
"Ha..ha..ha..." Shafa tertawa terbahak-bahak melihat wajah suaminya memerah.
"Nggak usah tertawa!!!" Balas Rayyan, tapi Shafa masih saja tertawa mengingat perjuangan suaminya memanjat pohon mangga milik tetangga. Beberapa kali Rayyan menjerit mulai dari istigfar sampai bertakbir saat dirinya berada di atas pohon. Demi Shafa dan anaknya ia rela bahkan harus memanjat pohon yang selama ini belum pernah ia lakukan.
"Mas beneran nggak pernah manjat pohon?" Tanya Shafa masih menahan tawa.
"Pernah barusan!" Jawabnya datar.
"ha.ha.ha... Makasih ayah" Ujarnya sambil bergelayut manja di lengan Rayyan. Mereka berdua berjalan menuju kediaman mereka.
Pagi itu terlihat Pak Madi sedang mencuci mobil di halaman bersama Pak Ali.
"Dari mana pak? Tumben pagi-pagi sudah keluar" Tanyaa pak Madi.
"Dari jalan pagi pak Madi. Biar sehat" Jawab Rayyan.
"Bu Shafaa pagi-pagi udah bawa mangga, mau ngerujak buk?" Tanya pak Ali melihat majikannya menenteng mangga muda yang masih ada gagangnya.
"Iya pak Ali, ini hasil perjuangan Mas Rayyan manjat pohon mangganya pak RW." Ujar Shafa dengan raut bahagia.
"Masya Allah... Malantap pak Rayyan. Saya ngelihat pohonnya aja sudah ngeri" Ujar pak Madi mengacungi jempol.
"Apa lagi saya pak! Demi si buah hati pak Madi." Balas Rayyan. Ia juga masih ngeri jika mengingat kejadian tadi.
Shafa segera meletakan mangga mudanya di dapur bersama buah buahan yang lainnya.
"Mbak Shafa" Panggil bi Lastri. Shafa berbalik tersenyum melihat bi Lastri.
"Mbak Shafa suka?" Tanya bi Lastri.
"Suka apa bi?"
"Itu..tu" Bi Lastri memberikan kode melalui lirikan matanya pada daster yang di pakai Shafa.
"Oh ini.. iya, Aku suka Bi. Terimakasih ya bi, ini langsung aku pakai loh" Jawab Shafa memegang daster yang ia kenakan.
"Alhaamdulillah kalau mbak Shafa suka" Ujar Bi Lastri dengaan senyum bahagia.
__ADS_1
"Oh ya mbak, Mas Zafran tadi nangis nyariin mbak Shafa. Sekarang lagi di kolam belakang sama Mbak Yati" Ujar Bi Lastri. Shafa segera menuju kolam belakang untuk menemui Zafran. Biasanya jam segini dia belum bangun sehingga Shafa dan Rayyan membiarkannya tidur di kamar.
"Mommyyyyy" Zafran berteriak begitu melihat Shafa datang. Ia segera turun dari pangkuan Mbak Yati dan berlari memeluk Shafa.
"Mommy...isk...isk" Ia memeluk Shafa sambil menangis.
"Cup..cup...sayang nggak boleh nangis. Mommy disini." Ujar Shafa sambil mengusap kepala bocah yang memeluk erat kakinya.
"Anak ayah kenapa? Pagi-Pagi menangis. Sini sini ayah gendong." Ujar Rayyan yang langsung mengangkat tubuh Zafran. Ia terisak menenggelamkan wajahnya di leher Rayyan.
"Tadi Mas Zafran bangun tidur nyariin Mbak Shafa, dikiranya Mas Zafran di tinggal sendiri" Ujar Mbak Yati.
"Sayang, Mommy tadi olahraga di luar biar adeknya Abang sehat. Mommy tinggalin abang karena abang masih bobo." Ujar Shafa lembut.
"Sekarang kita mandi yuk, mandi di kolam sama ayah, mau?" Ajak Rayyan. Zafran segera mengangkat kepalanya dan mengangguk cepat. Ia selalu bersemnagat ketika mendengar nama kolam.
Rayyan segera menuju kolam renang yang terletak di bagian samping. Terdengar suara Zafran yang teriak kegirangan.
"Mom, Ambilkan bebek Zafran Mom!" Teriak Rayyan yang sudah berada di dalam kolam sambil menggendong Zafran. Hari ini menjadi hari libur yang sangat berbeda bagi keluarga kecil Rayyan. Kehadiran Zafran memberikan warna dan kebahagian tersendiri bagi mereka.
"Abang hati-hati, pegangan sama Ayah bang." Teriak Shafa mengingatkan saat putranya itu mulai kesenangan bermain air.
Shafa memutuskan untuk membantu bi Lastri menyiapkan sarapan.
"Bi, tolong bersihkan ikan merahnya ya. Aku mau buat sup ikan merah" Ujar Shafa. Karena ia masih suka mual ketika mencium bau yang begitu amis.
"Iya mbak... Oh ya Mbak ada surat buat Mbak Shafa" Ujar Bi Lastri sambil merogoh saku dasternya.
