Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Percayalah


__ADS_3

"Apapun yang terjadi Mommy harus percaya sama ayah. Ayah tidak pernah dan tidak akan pernah menghianati dan menduakan Mommy." Ujar Rayyan sambil memeluk istrinya yang tengah menangis dalam pelukannya.


"Doakan Mas, semoga semuanya di mudahkan oleh Allah" Ujar Rayyan sambil mencium kening Shafa.


Setelah perbincangan Rayyan dengan AyAh dan Daddy. Dua hari kemudian keluarga Nisa benar benar melayangkan gugatan kepada Rayyan dengan tuduhan menyembunyikan anggota keluarga mereka dan juga perselingkuhan. Dan saat ini Rayyan bersiap untuk memenuhi panggilan tim penyidik.


Dua orang pengacara utusan Daddy pun sudah siap dengan jas hitam dan tas jinjingnya. Mereka sejak pagi menunggu di kediaman Rayyan untuk sama-sama berangkat memenuhi panggilan.


"Mas janji semua akan baik-baik saja. Percayalah!!!" Ujar Rayyan. Ia melepaskan pelukannya pada istri tercintanya.


"Apa ayah dan Daddy juga ikut mas?" Tanya Shafa sambil mengusap air matanya.


"Tidak, mereka berdua tidak menemani Mas. Ayah dan Daddy ada keperluan lain." Ujar Rayyan.


"Mas hati-hati. Segera hubungi aku kalau sudah selesai" Ujarnya dengan penuh rasa khawatir. Awalnya Rayyan ingin menyembunyikan hal ini dari Shafa. Namun, kedatangan polisi yang tiba-tiba berada di rumahnya dengan membawakan surat panggilan membuat Shafa tak bisa menutupi rasa penasarannya. Ia terus memaksa Rayyan bercerita, sehingga tidak ada pilihan lain selain menceritakan semuanya pada Shafa.


"Tidak apa-apa Nak, Percaya pada suamimu. Semuanya akan baik baik saja" Ujar Ibu yang juga berada di rumah Shafa. Rayyan meminta ibu dan Mommy untuk sementara waktu berada dirumahnya, menjaga dan menenangkan Shafa. Ia khawatir terjadi hal yang tidak di inginkan kepada istri dan calon anaknya.


Rayyan tiba di Polda Metro Jaya dengan di dampingi oleh dua orang kuasa hukum terbaik yang di sewakan oleh Daddy. Mereka terkenal dengan julukan the kings of lawyer. Tidak ada kasus yang tidak menang di tangan mereka. Apalagi hanya kasus seperti ini, bagi mereka sangat kecil yang sebenarnya bukan level mereka.


Pak Djatmiko dan Aryo yang juga berada di tempat itu di buat terkejut dengan kedatangan mereka. Ia tak menyangka bahwa Rayyan telah mempersiapkan semuanya dengan matang. Tidak ada raut khawatir apalagi gugup di wajah Rayyan. Wajahnya tetap tenang dan beberapakali tersenyum ramah kepada petugas.


Frans Sihombing dan Andrew Lau?


Aku tidak menyangka dia kan membawa dua pengacara hebat ini.


"Yo? Apa itu yang bernama Rayyan Yo?" Tanya pak Djatmiko dengan berbisik.


"Iya pak. Yang itu yabg namanya Rayyan" Jawab Aryo.


"Silahkan masuk ke dalam pak" Perintah seorang petugas. Ia menyuruh Rayyan masuk untuk melakukan pemeriksan. Sebagai langkah untuk perkembangan kasus ke tahap selanjutnya.


Sementara itu, Frans dan Andrew menunggu di sebuah ruangan terpisah. Di sana juga ada pak Djatmiko yang di dampingi oleh Aryo dan pengacara mereka. Pengacara pak Djatmiko nampak gugup dan canggung berada satu ruangan dengan Frans dan Andrew yang levelnya sangat jauh berada di atasnya.


"Apa anda yakin akan melanjutkan kasus ini pak?" Tanya Andrew pada mereka bertiga.


"Kenapa tidak?" Ujar pak Djatmiko yakin. Membuat pengacara di sebelahnya semakin canggung.


"Mengapa tidak kita selesaikan secara damai saja. Kami pikir ini hanya masalah salah paham biasa" Sambung Frans dengan tenangnya. Ia seperti sedang tidak menghadapi kasus apapun.


"Benar, pak Harsha memang sedikit berlebihan pada menantunya itu. Hingga mengutus kita berdua." Jawab Andrew sambil sedikit terkekeh.


"Kita tunggu saja hasil pemeriksaan awal" Ujar Aryo kemudian bangkit dan keluar dari ruangan tersebut. Aryo pun mulai psimis dengan semua bukti yang ia ajukan. Ia kembali teringat kata-kata adiknya yang sampai berani untuk di sumpah pocong kalau dia benar-benar tidak memiliki hubungan gelap dengan Rayyan.

