Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Klarifikasi


__ADS_3

tap..tap..tap


Suara langkah memecah keheningan di ruang rapat saat itu. Zidane Ar -Rayyan dengan wajah datar tanpa ekspresi mulai naik ke podium. Ia memandangi seluruh isi ruangan tersebut sebelum memulai penyampaiannya.


"Eh pak Rayyan mau ngapain?"


"Kok pak Rayyan?"


Terdengar kasak kusuk di ruang rapat tersebut begitu sosok lelaki idola para guru dan siswa tersebut muncul.


"Assalamualaikum wr.wb dan selamat pagi! Langsung saja, Saya Zidane Ar-Rayyan sebagai penanggung jawab Shafa Azura ingin menyampaikan klarifikasi mengenai foto yang beredar di beberapa grup malam tadi. Saya tidak tau apa maksud orang yang menyebarkan foto tersebut. Benar, foto tersebut adalah foto bu Shafa, guru Bahasa Jerman di sekolah kita. Namun, perlu di ketahui bahwa foto tersebut di ambil tahun lalu, tepatnya di Berlin, Jerman jauh sebelum ibu Shafa mengajar di tempat ini. Sebelum bu Shafa terikat aturan sebagai sebagai seorang guru dia tentunya memiliki kebebasan hidupnya yang tidak bisa kita campuri. Jika sekarang bu Shafa di hakimi atas apa yang dia lakukan di masa lalu hanya karena dia sekarang seorang guru, rasanya sangat tidak adil. Setiap orang memiliki masa lalu yang tidak semuanya baik. Kita tidak bisa merubah masa lalu, tapi kita bisa memperbaiki masa depan. Saya rasa kita tidak perlu mencampuri masalah pribadi seseorang di luar batas kadarnya. Siapa sih kita ini? Apakah kita bisa menjamin bahwa diri kita di waktu yang lalu tidak lebih buruk dari foto itu? Saya ingin bertanya, apakah selama bu Shafa meengajar di sini dia pernah membuat masalah? Apakah dia pernah membuat keributan? apakah dia pernah menampilkan sikap dan tingkah laku yang tidak mencerminkan sikap seorang guru? Saya rasa teman - teman semua tahu jawabannya. Saya rasa cukup itu saja yang ingin saya sampaikan. Oh ya, Siapapun yang menyebarkan foto tersebut dengan maksud tidak baik. Semoga Allah mengampuni dosanya. Assalamualaikum Wr.wb."



Penjelasan pak Rayyan membuat seisi ruangan bertanya-tanya. Ada hubungan apa antara pak Rayyan dan bu Shafa. Kenapa harus dia yang menjadi penanggung jawab. Bukankah bu Shafa punya orang tua yang bertanggung jawab penuh atas dirinya. Banyak tafsir mengenai kedekatan mereka berdua.


Sementara bu Ita, bu Anne dan pak Adit yang sudah mengetahui hubungan mereka terlihat tersenyum puas mendengar pembelaan pak Rayyan. Berbeda dengan pak Rudi yang wajahnya nampak masam seperti orang yang di tinggal kawin pacarnya.


***


"Mas ga ngikutin sampai selesai rapatnya, karena keingat kamu" Ujar mas Ray merapikan rambut rambut kecil pada keningku.


"Terus nasibnya aku gimana maas?" Aku menggoyang-goyangkan badannya.


"Ga gimana-gimana sayang, serahkan semua sama ayah. Udah ah aku capek" Ujarnya kemudian membaringkan kepalanya di atas pahaku. Nyaman banget hidup anda pak Rayyan berbaring di pahaku. Ini mah namanya romantis di saat yang tidak tepat.


"Mas, aku kok merasa ini ulahnya Tania ya?" Ucapku mengelus elus rambutnya.

__ADS_1


"Kita berhusnuzon saja ya, biar Allah yang balas semuanya" Ucapnya masih memejamkan mata.


"Mas! bisa ga sih jangan pake istilah yang aku ga ngerti? apa lagi itu zon zon?"


"Khusnuzon itu berbaik sangka sayang, kebalikannya Su'udzon" Jelasnya. Kalau Su'udzon mah aku sering. Sering denger dan sering ngelakuin.


"Tadi aku ketemu Tania, dia ngancam ngancam aku supaya jauhin mas Ray. Pasti ini ulahnya dia" Aduku pada pria yang masih anteng berbaring di pangkuanku.


"Udah, ga usah dipikirin, mending sekarang Shafa pijit kepala mas. Pening nih semalam kurang tidur" Ucapnya. Aku menurutinya dan mulai memainkan Skill memijitku yang dulu sering mendapatkan pujian dari almarhum Opa.


"Enak?" Tanyaku sambil sesekali membelai lembut pipinya.


"Hmmm"


.


.


