
Aku mengerjapkan mata ku, merasakan lelah dan kaku di sekujur tubuhku. Ku Lihat seseorang tengah memandangku dengan senyuman yang bisa bikin diabetes.
Ku edarkan pandanganku melirik tubuhku yang masih berbalut selimut tebal. Astaga! ini aku lagi ga pake apa-apa loh di dalam. Berarti yang semalam itu bukan mimpi dong. Berarti aku udah bener-bener jadi istri seutuhnya. Huaa.. Im not virgin anymore!
Aku menenggelamkan wajahku kedalam guling yang sedang ku peluk erat. Ada rasa malu yang amat sangat membuncah di hatiku apalagi saat dia menatapku dengan tatapan syahdunya itu loh. Bikin aku ga kuat.. Ga kuat untuk ga meluk dia. Tapi kali ini malu nya aku fokus pada kejadian malam tadi.
"Sayang, bangun yuk!" Suara itu membuatku semakin erat memeluk gulingku. Aku ga berani menampakan wajahku yang mungkin sudah seperti tomat. Ia mengelus-ngelus kepalaku lembut, sesekali mengecupnya.
"Kalau ga bangun, mas gendong paksa nih" Ancamnya yang mau tidak mau membuatku mendongakan kepalaku.
CUP!
Satu ciuman mendarat mulus di bibirku. Benar kata pepatah *dont judge a book by its c*over sepertinya itu berlaku untuk suamiku. Di luar dia keliatannya anteng, kalem, datar kayak jalan tol ternyata di dalam selimut dia cukup agresif.
"Maaas.." Aku kembali menyembunyikan wajahku.
"Iya sayang, ayo bangun mandi!" Ajaknya lagi.
"Jam berapa mas, aku masih ngantuk?" Ucapku masih menyembunyikan wajahku. Perasaan aku baru tidur sebentar udah main bangunin aja.
"Jam 4 Shafa, kamu ngantuk atau malu?" Mas Ray menggodaku. Mas Ray mengambil guling yaang berada di antara kami. Entah sejak kapan guling itu berada disana karna seingatku tadi malam aku tertidur dengan posisi mas Ray memelukku dari belakang.
"Mass.... Ray..!!!" Teriakku saat mas Ray menarikku kedalam pelukannya. Kulit kami kembali bersentuhan tanpa adanya pembatas .
"Shafa, hey lihat mas" Ia mengusap lembut wajahku. Ku gigit bibir bawahku menatap kearahnya. Wajahnya nampak bahagia. sepertinya efek malam pertama begitu luar biasa padanya.
"Aku malu mas" Ucapku lirih. Kek pengen nangis tau gak.
"Malu kenapa?" Tanyanya mengusap kepalaku.
"Ya.. malu pokoknya malu" Jawab ku. Pake nanya lagi. Ya aku maalu lah, secara dia semalam udah "ea ea" in aku. melihat, menyentuh seluruh bagian tubuhku yang belum pernah terekspose keluar. Dan sekarang dengan santainya dia bertanya kenapa aku malu?
"Ga usah malu, ga ada yang denger kok. Kamarnya kan kedap suara" APA? Ga ada yang denger, kamar kedap suara. Kok ga nyambung gini sih mas Ray.
Wait..Wait.!!! Aku baru ingat, apa yang di maksud mas Ray, yang semalam aku menjerit itu mungkin. Aaaaaaaaa.... dia kok ngungkit itu sih. Mommy aku ingin menghilang ke luar angkasa aja. Aku ga sanggup. Itu aib memalukan. Hueeee....
"Aaaaaaa Mas Ray" Aku langsung memeluknya erat menenggelamkan wajahku di dadanya. Sementara mas Ray malah terkekeh.
__ADS_1
Semalam, setelah selesai melaksanakan sholat sunnah yang di sebut sunnah pengantin itu, kami langsung melakukan ritual malam pertama setelah sebulan lebih kami saah sebagai pasangan suami istri. Aku fikir ritual terseebut akan akan se enak yang sering di gambarkan sebagai surganya dunia. Tapi, ternyata itu semua hoax. Rasanya tubuhku seperti terbelah, beberapa kali aku menjerit menahan perih yaang tak terkira. Dan saat aku memintanya untuk berhenti dan menyudahi dengan entengnya dia bilang "Tahan, Sabar". Sungguh tidak berperi kewanitaan. Tapi di balik rasa sakit itu aku melihat rona bahagia yang tidak bisa di sembunyikan dari wajahnya.
Setelah selesai melakukan ritual sakral itu, mas Ray memelukku erat dan menghujaniku dengan ciuman-ciuman lembut.
