Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Pulang


__ADS_3

Ibu menatap Shafa dan Rayyan secara bergantian kemudian tertawa lepas melihat ekspresi malu dari anak dan menantunya tersebut.


"Kenapa bu?" Rayyan mengerutkan dahinya.


"Udah nggak usah di bagi-bagi sama ayah, semuanya untuk cucu ibu yang ganteng ini" Ujar ibu sambil mengusap pipi cucunya yang tengah menyusu, seolah tahu apa yang sedang anak dan menantunya itu bicarakan.


"Ibu apaan coba? Kaya tau aja" Balas Rayyan.


"Udahlah Ray, kamu nggak usah ngeles. Wajahmu itu kelihatannya aja yang polos. Ngalah dikit sama anakmu lah." Ujar ibu yang terus menyudutkan putra semata wayangnya itu.


"Ibu tenang aja, Mas Ray katanya udah bosen kok bu, jadi dia nggak akan ngerecokin anaknya" Sindir Shafa sambil melirik suaminya.


"Wah, bagus dong Fa. Tapi ibu kayaknya nggak percaya. Diakan anaknya ayahnya pasti juga nggak jauh beda sama ayahnya" Ujar ibu.


"Ibu kok bawa-bawa ayah sih? Memangnya ayah salah apa?" Sahut ayah yang merasa namanya di sebut.


"Ah udahlah yah, jangan di bahas lagi. Intinya sifat ayah itu 99 persen nurun ke Rayyan. Shafa, ingat ya sayang pokoknya Shafa jangan mau di apa-apain dulu sama Rayyan sebelum baby boy berumur 3 bulan. Ini demi kebaikan Shafa. Bener-bener di tunggu sampai tubuh Shafa kembali seperti semula" Bisik ibu.


"Ibu jangan ngomporin istri Rayyan dong bu. Bukannya masa nifas wanita itu 40 hari saja? Setelah itukan sudah suci kembali" Ujar Rayyan yang merasa tak terima dengan ucapan ibunya. Karena hal itu mengancam kesejahteraannya sebagai seorang suami.


"Ibu bukan ngomporin Ray, ibu hanya memberikan petuah. Karena ibu lebih berpengalaman. Nanti Shafa ibu buatin jamu khusus, biar tubuhnya cepat kembali seperti semula. Dan lagi, kamu harus sering-sering pakai stagen biar perutnya nggak melar" Ujar ibu yang langsung di angguki oleh Shafa. Misi pertamanya setelah melahirkan adalah mengembalikan betuk tubuhnya seperti semula. Ia bahkan sudah berencana untuk melakukan perawatan menyeluruh terutama di bagian kewanitaannya karena khawatir bekas robekan dan efek melahirkan normal akan mempengaruhi keharmonisan rumah tangganya dengan Rayyan.


"Kamu nggak akan menang ngelawan ibumu Ray! Kamu fikir ayah dulu puasanya berapa lama? Hampir 4 bulan Ray! Semoga saja Shafa berbaik hati padamu.ha.ha.ha" Sahut ayah sambil terkekeh.


"Tenang yah, istri Rayyan ini paling baik dan cantik yang tidak ada duanya" Puji Rayyan sambil tersenyum memandang istrinya sedangkan yang di pandang hanya tersenyum kecut.


Kalau ada maunya aja gitu! Dasar mas Ray, luka aku aja belum kering udah ngomongin yang enggak-enggak.


"Oh iya, ibu sudah bawa makanan buat kamu dan Zafran. Kamu makan dulu gih Ray." Ujar ibu.


"Zafran ayo makan dulu nak sama ayah" Ajak Rayyan pada Zafran yang tengah menonton film kartun di handphone momnynya. Ia segera menghampiri ayahnya dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Baca doa dulu nak" Titah Rayyan sebelum menyuapkan makanan pada Zafran.


"Ayah, kapan kita pulang. Aku mau kasi liat adikku sama Aila" Ujarnya setelah mengunyah makannya.


"Tunggu oma ya sayang, nanti tanya oma dan opa kapan mommy boleh pulang" Balas Rayyan. Baru saja di sebut namanya, mommy dan daddy Shafa sudah berada di ruangan itu.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Nampak mommy Shafa datang bersama dengan Hafiz.


"Kakak Hafiz, mau lihat adinya Zaflan lagi ya?" Tanya Zafran begitu melihat kedatangan Hafiz.


"Iya, aku mau lihat adik bayi" Balasnya.


"Tapi ga boleh di bawa pulang. Itu adik Zaflan" Ujarnya sambil berlari menghampiri mommynya. Ia berusaha melindungi adiknya yang ingin di dekati oleh Hafiz.


"Zafran makan dulu nak!" Ujar Rayyan yang melihatnya berlari ke mommynya.