__ADS_1


Setelah kurang lebih 3 jam menjalani pemeriksaan, kini Rayyan sudah diperbolehkan keluar dari ruangan. Ia nampak santai, tak tegang sedikit pun.


"Usahakan semuanya selesai hari ini! Saya tidak ingin istri dan anak saya khawatir di rumah" Ujar Rayyan dengan serius.


"Kami pastikan semua selesai hari ini pak!" Ujar Andrew.


"Apakah kita akan membuat laporan balik pak. Karena kasus ini sudah mencemarkan nama baik anda." Ujar Frans sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh pak Djatmiko. Bisa terlihat dengan jelas wajah pak Djatmiko menjadi gusar.


"Tidak perlu, saya tidak ingin semakin memperpanjang masalah. Saya hanya ingin hidup tenang bersama keluarga saya!" Ujar Rayyan. Ia kemudian meminta izin untuk ke masjid melaksanakan Sholat Dzuhur.


Setelah Rayyan pergi kini giliran pengacara mereka melakukan mediasi dengan pihak pak Djatmiko. Mereka secara bergantian memberikan keterangan kepada pihak pak Djatmiko. Begitu pula pengacara pak Djatmiko, ia memberikan pernyataan yang memberatkan Rayyan namum dengan mudah dapat di tepis oleh Andrew. Pihak pak Djatmiko pun nampak semakin psimis. Dari keterangan dan bukti yang di tunjukan oleh Andrew nampak jelas bahwa Rayyan tidak bersalah.


"Maaf pak, sepertinya kita tidak bisa lanjutkan kasus ini" Bisik pengacara pihak pak Djatmiko.


"Kita tunggu sampai semua tahapan hari ini selesai. Setelah itu baru kita putuskan apakah akan melanjutkan atau mencabut tuntutan!" Ujar Aryo dengan lantang. Sebagai orang yang mengerti hukum ia tetap harus mengikuti prosedur yang ada.


Setelah melaksanakan Sholat Dzuhur dan makan siang, Rayyan kembali bersiap untuk melakukan pemeriksaan ke dua yang di lakukan oleh petugas yang berbeda. Pemeriksaan kedua ini memakan waktu yang lebih lama dari yang pertama. Terlihat jelas wajah lesu Rayyan. Ia bukan lesu karena menjawab puluhan pertanyaan yang sebenarnya tidak jauh beda dengan pertanyaan pertanyaan sebelumnya, hanya saja menggunakan redaksi kalimat yang sedikit lain untuk memastikan ke akuratan sebuah jawaban. Semua pertanyaan berhasil di jawab dengan mudah dan konsisten oleh Rayyan.


Proses pemeriksaan hari ini berlangsung seharian penuh. Setelah semua tahapan awal telah di lalui, Daddy yang menyempatkan untuk mampir mengajak mereka semua melanjutkan mediasi di luar kantor. Ia telah memesan tempat khusus di sebuah restauran tak jauh dari tempat itu. Pihak pak Djatmiko pun tidak menolak.


"Saya harap, kita bisa selesaikan semuanya dengan cara damai. Saya tidak ingin keluarga saya memiliki pertentangan, terlebih dengan anda pak Djatmiko. Biar bagaima pun, putri bapak adalah sahabat baik anak saya. Saya dan keluarga cukup mengenal Nisa. Dia adalah anak yang baik. Tapi bukan berarti saya menyetujui tawaran yang pernah anda sampaikan agar Rayyan menikah dengan Nisa. Kita berdua adalah seorang ayah, tentu kita tidak ingin anak-anak kita menderita. Saya yakin, kalaupun Nisa menikah dengan Rayyan, ia tentu tidak bahagia begitu juga dengan Rayyan dan Shafa. Karena memang semua ini hanya salah faham semata" Ujar Daddy dengan tenang dan bersahaja. Padahal bisa saja Daddy mengintimidasi atau mengancam balik karena posisinya yang lebih kuat.


Pak Djatmiko terdiam. Ia mulai mencerna apa yang di katakan Daddy. Terbersit rasa bersalah di hatinya karena telah melangkah sejauh ini. Bersyukur Rayyan dan keluarga bukan tipe orang yang pendendam. Jika tidak tentu mereka sudah menghancurkan balik.


"Saya atas nama keluarga, menerima itikad baik dari pihak bapak untuk menyelesaikan masalah ini dengan jalan damai dan menghentikan semua proses hukum. Kami juga minta maaf atas semua tindakan Annisa yang dilakukan pada keluarga pak Rayyan" Jawab Aryo yang membuat Rayyan melongo. Ia tak mengira semudah itu Aryo menyerah. Tentu saja Ia sudah memikirkan segala konsekuensinya. Tetap bertahan dengan tuntutannya sama halnya ia bunuh diri.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan membahas hal lain yang lebih santai, sambil menikmati hidangan makan malamnya.


"Maaf, saya harus permisi dulu. Karena anak saya sedang tidak enak badan" Ujar Rayyan setelah membaca pesan dari bi Lastri.