"Shafa, jangan begini. Nanti aku terpancing lagi" Ucapnya ketika aku semakin mendusel di dadanya.
"Mas! Ini tuh masih sakit mas udah main kepancing aja. Kalau mau mancing noh ke laut aja sono" Gerutuku.
"Habisnya Shafanya nempel nempel terus, ya aku mana tahan" Ucapnya sambil menahan tubuhku yang berusaha aku jauhkan dari tubuhnya.
"Mas....lepasin ah" Aku berusaha berontak saat dia memelukku erat.
"Shafa kenapa kemarin bohong sama mas?" Tanyanya sambil menatap mataku.
"Bohong apa mas? Shafa ga pernah bohong" Ucapku.
"Kenapa kemarin Shafa bilang kalau Shafa udah ga suci lagi?" Tanyanya. Wuih, emang aku bilang gitu ya?
"Enak aja, aku ga pernah tuh bilang aku idah ga suci" Aku memukul lengannya.
"Aku kan nanya kalau seandainya, ada kata seandainya mas Zidane Arrayan!" Imbuhku gemes.
"Sekarang udah tau kan?" Ucapku sambil menarik narik kecil pipinya.
"Hmmm... udah, udah ngerasain juga. Terima kasih sudah menjadikan mas yang pertama" Ucapnya kembali mengecup keningku.
Aku di buat blushing lagi olehnya.
"Sekarang mandi, keburu habis waktu subuhnya" Ucapnya Sambil mengangkat tubuhku.
"Mas mau ngapain" Aku berusaha berontak namun apa daya tubuhku yang lemah ini kalah jauh dengannya.
" Mandi sayang" Ia menurunkanku di bathup kamar mandi.
"Aku bisa mandi sendiri" Ucapku berusaha menutupi bagian dadaku dengan ke dua tanganku.
"Ga papa mandi bareng. Baginda Rasulullah pun melakukannya denga istrinya Aisyah" Ucapnya. Ya ampun Mas Ray, apa-apa selalu di kaitkan dengan agama. Sholeh banget sih dirrimu. Mending ga usah jadi pengajar, jadi ustad viral lebih keren deh kayanya.
__ADS_1
Setelah acara mandi bareng dan Shalat berjamaah aku berselonjor ria di atas karpet tebal dengan bersandar pada sisi bawah tempat tidur. Sedangkan mas Ray terlihat sibuk membersihkan tempat tidur dan mengganti sprei yang terdapat noda bekas semalam. Rajin banget loh dianya. tanpa di suruh langsung turun tangan. Coba aku tahu dari dulu gak pake acara drama-dramaan langsung aja aku mau.
"Masih sakit?" Tanyanya setelah selesai dengan urusan sprei. Ia memposisikan diri duduk di sebelahku.
"Agak nyeri" Ucapku pelan. Ia meraih kepalaku untuk bersandar di bahunya. So Sweet Gaes.
"Kalau sakit ga usak mengajar dulu yah" pintanya sambil mencium tanganku. Ga nyangka aku mas Ray akan se lembut ini.
"Ga papa kok ntar juga hilang. Aku mau masuk aja mas, ga lama lagi kan Ulangan semester, aku harus buru materi. Kemaren-kemaren aku udah sering ga masuk" Ucapku. Aku ga boleh egois dong, anak-anak muridku mempunyai hak untuk belajar.
"Ya udah tapi berangkatnya bareng ya. Dan lagi jangan pake baju yang terlalu terbuka" Pintanya lagi. Tuh kan aku udah menduga bakal gini. Besok-besok pasti dia nyuruh aku pake kerudung.
" Mas nanti kalau ada yang nanya kita berangkat bareng gimana?"
"Kalau ada yang nanya ya tinggal jawab aku berangkat dengan suamiku" Jawabnya lagi. Emang ya laki-laki tu kalau ngomong suka ga di pikir.
.
.
.
Dengan perasaaan was-was aku terpaksa berangkat bersama mas Ray.
" Ga usah khawatir, cepat atau lambat mereka akan tahu, toh pesta kita 2 minggu lagi" Ucap mas Ray yang sedang fokus menyetir
"Iya... tapi aku harus ngomong apa sama bu Ita, aku ga enak lah mas. Nanti dia sakit hati" Ucapku.
"Sayang, lebih baik jujur, kalau dia teman yang baik dia pasti akan ngerti, semakin Shafa menutupi dia akan semakin kecewa" Ujarnya.
Baiklah, kalau di tanya aku akan jujur, kalau tidak yah aku akan diam saja. Bismillah.
.
.
.
__ADS_1
Thank you udah mampir. jangan lupa like and vote ya😍😘