Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Malaikat Kecil


__ADS_3

Tarikan tarikan kecil pada baju Shafa menyadarkan ia akan bocah kecil yang sedari tadi berada di pelukannya. Ia segera menghentikan aksi peluk pelukan sambil nangis nangisan bersama sang suami.


Shafa berbalik menatap bocah kecil sekitar umur 3 tahun itu mendongak padanya. Shafa segera mengambil tubuhnya dan kembali memeluknya. Bocah kecil yang tak tahu apa-apa. Bocah kecil yang beberapa jam lalu menjadi yatim piatu karena di tinggal kedua orang tuanya.


Mobil pick up yang di tumpanginya bersama kedua orang tuanya tiba-tiba di tabrak dari arah depan oleh sebuah mobil yang di duga pengendaranya dalam ke keadaaan mabuk. Ayahnya meninggal di lokasi kejadian sedangkan ibunya baru beberapa menit lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir akibat benturan keras di bagian kepala.


Bocah kecil ini selamat karena pada saat kejadian, sang ibu mendekapnya erat dalam pelukannya. Sesaat setelah kejadian warga sekitar berhasil mengeluarkan bocah tersebut yang sedang menangis ketakutan. Pada saat di bawa di rumah sakit ia terus saja menangis. Shafa yang juga berada di dalam ambulance yang sama mencoba untuk menenagkannya dengan terus memeluknya. Sampai mereka tiba di rumah sakit, ia tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Shafa. Beruntung keduanya tidak terluka parah, hanya sekedar memar-memar.


"Sayang, siapa anak ini?" Tanya Rayyan yang memperhatikan istrinya tengah menepuk-nepuk punggung bocah laki-laki itu.


"Sttttt" Shafa memberikan isyarat dengan menempelkan telunjuknya pada bibirnya.


"His parent just past away in that accident" Ujarnya dalam Bahasa Inggris agar bocah dalam pelukannya tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.


"Innalilaahi waa inna ilaihi roojiun" Mata Rayyan berkaca-kaca melihat anak itu. Ia mengusap lembut kepala anak yang tengah memeluk istrinya.


"Ayo kita periksa kondisi kalian ke dokter. Mas khawatir ada benturan atau luka dalam" Ujar Rayyan pada istrinya.


Shafa mengangguk. Rayyan beralih menatap bocah kecil dalam pelukan istrinya.


"Nak, ayo.. kita periksa dulu. Sini, om yang gendong." Ujar Rayyan pada bocah dalam pelukan Shafa. Tapi anak tersebut malah menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya pada leher Shafa.


"Nggak papa mas, biar aku gendong aja. Dia pasti masih syok." Ujar Shafa.


"Sayang, ada adek di dalam sini." Ujar Rayyan pada bocah kecil itu sambil menyentuh perut Shafa. Bocah itu langsung mengangkat wajahnya menatap Rayyan. Tatapan mata yang begitu polos.


"Adek?" Tanyanya. Kata pertama yang muncul dari bibir mungilnya. Rayyan segera mengangguk.


"Kamu di gendong om saja yah?" Rayyan membuka tangannya, segera di raih oleh bocah itu. Akhirnya ia mau berpindah ke gendongan Rayyan.


"Anak pintar." Rayyan mencium kening bocah lelaki itu.


"Ayo sayang!" Tangan kanan Rayyan meraih tangan Shafa dan menggandengnya menuju poli kandungan.

__ADS_1


"Bagaimana dokter kondisi istri dan anak saya?" Tanya Rayyan penuh rasa cemas.


"Kondisinya baik, hanya saja........"


"Apa dok? hanya saja apa?" Sela Rayyan yang tak sabar mendengar jawaban dari dokter.


"Hanya saja, ibu Shafa perlu istirahat total kurang lebih selama 3 hari. Jangan terlalu banyak berktifitas dan usahakan untuk bedrest. Bila terjadi kontraksi atau flek segera ke rumah sakit." Terang dokter tersebut.


"Baik dokter"


"Saya akan meresepkan vitamin dan penguat kandungan untuk bu Shafa. Harap di minum secara rutin" Imbuh dokter sambil menulis sesuatu di secarik kertas yang kemudian di berikan kepada Rayyan.


"Baik dokter, Terima kasih" Ujar Rayyan. Ia kemudian kembali menggandeng Shafa keluar dari ruangan. Bocah kecil tadi pun masih setia memeluk leher Rayyan dalam gendongannya.


"Kita ke poli anak dulu Mas, aku takut terjadi apa-apa sama anak ini" Ujar Shafa. Merekapun segera menuju ke poli anak untuk mendapatkan pelayanan.


Sebelum masuk ke dalam ruangan dokter anak, Rayyan sempat mengirimkan pesan kepada ibu dan Mommy untuk datang ke rumah sakit di mana ia berada. Kehadiran orang tua mereka mungkin bisa sedikit menenangkan Shafa yang juga masih terlihat syok. Tubuhnya masih bergetar dan pucat.


