Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Mantan


__ADS_3

Langkah kaki kami berjalan beriringan memasuki area sekolah.


"Guten Morgen Miss Shafa, Mr Ray?"


"Guten Morgen" Sapa beberapa siswa yang berpapasan dengan kami. Kenapa mereka masih menyebutku Miss sih? Miss kan sebutan untuk wanita single sedangkan aku bukan lagi wanita single lagi. Harusnya mereka memanggilku Mrs. Ray. Kayaknya mereka perlu di beri pelajaran tambahan.


"Ciee ciee.... Pengantin baru, wajahnya cerah banget" Celetuk bu Anne, Ketika kami masuk ke dalam kantor. Aku hanya menanggapinya senyum mengembang begitu juga mas Ray.


"Gimana pak Ray rasanya pengantin baru? Enak kan?" Pak Adit kini yang bertanya pada mas Ray.


"Rasanya Masya Allah sekali pak Adit... Saya jadi menyesal kenapa ga dari dulu aja nikahnya. Pak Rudi kayaknya harus segera nyusul deh" Ujarnya yang disambut gelak tawa. Pak Rudi hanya bisa tersenyum kecut, karena satu orang rekannya telah melepas masa lajangnya. Terlebih yang di per istri adalah diriku.


"Iya pak Rudi, tuh bu Ita juga masih singgel atau bu Tania" Goda bu Anne.


"Maaf maaf ya bu Anne, mending aku sama guru musik itu aja. Pak Rudi mah play boy cap kuda. Suka gombal kiri kanan" Jawab bu ita ketus.


"Itu bukan play boy bu, Tapi Usaha" Balas pak Rudi tidak mau kalah.


"Selamat pagi semua" Sapa seseorang yang baru masuk ke dalam kantor.


"Selamat pagi pak Briyan" Ucap Bu Ita semangat banget. Jadi benar Briyan Utama ini guru musik yang di maksud bu Ita. Ck!


"Oh ya, ini putra pak Luthfi yang baru menikah ya? Perkenalkan saya Briyan." Ia mengulurkan tangan yang disambut ramah oleh mas Ray.


"Saya Rayyan. Terima kasih sudah datang di pernikahan saya. Suara pak Briyan Luar biasa" Ujar mas Ray.


"Biasa saja pak" Balasnya.


"Tapi beneran loh, suara pak Briyan tuh bikin meleleh...Kayaknya aku harus latihan vocal sama pak Briyan deh" Seru bu Ita. Kayaknya bu Ita ini suka beneran sama pak Briyan. Atau memang gayanya yang kayak gitu kalau lihat cowok cakep. Kalau di lihat-lihat bu Ita lebih cocok dengan pak Rudi. Meskipun sering berantem dan adu mulut. Bukankah aku dan mas Ray awalnya juga begitu.


"Bu Fara juga suaranya bagus. Umm..maksud saya bu Shafa, mending latihannya sama bu Shafa aja. Karena saya galak loh bu" Ucapnya tiba-tiba.


Glek, aku menelan salivaku. Melirik tajam ke arahnya. Apa maksudmu pak Briyan. Apakah kamu sedang mencoba membangunkan kucing yang sedang tidur. Ku lihat mas Ray masih berada pada mode tenangnya seolah cuek dengan ucapan pak Briyan.


"Pak Briyan kenal dengan bu Shafa?" Tanya bu Anne. Matii aku!


"Ya, dulu kita satu sekolah waktu SMA saya kakak kelasnya bu Shafa. Tapi, mungkin bu Shafa sudah lupa." Ucapnya. Lupa kepalamu! Aku akan lupa kalau kamu tidak muncul lagi di depanku.


"Beneran bu Shafa?"Tanya bu Ita.


"I..iya" Ucapku dengan senyuman manis agar tak nampak kalau aku lagi kesal.


