
"Hati-hati, Besok kita pindah di kamar bawah ya." Ujar Ray sambil memegangi istrinya naik tangga. Setelah perbincangan seputar ngidam para orang tua, Shafa di perintahkan untuk beristirahat di kamar nya, karena perjalan yang baru saja di lakukaan tentu cukup melelahkan.
Shafa mulai jengan dengan sikap Ray terlalu berlebihan, Ia justru mempercepat langkahnya, sedikit berlari menaiki tangga.
"Sayang pelan-pelan!" Teriak Ray yang melihat istrinya berlari menyusuri anak tangga tersebut.
Setelah membuka pintu kamarnya, Shafa tak langsung masuk ke dalam. Banyak kenangan yang terjadi di kamar itu yang kembali terputar di kepalanya, membuatnya enggan untuk melangkahkan kaki masuk.
"Kenapa? Ayo masuk!" Ajak Ray yang sudah berdiri di belakang nya.
Shafa menutup kembali pintu kamar, dan berjalan menuju kamar yang ada di sebelahnya. Shafa masuk ke dalam kamar itu di ikuti Rayyan di belakang nya.
"Sayang, kenapa disini? Ayo ke kamar kita." Bujuk Ray tapi tak mendapatkan balasan dari Shafa. Ia malah dengan santainya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memejamkan matanya.
Apa dia mau pisah Ranjang? Habis aku!
"Pindah ke kamar kita yah?" Bujuk Ray pada istrinya yang sudah terlentang memejamkan mata dengan kedua tangan memeluk perutnya.
Usaha Ray sepertinya sia-sia, karena Shafa sama sekali tidak bergeming. Tidak ada pilihan lain bagi Rayyan selain mengikuti apa yang di lakukan istrinya. Ia ikut naik di di atas tempat tidur yang ukurannya jauh lebih kecil dari yang ada di kamarnya.
"Sayang, Mas kangen sama kamu." Ujarnya sambil melingkarkan tangannya ke tubuh Shafa sambil beberapa kali mencium pipi nya.
Cih, dasar mesum!
Rayyan beralih pada perut istrinya. Perlahan ia menurunkan tangan Shafa yang berada di atasnya, lalu sedikit menyingkap tunik panjangnya. Seketika mata Shafa terbuka, melihat ulah suaminya. Tapi dia tidak bisa menolak karena Rayyan sudah menguasai setengah dari tubuh nya.
"Assalamualaikum anak ayah. Kamu sehat-sehat di dalam ya Nak, jangan buat Mommy mu susah." Ujarnya sambil mengusap dan mencium perut Shafa.
Shafa masih tak bergerak, Ia membiarkan Rayyan bermain-main dengan perutnya. Karena ada kenyamanan tersendiri saat tangan hangat Rayyan menyentuh permukaan perutnya yang tak lama lagi membuncit itu.
"Sayang, kasi tau Mommy mu jangan lama-lama marah sama ayah. Ayah nggak kuat. Ayah rindu Mommy mu yang manja seperti dulu" Imbuhnya, yang secara tidak laangsung merupakan sindiran untuk Shafa.
Kamu sudah nyakitin aku, dan sekarang ingin aku bermanja-manja. Oh, tidak semudah itu Ferguso!!!. Aku masih sakit hati Mas, sama kamu. Kamu nggak boleh manja sama ayah mu Nak. Nggak boleh!
"Sayang... Ayah sangat sayang sama kamu dan Mommy mu. Apapun akan ayah lakukan untuk kalian. Sekarang istirahatlah. Ayah akan pergi dulu." Ujar Ray sambil memberikan kecupan terakhir pada perut istrinya.
Mendengar Ray akan pergi, Shafa cepat-cepat membuka matanya.
Mau kemana dia? Jangan-jangan menemui perempuan di cafe tadi?
Tiba-tiba rasa mual kembali menguasai dirinya. Ia segera bangun dari posisinya dan berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Hoeek.....Hoeek..... Hoeek...
Rayyan pun segera menyusul Shafa.
"Keluarin lagi." ujarnya sambil mengurut tengkuknya.
Shafa menggeleng, semua makanan yang baru saja dimakannya keluar tak bersisa. Wajahnya mendadak pucat dengan nafas terengah engah. Rayyan pun segera mengangkat tubuh istrinya membuat Shafa tercekat. Rayyan membawa tubuh Shafa ke dalam kamar nya yang lebih nyaman. Ia kemudian mencarikan pakaian yang nyaman untuk di gunakan.
Rayyan mengambilkan sebuah dress tidur sebatas betis agar Shafa merasa lebih nyamaan dan leluasa.
"Ganti baju dulu ya, biar enak!" Ujar Ray sambil membantu membangunkan istrinya. Ia juga dengan sabar membantu Shafa membuka kerudungnya, kemudian baju nya. Shafa menurut saja karena kondisinya yang cukup lemas setelah mengeluarkan isi perutnya.
