasaran banget nih" Rayu Shafa sambil menunjukan wajah memohon membuat Aini terkekeh.


"Oh ya, maaf kak, bapak kandungnya Hafiz memangnya kemana kak?" Tanya Shafa hati-hati. Sepertinya virus kekepoan sudah benar-benar menyerang otaknya.


Aini menghela nafas panjang. Siap untuk bercerita tentang perjalanan kisahnya dengan Jeffri.


"Aku kenal mas Jeffri sebelum aku menikah dengan ayahnya Hafiz. Mas Jeffri dan ayahnya Hafiz adalah sahabat. Awalnyaa mas Jeffri yang duluan menyatakan perasaannya dan tanpa sepengetahuan ayahnya Hafiz kami berpacaran. Tidak lama, sekitar 6 bulan kami berpacaran. Saat itu papa ku mendesak agar mas Jeffri segera meminangku. Tapi setiap kali aku tanya tentang keseriusan mas Jeffri, ia selalu berkilah dengan alasan masih ada hal penting yang harus ia selesaikan. Aku bahkan tidak di ijinkan untuk sekedar bertemu atau main ke rumah orang tuanya, padahal saat itu hubungan kami sudah benar-benar dekat. Di situ aku merasa mas Jeffri hanya mempermainkan ku. Dia tidak benar-benar serius padaku" Aini menjeda ucapannya, menyedot kembali jus jeruk di hadappannya sebelum melanjutkan cerita.


"Dan di saat aku bimbang dengan perasaanku, papa Hafiz tiba-tiba ke rumah menemui papa dan memintaku secara langsung untuk menjadi pendampingnya. Papa dengan senang hati menyambut niat baik Mas Riyan. Tapi tidak denganku, aku menolak sebelum akhirnya mengiyakan karena mas Jeffri yang tiba-tiba terbang ke Hongkong karena tugas mendadak. Ia tak pernah memberi kabar sedikitpun saat ia berada di hongkong membuatku yakin bahwa dia hanya bermain-main sehingga aku pun menerima lamaran ayah Hafiz" Ujarnya.


"Lalu?" Tanya Shafa penasaran. Hatinya sakit mendengar kisah Jeffri yang di tinggal menikah dengan wanita di depannya ini.


"2 bulan setelah pernikahanku dengan mas Riyan, mas Jeffri datang ke rumah untuk mengucapkan selamat. Ia terlihat begitu tegar dan biasa saja saat itu. Dan aku baru tahu jika sebenarnya, setelah kepulangannya dari Hongkong ia berniat untuk melamar ku. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak ada pilihan lain bagiku selain menjalani pernikahan dengan laki-laki yang saat itu telah menjadi suamiku." Ia kembali men jeda ceritanya.


"Lalu? Bagaimana cerita kalian bisa bersama kembali? Apa ayah Hafiz menceraikan kakak? Atau kak Jeff merebut kakak?" Tanya Shafa beruntun.


Ampun deh kak Jeff. Jangan-Jangan kak Jeff jadi valakor! eh salah vebinor alias verebut bini orang.


"2 tahun lalu ayah Hafiz sakit radang paru-paru yang membuatnya tidak bisa bertahan. Setelah kepergian ayah Hafiz aku harus bekerja untuk menghidupi hafiz dan juga orang tuaku. Saat itu papa juga sedang sakit keras dan butuh banyak uang untuk pengobatannya. Aku bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan, dan saat itu aku tak sengaja bertemu kembali dengan Mas Jeffri. Kamu tahu Fa, meski aku telah mengkhianatinya, dia tetap membuka hatinya untukku. Dia kembali melamar ku tapi aku menolak. Karena aku merasa sangat tidak pantas untuknya" Ujar Aini. Kali ini air matanya lolos dari pelupuk matanya


Ya ampun kak Jeff!


Aini melanjutkan kembali ceritanya.


