Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Amarah Shafa


__ADS_3

Shafa segera melajukan mobilnya sesaat setelah Rayyan pergi. Ia terus mengikutinya dari belakang.


Mobil Rayyan mulai memasuki pelataran kampus terbesar di ibu kota. Shafa segera memarkirkan mobilnya agak jauh dari mobil Rayyan. Sebelum turun ia terlebih dahulu mengganti pakaiannya dengan gamis lengkap dengan cadarnya agar tak mudah di kenali.


"Perfect!"


Sudah hampir 7 jam Shafa mengikuti Rayyan, tapi ia tidak menemukan hal yang mencurigan. Rayyan bekerja seperti biasa. Mengajar di beberapa kelas kemudian masuk kembali ke dalam ruangan dosen. Beberapa kali keluar untuk Sholat dan makan siang bersama rekan-rekan lainnya.


Atau jangan-jangan Hana adalah salah satu pengajar disini?


Dengan tekad sekuat baja ia melangkahkan kakinya menuju ruangan dosen. Mencoba untuk mencari informasi.


"Permisi" Ucapnya pada salah seorang staf bagian informasi.


"Iya, ada yang bisa di bantu?" Tanyanya Ramah.


"Maaf mbak, saya ingin bertanya. Adakah staf atau pengajar disini yang bernama Hana?"


"Saya cek dulu ya mbak. Bisa di sebutkan nama lengkapnya?" Tanyanya lagi.


Waduh, mana aku tahu nama lengkapnya si Hana itu?


"Oh kalau itu saya tidak tahu mbak"


"Baiklah kalau begitu saya cek dulu ya mbak, atas nama Hana" Jawab staf tersebut yang langsung di angguki oleh Shafa.


"Maaf mbak, kalau atas nama Hana tidak ada. Tapi ada satu dosen bernama Sri Hanafia" Ucapnya.


"Nah itu mungkin mbak, bisa saya tahu informasi tentang beliau?" Tanya Shafa antusias.


Akhirnya aku menemukanmu! Tunggu akan ku cabik-cabik wajahmu Hana kalau sampai benar kamu menggoda suamiku! Geramnya.


"Prof. DR. Sri Hanafia, M.Si. Usia 48 Tahun, Beliau merupakan...."


"What? Ups, maaf mbak sepertinya bukan beliau orang yang saya maksud" Ucap Shafa.


Yang bener aja umur 48 tahun. Professor lagi, bukannya si Hana itu juniornya mas Ray? Paling enggak usianya hampir sama dengan aku.


Shafa meninggalkan Ruangan dosen dengan perasaan lesu. Waktu sudah menunjukan jam pulang kerja.


Sepertinya misi hari ini gagal. Sekarang pulang dulu sebelum mas Ray tahu.


Shafa masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia melepaskan baju gamis dan cadar yang sejak pagi melekat di tubuhnya.


"Gila panas banget" Gerutunya sambil menyalakan AC mobilnya.


Ditengah peejalanan pulang Shafa beberapa kali berhenti untuk membeli jajanan yang di lihatnya di pinggir jalan. Saat ini ia menepikan mobilnya sambil menikmati rujak buah yang baru saja di belinya.

__ADS_1


"Hmmm... Enaknya" Gumamnya saat potongan buah berpadu dengan bumbu kacang dan gula merah masuk kedalam mulutnya.


Terdengar nada dering di handphonenya berbunyi, di lihatnya paanggilan dari Suami Shafa❤️. Shafa pun segera mengangkatnya.


Shafa : Assalamualaikum


Rayyan : Wa'alaikun salam. Istriku lagi dimana?


Shafa : Dijalan mas.


Rayyan : Ya udah, cepat pulang ya, hati-hati di jalan.


Shafa : Hmm...


Rayyan : I love You. Assalamualaikum.


Shafa : Wa alaikumsalam.


Setelah selesai menerima telfon Shafa segera kembali ke rumahnya.


"Kak Shafa dari mana kok baru pulang?" Tanya Yola yang sudah berada di rumah.


"Jalan-jalan Yol" Jawabnya singkat.


"Jalan-jalan kemana Shafa? Suami ga dirumah kok malah keluyuran" Tante Lilis menimpali.


"Nyari pelakor yang mau gangguin suami aku tante!" Ucapnya sinis sambil menatap kearah Yola.


"Iya mbak" Bi Lastri tergopoh-gopoh menemui Shafa.


"Apa Nisa sudah pulang?" Tanyanya.


"Sudah mbak barusan"


"Bibi tolong bantu dia ya, kalau butuh apa-apa" Ucapnya lalu pergi masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan ibu dan anak yang sejak tadi menunjukan tampang tak bersahabat.


