
"Opa...opa, ayo opa kita lihat mommy opa! Zafran berlari menghampiri daddy yang baru masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia sudah tak sabar untuk bertemu mommynya.
"Sabar Zafranw. Mommy dan adik masih di bersihkan yah?" Ujar Daddy sambil mengangkat tubuh Zafran dalam gendongannya.
"Aku mau sekalang opa. Ayo opa ayo" Zafran terus saja merengek sambil memukul mukul bahu daddy.
"Cucu opa nggak boleh nakal ya, nanti mommy marah lo!" Daddy mengajaknya duduk santai di sofa pada ruangan itu.
"Gimana kondisi Shafa dan bayinya Sha? Apa sudah bisa di jenguk" Tanya ayah yang sudah sangat penasaran dengan cucu pertama mereka.
"Shafa dan anaknya baik-baik saja. Alhamdulillah, sekarang masih bersih-bersih" Ujar Daddy sambil merangkul Zafran yang sedang ngambek.
"Alhamdulillah, Rayyan memang terlalu lebay. Perasaan ayah dulu nggak gitu deh waktu ibu melahirkan." Cibir ibu yang sempat kaget melihat rekaman cctv saat Rayyan menangisi Shafa.
"Rayyan kayak gitu persih banget sama kamu Sha waktu Fanny mau di oprasi" Balas Ayah sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
"Ah masa sih?"
"Iya bener. Kamu kan dulu sempat hampir pingsan kan yah? padahal Fanny di dalam baik-baik saja." Timpal ibu sambil terkekeh mengingat moment 25 tahun silam.
"Permisi pak, ibu Shafa dan bayinya sudah selesai di bersikan. Sekarang sudah bisa di jenguk" Ujar bidan yang baru masuk memberitahu.
Tanpa aba-aba mereka semua langsung keluar menuju kamar Shafa.
"Kalian duluan, aku mau beri tahu Jeffri dan istrinya dulu kalau Shafa sudah melahirkan" Ujar Daddy yang berbelok ke kamar di depan nya.
Ceklek,
Baru saja pintu terbuka Zafran sudah berteriak dengan kencang.
"Mommy...mommy" Panggilnya sambil berusaha turun dari gendongan Kakungnya.
Nampak Shafa sudah berganti pakaian dengan daster berwarna biru muda yang memiliki kancing di bagian depan tengah bersandar pada kepala ranjang. Ia tengah menggendong bayi mungil yang sudah berbalut selimut berwarna senada dengan dasternya. Wajahnya sudah terlihat begitu segar dan cantk. Sedangkan Rayyan yang duduk di kursi di sebelahnya tengah menyuapi istrinya yang kelaparan pasca melahirkan.
"Anak mommy! Sini sayang" Shafa langsung menyambut kedatangan putra kecilnya itu. Ia menepuk kasur di sampingnya agar Zafran bisa naik dan duduk di sebelahnya.
"Masya Allah cucuku" Ibu langsung merangkul Shafa dan memberikan kecupan sayang di keningnya. Betapa senangnya ia melihat cucu dan menantunya sehat seperti ini.
"Uti, awas aku mau lihat adikku" Ujar Zafran yang merasa terhalangi oleh Utinya yang tengah memeluk Shafa.
"Iya...iya, ini adiknya Zafran. Ganteng ya?" Ibu mengelus-elus pipi bulat bayi mungil itu.
"Mommy, aku mau cium adek" Pinta Zafran sambil menatap mommy nya.
"Tapi pelan pelan ya sayang. Nanti adek bangun" Ujar Shafa sambil mendekatkan wajah anaknya kepada Zafran agar bisa di cium.
"Muuaahh" Ia mencium di bagian pipinya membuat bayi kecil itu kaget dan terbangun dari tidurnya dan menangis.
"Sini sini, ibu gendong!" Ibu mengambil alih bayi tersebut dan menggendongnya sambil menimang-nimang nya sedangkan Zafran memilih untuk memeluk mommy nya.
"Ayah, lihat! Dia persis sekali dengan Rayyan waktu kecil, bedanya hidungnya lebih mancung" Ujar ibu sambil menyentuh hidung bayi tersebut.
"Benar bu, wah ini Rayyan junior nih. Semoga jadi anak yang soleh ya" Balas Ayah yang tersenyum bahagia melihat cucunya tersebut.
"Ray, kamu sudah ada nama buat dia?" Tanya Ayah Sambil menoleh pada Rayyan yang masih menyuapi Shafa.
Rayyan yang di tanya demikian menjadi salah tingkah terlebih lirikan tajam istrinya membuatnya semakin canggung.
