Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Kedatangan Rayyan


__ADS_3

Part yang di tunggu-tunggu ❀️😘😘


Jeng...


Jeng...


Jeng...


Jangan Lupa Like Ya..yah. Vote juga😘😘😘


Happy Reading, Happy weekend😍😘


___________________________________________


Setelah mendapat nasihat dari pak Kyai, Rayyan kembali ke rumahnya dengan perasaan yang sedikit lega. Segala jerih payah telah ia lakukan untuk mencari Shafa. Sekarang waktunya ia mengandalkan The Power Of Du'a. Karena tanpa seizin Allah, sebanyak apapun ia kerahkan orang untuk mencari Shafa, tentu tidak akan ketemu.


Setelah sampai di rumah, ia segera menghubungi Ayah dan Ibu atas undangan pak Kyai dalam acara Milad pesantren 3 hari kedepan. Karena ayah Rayyan dulu juga merupakan alumni pesantren tersebut.


Setelah menbersihkan diri dan Shalat Ashar, Rayyan menuju ke dapur. Ia mengambil beberapa buah Strawberry yang ada di dalam kulkas.


"Mas Rayyan sedang apa?" Tanya bi Lastri.


"Tolong buatkan saya jus bi! Ini buah nya sudah saya bersihkan." Ujarnya, Kemudian menuju teras belakang. Tempat yang menjadi saksi kebersamaan Rayyan dan Shafa. Mereka sering menghabiskan waktu berdua di tempat itu. Mulai awal, mereka yang tidak saling mencintai, hingga perasaan itu tumbuh dan semakin subur di hati mereka.


"Ini mas jus nya." Bi Lastri meletakkan Jus tersebut di depan Rayyan.


"Terima kasih bi"


"Emm.. Mas, apa belum ada kabar dari mbak Shafa?" Tanya bi Lastri. Ia turut merasakan sedih. Suasana rumah menjadi sepi dan tak hidup sejak kepergiaan Shafa. Tidak ada lagi yang minta ini itu pada bi Lastri. Dia juga merindukan Shafa yang selalu memperkenalkan menu-menu baru yang di buatnya untuk Rayyan.


"Belum bi, doakan semoga dia segera pulang ya bi" Ujar Rayyan.


"Pasti mas, Saya permisi" Bi Lastri meninggalkan Rayyan dengan segelas jus Strawberry yang selalu mengingatkan nya pada istrinya. Wanita cantik dan unik, dengan segala keindahan yang melekat pada tubuhnya, dengan segala kelebihan dan kekurangan nya yang telah berhasil menjungkir balikkan dunia Rayyan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Hoek....Hoek....Hoek.


Nafasnya sudah ngos-ngosan. Keringat dingin tak henti mengucur dari pelipisnya. Sejak pagi ia terus saja memuntahkan isi perut nya.


"Bagaimana? Sudah enakkan?" Tanya ummi sambil mengelus punggung nya.

__ADS_1


"Pusing umi" Ujar Shafa lemas.


"Kamu istirahat saja, Ummi temani yah. Kok tumben Shafa mual-mual, padahal sebelum nya tidak seperti ini" Ujar umi sambil membalurkan minyak kayu putih pada perutnya yang sudah sedikit menyembul.


"Entah lah ummi" Jawab Shafa yang masih lemas.


Nak, jangan nakal ya? Karena Mommy sendiri disini. Seandainya ada ayah mu, pasti mommy tidak akan kesulitan. Jangan merepotkan Umi dan Abah ya nak. Gumam nya berbicara pada janin yang ada di perut nya.


Setelah makan malam, abah memanggil Shafa ke ruang tengah bersama dengan Ummi. Beliau nampak serius, seperti tengah memikirkan sesuatu.


Hanya ada mereka ber tiga karena Bilqis sedang berada di pondok putri untuk latihan terakhir sebelum acara Milad di gelar esok hari.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?" Tanya abah.


"Alhamdulillah abah." Jawab Shafa.


"Shafa, abah ingin bertanya sesuatu" Ujar abah.


"Bertanya apa itu abah?" Jawab Shafa.


"Apa kamu tidak ingin bertemu suami mu?" Tanya Abah.


Shafa tertunduk, Jauh di dalam hatinya ia sangat merindukan suaminya. Ia begitu tersiksa selama sebulan ini menahan rasa itu. Ia rindu saat bermanja manja dengan Rayyan, ia rindu dengan sikap dingin Rayyan yang akan dengan mudah berubah menjadi hangat saat ia terus menggoda nya. Ia rindu saat Rayyan memeluk dan menenangkan nya di saat hatinya gundah. Ia rindu setiap sentuhan lembut dan ucapan manis nya. Namun kerinduan itu harus ia pendam dalam-dalam saat ia mengingat kembali bagaimana Rayyan membentak nya, tidak mempercai nya bahkan tega menampar nya. Tak terasa air matanya jatuh membasahi kelompak matanya.


"Shafa, apakah kamu pernah melihat suamimu menunjukan perhatian lebih atau berbicara dengan wanita itu?" Tanya abah.


