Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
3 Lelaki Hebat


__ADS_3

Setelah kepergian Aryo, Rayyan tidak bisa tenang. Ia tahu, orang yang di hadapinya saat ini bukan orang biasa. Dia adalah orang yang paham hukum yang tidak mungkin bertindak tanpa pemikiran yang matang. Selain itu semua bukti yang fakta yang di katakan oleh Aryo memang benar adanya. Jika Nisa memang tinggal di rumahnya dan ia juga membawanya tinggal di tokonya bersama karyawan lain. Hanya saja mereka tidak paham bahwa hubungan keduanya tidak lebih dari sekedar karyawan dan bos. Rayyan bahkan tidak pernah sekalipun ke toko maupun bertemu Nisa setelah kepindahannya dari rumahnya.


Dan lagi, mereka jugaa tidak paham bahwa pernikahannya dengan Shafa yang memang di awali dengan paksaan kini telah menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan yang penuh dengan cinta kasih.


Rayyan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia segera menelpon seseorang dan membuat janji untuk bertemu. Setela membereskan pekerjaannya di kampus ia segera menuju parkiran. Ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi berhenti di sebuah restauran. Ia masuk ke dalam restoran melewati meja-meja pelangan menuju sebuah ruangan khusus yang telah di pesannya.


"Assalamualaikum" Ucapnya ketika membuka pintu. Selain dirinya, disana sudah duduk dua orang laki-laki gagah dan masih tampan meski usianya tak muda lagi.


"Waalaikum salam" Jawabnya bersamaan.


"Ada apa Ray? Sepertinya ada masalah yang cukup serius?" Tanya Ayah sambil memandang putranya yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi seriusnya.


"Apa ada hubungannya dengan Shafa Ray?" Giliran Daddy yang bertanya.


Rayyan menarik nafas panjang dan menghembuskanya perlahan. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, mencari kenyamanan sebelum mulai bercerita.


Rayyan sengaja menghubungi ayah dan daddy. Karena menurutnya, dua orang tersebut bisa membantunya menyelesaikan masalah terkait ancaman Aryo lebih cepat. Meskipun ia sendiri sebenarnya bisa menyelesaikannya, tapi tentu akan membutuhkan waktu yang lebih lama di banding jika ke dua pria tersebut ikut turun tangan.


Rayyan menatap kedua lelaki di depannya dengan tatapan yakin. Ia mulai menceritakan perihal kedatang Aryo menemuinya dan tawaran yang ia ajukan. Ayah dan Daddy mendengarkan penjelasan Rayyan dengan seksama.


"Rayyan tidak mau Shafa sampai tertekan jika mengetahui masalah ini. Kita tahu sendiri bagaimana moodnya yang sering berubah-ubah. Dan saat marah dia bisa berbuat hal-hal yang di luar presiksi kita. Itu sebabnya Rayyan menghubungi Ayah dan Daddy. Rayyan ingin masalah ini segera selesai kalau perlu tanpa sepengetahuan Shafa" Ujar Rayyan. Ia tidak ingin membuat istrinya banyak fikiran di usia kandungannya yang semakin membesar.


"Jangan khawatir Ray, kami pasti akan membantu. Kami justru akan sangat marah jika kamu bertindak sendiri tanpa memberi tahu kami" Ujar ayah sambil menepuk bahu putra tunggalnya itu


"Daddy akan siapkan pengacara terbaik yang akan mendampingi kamu. Kita harus segera bersiap dari sekarang. Kumpulkan semua rekaman CCTV yang ada di toko sebagai bukti yang bisa melemahkan tuduhan mereka bahwa kamu berselingkuh dengan wanita itu." Timpal Daddy.


"Benar Dad, karena selama dia pindah di toko, Rayyan sama sekali belum pernah kesana. Semuanya rayyan pantau dari rumah" Balas Rayyan.


"Sekarang pulanglah Ray! Istri dan anakmu pasti sudah menunggu. Semua serahkan pada Ayah dan Daddy mu. Kamu cukup siapkan dirimu, dan jangan terlihat gusar di hadapan Shafa" Ujar ayah. Ia tahu bahwa Shafa pasti sedang menunggunya, terbukti dari beberapa panggilan masuk yang di abaikan oleh Rayyan saat sedang ngobrol seriuss dengan mereka tadi.


Sepanjang jalan Rayyan berusaha meyakinkan hatinya bahwa semua akan bauk-baik saja. Tak tanggung-tanggung, Daddy menyewa dua orang pengacara ternama yang selalu mampu melumpuhkan lawan-lawannya di meja hijau untuk mendampingi Rayyan mempersiapkan semuanya. Karena ia yakin cepat atau lambat Aryo dan keluarganya pasti akan bertindak.


Rayyan tiba di kediamannya sudah pukul 05 sore. Terlihat Shafa dan Zafran sedang menunggunya di halaman rumah. Sebelum turun dari mobil, ia meraih sebuah kotak berisi donat dengan beraneka macam toping yang menarik.