Setelah membersihkan tubuhnya, Shafa mengenakan hotpants berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Ia juga hanya memakai atasan tanpa lengan yang telihat menggantung menampakan bagian perutnya yang mulus. Ia duduk santai di atas sofa sambil mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba Shafa teringat oleh dua orang kenalannya di Aceh, Nana dan Marwa. Nana dan Marwa cukup mengenal Rayyan. Mereka juga yang memberikan beberapa informasi tentang hubungan Hana dan Rayyan semasa di Kairo.


Kenapa baru kepikiran sekarang? Nana pasti tahu siapa nama lengkap Hana. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk ku menemukannya atau akun media sosialnya. Ah, pintar kamu Shafa. Kenapa baru kepikiran sekarang.


Shafa segera mengambil ponselnya dan mencari kontak Nana yang sempat disimpan nya.


Tuuuut....Tuuuut.....


Terdengar suara panggilan masuk tapi belum juga di angkat oleh empunya telfon.


"Ayo dong, angkat Na" Gumam Shafa sambil jalan mondar mandir di depan sofa.

__ADS_1


Nana : "Hallo Assalamualaikum" Jawaban dari balik telfon.


Shafa : "Wa alaikum salam. Nana!" Panggil Shafa tak sabar.


Nana : "Iya benar kak, kakak apa kabar?" Sapanya ramah.


Shafa : "Aku baik Na, oh ya Na aku mau nanya sesuatu dong" Balas Shafa to the point.


Nana : "Mau tanya apa kak?"


Shafa : "Emm...Nama lengkapnya Hana yang waktu itu kita omongin siapa ya Na? Takutnya aku salah orang Na."


Nana : "Oh, kak Hana yang di Kairo itu ya kak?"


Shafa : "Iya Na..Iya" Jawab Shafa antusias dan tak sabar.


Nana : "Kalau nggak salah namanya Annisa Farhanah kak"


"APA? Aa..anni...sa Far..ha..na!"


Shafa laangsung terduduk. Ia tak menghiraukan handphonenya yang terlepas dari genggamannya.


"An..nisa Farhanah?" Ia mengulang ulang nama tersebut beberapa kali. Air matanya tak tertahan lagi. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar. Sakit! sesak! itulah yang ia rasakan sekarang. Kakinya bahkan terasa lemas untuk berdiri.


Shafa meraih handponenya yang tergeletak di atas lantai. Ia ingin memastikan sekali lagi bahwa kenyataan yang di dengarnya barusan adalah salah. Ia membuka kembali gambar screenshoot yang ia kirim dari handphone Rayyan kemarin malam. Ia mengetik nomor telfon yang tertera pada SMS tersebut dan menekan tombol panggilan di ponselnya.


Bagaikan di sambar petir bertubi-tubi saat nama yang muncul di layar handphone nya bertuliskan Beb Nisa😘


Jadi? Nisa adalah Hana. Dan Hana adalah Nisa?


"Aaaaaaaaakkkhhhh" Teriaknya menggema di seluruh ruangan kedap suara itu. Tangisnya pecah mendapati kenyataan yang sangat memilukan. Ia terus saja merutuki nasibnya.


"Kenapa harus kamu Nisa? Kenapa?" Shafa memukul-mukul sofa yang ada di hadapan nya.


"Kenapa kalian jahat sama aku? hu..hu..hu"


Apa ini alasan kamu meminta Nisa tinggal di tempat lain mas? Agar kamu bisa bebas menemuinya ? Aku nggak nyangka aku di bohongi oleh orang-orang terdekatku sendiri.


Shafa mencoba berdiri. Tangannya mengepal matanya kian memerah. Ia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Lo harus jelasin semuanya ke gue Nisa!


Ia keluar dari kamar dengan dengan emosi yang membakar hatinya. Tak ada lagi simpati terhadap sahabat yang selama ini ia perjuangkan. Ia bahkan rela menguras isi tabungan pribadinya agar sahabatnya bisa kembali ke Indonesia. Ia juga rela berbagi rumah hanya supaya dia tidak sendiri dalam melewati masa kehamilannya. Nisa memang memiliki sifat egois tapi Shafa sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan setega ini padanya.


Shafa menuruni anak tangga dengan perasaan marah. Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang hanya boleh di lihat oleh Rayyan saat berada di dalam kamar.


"Mah.. Mah... Lihat itu!" Yola menunjuk ke arah tangga. Matanya melotot, mulutnya menganga melihat penampilan Shafa seperti itu.

__ADS_1


"Ya Allah... Anak ini benar-benar ga tau malu!" Geram tante Lilis hendak menghampiri Shafa yang menurutnya berpakaian tak senonoh tersebut.


"Nisaaaaa!" Teriak Shafa dengan penuh amarah bahkan sebelum ia mencapai anak tangga yang terakhir.


__ADS_2