Dada Rayyan berdesir saat melihat pemandangan di depannya. Shafa yang hanya menggunakan pakain dalam dan tubuhnya semakin berisi membuat jantung Rayyan berdegup kencang. Sebisa mungkin ia menepis perasaan itu karena mengingat istrinya masih dalam kondisi lemah.
Setelah mengganti pakaiannya Shafa kembali berbaring. Rayyan mengambil minyak kayu putih dan membalurkan nya pada permukaan perut istrinya dengan membaca sesuatu dalam bahasa arab.
"Anak ayah pintar, jangan nakal ya Nak. Kasihan Mommy" Ujarnya lembut. Ajaib nya rasa mual dan pusing itu seketika hilang, berubah menjadi rasaa nyaman dan tenang saat Rayyan mengelus lembut perutnya. Shafa merasakan ada dorongan dari dalam dirinyaa untuk selalu ingin merasakan sentuhan tangan Rayyan.
"Kamu ingin sesuatu sayang? Anak ayah pasti lapar lagi." Tanyanya. Rayyan sengaja berbicara pada perut Shafa, karena biasanya ia kan refleks menjawab dari pada harus bertanya langsung pada Shafa yang sudah pasti jawabannya hanya diam, menggeleng atau mengangguk. Itulah yang sejak kemarin Rayyan pelajari
"Kepiting saos padang!"
"Ada lagi sayang?" Shafa hanya menggeleng.
Dalam waktu 20 menit pak Madi sudah tiba eengan membawaa pesanan yang di inginkan Shafa.
"Mau makan di sini atau di bawah?" Tanya Rayyan. Shafa tidak menjawab. Ia hanya bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju pintu. Tandanya shafa ingin makan di bawah. Rayyan dengan sigap menemani istrinya menuju meja makan.
"Kepitingnya sudah saya siapkan mbak." Ujar bi lastri.
"Terima kasih bi." Jawab Shafa. Shafa hanya melakukan aksi malas bicara dengan Rayyan, selebihnya dia akan bersikap normal kepada siapa saja.
Rayyan mengambilkan nasi dan menemani Shafa menikmati makanan nya. Dengan telaten pula Rayyan memisahkan daging kepiting dari cangkang nya.
Setelah selesai makaan, Rayyan mengambilkaan jus Strawberry kesukaan nya yang langsung di teguk oleh Shafa.
"Anak ayah pintar! Jangan di keluarin lagi ya sayang" Ucapnya sambil mengusap perut Shafa. Sepertinya ucapan Ray seperti suggesti pada janin Shafa yang bisa mempengaruhi mood nya secara tiba-tiba.
Ting.. tong...
Suara bel berbunyi.
__ADS_1
"Bi tolong di Lihat" Ujar Ray pada Bi Lastri. Sementara ia masih sibuk membereskan sisa makan istrinya.
"Maaf mas, ada teman nya mas Rayyan kemari" Ujar bi Lastri.
"Siapa bi?" Tanya Shafa penasaran.
"Kurang tahu mbak, perempuan tinggi, cantik" Jawab bi lastri polos.
Rayyan langsung tercekat. Saat melihat ekspresi tak suka di wajah Shafa.
"Ya Allah, bencana apa lagi ini?" Batin Rayyan.
Dengan perasaan was-was ia pun beranjak menuju pintu depan yang sudah pasti di ikuti oleh Shafa di belakangnya.
"Asaalamualaikum Mr. Ray, Sorry saya mampir nggak ngabari dulu" Ujar wanita cantik itu dengan senyum mengembang.
"Oh, Bu Sonya. Ada apa ya?" Tanya Rayyan berusaha menetralkan suasana hatinya.
"Ini, saya hanya ingin membawakan ini. Katanya istri bapak kurang enak badan ya? Kebetulan lewat saya sekalian mampir." Ucapnya ramah sambil memberikan sebuah kotak kue berwarna pink.
"Terima kasih Nona, Saya sedikit mual. Mungkin pengaruh janin di dalam." Balas Shafa yang tak kalah manis.
Wanita itu melongo mendengar ucapan Shafa.
"Istri Mr.Ray hamil?" Tanya nya.
"Alhamdulillah bu Sonya" Jawab Rayyan dengan ekspresi bahagia.
"Oh..ya..ya..ya... Selamat ya!" Ucapnya agak terdengar canggung.
"Kalau begitu saya permisi dulu, semoga sehat-sehat ibu dan janinnya! Oh ya Mr. Ray, terkait project penelitan tempo hari, sepertinya, saya berubah fikiran.
"Maksud bu Sonya?"
"Saya bersedia bergabung dalam tim Mr.Ray" Jawab nya.
_________________
Hei hei... Jangan su udzon dulu ya sama bu Sonya..wkwkkwk😘😘😍❤️
Jangan Lupa Like and Vote nya juga ya.
__ADS_1