"Ayaaah!!!" Panggil Zafran yang segera menghambur ke arah Rayyan.


"Ayah, kenapa baru pulang? Di telfon nggak diangkat. Ayah dari mana sih?" Tanya Shafa yang terlihat kesal.


"Ayah tadi ada meeting penting dengan bos besar mommy. Sebagai permintaan maaf, ayah bawa hadiah untuk Zafran dan mommy." Jawabnya sambil menyerahkan kotak cantik berwarna pink yang di hias dwngan pita putih dibagian atasnya.


Shafa segera mengambil kotak tersebut dan membuka isinya.


"Woow... Donat" Matanya berbinar melihat jajaran donat berjumlah 12 buah dengan toping warna warni yang berbeda-beda. Harum donat tersebut langsung mengusik indra penciuman Shafa. Ia seketika lupa dengan rasa kesalnya.


"Ayah ayo masuk!!!" Ujarnya sambil masuk mendahului Rayyan. Ia tak sabar untuk mencicipi donat tersebut.


"Mommy kalau sudah lihat donat jadi lupa sama kita ya bang" Ujar Rayyan menghampiri istrinya yang sedang menikmati donat di depan televisi.

__ADS_1


"Zafran sini sayang! Ia memanggil Zafran yang ada dalam gendongan Rayyan.


"Abang mau yang mana?" Ujarnya sambil menunjuk jajaran donat yang kini tinggal 11 buah.


"Yang ini mommy" Ia menunjuk donat dengan toping gliter warna warni. Rayyan memasangkan tissu pada leher baju Zafran agar tidak belepotan terkena glaze donat tersebut.


"Mbak Yati tolong ambilkan piring ceper" Ujarnya pada ART yang tengah menyiapakan bahan-bahan untuk makan malam.


"Ini bu piringnya" Mbak Yati memberikan piring yang di minta oleh Shafa.


"Jangan pergi dulu mbak" Ujar Shafa sambil mengisi piring tersebut dengan 6 buah donat.


"Ini buat di bagi sama bi Lastri dan yang lainnya ya mbak" Ujarnya sambil mnyerahkan piring tersebut. Sudah menjadi kebiasaan Shafa, ia selalu berbagi dengan pekerja yang sudah seperti keluarga.


"Aduh, makasih mbak Shafa" Ujar Mbak Yati nampak senang.


"Ayah mandi dulu ya mom, Mommy lanjutkan makannya sama Zafran" Ahafa mengangguk dan masih fokus dengan donat coklat di tangannya.


"Ayah ikut. Mandi di kolam" Zafran segera berdiri hendak okut dengan Ayahnya.


"Zafran?" Panggil Shafa dengan nada memperingatkan. Ia tahu betul putranya sangat suka dengan air. Rayyan yang selalu menyempatkan untuk berenang bersama membuat Zafran ketagihan.


Zafran begitu menurut dengan mommynya. Ia segera duduk kembali meski dengan wajah cemberutnya.


"Ini sudah sore sayang, mandi di kolamnya besok lagi yah?" Bujuk Rayyan agar ia tidak cemberut lagi.


"Sayang, anak kecil nggak boleh mandi sore-sore" Ujar Shafa sambil mencium pipi putranya itu.


"Karena di waktu sore menjelang malam banyak......." Ujar Shafa dengan nada menakutkan. Belum selesai ia berbicara Zafran sudah memeluknya terlebih dahulu.


"Zaflan ga mau mandi sole mommy" Ucapanya sambil memeluk Shafa.


"Nah gitu dong... Itu baru Zafrannya Mommy. Ayo makan lagi donatnya" Shafa menyuapkan kembali donat yang tadi belum selesai di makan.


***


"Mom?"


"Hmm" Jawab Shafa menggumam. Ia masih kelelahan setelah melakukan kegiatan panas mereka. Meski usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 6, mereka tetap melakukan kegiatan yang menjadi kebutuhan biologis mereka. Di masa kehamilannya ini Shafa memang menjadi lebih agresif. Persis yang pernah di katakan ayah. Bahwa nyidamnya ibu dulu benar-benar menurun ke Shafa. Mulai dari hobi berdandan dan ingin selalu terlihat caantik, sampai menjadi agresif dan menggoda saat di atas ranjang.


"Mommy sudah mengantuk?" Tanya Rayyan sambil mengusap perut polos istri dalam dekapannya itu.


"Kenapa? Mas mau lagi?" Tanyanya sambil berbalik menatap mata Rayyan.


"Mommy ih, Ayah kan cuma nanya" Ujar Rayyan. Ia kembali membalikkan tubuh istrinya membelakanginya dan mendekapnya dari belakang.


"Tumben nanya? Biasanya kan langsung tidur yah" Balas Shafa.

