
Aku merasakan seseorang menepuk pipiku, "Sayang,.....Bangun Sayang" Terdengar samar-samar suara mas Ray membangunkan ku.
"Emmmm" Aku masih sangat mengantuk. Lelah hayati bang! tidur lagi ah.
"Maaasss!!" Aku memekik saat ku rasakan selimut yang menutupi tubuhku di tarik. Sontak aku berusaha merebutnya. Ish, mas Ray jahil. Aku menunduk malu terlebih saat dia bilang sudah melihat semuanya. Hua pengen tenggelam di rawa-rawa akuh.
Mas Ray mengambil jubah mandi dan menutupkan nya di tubuhku. Aku segera berlari ke kamar mandi. Aku senyum senyum sendiri mengingat semua hal romantis yang mas Ray lakukan. Ih, suamiku sweet banget ternyata.
Aku membuka pintu kamar mandi, ku lihat mas Ray yang sudah ganteng maksimal paripurna lagi mengotak atik hpnya. Chatingan sama siapa ya? Aku jadi penasaran pengen liat isi hp nya.
"Maaass... Koper aku mana?" tanyaku yang sedang celingak celunguk mencari koper tempat pakaianku.
"Di dalam lemari paling bawah" Jawabnya sambil menunjuk lemari berwarna putih.
Aku segera mengambil pakaian ganti dan memakainya. Aku memilih dress putih pendek berbahan kaos yang agak longgar. Aku kembali membuka koperku mencari sesuatu. Kok ga ada ya? Jangan-jangan kak Eva lupa nyiapin. Kan dia yang nyiapin keperluanku kemaren. Gimana aku sholatnya.
"Nyari apa sayang?" Tanya mas Ray.
"Mukena Ku kok ga ada ya mas? Kak Eva kayaknya lupa bawain deh"
"Ga usah di cari. Sini!" Panggilnya. Kalo ga di cari gimana aku sholatnya. Atau ga usah sholat aja kali ya, kan ga ada mukena.hi.hi.hi.
Aku menghampiri mas ray. Lah, aku datang dianya malah berdiri. Mas Ray membawa sesuatu di tangannya. Sebuah box bening berhiaskan pita berwarna gold.
"Ini Untuk Shafa" Ucapnya memberikan box tersebut di pangkuanku. Di lihat dari liar sih cantik, tapi buat apaan. Isinya kok kaya bentuk bunga gitu sih. Ini hiasan atau pajangan ya?
"Ini apa mas?" Tanyaku bingung.
"Seperangkat alat sholat yang sudah di bayar TUNAI" ucapnya. Kok kaya bunyi ijab qobul gitu yah?
__ADS_1
"Kok alat Sholat sih mas? di bikin kayak gini lagi, Kaya mas kawin di tivi-tivi aja" Ucapku masih keheranan. Kalau ini alat Sholat berarti di pake sholat dong. Ih, kan sayang cantik gini bentuknya.
"Anggap saja seperti itu. Alat Sholat itu biasanya dijadikan sebagai mahar pada saat pernikahan yang artinya dengan di berikannya alat sholat itu di harapkan dapat di gunakan untuk beribadah kepada Allah, dan bermanfaat. Karena suami itu bertanggung jawab untuk membimbing istri ke jalan yang di ridhoi Allah" Ucapnya. Tausiah ustad Rayyan sebelum sholat subuh.
"Ini cantik, sayang mas kalau di pakai, ini aku simpan aja yah" Pintaku sambil memeluk kotak bening yang berhiaskan pita dan beberapa hiasan lainnya.
"Kalau di simpan jadinya ga bermanfaat sayang. Di pakai ya?" Bujuknya mengusap kepalaku. Kalau udah gini mau nolak mah susah. Sebelum itu ku ambil smartphone ku untuk mengambil gambar. Cekrek, cekrek..!!! Woow keren, setidaknya ada jejak digital kalau aku juga pernah di kasi beginian. I love You full mas Rayyan ku.
Dengan berat hati ku buka box tempat mukenah ku, ku keluarkan seperangkat alat shalat yang di bentuk menjadi sebuah mawar. Di dalam box juga terdapat tasbih mutiara berjumlah 33 butir yang melengkapinya. Ini adalah mukena terbaik yang pernah aku punya. Sebuah mukena polos berwarna peach muda. Warna kesukaanku dengan detail renda di pinggirnya. Di bagian bawah depan mukena tersebut terdapat bordiran kecil berwarna gold bertuliskan Shafa Ar-Rayyan. Manisnya. Jadi pen peluk. Tapi buru-buru dia menghindar dan mengatakan "Mas udah wudhu".