"Sampai suatu hari aku terpaksa meminjam uang dalam jumlah besar pada bos ku untuk biaya operasi papa. Aku tahu bos ku selama ini sangat menginginkanku tapi aku tidak punya pilihan lain saat itu. Belum cukup sebulan aku meminjam uang, bos ku sudah menagihnya kembali. Dia bahkan mendatangiku ke rumah sakit dan minta aku menikah dengan saat itu juga. Kalau tidak dia akan melaporkan aku ke polisi dan menuntut keluargaku. Bisa kamu bayangkan Fa, bagaimana susahnya aku saat itu. Di saat orang tuaku terbaring sakit, aku justru diminta menikah paksa dengan bos ku. Lagi-lagi aku tidak punya pilihan selain mengiyakan kemauannya agar keluargaku bisa bebas. Dia minta agar pernikahan di adakan saat itu dan di tempat itu pula. Kamu tahu papaku yang tadinya sudah mulai stabil kembali drop karena kejadian itu" Aini berhenti sejenak menyeka air matanya. Tak terasa Shafa pun ikut meneteskan air matanya. Betapa tegar nya wanita di hadapannya ini. Ternyata luka dan perjalanan yang di lalui nya tidaklah mudah.


"Saat akad nikah akan di laksanakan, saat itulah mas Jeffri datang menghentikan. Ia bahkan bersedia membayar hutangku dua kali lipat seperti keinginan bos ku agar aku bisa terlepas darinya. Dan saat itu juga dia meminta untuk melanjutkan pernikahan dengan dirinya sebagai pengantin prianya. Kamu pasti menganggap aku tidak tahu diri atau hanya memanfaatkannya seperti yang orang lain fikirkan tentangku. Tapi demi Allah, kalau saja bisa memilih, aku memilih tidak menikah dengannya Fa. Dia laki-laki baik, dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari pada seorang janda beranak satu sepertiku" Ujarnya yang kini tak bisa menahan isak tangisnya.


"Kakak, jangan bicara seperti itu" Shafa memeluk Aini.


"Semua ini sudah di garis kan oleh Allah kak. Kak Jeffri adalah jodoh yang Allah pilihkan buat kakak. Dan kakak adalah orang paling tepat buat kak Jeff. Menjadi janda bukan aib kak, karena tidak pernah bisa memilih takdir apa yang harus kita jalani" Ujar Shafa menirukan ucapan Rayyan.


"Terima kasih Fa..." Ujarnya sambil tersenyum menatap Shafa meski genangan itu masih ada di kelopak matanya.


"Tunggu... Apa ini cincin dari kak Jeff" Tanya Shafa yang tidak sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis Aini. Sebuah cincin emas dengan 3 buah permata kecil berjajar yang menghiasinya. Ia sangat familiar dengan cincin itu.


"Iya, Kenapa? Apa Shafa pernah melihat cincin ini?" Tanya Aini. Memperhatikan cincin yang melingkar di jarinya tersebut. Shafa mengangguk.


"Kak Aini tahu, Shafa yang memilih cincin ini" Ujar Shafa dengan yakin. Aini menutup mulutnya tak percaya.


"Kamu nggak sedang bercanda ka ?" Tanyanya masih tak yakin.


"Tidak, kak Jeff membeli ini sudah lama sekali, sejak Shafa masih kuliah sepertinya waktu kak Aini belum menikah dengan ayahnya Hafiz.Saat itu aku sedang berada di sebuah mall bersama teman-temanku. Tak sengaja kak Jeff melihatku dan mengajakku pulang alih-alih perintah dari Daddy. Padahal ia membawaku ke sebuah toko perhiasan. Kak Jeff minta di pilihkan satu cincin untuk pacarnya dan dengan senang hati aku memilih cincin ini dengan Syarat dia juga harus membelikan aku tas mahal yang baru saja lounching" Ucap Shafa sambil cekikikan mengingat betapa jahilnya dia dulu.


Ternyata wanita itu adalah kak Aini!

