Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Sabar


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Shafa mengikuti kelas kehamilan untuk yang ke dua kalinya. Setelah menitipkan Zafran pada mbak Yati, ia dan Rayyan bergegas menuju tempat Yoga. Kali ini mereka pergi dengan mengendari mobil sport berwarna merah milik Daddy Shafa. Alasannya jelas, karena Shafa tidak ingin ada yang nebeng apa lagi modus pura-pura minta di antar pulang. Karena mobil tersebut hanya bisa di pake oleh dua orang saja.


Setelah memasuki pelataran tempat latihan Yoga Shafa dan Rayyan tidak langsung turun. Rayyan masih menunggu Shafa menghabiskan strawberry milk shake yang di belinya di jalan tadi.


"Mas..Mas.. Lihat itu!" Tiba-tiba Shafa menarik lengan Rayyan agar sedikit condong ke arahnya.


"Apa sih sayang?"


"Itu kan perempuan yang waktu itu kita antar pulang!" Ujar Shafa sambik menunjuk wanita yang baru saja keluar dari mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya. Ia melihat wanita tersebut di antar oleh pria yang berusia sekitar 40 tahunan. Pria itu sempat mencium dan mengusap perutnya. Jika di lihat sepintas mereka lebih cocok sebagai ayah dan anak.


"Lihat tuh, apa mungkin itu suaminya? Ih kok kaya om-om sih, tua banget! Pasti dia sugar baby nya" Ujar Shafa dengan penuh keyakinan.


"Hus... Ga baik mencampuri urusan orang. Biar saja, mau suaminya atau omnya. Kita tidak ada urusan dengannya" Ujar Rayyan yang berusaha meredam sifat kepo istrinya.


"Ada urusannya donk mas, dia dua kali loh caper caper sama mas. Masa nggak nyadar sih" Ujar Shafa kemudian menyedot kuat kuat milk shake yang sudah tinggal setengah itu.


"Mas pusing sayang. Terlalu banyak kosa kata baru yang mas dengar hari ini. Mulai dari sugar baby kemudia caper caper. Shafa dapat istilah itu dari mana?" Tanya Rayyan yang lebih tertarik meembahas kata baru yang cukup asing di telinganya.


"Ampun deh suamiku ini, masa itu aja ga tau. Sugar baby itu julukan buat gadis gadis muda pecinta om-om mas. Kalau perempuannya di sebut sugar baby sedangkan om om nya di sebut sugar daddy. Kalau caper itu singkatan dari cari perhatian!" Terangnya membuat Rayyan geleng-geleng.


"Ada-ada saja" Ujar Rayyan yang merasa lucu dengan penjelasn istrinya.


"Ngak ada-ada mas. Emang ada kok. Mas tau nggak sekarang itu yang di takutin kaum istri bukan hanya pelakor senior mas, tapi juga cabe-caben sejenis sugar baby gitu juga berbahaya. Laki-laki kan demennya sama daun muda" Ujar Shafa.


"Mas enggak! Mas demennya sama mommy Zafran aja" Jawab Rayyan.


"Iya itukan sekarang saat mommy masih muda, cantik, kinclong montok, seksi tapi besok-besok kalau mommy udah tua terus udah nggak kenceng lagi, terus ada daun muda yang deketin mas, yakin mas nggak tergoda?" Tanya sambil melirik Rayyan.


"Insya Allah enggak! Karena ketika Shafa sudah tua, mas pasti jauh lebih tua. Mas udah nggak punya tenaga buat ngeladenin daun muda." Balasnya.


"Awas ya kalau macem-macem! Ingat ya, anak mas dua cowok semua, kalau ayahnya macem-macem dia pasti nggak tinggal diam. Aww.... Tuh kan dia nendang lagi, berarti dia setuju dengan mommy" Ujar Shafa sambil meringis merasakan tendangan kuat dari dalam perutnya.


Shafa dan Rayyan masuk ke dalam studio tempat yoga bersama ibu-ibu yang minggu lalu yang ia jumpai. Lengkap bersama suaminya masing-masing. Jika minggu lalu hanya ada 7 orang yang mengikuti kelas, minggu ini peserta kelas bertambah satu orang yang tak lain adalah gadis muda yang pernah bertemu Shafa sebelumnya. Ia telihat berbeda dari ibu ibu yang lain karena hanya datang seorang diri tanpa di temani oleh suaminya.