"Su..sudah dong yah. Yang pasti namanya spesial. Ya kan sayang?" Ujarnya sambil mengusap pipi Shafa yang tengah menatapnya.
Shafa memutar bola matanya sambil mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Jujur deh mas, mas belum ada nama kan?" Todong Shafa.
"Udah sayang... Udah" Jawabnya. Tiba-tiba sebuah nama terlintas di benaknya. Nama yang pada saat kuliah dulu iseng-iseng ia buat.
"Assalamualaikum" Salam seseorang yang tak lain adalah Aini dan Hafiz.
"Waalaikumsalam" Jawab merek bersamaan.
Aini menghampiri Shafa yang sedang bersandar di ranjang berukuran besar yang telah di siapkan daddy untuknya.
"Selamat ya Fa, semoga anakmu kelak menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tua" Ujar Aini sambil memeluk Shafa.
"Kakak Hafiz, adik aku udah kelual. Dia ganteng. Itu di gendong Uti" Ujar Zafran pada Hafiz yang juga ikut bersama bundanya.
"Bunda aku mau lihat adik Zafran" Ujarnya sambil menarik narik baju bundanya.
"Nah, ini dia adik Zafran. Ibu mendudukkan dirinya di atas sofa dekat ranjang Shafa sehingga memungkinkan Hafiz untuk melihatnya. Zafran pun ikut turun menghampiri utinya.
"Uti aku mau cium lagi" Ujar Zafran sambil mendekatkan bibirnya ke pipi adiknya.
"Muah..."
"Aku juga mau bunda"
"Ini, Hafiz juga cium adek tapi pelan-pelan ya" Ujar Ibu yang juga mendekatkan wajah baby boy pad Hafiz.
"Muah"
"Udah kakak Hafiz, ini adiknya aku" Ujar Zafran sambil mengelus pipinya.
"Bunda aku juga mau" Rengek Hafiz.
"Aku mau sekarang bunda!" Ujarnya sambil menarik-narik lengan Aini.
"Nggak bisa sekarang sayang. Adik ini bikinnya lama" Ujar Aini memberikan pengertian.
"Ayah, aku besok di bikinkan adik lagi tan ayah" Zafran menatap ayahnya yang baru selesai menyuapi mommy nya.
"Iya sayang iya. Besok di buatin lagi yah" Ujar Rayyan sambil memangku Zafran.
"Lagak nya mau punya anak banyak, baru satu aja, paniknya udah kaya ada bencana alam. Nggak malu Ray, sama dokter Lily? Istri masih hidup kok di tangisi" Cibir ayah sambil menatap Rayyan dengan tatapan mengejek.
"Emang tu yah, pake acara teriak-teriak lagi. Bikin malu tau nggak mas! Gitu masih yakin mau punya anak banyak?" Ejek Shafa menambahi. Ia ingat betul bagaimana Rayyan menangisinya dnegan pilu. Tadi, sekalipun matanya terpejam, ia bisa mendengar bagaimana Rayyan memarahi dokter Lily.
Kamu nggak tahu Shafa, kamu adalah segalanya untukku. Aku hanya sedang takut kehilanganmu dirimu. Kehilangan dirimu berarti kehilangan separuh dari hidupku.
"Yakin 100 persen yakin!" Ucapnya mantap seolah tanpa beban. Padahal belum ada 2 jam ia menghadapi saat menegangkan itu.
"Kak Jeff gimana keadaannya sekarang? Apa sudah membaik?" Tanya Shafa.
"Alhamdulillah sudah semakin membaik Fa. Tadi dia lagi ngobrol dengan atasannya" Ujar Aini.
Kali ini, Zafran melaksanakan shilolat magrib hanya berdua dengan Zafran. Momny dan Daddy Shafa sedang pulaang ke rumah untuk berganti baju, begitupun dengan ibu dan ayah. Tinggal lah mereka berempat di dalam ruangan tersebut.
"Mas, tolong aku" Ujar Shafa saat melihat Rayyan telahnselesai melaksanakan Shalat. Ia segera menghampiri Shafa yang tengah menimang anaknya.
"Kenapa sayang?"
"Aku pengen pipis. Tolong bantu aku ke kamar mandi" Ujarnya sambil meletakkan bayinya di atas kasur kecil khusus untuk bayi.
"Zafran, jaga adik dulu ya? Mommy mau ke kaamar mandi" Ujar Shafa. Zafran segera mengangguk. Langsung naik ke atas tempat tidur dan duduk bersila di samping adiknya.
__ADS_1
Dengan hati-hati Rayyan menuntun Shafa menuju kamar maandi.
"Apa masih sakit sayang?" Tanyanya saat melihat Shafa meringis.
