
"Nisaaaaa!" Teriak Shafa dengan penuh amarah bahkan sebelum ia mencapai anak tangga yang terakhir.
"Hei..hei..hei...Mau kemana kamu!" Tante Lilis langsung menghalangi langkah Shafa. Yola mengikuti di belakang mamanya.
"Minggir tante! bukan urusan tante!" Jawab Shafa semakin marah karena tante Lilis menghalangi jalannya.
Bi Lastri yang kaget dengan teriakan Shafa tadi hanya berani mengintip di balik tembok.
"Benar-benar nggak tau malu ya kamu Shafa!" Cibir tante Lilis yang merasa di abaikan.
"Siapa yang nggak tahu malu tante?" Shafa semakin terbakar emosi. Ia berkecak pinggang menantang tante Lilis.
"Kamu harusnya tahu diri Shafa!. Kamu menikah dengan siapa dan lihat penampilan kamu. Kamu sama sekali tidak pantas menjadi istri Rayyan" Ujar tante Lilis yang sengaja memanasi Shafa.
"Lalu siapa yang pantas jadi istri mas Ray tante? Yola? Ia?" Ucap Shafa dengan nada tinggi.
"Kalau ia kenapa? Setidaknya aku lebih baik dari pada j*lang sepertimu!"
PLAAAK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Yola. Bi Lastri yang mengintip dari balik dinding gemetar melihat Shafa yang tidak seperti biasanya. Di sisi lain ia merasa puas karena kata-kata Yola yang keterlaluan ia berhak mendapatkan tamparan itu.
"SHAFAA!!!" Tante Lilis menjerit melihat Yola meringis kesakitan sambil memegangi pipinya.
"Dasar ******" Teriak Yola yang masih memegang pipinya.
"Katakan sekali lagi!" Shafa mendekat mendorong bahu Yola.
"Kurang ajar kamu Shafa! Beraninya kamu menampar Yola." Tante Lilis mendorong Shafa hingga Shafa terpundur beberapa langkah ke belakang.
"Benar kata Yola, ****** sepertimu tidak pantas menjadi istri Rayyan. Yola jauh lebih pantas dari pada perempuan murahan dan tak tau adab sepertimu!" Teriak tante Lilis di depan Shafa.
Sakit.. Pedih.. Marah itulah yang di rasakan Shafa yang terus mendapat penghinaan dari Yola dan ibunya.
"Jadi itu tujuan tante datang kesini? Kalian bilang aku ****** tapi apa sebutan yang pantas bagi seorang wanita yang bersekongkol untuk menjadi pelakor dalam rumah tangga orang? Walaupun saya tidak tau adab, tapi saya tidak pernah menjadi murahan hanya untuk mendapatkan cinta seorang laki-laki yang sudah beristri" Ujar Shafa lantang di hadapan tante Lilis.
__ADS_1
"Kurang Ajar!!!" Tante Lilis melayangkan tangannya hendak menampar Shafa, namun dengan cepat Shafa menahannya dan mendorong tante Lilis hingga terjatuh kebelakang.
Naasnya disaat yang bersamaan Rayyan baru tiba dan nampak shock dengan kejadian yang di lihatnya. Ia melihat istrinya yang selama ini manja dan penyayang menjadi sosok yang sangat kasar.
"Mamah!!!" Pekik Yola, ia segera menghampiri ibunya yang masih terduduk di lantai.
"Dengar baik-baik! Aku, Shafa Azura tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berusaha merusak rumah tanggaku! termasuk kalian!" Tegasnya sambil menunjuk kearah mereka berdua.
"SHAFAAA!!!" Bentak Ray. Tatapannya penuh dengan kemarahan. Namun Shafa sama sekali tak bergeming. Emosinya justru semakin bertambah karena ia mengingat lagi kebohongan Rayyan dan Nisa.
"Tante...Yola Kalian tidak apa-apa" Rayyan segera menghampiri tante Lilis dan Yola yang masih terduduk di lantai.