Seusai melaksanan Shalat subuh Mas Ray kembali mengoreksi bacaan Al-Qur'anku. Sudah mendingan sih dari pada yang pertama. Setidaknya selama 2 minggu terakhir ini bacaan ku sudah mengalami peningkatan walaupun masih berkutat di surat Albaqoroh.
"Mas aku kok ngerasa kaya pengantin baru yah?" Ucapku yang tengah bersandar manja di dadanya.
"Emang pengantin baru kok, baru ketahuan banyak orang" Ujarnya.
"Ih, bukan gitu. Rasanya tuh beda. Mas ngerasa ga sih ada yang beda feel nya" Aku menoleh ke arahnya. Mas Ray menatapku dan menempelkan keningnya ke keningku.
"Emm... mas, ngomong-ngomong soal mahar tadi, kok dulu mas ngasihnya cuma duit sih? Dikit lagi" Tanyaku. Aku tiba-tiba ingat kejadian di desa Jodoh waktu itu. Aku yang sempat menolak uang yang ia sebut mahar dengan sangat kasar.
Mas Ray malah terkekeh mendengar pertanyaanku. "Karena nikahnya kan mendadak dan lagi uang tunai di dompet mas cuma ada segitu. Lagian sayang, wanita yang agung adalah wanita yang ringan maharnya artinya tidak menyulitkan calon suaminya" Ujarnya. Fix, gue dapat ilmu baru lagi.
"Kalau kita ulang nikahnya bisa ga mas?" Tanyaku.
"Buat apa?" Tanyanya sambil mendekapku.
"Ya aku mau minta mahar sesuai keinginanku dong mas, mas kan duitnya banyak jadi ga mungkin menyulitkan" Ujarku. Aku membayangkan seperti yang pernah ku lihat di tweeter mahar yang di sesuaikan dengan tanggal dan bulan pernikahan kan sweet banget.
"Ga perlu, kalau Shafa ingin sesuatu tinggal minta. Karna semua uang milik mas sekarang adalah milik Shafa juga" Ucapnya
__ADS_1
"Bukan gitu mas, aku tuh mau mahar yang unik dan berkesan gitu loh, kaya jumlah uangnya di sesuaikan dengan tanggal pernikahan gitu.
"Emang Shafa ingat tanggal pernikahan kita?" Tanyanya menatap mataku. Tatapannya kok kaya ngejek gitu sih. Duh, aku juga lupa. Aku nikah tanggal berapa sih? Aku cuma ingat harinya doang hari Sabtu.
"Kenapa bengong, pasti ga ingatkn?" Ucapnya. Kok bisa lupa sih aku.
"Kan mendadak, jadi ga ingat" Kilahku.
"Sekarang dengar, dan ingat baik-baik" Mas Ray menatapku.
"Kita menikah tanggal pada hari Sabtu taanggal 1 bulan 10. Tadinya mas mau ngasih maharnya satu juta sepuluh ribu rupiah, tapi ga ada uang 10 ribuan di dompet adanya 100 ribu. Dan lagi sayang, Mahar itu bukan masalah nominal atau bentuknya, tapi manfaatnya"
"O...Mas berarti uang mahar yang mas pakai boleh dong aku belanjain" Tanyaku lagi. Sejujurnya aku sama sekali ga paham dengan mahar-mahar kek gini.
"Boleh, itu sepenuhnya hak milik Shafa, Jika Shafa gunakan untuk kebutuhan rumah tangga itu akan menjadi sedekah Shafa buat keluarga kita" Terangnya.
"Tapi uangnya masihkan?" Tanyanya lagi.
Waduh, aku menapok jidatku. Ini dari tadi ngomongin mahar ampe lupa mahar gue ada dimana. Harusnya masih kan aku ga pernah pake. Tapi aku narohnya di mana ya?
"Mas, aku lupa naroh dimana? Kayaknya masih di dalam tas yang waktu itu aku pakai ke Bogor deh. Tapi aku lupa aku pakai tas yang mana" Ucapku setengah panik.
"Ya udah ga papa, nanti di cari kalau udah sampai rumah".
Beginilah suamiku, saat aku panik dan kelimpungan dia tetap dengan gaya santainya.
_______________
Ciee yang berasa pengantin baru๐๐
__ADS_1