"Loh dek suaminya mana?" Tanya bu Nita. Peserta paling rame yang di anggap paling berpengalaman.


"Emm..suami saya lagi meeting tante" Jawabnya dengan gaya kemayunya.


"What! tante?" Bu Nita memutar malas bola matanya. Ia tidak suka dipanggil dengan sebutan tante.


"Umur kamu berapa dek?" Tanya bu Yuni. Yang penasaran dengan gadis muda berambut panjang tersebut.


"Saya 18 tahun tan" Jawabnya.

__ADS_1


"Wah, nikah muda ya?" Ibu Alin menimpali. Namun gadis itu hanya tersenyum masam.


"Selamat sore ayah bunda sekalian, bagaimana kabar hari ini?" Sapa Istruktur Yoga yang di ketahui bernama Rara.


"Baikk" Sahut para peserta kelas.


Setelah melakukan pembukaan. Shafa dan yang lainya mulai latihan yoga yang di awali dengan latihan pernapasan. Setelah latihan pernapasan mereka mulai melakukan gerakan gerakan yoga seperti minggu lalu dengan sedikit tambahan gerakan. Ada yang menarik dari latihan Yoga kali ini yaitu kehadiran Sinta yang mendapat tatapan kesal dari para ibu-ibu. Bagaimana tidak, Sinta yang datang hanya seorang diri terpaksa harus melakukan gerakan yoga tanpa pasangan, alhasil untuk beberapa gerakan ia terus saja mengganggu Rayyan yang berada di sebelahnya untuk membantunya. Beruntung Rayyan cukup mengenal Rara sehingga ia meminta Rara yang membantunya. Sedangkan Rayyan terus membisikan sebuah kata mujarab di telinga sambil mengusap lembut punggung istrinya agar ia tidak naik pitam.


"Sabar...." Sebuah kata yang mampu meredam emosi Shafa, terlebih saat kata itu di ucapkan oleh suara lembut suaminya.


"Baiklah, sebelum kita akhiri kelas, apakah ada yang ingin di tanyakan?" Tanya Rara.


"Saya bu" Bu Yuni mengangkat tangannya.


"Iya, silahkan ibu Yuni ya?" Ujar Rara setelaah membaca pin yang bertuliskan nama pada dada dlsebelah kiri bu Yuni.


"Saya suka lemas dan mudah lelah, kira-kira apa tipsnya ya untuk mengatasi masalah tersebut?" Tanya Bu Yuni.


"Bu Yuni harus memperbaiki asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh ibu. Karena seiring dengan pertumbuhan janin dalam kandungan, maka nutrisi yang di butuhkanpun jauh lebih banyak." Terang Rara dengan senyum ramah.


"Apa ada lagi?" Tanya Rara.


"Saya bu Rara" Kini giliran Shafa mengangkat tangan.


"Saya suka kalap kalau lihat ada perempuan deketin suami saya, apa lagi lirik-lirik. Emosi saya jadi nggak stabil dan rasanya seperti ingin melakukan kekerasan. Apakah itu normal?" Tanya Shafa yang sengaja menyindir Sinta yang tengah duduk di matras tepat di sebelahnya, pasalnya sejak tadi dia tak henti-hentinya melirik Rayyan.


"Sayang kok nanyanya gitu sih?" Rayyan menatap istrinya seakan tak setuju istrinya menanyakan hal itu.


Belum juga Rara menjawab Sinta sudah berdiri dan menghampiri Shafa dengan wajah angkuhnya.


"Apa maksud kamu? Kamu nyindir aku ha? Karena gue minta tolong suami kamu. Iya" Ujarnya sambil menunjuk wajah Shafa. Shafa yang merasa tertantang pun tidak tinggal diam. Ia pun segera bangkit dari duduknya.


"Baguslah kalau kamu merasa tersindir. Jadi besok-besok nggak usah cari perhatian sama suami orang" Balas Shafa.


"Tenang bunda..Tenang" Rara mencoba menengahi.


"Ahh minggir" Sinta justru mendorong Rara agar menjauh.


"Kamu nggak usah sok ya, mentang-mentang punya suami ganteng. Asal kamu tahu kamu nggak ada apa-apanya di banding aku. Kamu bukan level aku" Ujarnya sambil menunjuk Shafa.


"Sayang, sudah ayo pulang!" Rayyan mencoba untuk menarik Shafa namun Shafa tetap menolak.


