
Pagi ini semua bersiap untuk ke rumah sakit mengunjungi Jeffri. Zafran dan Hafiz pun sudah minta izin untuk tidak masuk sekolah. Setelah Shalat subuh tadi Rayyan dan ibu mendandani Zafran dan Hafiz sedangkan para pembantu menyiapkan sarapan pagi yang waktunya lebih pagi dari biasanya. Ibu Sofiah mama Aini juga sudah berada di rumah Shafa. Pagi-pagi sekali supirnya sudah mengantarkannya ke kediaman Shafa untuk berangkat ke rumah sakit bersama.
"Uti, kita mau pelgi jalan-jalan ya Uti?" Tanya Zafran yang sedang meminum susu nya.
"Kok ada nenek juga, apa kita mau liburan?" Imbuh Hafiz yang duduk di sebelah neneknya.
"Enggak sayang, kita mau nengokin ayah Jeffri" Ujar Shafa.
"Ayah Jeffri itu siapa mommy?" Zafran nampak bingung karena tidak pernah mendengar nama tersebut.
"Om Jeffri itu ayahnya kakak Hafiz sayang. Kakaknya mommy" Jawab Shafa.
"Memangnya ayah Jeffri kenapa tante? Kata bunda ayah Jeffri lagi tangkap penjahat" Balasnya di ikuti dengan gerakan tangan seperti menangkap lalat.
"Ayah Jeffri sedikit kecapean" Balas Shafa. Ia tak mau menjelaskan panjang lebar perihal yang menimpa Jeffri. Karena anak seusianya belum waktunya tahu hal-hal seperti itu.
Setelah sarapan, mereka berangkat bersama menuju klinik. Di kursi depan, Zafran dan Hafiz duduk berdua sedangkan di belakang ada ibu, mama Aini dan juga Shafa.
"Ayah memangnya ayahnya kakak Hafiz lagi sakit? Kok di tengokin?" Tanya Zafran yang tak mau diam.
"Iya sayang, om Jeff sedang tidak enak badan?" Jawab Rayyan.
"Ayah Jeffri sakit apa om?" Kali ini Hafiz yang bertanya. Rayyan nampang bingung menjawabnya.
"Ayah Jeffri kecapean Hafiz karena habis tangkap penjahat" Sahut ibu Sofia menjawab pertanyaan dari cucunya tersebut.
"Oh... Pantasan bunda nggak pulang karena nemenin ayah ya nek?"
"Iya Hafiz, bunda lagi nemenin ayah" Jawabnya.
"Tapi aku suka tinggal di rumah Zafran nek, aku mau bilang bunda supaya boleh bermalam di rumah Zafran lagi. Iya kan Zafran?"
"Iya kakak Hafiz, nanti kita main di kolam lagi sama kakung" Ujarnya. Kakung adalah panggilan untuk ayah Rayyan yangbselalu menyempatkan waktu untuk bermain bersama Zafran dan Hafiz. Karena selama ibu tinggal di rumah Rayyan, ayah pun ikut tinggal di sana pula.
"Zafran kamu mau punya adik di perut mommy mu?" Tanya Hafiz.
"Iya kakak Hafiz, aku mau punya adik cowok. Kata ayah, aku mau di bikinkan adik banyak. Iya tan ayah?" Zafran menoleh ke arah Rayyan yang sejak tadi senyum-senyum mendengar celotehan dua orang bocah di sampingnya itu.
"Iya... Iya" Jawab Rayyan sambil terkekeh melihat ekspresi Shafa dari kaca depan mobilnya.
"Tu kan. Aku mau punya adek banyak. Lima tan ayah?" Tanyanya lagi membuat orang dewasa di belakang mereka terkekeh.
"Iya sayang iya... Lima" Balas Rayyan. Sementara Shafa menghela nafas panjang.
Satu aja belum keluar mau minta lima. Ngimpi!!!
"Aku juga mau adik kalau begitu!" Ucap Hafiz.
"Kakak Hafiz Halus minta sama ayahmu, supaya di bikinkan adik. Nanti kita main sama-sama" Ujar Zafran yang menjadi kompor buat Hafiz. Sedangkan Hafiz hanya manggut-manggut. Iya sedang menyusun kalimat dikepalanya saat bertemu bunda dan ayahnya nanti.
Setelah mengahabiskan waktu sekitar 20 menit mereka sampai di tempat yang di tuju. Rayyan keluar terlebih dahulu membukakan pintu untuk Zafran dan ibu. Ia membantu Shafa keluar dari mobil dengan hati-hati. Ibu menggandeng tangan Zafran sedangkan bu Sofia menggandeng Hafiz masuk ke dalam klinik. Mereka langsung berjalan menuju lift untuk ke lantai 3.