__ADS_1


"Ayah belum ngantuk Mom. Gimana kalau mommy ceritakan masa muda mommy dulu" Ujar Rayyan.


"Ayah mau tau apa tentang masa muda mommy?" Tanya Shafa.


"Mommy waktu muda pasti banyak pacar nya yah?" Tanya Rayyan. I hanya sekedar menebak. Melihat instrinya yang cantik naan molek sudah pasti banyak laki-laki yang memburunya.


"Enak aja! Nggak dong yah. Mommy cuma pacaran 2 kali. Walaupun yang ngejar banyak. Apalagi setelah mommy cantik dan seksi" Jawab Shafa sambil senyum senyum sendiri.


"Yang bener mom? Berarti pak Briyan pacar pertama Mommy?" Ia membalikkan kembaali tubuh Shafa menghadap ke arah nya.


"Ya... gitu deh! walaupun dia yang pertama jadi pacar mommy tapikan tetap Ayah yang pertama "ea eain" mommy" Jawabnya sambil menarik hidung Rayyan.


"Kalau gebetan seperti bu Sonya dan Vino ada nggak mom?" Tanyanya lagi. Entah mengapa malam ini Rayyan rasanya ingin bernostalgia bersama mengenang masa muda mereka.


"Nggak ada! Kalau yang suka - suka mommy buanyak, termasuk kakaknya si Nisa itu. Dia tu dulu sampai pernah ngirimin momny surat segala" Ujar Shafa. Rayyan langsung membelalakan matanya.


" Jadi Ar...Are you serious mommy?" Hampir saja Rayyan keceplosan menyebut Aryo.


"Yeah.. cuma akunya nggak mau. Soalnya dia tuh galak terus jarang senyum. Ayah perlu tahu, meskipun mommy kaya gini, mommy tuh dulu waktu sekolah adalah siswi berprestasi. Ayah pernah lihat medali dan piala yang ada di dalam lemari di ruang tengah rumah Daddy?"


"Iya, mas udah pernah lihat yang banyak itukan?" Jawab Rayyan. Tak bisa di pungkiri, medali, piala serta piagam penghargaan yang di tepatkan di sebuah lemari kaca du rumah Daddy Shafa, semuaanya adalah hasil usahanya mengharumkan nama sekolah di berbagai ajang perlombaan.


"Itu semua punya mommy lo yah!" Pamer Shafa sambil menyunggingkan senyum.


"Iya... Ayah percaya. Semoga kamu nanti sepintar momnymu ya nak!" Ujarnya sambil mengusap perut Shafa dari luar selimut.


"Jangan, kaya ayah saja ya nak! Mommy dulu kan sebelum ketemu ayah urakan. Mommy nggak mau baby nanti ngikuti jejak mommy." Tolak Shafa. Ia lebih menginginkan anaknya seperti Rayyan yang anteng.


"Eh, jangan kaya ayah! Kaya momny saja" Kekehnya.


"Memangnya ayah nggak mau, anaknya sholeh, anteng, pinter dan penyayang seperti ayahnya?" Tanya Shafa.


"Bukan gitu sayang. Ehm! Soalnya... Soalnya ayah waktu masih muda nakal!" Ujar Ray lirih pada kalimat terakhirnya.


"Ha? Serius? Ayah ayo ceritain ke mommy bagaimana masa muda ayah..ayo!" Rengek Shafa sambil menggoyang-goyangkan bahu Rayyan.


"Malu Mom"


"Alah, ayo cerita!!! Mommy nggak mau tahu" Ujarnya semakin penasaran.


"Iya..iya.."


"Cepat" Ucapnya tak sabar.


"Emm... Jadi waktu TK dan SD mas itu penakut, cengeng sering di ejek anak mami sama teman-teman mas. Terus waktu masuk SMP mas mulai sering di ajak latihan karate sama suami tante Ulfah, adik ayah. Disitulah mas mulai berani melawan anak-anak yang suka ngejekin mas. Mas dulu punya geng isinya anak anak punk. Mas sering ikut tawuran dan berkelahi sampai ayah pernah jemput mas di kantor polisi gara-gara ikut aksi bentrok dengan sekolah lain. Setelah kejadian itu, ayah memutuskan untuk memindahkan mas kepesantren pada saat mas mau naik kelas 3 SMA. Di sanalah mas mulai belajar dan mendapat hidayah sampai memutuskan untuk menggali ilmu lebih dalam lagi di Timur Tengah" Terangnya membuat Shafa melongo.


"Suamiku yang ganteng dan kalem ini pernah tawuran?" Tanyanya tak percaya sambil memegang pipi Rayyan.

__ADS_1


"Iya sayang. Makanya mas nggak mau kalau anak kita ngikutin jejak mas sewaktu muda" Balasnya.


"Waaah... Keren" CUP! Shafa mendaratkan satu kecupan di bibir Rayyan yang menjadi penutup obrolan malam mereka.


__ADS_2