"Baring disini ya Nak, dokter mau periksa dulu" Ujar Rayyan. Anak tersebut mengangguk. Rayyan membaringkannya di atas tempat tidur bernuansa putih itu. Ia baru memperhatikan jika baagian belakang baju anak itu berlumuran darah yang sudah mengering.


"Ush..Ush... Nggak papa Nak, sebentar lagi selesai." Bujuk Rayyan menenangkan.


"Hanya memar sedikit, mungkin nanti baru akan terasa nyerinya. Saya akan memberikan antibiotik dan penurun demam. Biasanya setelah kejadian seperti ini anak akan mengalami deman" Ujar dokter tersebut.


"Apa itu itu berbahaya dokter?" Tanya Rayyan kembali mengangkat tubuh anak itu.


"Memarnya tidak berbahaya. Hanya saja saya khawatir dia mengalami trauma karena kejadian ini. Sebisa mungkin ibu dan bapak mengajaknya berinteraksi agar dia tidak larut dalam kesedihan. Hal itu bisa mempercepat pemulihan fisik dan psikis nya" Terang dokter terseebut.


"Terima kasih dokter" Ujara Rayyan.


Setelah menebus obat, Shafa dan Rayyan kembali menuju UGD. Mereka harus melapor dahulu kepada petugas kepolisian yang berjaga sebelum meninggalkan rumah sakit. Dan juga bocah yang sejak tadi bersama mereka, mereka harus menyerahkannya kepada keluarganya.


"Maaas" Shafa menghentikan langkahnya menahan lengan suaminya.

__ADS_1


"Ada apa sayang?"


"Bisakah kita membawanya pulang?" Ujar Shafa sambil memandang bocah yang ada dalam gendongan suaminya. Sejak di ambulance tadi, anak itu sudah mencuri perhatian Shafa terlebih saat ia memeluk tubuhnya sengat erat, seolah ia tak ingin meninggalkannya sendirian.


"Sayang dia punya keluarga. Bagaimana kalau keluarganya mencarinya? Sekarang kita melapor dulu, setelah itu baru kita fikirkan yang lainnya" Ujar Rayyan.


Mereka pun berjalan menuju meja panjang yang dijaga oleh polisi dan perawat.


"Permisi. Maaf pak, apakah keluarga anak ini sudah datang?" Tanya Shafa pada petugas yang berjaga.


"Ini yang anak dari korban yang meninggal tadi ya bu?" Tanya seorang suster.


Shafa hanya mengangguk.


"Sampai sekarang, belum ada keluarga yang datang bu. Saat ini Polisi sedang menuju ke alamat yang tertera di kartu identitas mereka untuk memberi tahukan keluarganya" Ujar perawat tersebut.


"Gimana mas?" Tanya Shafa sambil menggigit jarinya.


"Sebaiknya anak ini di simpan di sini saja pak, agar lebih mudah saat ada keluarga yang mencari" Ujar pak polisi yang ada di situ.


Shafa dan Rayyan sebenarnya tak tega meninggalkan anak itu, tapi mereka tidak punya pilihan lain karena mereka bukanlah sanak keluarganya. Baru saja Rayyan memberikan anak itu pada pada pak polisi, ia sudah menangis histeris sambil berbalik ke arah Shafa mengangkat kedua tangannya seolah ingin di gendong. Tanpa pikir panjang, Shafa langsung mangambil alih anak tersebut dari gendongan pak polisi.


"Tenang yah, Tante nggak akan ninggalin kamu sendiri." Ujar Shafa sambil menepuk nepuk punggungnya untuk menenangkan.


"Shafaaaa!!!!!" Terdengar suara teriakan seorang wanita memanggil namanya.


Ibu dan ayah berlari menghampiri menantu dan anaknya itu, disusul oleh Mommy dan Daddy di belakangnya. Wajah mereka nampak khawatir, ibu bahkan datang dengan menggunakan daster rumah yang biasa di kenakannya.


"Annakku... Ya Allah.. Kamu nggak papa nak?" Ibu langsung memeluk dan menciumi Shafa dengan haru. Sebelumnya ia mendengar dari pembantu rumahnya bahwa telah terjadi kecelakaan beruntun yang memakan banyak korban, tapi ia tak menyangka bahwa menantunya merupakan salah satu korban dari kecelakaan itu. Setelah menerima pesan dari Rayyan, ia pun segera meluncur ke rumah sakit tanpa mengganti pakaiannya. Begitu juga dengan Mommy dan Daddy. Daddy bahkan masih mengenakan jas dokter lengkap dengaan stetoskop di lehernya.


"Annak Mommy...." Mommy dan Daddy pun bergantian memeluk putri semata wayang mereka.


Semua menangis haru. Pujian dan rasa syukur tak henti-hentinya terucap dari bibir mereka.

__ADS_1


Allah maha baik.~


__ADS_2