Untuk yang kesekian kalinya ia kembali lewat ruangan bersalin. Tak terdengar lagi suara teriakan dan jeritan kesakitan dari seseorang di dalam. Artinya mungkin Sinta sudah melahirkan. Rasa penasaran kembali menggelayuti hati Shafa sehingga ia menghentikan bidan yang baru saja keluar dari dalam.
__ADS_1
"Permisi, maaf saya mau bertanya?"
"Mau tanya apa Shafa?" Bisik Rayyan yang sedikit geram karenaa sifat kepo istrinya yang tak kunjung hilang.
"Pasien bernama Sinta yang 3 hari lalu masuk, apa sudah melahirkan?" Tanyanya.
"Oh, ibu Sinta. Iya, dia sudah melahirkan namun 2 hari lalu bayinya meninggal karena ada kelainan pada jantung nya" Ujar Bidan tersebut.
"Terima kasih bidan!" Rayyan segera membawa pergi Shafa sebelum ia bertanya lebih lanjut.
"Ya Allah, kasian banget Sinta mas" Ujarnya.
"Qadarullah sayang, mungkin itu yang terbaik bagi mereka" Balas Rayyan. Saat ini mereka sudah berada di dalam lift menuju lantai 3 tempat di mana Jeffri di rawat.
Di luar ruangan tempat Jeffri di rawat polisi bersenjata lengkap masih setia berjaga. Nampak juga seorang wanita cantik yang sempat di anggap Shafa anak SMA yang merupakan rekan Jeffri tengah berbincang dengan seorang pria dewasa berusia sekitar 35 tahunan keatas. Pria tersebut memakai seragam coklat dengan banyak lencana di bajunya yang menandakan tingginya pangkat dan jabatannya di kepolisian. Berbeda dengan pria itu, Alice justru hanya memakai celana jeans ketat berwarna hitam, sepatu boot hitam di lengkapi dengan jaket kulit coklat yaang di biarkan terbuka sehingga menampakkan kaos putih bagian dalamnya.
"Apa kalian keluarga pak Jeffri?" Tanya pria yang bersama Alice yang jika di lihat name tagnya bernama Andreas Dirgantara Yudha.
"Benar, kami keluarga pak Jeffri" Uajr Rayyan. Merekapun di persilahkan masuk oleh polisi yang berjaga. Di dalam ruangan nampak hening. Perawat dan dua dokter lainnya nampak berjajar di sisi kanan ranjang Jeffri, sedangkan dokter Mike dan Daddy Shafa sedang sibuk memeriksa. Mommy dan Aini nampak cemas berdiri di belakang daddy.
"Mom..." Panggil Shafa.
"Eh kalian sudah datang" Mommy menghampiri Shafa. Memberikan pelukan dan ciuman pada putri semata wayang nya tersebut kemudian beralih pada Zafran yang selama beberapa hari ini ia rindukan.
"Bu, kenalkan ini mama saya" Ujar Aini sambil merangkul mamanya yang usianya lebih tua dari pada Fanny.
"Saya Fanny, mommynya Jeffri" Ujar Fanny memperkenalkan dirinya.
"Benar, walaupun saya bukan - - -"
"Tidak apa-apa bu. Saya mengerti. Nak Jeffri juga sering menceritakan tentang ibu dan pak dokter yang katanya sangat menyayanginya" Potong bu Sofiah.
"Terima kasih bu Sofiah, sudah menerima Jeffri dan mengizinkannya menikah dengan putri ibu. Saya sangat senang karena dia benar-benar bersama orang yang tepat" Ujar Mommy. Ia sangat salut dengan ketabahan dan keteguhan hati Aini. Setiap malam ia selalu melihat Aini tak henti hentinya memanjatkan doa untuk suaminya tersebut. Ia bahkan selalu terjaga untuk solat malam saat yang lain terlelap.
"Wah siapa ini? Apa ini cucu oma juga?" Fanny membungkuk menyamakan tingginya dengan Hafiz. Hafiz nampak bingung dengan ucapan Fanny.
"Hafiz, mulai sekarang Oma Zafran adalah Oma Hafiz juga." Ujar Shafa.
"Berarti aku punya nenek dua?" Tanyanya polos.
"Iya kakak Hafiz. Aku juga punya dua. Oma dan Uti" Ujar Zafran sambil memeluk Uti nya.
"Ya sudah ayo kita lihat Jeffri" Ajak Mommy. Para perawat dan dokter sedikit bergeser memberikan ruang pada keluarga Jeffri untuk mendekat.
"Jeff, bangunlah nak. Semua sudah ada disini. Adikmu juga mertuamu ada di sini nak" Bisik Daddy.