"Jadi bu Shafa pintar nyanyi juga?" Bu Ita semakin kepo. Ya Allah tolong aku mau resign aja kalau kayak gini. Baru juga bahagia sudah muncul lagi sosok mantan di hadapan. Semoga Briyan ga senekat dulu. Dulu dia pernah sampai nyari aku ke kampus setelah setahun kita pisah. Dia bahkan sempat berantem sama Sam.


"Enggak kok bu, cuma iseng-iseng aja" Ucapku.


"Bu Ita kalau ga percaya bisa cek akun youtube sekolah kami dulu ketik saja Pensi SMA Kartika 09" Ucapnya.


NOOOOOOO!!!! Itu kan pas aku nyanyi sama dia. Tamat sudah riwayatku! Pasti setelah ini mas Ray menuntut banyak penjelasan dari ku. Ya Allah ujian apa lagi yang kau berikan padaku.

__ADS_1


Kriiiiiiiiiiingggg...


Bel pelajaran pertama telah di mulai. Alhamdulillah. Aku segera mengambil buku dan tempat pesilku. Mas Ray berjalan sejajar denganku.


"Jam istirahat nanti tunggu aku di ruangan ayah" Bisiknya. Aku mengangguk. Alamat akan ada kejadian buruk sepertinya.


***


Bell istirahat berbunyi. Aku menutup pelajaraan dan segera membereskan buku dan spidolku. Jam mengajarku hari ini telah usai. Mas Ray pasti sudah menunggu di ruangan ayah. Huuh, Bismillah.


Drt..Drt..


Satu pesan di terima.


Suami Shafa❤️ : Sayang, tunggu di dalam ruangan ayah, ntar aku nyusul.


Sepertinya dia masih ada urusan lain. Baiklah. Aku melangkah menuju ruang guru untuk menyimpan kembali buku ku. Unfortunatelly, aku harus berpapasan dengan Tania. Ekspresinya masih sama. Ga ada manis-manisnya dan ga ada ramah-ramahnya.


"Selamat ya, yang udah resmi menyandang status sebagai nyonya Rayyan. Semoga langgeng deh! Aku pengen liat berapa lama pernikahan kalian bertahan" Ucapnya sinis.


"Terima kasih Tania" Balasku dengan senyuman ramah. Males mau nanggapin ocehannya tania.


Kulihat di atas mejaku sudah ada segelas jus strawberry dan kotak makanan. Pasti mas Ray yang beliin. Buka ah. Wooooww... My favourite food! Mataku seperti melihat harta karun. Seporsi Mie goreng seafood yang banyak bawang gorengnya. Yummii. Makan di ruangan ayah aja ah. Aku mebawa tas dan makananku ke ruangan ayah yang terletak di lantai 2 kantor ini.


Sebelum makan foto dulu ah. Cekrek! Upload buat caption "My fav food😋Thank you Honey❤️". Done!!! Saatnya makan.


Shafa : Sayang....


Udah gitu aja, ga usah panjang-panjang. Dia pasti ngerti aku lagi nunggu. Tak lama kemudian masuk pesan balasan.


Suami Shafa❤️: Wait, Lagi jalan😘


Uuhh... Emot nya bikin ga nahan. Aku berjalan menuju jendela yang berhadapan langsung dengan lapangan basket di depan kantor. Dari sini aku bisa mengamati seluruh bangunan ruang kelas. Ah itu mas Ray sedang berjalan menuju kantor. Dia bawa apaan itu?


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Aku berlari memeluk suamiku tercinta. Virus kebucinan mendadak menjangkit tubuhku.


"Sudah makan?" Tanyanya kemudian mengecup kepalaku.


"Udah, makasih mas udah beliin makanan kesukaanku. Tuh udah habis semua" Ucapku sambil menunjuk kotak dan gelas yang sudah kosong.


"Makanan kesukaan?" Mas Ray mengerutkan alisnya menatapku.


"Iya, kan mas Ray yang beliin" Jawabku polos.