"Dari siapa Bi?" Tanya Shafa, menerima surat beramplop coklat tersebut.
"Nggak tahu mbak, barusan pas bibi buang sampah ke depan, ada orang yang ngasih itu" Ujar bi Lastri.
"Ya udah makasih bi" Shafa beralih duduk di meja makan sambil membuka surat yang di berikan bi Lastri.
Matanya membulat sempurna saat melihat tulisan pada kertas tersebut. Tulisan tangan yang sangat di kenalnya.
**Assalamualaikum wr.wb.
__ADS_1
Untuk Sahabatku Shafa.
Semoga Allah selalu menjagamu dan keluargamu.
Shafa, aku tahu kamu belum bisa memaafkanku. Aku memang tidak pantas untuk kamu maafkan. Aku memang jahat, sahabat tidak tahu diri. Tapi aku ingin kamu tahu, aku sudah menyesali semuanya Fa. Allah telah memberikan teguran dan pelajaran berharga dalam hidupku*. *Terimakasih kamu masih mengizzinkan aku bekerja di toko milik suamimu.
Ketahuilah Shafa, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada pak Rayyan. Rasa bersalahku padamu lebih besar dari semuanya. Maafkan aku yang pernah merasa iri dengan mu, tanpa aku sadar karenamu lah aku bisa kembali pulang. Bahkan kamu dengan senang hati menerimaku di rumahmu. Izinkan aku menebus semuaa kesalahanku pada mu Fa. Apapun akan aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki.
Aku selalu berdoa semoga Allah selalu melindungimu, memberikanmu kekuatan dan keberkahan. Semoga kamu diberikan kemudahan dalam melahirkan anakmu dengan selamat nanti.
Selamat Ulang Tahun Fa, Semoga Allah mberkahi setiap langkahmu**.
"Nisa......Hiks..hiks" Shafa memeluk erat surat yang ternyata berasal dari sahabatnya itu. Meski ia masih sakit hati dengan perbuatan Nisa, tapi jauh di dalam hatinya ia masih merasa simpati padanya. Ia menyadari, kehadiran Nisa dalam rumah tangganya merupakan bagian dari rencana Allah yang membuat hubungannya dengan Rayyan semakin kuat, bahkan setelah kepergiannya ia bisa merasakan bahwa cinta Rayyan semakin bertambah setiap harinya.
"Mbak... Mbak Shafa kenapa?" Bi Lastri terlihat begitu panik karena Shafa menangis. Ia segera mengusap air matanya. Tak ingin pembantunya itu melihatnya menangis lebih lama.
"Nggak papa bi, apa ikannya sudah bersih?" Tanya Shafa mengalihkan pembicaraan.
"Sudah siap semua mbak" Ujarnya.
"Ya sudah, saya ke kamar dulu bi" Shafa beranjak ke kamarnya, menyimpan surat dari Nisaa di dalam laci Nakasnya.
Di sebuah tempat di Negara seberang, Sonya sudah bersiap dengan dress cantik berwarna peach bermotif bunga sebatas lutut. Rambutnya ia biarkan terurai jatuh dipunggungnya. Ia memoles wajahnya dengan riasan tipis dengan sentuhan blash on pink terang membuatnya kian imut dan terlihat lebih muda, Tak lupa Flat Shoes dengan aksen mutiara di bagian depan menambah kesaan feminim dan girly pada penampilannya. Hari ini ia memutuskan untuk bertemu salah satu teman kuliahnya yang sedang berada di Singapura. Ia keluar kamar dengan pecaya diri melewati Briyan yang sedang nonton TV.
Mata Briyan sekilas tak berkedip melihat penampilan Sonya yang begitu cantik bak model majalah. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya menatap layar televisi yang ada di depannya.
Gilaaaa... Cantik bener si Sonya. Mau kemana siang-siang gini. Jangan jangan ketemu ama pasangan itu nya..?
"Aku mau keluar, jangan cari aku sampai aku pulang" Ujar Sonya dingin tanpa melihat Briyan. Ia masih kesal dengan ucapan Briyan kemarin malam.
"Eh..." Baru Briyan hendak menjawab, Sonya sudah menutup pintu.
Briyan segera berlari munuju kamar. Ia menyambar jaketnya yang tergantung di balik pintu juga topi dan masker. Ia berniat untuk meengikuti kemana Sonya pergi. Ia curiga Sonya akan menemui pasangan l*sbi nya.
Kali ini kamu tidak akan bisa mengelak lagi Sonya. Dengan bukti yang akan aku berikan pada papa, maka papa tidak akan memaksaku lagi untuk menikah. ha.ha.ha.
__________________
__ADS_1
Hai..hai.... Readers setiaku❤️😍😘 Jangan Lupa Like and Vote nya yah... di tengah kesibukan Author yangbsemakin padat, aku usahain untuk selalu up. Kalian jangan lupa Like ya... Aku sedih tau nggak ngeliat pembacanya banyak tapi likenya dikit😭😭😭😭