
Hari ini aku berangkat ke sekolah dengan membawa mobil sendiri. Ku intip jam yang melingkar di lengan ku secara berkala. Walaupun aku tidak ada jam pertama tapi sejak dulu Daddy selalu mengajarkan ku untuk on time dalam segala hal. Meski pada kenyataannya aku adalah salah satu dari rakyat +62 yang menganut sistem jam karet.
Ini semua gara-gara mas Ray, aku jadi kesiangan bangun. Dia pasti sengaja ngajakin aku olah raga subuh tadi supaya aku telat bangun dan ga masuk sekolah. Jadi, pas aku terbangun dari tidur singkat ku tadi aku udah ga liat dia dirumah. Bisa-bisanya dia setelah bikin aku tepar pagi-pagi, terus ninggalin aku sendiri di kamar dengan sebuah note di atas meja yang bertulis "Aku berangkat dulu sayang. Aku ga tega bangunin kamu. Terimaksih olah raga paginya. I Love You." Ngeselin ga tu? Aku yang harus buru-buru kesekolah, harus di buat kelimpungan mencari baju yang cocok, pasalnya dia kembali ngerjain aku dengan membuat bekas baru di leher atasku. Mungkin maksudnya dia pengen aku pake cadar sekalian. Hello, apa kata netijen kalau Shafa yang cantik, sexy ini make pakaian ala ninja.
"Hallo" Jawabku ketus pada seseorang di balik telfon
"Assalamualaikum sayang, Shafa dimana?" Tanya mas Ray dari seberang.
"Di jalan mau ke sekolah" Jawabku malas, aku masih fokus menyetir. Untung aku pake head seat.
"Shafa nyetir sendiri?"
"Ya ialah mas, kan mas ninggalin aku sendiri di kamar"
"Ya maaf, mas cuma ga mau ganggu. Shafa tidurnya nyenyak banget sih" Kilahnya. Dasar laki laki, banyak alasan.
"Itu bukan nyenyak mas, tapi lelah. Aku lelah mas, lelah lahir batin!" Ujarku dengan penuh penekanan.
"iya, maaf. Shafa hati hati ya nyetirnya. Nanti mas akan obatin lelahnya. Oh ya, kalau sudah sampai langsung ke ruangan ayah. Jangan kemana-mana. Tunggu mass di sana Okey Assalamualaikum sayangku" Tut...Tut...
"Maaasss Rayy!!!!" Teriakku kesal. Enak aja main matiin telfon tanpa permisi, pake acara mau ngobatin lelah lagi, yang ada kalau dia yang obati bisa bisa aku makin lelah. For your information, mas Ray ini tipe cowok yang di luarnya anteng, kalem lempeng,datar cuek pokoknya segala jenis sifat dingin ada pada dirinya. Tapi di dalamnya siapa yang nyangka kalau dikamar dia itu justru kebalikannya. Mas Ray tipe suami yang manjanya ngalahin anak TK.
Aku tiba di sekolah tepat pukul 8, masih ada 30 menit sebelum jam mengajarku di mulai. Lho, ini kan mobil mas Ray. Bukannya hari ini dia ke kampus. Tapi tadi dia ga bilang kalau dia ke sekolah. Ngeselin!
Saat menuju ruang guru, aku berpapasan dengan Tania. Dia tersenyum sinis melihatku. Pantas aja dia kelihat tua, soalnya wajahnya ga pernah bener sih. Beda dong sama aku yang awet muda yang sekilas nampak seumuran dengan siswiku. Bahkan kalau ke mall atau ke toko buku sering kali aku di kira mahasiswa atau anak SMA.hi.hi.hi
"Masih punya nyali juga ke sekolah. Dasar ga tau malu!" Ucapnya tiba-tiba.
"Maksud kamu apa sih Tania? aku males tau ribut sama kamu!" Jawabku hendak berlalu tapi dia menahan tanganku dengan kuat.
"Aku udah peringatin kamu, dan kamu ga mau dengar. Jadi, kamu rasakan sendiri akibatnya!"
__ADS_1
"Apa maumu sekarang Tania?" Aku menajamkan tatapanku.
"Jauhi pak Rayyan! Apa sekarang kamu sedang mencari mangsa baru karena akan di tinggal menikah dengan pacarmu?" Cibirnya dengan ekspresi mengejek. Tunggu! Dia tau dari mana kalau Sam mau nikah? Sejauh itukah dia tau tentangku dan Sam?
"Apa kamu takut Tania? Kamu takut Mas Ray lebih memilih ku di banding kamu?" Aku menyunggingkan senyuman di sudut bibir kananku. Sekali-kali Tania harus di lawan biar ga ngelunjak.
"Cih, perempuan malam sepertimu tidak level bersaing denganku. Bersiaplah, sebentar lagi pak Rayyan dan ayahnya akan tahu siapa kamu sebenarnya" Ucapnya. Aku benar-benar penasaran dengan ucapan Tania.