"Zafran kenapa Ray?"


"Zafran demam Dad, kata bi Lastri sejak pagi dia mencari Rayyan" Ujar Rayyan.


"Mari saya antar ke depan pak" Aryo ikut beranjak menemani Rayyan keluar.


"Emm... Pak Rayyan. Saya ingin minta maaf atas ucapan saya tempo hari perihal hubungan anda dengan Shafa" Ujar Aryo yang melangkah beriringan bersama Rayyan.


"Tidak apa-apa pak Aryo. Saya bisa mengerti kekhawatiran anda saat itu" Balas Rayyan.


"Oh ya, tolong sampaikan salam dan permintaan maaf saya pada Shafa." Imbuhnya.


"Pasti saya sampaikan! Saya duluan pak. Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam"


***


"Hu...hu...hu...isk..isk Ayaaah" Tangis Zafran dalam gendongan Mommy.


"Cup..Cup...Ayah sebentar lagi pulang sayang" Ujar Mommy menenagkan sambil mengusap punggungnya. Demamnya masih belum turun meski sudah minum sirup penurun panas.


"Mas Ray.....Isk..isk" Shafa juga ikut menangis seperti anak kecil. Ia sangat khawatir karena sejak pagi hingga pukul 07 malam Rayyan belum memberikan kabar. Ia takut kalau Rayyan sampai di tahan dan harus mendekam di penjara.


"Shafa, kamu jangan nambahin dong. Gimana Zafrannya mau diam kalau kamunya juga ikutan nangis. Diam dulu dong." Omel Mommy yang sejak sore jengah melihat putrinya ikut-ikutan menangis.


"Mommy nggak tau rasanya jadi aku. Abang diam dong. Kan Mommy jadi ikutan sedih" Ujar Shafa yang sambil terisak membuat Zafran semakin kencang menangis.


"Benar kata Mommy mu, kalau kamu menangis Zafran pasti akan semakin sedih" Ujar ibu yang tengah merangkulnya. Shafa dan Zafran seperti dua orang anak yang di tinggal orang tuanya.


Tiiin....Tiiiin.....


Suara Klakson mobil yang baru saja terdengar membuat Shafa dan Zafran menghentikan tangisnya seketika. Shafa langsung bangkit dari duduknya. Begitu juga Zafran yng seketika minta turun dari gendongan omanya.


"Ayaah.... Ayaahhhh!!!" Teriak Zafran sambil berlari menuju pintu. Padahal yang datang belum tentu ayahnya.


"Zafran jangan lari nak!" Teriak Shafa yang mengikuti dari belakang.


Rayyan terkejut saat melihat Zafran berlari keluar dari balik kaca mobilnya. Ia segera turun dan membuka lebar-lebar tangannya.


"Ayaaah pulaaang!!!" Teriak Zafran segera memeluk Rayyan dan menangis tersedu-sedu. Rayyan segera menciumi wajah putranya itu dengan penuh kasih sayang. Terasa oleh kulitnya tubuh Zafran yang panas meski dalam balutan sweeter. Ia menggendong Zafran sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Cup... Sudah jaangan menangis. Maafin ayah ya? Ayah perginya agak lama" Ujar Rayyan. Sementara Shafa hanya mematung di depan pintu menyaksikan drama antara bapak dan anak itu. Air matanyaa ikut mengalir melihat suaminya pulang dengan wajah letihnya. Bajunya pun masih sama yang ia pakai tadi pagi.


"Mommy jangan menangis lagi. Maaf ayah telat!" Ujarnya sambil mendekap wajah istrinya dengan tangan kanannya karena tangan kirinya menahan bokong Zafran yang masih mendekapnya.


"Ayah ga ninggalin Zaflan kaya abi kan?" Ujar Zafran tiba-tiba. Pantas saja ia samapi demam, ia begitu takut Rayyan meninggalkannya seperti abi dan uminya.


"Ssttt.... Anak ayah nggak boleh bilang gitu yah? Ayah tidak akan meninggalkan Zafran" Ujar Rayyan dengan mata berkaca-kaca membayangkan rasa perih yang di rasakan putra kecilnya itu.


"Akhirnya pulang juga Ray. Mommy sama ibu kamu sampai kewalahan menghadapi dua bayi kamu ini" Sindir mommy sambil melirik Shafa yang sedang manyun mendengar ledekan mommy nya.


"Ya sudah ayo masuk, mereka belum ada yang makan malam Ray" Adu ibu.


"Loh, kenapa nggak makan sayang?" Tanya Rayyan pada duaa orang yaang sangat ia sayangi.


"Mau makan sama ayah" Jawab Zafran sambil menyandarkan kepalanya di leher Rayyan.

__ADS_1


"Aku juga" Sahut Shafa cepat membuat Rayyan tersenyum. Melihat mereka berdua sudah menjadi obat lelah yang paling ampuh baginya.


"Kalau begitu ayo kita makan!"


__ADS_2