Aku di kagetkaan suara pintu terbuka. Mati aku posisinyaa lagi ga pas banget. Mas Ray tetap dalam posisi berbaring di pahaku.


"Aa..yah" Sapaku canggung. Aku menepuk nepuk pipi mas Ray agar dia bangun. Ayah hanya tersenyum melihat tingkah manja puyra kesayangannya.


"Silahkan masuk bu" Ucap ayah pada seseorang.


"Dia..!!!" Ucap wanita yang baru saja masuk sambil meenunjuk ke arahku. Aku memaksa mas Ray untuk bangun dari pangkuanku.


Ku lihat wanita seumuran mommy itu melihat sinis ke arahku. Siapa dia batinku. Tapi kalau di lihat-lihat wajahnya sangat mirip dengan Tania. Apa dia ibunya. Ih, Serem banget beneran ibunya. Anak sama emak ga ada yang lurus mukanya.

__ADS_1


"Mas ayo kita pergi" Bisikku pada mas Ray.


"Ga perlu, Kita disini aja" Ia meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Oh ya bu Hesti, Kenalkan ini adalah Shafa menantu saya." Ucap ayah. Ayah ngakuin aku sebagai mantunya di depan wanita ini membuatnya membelalakkan mata.


"Hallo Tante" Sapaku dwngaan menganggukan kepala yang sama sekali tidak mendapat respon darinya.


"Menantu bapak? Apa bapak sedang bercanda? Bukankah Nak Ray ini belum menikah?" Tanyanya.


"Saya tidak bercanda bu, dia memang menantu saya, Rayyan dan Shafa sudah menikah, dan untuk acara resepsinya insha Allah akan di laksanakan 2 pekan lagi. Saya harap ibu bisa hadir" Ucap ayah dengan gaya bicaranya yang santai dan berwibawa.


"Baiklah pak Luthfi, terlepas apakah dia menantu bapak atau bukan, saya tetap keberatan dia mengajar anak saya disini. Saya sudah cukup banyak mendonasikan uang saya di yayasan ini jadi saya mohon agar bu Shafa di berhentikan atau saya akan berhenti menjadi donatur tetap di yayasan ini" Ucap bu Hesti. Sangat jelas terlihat ketidaak sukaannya dia kepadaku. Aku meremas tangan suami yang sejak tadi menggenggamku. Apa yang harus aku lakukan? apakah aaku harus mundur, tapi aku terlanjur sayang sama anak-anak? Aku tertunduk. Sepertinya kehadiranku hanya menambah masalah.


"Maaf bu Hesti, dengan berat hati saya tidak bisa mengabulkan permintaan ibu, bukan karena Shafa adalah menantu saya. Tapi karna Shafa di butuhkan disini, dan masalah foto itu, Saya kira anak saya sudah memberikan klarifikasi yang cukup jelas dan bisa diterima oleh semua pihak kecuali ibu" Ucap Ayah kepada wanita yang sedang duduk di depan meja kerjanya.


"Baiklah pak Luthfi, Semoga anda tidak menyesaili keputusan anda, Permisi" Ucapnya meninggalkan ruangan dengan wajah penuh amarah.


"Ayaah, kenapa ayah belain Shafa? Shafa ga papa kok kalau harus berhenti. Ibu itu benar ayah, Aku memang ga pantas jadi guru" Ucapku lirih. Beberapa tetes air jatuh mengenai tangan mas Ray.


"Maafin Shafa ayaah. Shafa selalu bikin kalian susah" Ucapku.


"Sudah sayang, kamu ga salah apa-apa" Mas Ray mencoba menenangkanku dengan mengusap bahuku lembut.


"Benar, Shafa kamu ga salah. Ada orang yang sengaja ingin menjatuhkan kamu" Ayah beralih ke sampingku. Mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Beruntungnya aku berada di antara 2 laki-laki yang begitu menyayangiku. Eh ada satu lagi Daddy 3 orang pria terhebatku.


"Sudah, masalah ini jangan di pikirkan lagi ya, lebih baik sekarang kalian fokus pikirkan bagaimana caranya supaya cepat memberikan cucu buat ayah, ayah sudah ga sabar" Ucapanya di sertai dengan tawa ringan.

__ADS_1


"Siap.... ayah mau berapa? Nanti Ray buatkan banyak-banyak biar ayah dan ibu ga kesepian" Kelakar mas Ray berhasil mencairkan suasana panas yang sempat terjadi di ruangan itu.


Ya ampyuuuuun aku di buat merona, sempat-sempatnya ngomongin cucu di saat seperti ini. Mas Ray juga jadi ikut-ikutan kaya ayah. Emangnya aku kucing apa mau beranak terus. Tapi tenang ayah, Shafa sudah tau cara buatnya tinggal tunggu hasilnya.


__ADS_2