"Oh ya? Kalaupun aku menjauhi pak Rayyan, dia tentunya akan kelimpungan mencariku. Karna apa? Karna dia tidak bisa jauh dariku" Bisikku. Aku menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ku dengar dia mengumpat sambil menghentak hentakan kakinya di lantai.
Aku berjalan melewati beberapa kumpulan anak-anak yang kelasnya kosong. Tumben ada kelas yang kosong pada saat jam pelajaran. Beberapa dari mereka terlihat berbisik-bisik. Aku melihat penampilanku sekilas, rok pnjang dan baju batik tertutup. Ah tak ada yang aneh. Tapi kenapa aku merasa mereka sedang membicarakanku. Ah Stay positive Shafa.
"Miss... Miss Shafa" Seseorang berlari dari arah belakang. Ternyata Tasya. Siswa kelas 11 Bahasa.
"Guten Morgen Miss" Sapanya sambil mengatur nafas.
"Guten morgen Tasya, ada apa? Kenapa lari-lari? Tanyaku.
"Apa? Ayo masuk, kita bicara di dalam" Aku mengajaknya masuk ke dalam ruang guru yang nampak sepi.
"Duduk!" Tasya duduk di depanku yang terhalang meja kerja.
"Ada apa Tasya?"
" Miss sudah dengar kabar pagi ini? Tanyanya ragu-ragu.
"Kabar apa? Miss baru saja tiba, jadi belum dengar apa-apa. Dan teman2 juga mungkin sudah masuk di kelas masing- masing" Jawabku. Di ruang guru saat ini hanya ada aku dan Tasya seorang. Padahal jumlah guru di sini tidak sedikit, tapi aku tak melihat satupun kecuali si Tania tadi.
"Tidak bu, mereka semua di ruang rapat. Hari ini ada rapat dadakan" Jawabnya.
"Hah? Really? Berarti Miss harus segera ke ruang rapat" Ucapku panik.
__ADS_1
"Miss benar-benar belum tau?" Tanya Tasya lagi. Ni bocah bikin penasaran aja sih.
"Memangnya ada apa Tasya?" Ku lihat dia mengambil handphone dari dalam tasnya.
"Ini miss" Tasya menyodorkan handphonenya.
"YA TUHAN... INI..." Aku menutup mulutku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ini kan fotoku waktu liburan ke Berlin tahun lalu. Saat itu aku dan teman-temanku pergi ke sebuah club malam karena salah satu dari mereka sedang merayakan ulang tahun. Merayakan ulang tahun di sebuah club merupakan hal yang lumrah di sana. Di foto itu aku sedang mengalungkan tangan ku pada Sam. Aku yang hanya memakai tank top hitam membuat gambar di lenganku terlihat jelas. Apalagi saat itu gambar tersebut baru selesai di buat. Dan yang paling membuatku terkejut foto tersebut di share seseorang di grup siswa. Aku tak sanggup melihat komentar-komentar pedas di grup tersebut.
"Miss..." Tasya nampak khawatir melihatku. Aku memberikan kembali handphone nya.
"Beberapa orang tua siswa keberatan dan menuntut sekolah untuk----" Ia nampak ragu mengatakannya.
"Its Okay Tasya. Miss baik baik saja" Ucapaku dengan seulas senyum. Mungkin ini alasan mas Ray memintaku resign semalam. Tapi kenapa dia tidak menjelaskan apapun kepada ku?
"Tapi Miss... Tasya harap Miss tetap mengajar disini" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku merangkulnya haru. Ternyata masih ada juga yang menginginkan ku tetap bertahan disini.
"Sekarang kembali lah ke kelasmu" Ucapku sambil mengusap lembut bahunya. Tasya mengangguk dan keluar dari ruang guru dengan wajah sendu.
Ya Allah, Siapa yang tega melakukan ini padaku? Perasaan aku ga pernah berbuat jahat sama orang. TANIA!!! Pasti dia yang sengaja mengirimkan gambar itu ke mereka. Apa karena ini mas Ray besikap aneh semalam dan memintaku menjauhi Tania? Aku langsung teringat ucapan mas Ray tadi pagi, ia memintaku segera ke ruangan ayah.
Aku bergegas menuju ruangan ayah yang sepertinya sengaja tidak di kunci. Aku merebahkan diriku di atas sofa empuk sambil tersedu. Aku takut.. aku takut jika ayah marah. Aku takut, kalau dia berubah pikiran dan memecatku jadi menantu. Belum cukup seminggu aku berbaikan dengan mas Ray sekarang sudah di uji seperti ini. Mommy, Daddy Shafa ga mau jadi jandaaaa.Huaaa...
.
.
.
.
Ini foto bu Shafa yang bikin geger seisi sekolah🥺
__ADS_1