"Mas baru mau ngajak Shafa makan" Ucapnya sambil mengangkat kantong yang di pegangnya.


"Astaga!!!" Aku menutup mulutku. Segera ku ambil handphone ku bermaksud menghapus foto makanan yang baru ku upload.

__ADS_1


Betapa terkejutnyaa aku mendapati salah satu komentar di akun Instagramku


@BriyanUtama : Ternyata makanan favouritemu ga berubah. Your welcome sweety😉


"Liat!" Mas Ray langsung mengambil handphoneku. Ah, Tidaaakkkk.!!!


"Oh, jadi pak Briyan yang beliin. Ya udah, mas makan sendiri aja" Ucapnya tanpa ekspresi. Ia memberikan kembali hpku. Buru-buru ku hapus postinganku yang tentang makanan. Ku lihat mas Ray membuka kotak makanannya dan mulai memakannya.


"Maass... Maafin aku, aku ga tau kalau itu makanannya bukan dari mas Ray" Aku mendekatinya. Duduk di sebelahnya yanh sedang menikmati makanannya. Waah nasi goreng seafood, kelihatannya enak.


"Aaa...." Iya menyodorkan satu suapan di hadapanku. Ia paham banget kalau selalu suka makan makanannya.


"Ini punyaku kan" Ucapku sambil mengambil Jus stawberry yang di bawanya.


"Hmmm" Jawabnya tanpa melihatku.


"Mas, jangan marah aku kan ga--"


"Aaa..." dia menyuapkan lagi sesendok nasi goreng. Sepertinya dia ga suka aku mengungkit masalah makanan itu.


"Sini! Aku suapin mas" Aku mengambil alih kotak makannya dan mulai menyuapinya sampai habis.


Setelah selesai, aku membereskan semua bekas makanan kemudian duduk manja di sebelahnya. Ruangan ini memang cocok untuk berduaan. Kalau mas Ray masuk sekolah maka ayah akan tinggal di rumah jadi kita berdua bisa bebas di dalam sini.


"Kenapa Shafa ga jujur sama mas kalau pak Briyan itu teman SMA Shafa ?" Tanyanya.


"Aku takut kalau mas marah"Jawabku ragu-ragu. Aku meremas jari-jariku.


"Apa yang mas ga tau tentang Shafa dan pak Briyan?" Tanyanya datar. Tangannya masih membela rambutku. Tapi belaian ini justru membuatku menrinding. Gimana kalau tiba-tiba dia mencekik ku? Ah mas Ray kan ga mungkin berbuat kasar. Lebih baik aku jujur.


"Jujur itu kunci dari semua kebaikan sebagaimana dusta kunci dari semua keburukan" Imbuhnya lagi. Oke Shafa. Suamimu sudah mengeluarkan dalil maka tidak ada yang bisa kamu lakukan selain jujur. Bismillah aku akan jujur. Aku ga mau ada dusta di antara kita.


"Tapi mas harus janji, mas jagan marah?" Aku mendongak menatapnya.


CUP! Satu kecupan di bibir l, ku anggap itu sebagai jawaban.


"Sebenarnya pak Briyan itu kakak kelasku waktu SMA"


"Lalu?"


"Lalu...Lalu aku pernah pacaran sama dia sebelum aku kenal Sam" Ucapku sambil memejamkan mataku. Siap menerima serangan mendadak.


Lalu? Tanyanya lagi.


"Lalu aku putus pas...pas semester 2. Tapi dia masih terus mengusikku sampai aku jadian Sam, baru dia ga ganggu aku lagi" Ucapku jujur tanpa ada yang di tutupi.


Mas Ray menghela nafas panjang.


"Sepertinya mas harus mempersiapkan jantung mas supaya ga kaget kalau-kalau nanti ketemu mantan pacarmu yang lain lagi" Ujarnya sambil memijat pilipis matanya.

__ADS_1


__ADS_2