"Ya iya lah mas. Ini nya aku tuh di jahit 3 tau nggak! Pasti perih banget kalau kena air" Ujarnya.
"Mau mas bantu?" Tawar Rayyan saat Shafa masuk ke dalam kamar mandi.
"Nggak! Mas tunggu di sini aja" Tolak Shafa.
Dengan terpaksa Rayyan menunggu di depan pintu kamar mandi sambil memperhatikan Zafran yang tengah berbicara dengan adiknya. Entah apa yang mereka bicarakan namun nampaknya ia sangat sennag dengan hadirnya adik barunya.
"Udah sayang?"
"Udah mas! Sumpah rasanya nggak enak banget. Ini aku ibarat motor habis turun mesin." Ujarnya sambil memegang tangan Rayyan.
"Di syukuri saja sayang. Tau nggak kalau Shafa baru saja mendapat pahala yang sangat besar dari Allah ta'ala. Setiap sakit yang Shafa rasakan Allah menghadiahkan pahala, setiap tetes air susu yang Shafa berikan untuk anak kita, Allah memberikan kebaikan di dalamnya dan setiap lelah saat Shafa terjaga malam hari dalam menjaga anak kita Allah pun memberikan pahala yang cukup besar untuk Shafa. Siang dan malamnya wanita hamil dan menyusui bisa menjadi ladang pahala untuknya" Ujar Rayyan. Ia membantu Shafa untu kembali bersandar pada kepala Ranjang yang telah di beri bantal bersusun agar punggungnya terasa nyaman.
"Mommy, adek bayi mau nangis" Ujar Zafran saat melihat wajah adiknya mulai menampakkan tanda-tanda mau menangis.
"Adik haus sayang. Ulu ulu... Anak mommy mau minum susu ya?" Ujar Shafa sambil meraih bayinya. Ia sudah terlihat luwes dalam memegang bayi. Benar saja, bayi tersebut langsung diam dan tenang setelah meminum ASI ibunya.
"Ayah mana susu Zaflan" Mendengar kata susu, membuat Zafran juga ingin meminum susunya karena sejak siang tadi ia belum minum susu.
"Tunggu ya nak, ayah buatin" Dengan sigap Rayyan membuatkan susu di gelas susu milik Zafran yang telah di siapkan oleh ibu. Setelah selesai, ia mendudukkan Zafran di atas sofa sambil memberikan gelas susunya.
"Kenapa sayang?" Tanya Rayyan saat melihat Shafa meringis.
"Nyeri mas, lidahnya masih kasar" Ujar Shafa.
"Masya Allah, anak ayah minunya kuat banget" Ujar Rayyan saat melihat putranya begitu semangat meminum ASI.
"Iya dong, kan supaya cepat besar" Balas Shafa mengikuti suara anak kecil.
"Anyway, kasar mana dengan lidah ayah?" Godanya sambil menatap jahil pada istrinya.
"Mas! Nggak usah ngomong yang aneh-aneh ya? Nggak malu apa sama anak kamu?" Ujar Shafa dengan mata melotot pada Rayyan.
"Ye, kan cuma nanya mom, galak amat sih. Mommy nya galak ya sayang" Ujar Rayyan sambil mengusik anaknya yang sedang menyusu. Ia menarik-narik lembut pipi anaknya tersebut.
"Mas, jangan di gangguin anaknya" Ujar Shafa yang mulai geram karena suaminya terus mengelus pipi anaknnya.
"Ini nggak ganggu sayang. Mas cuma main-main sama dia" Balasnya, acuh dengan larangan Shafa.
"Bilang aja kalau mas ngiri kan sama baby boy. Mas pengen juga kan?" Ledek Shafa karena Rayyan tak berhenti mengusik anaknya.
"Nggak! Mas udah bosen kok, dia baru beberapa jam menikmati itunya Shafa sementara mas udah sejak berbulan bulan yang lalu" Balas Rayyan santai.
"Oooh? Jadi bosen ya? Tunggu beberapa bulan kedepan! Apa masih bisa mas bilang bosen?" Ujar Shafa sambil menatap tajam suaminya.
Astagfirullah istriku.
"Ampun sayang! Mas tadi cuma bercanda kok. Iya kan nak? Ayah cuma bercanda kan"
"Telat!!! Aku udah catet di memoriku ya mas. Awas aja nanti kalau aku sudah sembuh. Pokoknya gak usah bagi sama ayah ya nak ya?" Ujar Shafa pada putranya.
"Apanya yang gak usah di bagi Fa?"
"Ibu?" Ucap mereka bersamaan sambil menoleh ke sumber suara.
_____________
__ADS_1