"Ayah...Ayah... Bangun, Kenapa ayah tidur terus? Kata Zafran aku harus minta adik sama Ayah. Zafran sudah mau punya adik ayah, aku juga mau!" Kata-kata Hafiz sontak menimbulkan gelak tawa yang mengubah suasana tegang di ruangan itu menjadi lebih rileks. Sedangkan Aini wajahnya merah menahan malu atas ucapan putranya tersebut.
"Sudah siap?" Dokter Mike menatap daddy seakan meminta persetujuan. Daddy mengangguk mantap.
Tangan dokter Mike mulai bergerak membuka salah satu alat yang menempel di dada Jeffri sedangkan mata daddy fokus pada layar monitor di sebelahnya.
"Next!"
__ADS_1
Alat kedua pun terlepas.
"Stop!" Ujar Daddy. Ia kembali memeriksa kondisi Jeffri dengan menyenter bagian dalam matanya. Apakah ada respon atau tidak. Karena semalam jari jari Jeffri sempat memberikan respo dengan bergerak gerak kecil.
Ada seulas senyum yang terlihat di bibir Daddy.
"Welcome my son" Ujarnya di depan wajah Jeffri.
"Next!" Ucapnya lagi.
Alat ketigapun terlepas.
"Next!"
"Next!"
"Next!"
"Done!!!"
Semua Alat telah terlepas dari tubuh Jeffri kecuali selang infus yang menjadi asupan cairan pengganti makanan di tubuhnya.
"Dad, kenapa kak Jeff belum bangun?" Shafa menatap khawatir wajah daddynya.
"Tunggulah sebentar lagi. Jeffri pasti akan bangun." Ujar Daddy. Pandangan merekaa semua tak terlepas dari wajah Jeffri yang nampak tenang.
Perlahan tapi pasti. Gerakan gerakan halus pada kelopak mata yang sejak empat hari tersebut terpejam mulai nampak jelas. Daddy dan mommy yang berada paling dekat dengan wajah Jeffri dapat melihat jelas gerakan tersebut. Mommy menggenggam erat tangan Jeffri menyalurkan perasaan yang membuncah dalam dadanya. Ada haru yang amat mendalam di hatinya.
Terima kasih ya Allah. Terimakasih Jeffri sudah berkorban sejauh ini untuk kami.
"Mom, mata kak Jeff bergerak!" Teriak Shafa. Ia sangat bahagia begitu pula yang lain mereka mengucap syukur karena Jeffri masih di berikan kesempatan hidup.
Perlahan mata Jeffri mulai terbuka, mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina nya. Dokter Mike langsung mengambil semacam senter dari sakunya daan memeriksa kembali kedalam mata Jeffri. Juga denyut nadi di pergelangan tangannya. Ia tersenyum sambil menepuk bahu daddy.
"Your son is back!" Ucapnya yang mengatakan bahwa putranya telah kembali. Bukan kembali pulang tapi kembali bersama di tengah-tengah mereka.
"Alhamdulillah" Ucap mereka semua bersamaan sambil mengusap wajahnya.
"Jeffri... Hiks..Hiks" Mommy yang duluan bersuara tak mampu menahan air matanya. Ia langsung merangkul tubuh Jeffri menumpahkan semua rasa yang ada di hatinya. Rasa senang, syukur dan haru. Bagi seorang ibu tidak ada yang lebih membahagiakan selain kesehatan anaknya. Ia bahkan rela jika harus bertukar rasa.
"Mom sudah Mom, jangn begini Jeffri baru sadar" Daddy mencoba melepaskan pelukan mommy pada tubuh jeffri.
"Terima kasih sudah bertahan nak! Terima kasih telah menjadi anak kuat! Ibu sayang Jeffri." Ujar Momny sambil menatap wajah Jeffri yang juga meneteskan air mata.
"Ma... maaf" Lirih Jeffri tapi masih bisa di dengar. Ibu menggeleng, sambil mengusap air mata Jeffri.
"Ibu yang harus minta maaf"
"Ma..maaf su..dah mem..buat ibu dan pak dok..ter susah" Ujarnya yang langsung di hentikan oleh telunjuk Fanny.
"Tidak Nak, jangan panggil kami seperti itu lagi. Paggil Mommy dan daddy seperti adik mu Shafa. Karena kami adalah orang tuamu Jeff" Ujar Momny mencium kening Jeffri. Jeffri tersenyum menatap Fanny dan dokter Harsha bergantian.
Apakah ini mimpi? Ya Allah jangan bilang aku sudah mati dan sekarang sedang berada di surga bersama keluargaku. Keluarga lengkapku!
__ADS_1