"Ya ialah bukan level ku. Karena aku bukan tipe perempuan yang gampang tertarik dengan milik orang lain" Balas Shafa.

__ADS_1


"Ra.. aku pulang dulu ya! Maaf atas kekacauan ini" Ujar Rayyan sambil merangkul istrinya mencoba menjauhkan dari Sinta.


Ibu-ibu yang lain pun ikut geram dengan kelakuan Sinta. Sejak awal ia haddir di studio sudah membuat ibu-ibu itu kesal apalagi setelah mendengarnya adu mulut dengan Shafa.


"Mas sudah bilang, Tahan emosi kamu, kenapa sulit sekali mengendalikan rasa cemburumu Shafa!" Uajr Rayyan sambil membawa istrinya keluar.


"Mas! Wanita mana yang nggak cemburu saat suaminya di lirik perempuan lain mas?" Ujar Shafa dengan sura yang sudah naik satu oktaf.


"Mas tahu tapi momennya nggak pas sayang, disana banyak orang, apa Shafa nggak malu" Balas Rayyan sambil menuntun istrinya yang sedari tadi ingin melepaskan genggamannya.


"Kasian deh anda harus menghadapi iatri yang keras kepala seperti itu, Bikin malu aja!" Sahut Sinta yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Ia berjalan dengan anggun meski perutnya telah buncit, Ia dengan menjinjing sebuah tas mahal berloga H tersebut.


"Loe tu yang nggaak taahu malu! Lo nggak puas jadi sugar babynya om-om terus sekarang lo mau deketin suami gue!" Ujar Shafa yang sudah di luar kendali.


"Shafa!" Rayyan segera menarik Shafa menuju tempat parkir karena ucapan istrinya di anggap sudah kelewat batas.


"Masuk!" Perintahnya setelah membuka pintu mobil. Ia pun segera masuk sedangkan Sinta masih tetap berusaha mengejar. Ia tak malu meski kini ia jadi bahan tontonan dan cibiran orang banyak.


"Kak tunggu" Panggilnya saat Rayyan baru saja menutup pintu mobil Shafa


"Sebaiknya kamu pulang, dan jangan dekati istri saya lagi karena moodnya sedang tidak baik" Ujar Rayyan seraya berjalan menuju sisi kanan mobil. Rayyan pun segera melajukan mobil tersebut menuju kediaman mereka. Sepanjang jalan ia tidak berbicara sepatah kata pun, begitu pun dengan Shafa yang memilih diam sambil menatap ke luar jendela.


"Minggu depan tidak usah mengikuri kelas kehamilan lagi" Ucap Rayyan sambil mendekap tubuh istrinya yang berbaring membelaakanginya. Sejak pulang tadi Shafa tidak mau berbicara, Rayyan pun tidak ingin memaksanya. Ia membiarkan Shafa tenang terlebih dahulu.


"Kalau aaku nggaak ikut kelas, gimana aku tahu tips tips mau melahirkan mas? Aku itu mau bertaruh nyawa lo mas!" Jawab Shafa dengan perasaan kesal ia menendang-nendangkan kakinya di atas kasur.


"Mas akan panggil Rara kemari, Jadi kamu bisa bisa leluasa latihan di rumah" Ujar Rayyan sambil mengecup keningnya.


"Gimana? Mau kan?" Rayyan membalikkan tubuh Shafa agar mau menghadap ke arahnya. Shafa pun menurut dengan bibir masih maju beberapa senti kedepan yang membuat Rayyan gemas.


CUP!


Rayyan mencium bibir Shafa dan secepat kilat Shafa segera mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Sayang, anak itu adalah peniru yang sangat ulung!" Ujar Rayyan sambil membelai lembut rambut istrinya.


"Maksud Mas?" Tanyanya.


"Apa yang kita ucapkan, apa yang kita fikirkan dan kita rasakan, anak kita sudah bisa mendengarkannya. Apa Shafa ingin jika anak kita nanti hobi berantem dan ribut?" Tanya Rayyan.


"Ya enggaklah! Memangnya aku gila apa pengen anaknya hobi berantem" Jawab Shafa.


"Oleh sebab itu Shafa juga jangan suka berantem dan ribut sama orang. Karena anak ayah di dalam sini sudah bisa mendengar apa yang kita ucapkan. Jadi berucaplah yang baik baik agar yang tercopy dalam ingatan anak kita adalah hal-hal baik"

__ADS_1


__ADS_2