__ADS_1


Setelah mendengar cerita Aini Shafa menjadi lebih dekat dengan wanita yang menjadi istri Jeffri itu. Ia begitu mengagumi Aini yang ternyata begitu kuat. Seorang yang di tinggal meninggal suaminya harus, bekerja sendiri dan mengurus orangtuanya yang sakit. Ia bahkan rela mengorbankan dirinya demi orang tercintanya yang justru ikut menyusul sang suami menghadap ilahi.


Tiba waktunyaa pulang, Shafa masih menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Hari ini mereka pulang lebih awal, Shafa hendak menghubungi pak Madi namun handphone nya mati karena lupa menchargenya semalam.


"Fa, masih belum datang juga supirnya?" Tanya Aini. Shafa nampak sedang menunggu di bangku dekat pos jaga depan gerbang sekolah.


"Belum kak,, mungkin sebentar lagi" Ujarnya.


"Ayo aku antar, nggak baik kelamaan nunggu sendiri. Naanti kenapa-napa gimana" Ujarnya sambil turun dari mobilnya menghampiri Shafa.


"Aku ngerepotin kak Aini nanti" Jawabnya tak enak.


"Aku lebih repot kalau kamu kenapa-napa. Udah jangan kelamaan mikir. Cepat masuk" Pintanya yang langsung di turuti oleh Shafa.


"Gerbaang besar di depan itu masuk ya kak" Ujarnya sambil menunjuk gerbang besar kompleks perumahan Shafa.


"Ternyata rumah kamu dekat ya Fa" Ujar Aini. Baru kali ini ia masuk ke dalam kompleks perumahan Shafa. Hafiz dan Zafran yang duduk di kursi belakang nampak asik ngobrol bersama.


"Rumah depan yang ada pos jaganya kak. Gerbangnya nggak di tutup kok" Ujar Shafa sambil menunjuk rumahnya. Mobil Aini pun memasuki halaman rumah Shafa yang cukup luas dan di penuhi oleh tanaman buah dan pohon hijau.


"Zafran, Opa ada di dalam" Ujar Shafa saat melihat mobil sport berwarna merah milik daddynya parkir di depan rumahnya.


"Kak Ayo mampir. Kebetulan ada mommy dan Daddy ku" Ajak Shafa setelah mobil Aini berhenti.


"Em... Lain kali ya Fa, a..aku harus cepat pulang" Toloknya.


"Ayolah kak, sekali aja. Please!" Ucap Shafa dengan nada memohon, membuat Aini tak tega melihatnya.


"Ya udah, iya" Ujar Aini membuat senyum Shafa mengembang seketika.


"Ayo Sayang turun, Hafiz mampir dulu ke rumah Zafran ya" Ujar Shafa sambil membukakan pintu mobil. Mereka pun keluar dengan semangat.


"Bu Shafa? Ibu kok nggak nelfon dulu. Biasanya kan jam 11.30 baru di jemput" Pak Madi menghampiri majikannya tersebut.


"Nggak papa pak Madi, hari ini memang pulang lebih awal, Oh ya mommy dan daddy di dalam kan?" Tanyanya.


"Iya Bu, tuan Harsha dan nyonya Fanny ada di dalam."


"Ye... Opa datang, ayo Hafiz" Zafran kegirangan langsung menarik lengan Hafiz untuk masuk ke dalam.


"Ayo kak masuk" Shafa mengajak Aini masuk. Aini nampak menggigit bibir bawahnya sambil meremas tunik bawahnya. Wajahnya mendadak pucat.


Bismillah, Ya Allah bantulah hambamu ini!


____________

__ADS_1


Hari ini aku up sekali aja ya... tapi panjang kan.. oh ya mampir juga donk di novel aku Cinta dan Dendam. Yang nggak kalah seru dengan Jodoh pilihan Allah. Jangan lupa juga buat selalu Like, coment and Vote.. I❀️U all😘😘😘😘😘


__ADS_2