"Tapi nanti adikku di bawa pulang mommy" Balas Zafran dengan mata berkaca-kaca.


"Enggak sayang, kakak Hafiz cuma mau lihat aja kok. Sekarang Zafran makan dulu, baru main lagi sama adik ya." Ujar Shafa. Zafran pun mengangguk dan kembali duduk di samping Rayyan.


"Oh ya mom, kapan Shafa bisa pulang ke rumah?" Tanyanya. Ia sudah tidak sabar membawa putra kecilnya tersebut pulang kerumah. Para ART dan teman-teman Shafa pun sudah berulangkali menanyakan kapan kepulangannya. Karena di klinik tersebut hanya orang tertentu yang termasuk keluarga inti mereka saja yang bisa menjenguk.


"Kata dokter Lily, besok siang sudah diperbolehkan pulang. Besok pagi beliau akan memeriksa kembali kondisimu dan anakmu" Ujar Daddy.


Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan bercerita sambil bertukar cerita tentang pengalaman dan masa kecil Shafa dan Rayyan. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Zafran sudah terlihat mengantuk dalam dekapan Rayyan begitupun dengan Hafiz. Melihat hal itu ibu dan ayah berpamitan untuk pulang. Mereka akan pulang ke rumah Rayyan, karena ibubperlu mempersiapkan kamar buat menyambut kedatangan anggota baru dalam keluarga mereka. Begitupun mommy, hanya bedanya momny akan tidur di ruangan sebelah kamar Jeffri yang saling berhadapan dengan kamar Shafa. Mereka tidak khawatir meninggalkan Shafa dan Rayyan di ruangan itu karena kamar mereka pun di jaga oleh keamanan yang menjaga kamar Jeffri.


"Eh, anak mommy sudah bangun." Ujar Shafa sambik menimang-nimang anaknya yang kini membuka mata. Sejak tadi ia tertidur, saat Shafa ingin beristirahat ia justru terbangun. Mungkin ini yang di sebut dengan perjuangan seorang ibu.

__ADS_1


"Sayang, sini biar aku yang gendong" Ujar Rayyan setelah menidurkan Zafran di samping adiknya.


"Kamu istirahat aja mas, pasti capek dari tadi nemenin aku." Ujar Shafa.


"Yang capek itu kamu sayang, kamu yang sudah berjuang dan menahan sakit sejak siang tadi. Sedangkan mas nggak ngelakuin apa-apa. Jadi sekarang kamu istirahat. Biar baby mas yang jaga" Balas Rayyan sambil menatap teduh wajah istrinya.


"Mas, bukan hanya aku, tapi juga kamu. Kita sudah berjuang sama-sama. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah menyerah saat sakit itu datang. Kamu adalah sumber kekuatanku mas. Dan ini" Shafa menyentuh lengan suaminya yang hanya berbalut kaos berwarna hitam.


"Ini semua bukti bahwa kamu ikut berjuang bersamaku. Maafin aku ya mas, aku nggak sengaja" Ujar Shafa nyengir sambil mengusap lengan Rayyan yaang masih berbekas kemerahan.


"Rasa sakit ini nggak sebanding dengan yang kamu rasakan sayang. Terimakasih sudah mau menjadi ibu dari anakku." Rayyan mengecup kening Shafa.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu mas. Terima kasih telah mempercayaiku menjadi ibu dari anak-anakmu. Terima kasih sudah membimbingku sejauh ini." Balas Shafa.


"Itu sudah menjadi kewajibanku sayang. Sejak akad yang mas ucapkan waktu. Sejak itu pula Shafa menjadi tanggung jawab mas sepenuhnya. Dan kewajiban seorang suami itu bukan hanya memberi nafkah tapi juga mendidik dan menjaganya agar tidak berbuat dosa. Allah berfirman dalam Qur'an surat. At-Tahriim ayat ke 6 yang artinya, Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (dan anakmu) dan istrimu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Jadi seorang suami itu harus bisa menjadi perisai yang melindungi keluarganya dari api neraka. Caranya ya dengan mendidik dan mengajarkan ilmu agama kepada istri dan anaknya. Shafa mau kan membantu mas menjaga keluarga kita dari api neraka?" Rayyan memandang istrinya yang tengah khusuk mendengarkannya.


"Insha Allah mas!" Jawabnya sambil mengangguk.


"Alhamdulillah. Kalau begitu, mari kita didik anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang sholih dan takut kepada Allah. Semoga kelak, mereka bisa menjadi penolong kita di akhirat"


"Amiin"


"Mas?" Panggil Shafa.


"Hmmm"


"Jadi namanya siapa?"


_____________________


Habis turun mesin. Tetap cantik donk๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1




__ADS_2