"Shafa menggeleng" Rayyan memang tidak pernah menunjukan sikap berlebihan terhadap Nisa, tapi sore itu ia melihat dengan mata kepala nya sendiri dia dan ibu menemaninya ke klinik.


"Tapi Shafa melihatnya dengan perempuan itu abah, bahkan ibu mertua Shafa juga ada di sana. Mas Ray memang selalu menyangkal bahwa dia tidak mencintainya, tapi biar bagaimana pun dia pernah menyukainya abah. Bukan tidak mungkin perasaan itu akan tumbuh kembali, terlebih setelah perempuaan itu mengutarakan perasaan nya pada suami Shafa." Ujar Shafa yang masih menahan perih di hatinya.


"Shafa, hati-hati dengan prasangka. Karena bisa jadi prasangka itu datang nya dari syaiton. Sebagai seorang muslim kita di ajarkan untuk bertabayyun atau mencari tahu kebenaran nya sebelum menjadi prasangka yang lebih besar. Karena kadang yang terlihat oleh mata tidak seperti yang kenyataan yang sesungguhnya" Ujar abah.


Shafa mencoba mencerna ucapan abah.


Apa aku terlalu berprasangka buruk sama mas Rayyan? Tapi dia memang sudah keterlaluan. Dia lebih mempercayai ucapan Yola dan tente Lilis. Belum lagi soal Nisa, meski dia selalu menyangkal tapi kejadian beberapa minggu lalu menunjukan bahwa dia sangat peduli dengannya. Bahkan ibu. Jadi wajar jika aku menganggapnya telah berhianat.


"Jadilah wanita pemaaf Nak, maafkan lah semua kesalahan suami mu. Agar kelak anak mu juga menjadi orang yang pemaaf. Jangan menyimpan dendam atau amarah karena itu bisa merugikan diri mu sendiri." Ujar abah.


"Insha Allah abah, Shafa akan belajar memaafkan nya."


Tapi bukan berarti aku akan kembali pada nya dan senang hati menerima istri keduanya. Oh, aku tidak sebaik itu. Biarlah anak ku hidup tanpa seorang ayah dari pada hidup dengan dengan dua ibu.

__ADS_1


"Karena ada kalanya, posisi seorang ayah tidak bisa di gantikan oleh seorang ibu. Abah dan umi selalu mendokan yang terbaik untuk mu Nak." Ujar abah


Setelah mendengarkan nasihat abah tadi, Shafa menjadi tidak bisa tidur. Kata - kata abah tadi bagaikan lagu yang selalu terngiang di telinganya.


.


.


Siang itu Rayyan beserta ke dua orang tuanya berangkat menuju pesantren. Mereka juga merupakan donatur tetap di pesantren tersebut. Tidak sampai 2 jam mereka telah tiba di pesantren yang telah ramai oleh santri dan panitia acara. Mereka datang lebih awal agar bisa berbincang-bincang lebih lama dengan pak Kyai.


Kedatangan Rayyan dan keluarga, sudah di tunggu oleh umi dan abah. Beliau sudah berdiri di teras depan untuk menyambut mereka.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Mereka berpelukan layaknya saudara yang lama tak jumpa. Ibu dan Ummi pun sama, mereka terlihat begitu akrab.


Mereka semua masuk ke dalam rumah abah. Mereka di persilahkan untuk menuju ruang tengah yang telah di sediakan.


"Bagaimana kabar kalian" Tanya abah.


"Alhamdulillah sehat pak Kyai, hanya saja kami saat ini sedang sedih." Ucap Ayah.


"Aku sudah dengar dari Rayyan. Insha Allah, dia akan di pertemukan lagi dengan istrinya" Ujar abah.


"Amiiin" Semua mengamini ucapan abah.


"Rayyan, apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengan istrimu?" Tanya abah.


"Saya akan minta maaf pada nya abah, karena telah meragukan dan menyakitinya. Saya berjanji tidak akan mengulangi nya lagi. Dan saya akan berusaha menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi untuk mereka" Jawab Rayyan.


"Kamu sungguh-sungguh Rayyan. Apa kamu sangat mencintai istri mu?" Tanya abah lagi.


"Demi Allah, saya bersungguh-sungguh abah. Saya sangat mencintai istri saya" Ujar Rayyan sungguh-sungguh.


"Ummi, tolong panggilkan Bilqis dan kakanya di pondok putri" Perintah pak Kyai.


"Baik bah" Ummi segera beranjak keluar menyuruh beberapa santriwati yang lewat untuk memanggil Bilqis dan Shafa.


"Bersabarlah Nak Rayyan, Insha Allah semua sudah di atur oleh Allah. Pertemuan Nak Rayyan dan Istri dulu, sampai pada saat kalian berpisah, semua sudah di atur. Pasti ada hikmah di balik semua kejadian itu" Ujar pak Kyai.


___________

__ADS_1


Yang nanya kok belum ketemu juga. Jawaban nya sabar... Bentar lagi kok❀️😍😘 Yang penting Like dan Vote nya jangan lupa.


I ❀️ U


__ADS_2