"Hiks..hiks Ray... Tante nggak kuat Ray, Istrimu menuduh kami yang bukan-bukan. Lihat adikmu. Dia menamparnya sampai seperti itu" Tante Lilis menangis tersedu begitupun dengan Yola. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyudutkan Shafa.
"Cih, dasar wanita ular! hati-hati dengan lidah berbisamu!" Ujar Shafa.
"SHAFA!!! JAGA BICARAMU!!!" Bentak Ray. Namun Shafa sama sekalu tak menghiraukan. ia beralih menuju kamar Nisa dengan emosi yang masih membara.
"Nisaaaaaaaaa!!!!" Teriaknya membuat Ray tercekat.
Apa dia sudah mengetahui semuanya?!
Shafa menggedor gedor pintu kamar Nisa.
"Ada apa Fa?" Tanya Nisa yang nampak bingung ketika melihat Shafa yang nampak kacau berdiri di depan kamarnya.
"Sini Lo!" Shafa mencengkeram tangan Nisa dan menariknya. Melihat hal tersebut Ray langsung berusaha menahana Shafa. Ia khawatir Shafa melakukan hal di luar batas seperti yang ia lakukan pada Yola dan tante Lilis.
"Cukup Shafa..Cukup!!!" Rayyan berusaha menghentika Shafa.
"DIAAMMM!!!" Bentaknya! Karena melihat Ray terus berusaha menghalanginya.
Shafa melepaskan cengkeramannya pada lengan Nisa dan menghempaskannya di atas Sofa ruang tengah. Ingin rasanya Shafa menghempaskannya ke lantai, tapi ia masih memikirkan janin yang ada di dalam perut Nisa.
"Hana!" Teriak Ray refleks saat tubuh Nisa terhempas di sofa.
__ADS_1
Shafa menyunggingkan senyum membunuh.
"Bagus!!! Apa loe menjelaskan sesuatu HANA?" Tanya Shafa dengan penuh penekanan. Ia menyilangkan tangannya di dada menatap Nisa dengan tatapan mengintimidasi.
"A..aku..." Nisa terbata tak mampu menjawab pertanyaan Shafa. Semua ini benar-benar di luar prediksinya. Shafa yang selalu ceria dan ramah menjadi begitu menakutkan saat marah. Ia bahkan tak mampu menatap matanya yang masih berapi-api.
"Shafa, ayo kita bicara di kamar!" Ray berusaha untuk menarik tangan Shafa namun di tolak olehnya.
"Aku apa Nis? Tega lo ya Nis! Setelah apa yang gue lakuin ke elo. Gue udah nganggap lo kaya saudara gue Nis. Tapi ternyata di belakang gue lo bohongin gue" Shafa mengatakan itu dengan air mata berderai.
"Shafa, Mas bisa jelasin kenapa mas tidak memberitahumu bahwa Nisa adalah Hana itu karena..."
"Karena apa? Karena supaya kalian bebas bermain di belakangku. Iya? Dan ini! Apa loe bisa jelasin ini HANA?" Shafa menunjukan pesan yang telah ia screenshoot dari ponsel Rayyan dengan wajah merah padam.
Hana menutup mulutnya tak percaya bahwa Shafa telah menemukan SMS yang ia kirim pada Rayyan. Begitu pun Rayyan, karena seingatnya ia telah menghapus pesan tersebut.
"A..aku...Maafkan aku Fa, aku nggak bermaksud merebut suamimu. Aku hanya..."
"Hanya apa Nis? Hanya berniat menjadi istri keduanya? Atau selingkuhannya?" Teriak Shafa dengan berapi-api
"Shafa tenangkan dirimu Nak" Tante Lilis pura-pura menenangkan dengan mengusap bahu Shafa namun segera di tepisnya.
"Ga usah berpura-pura tante! Bukankah tante dan Yola sama saja"
"Tutup mulutmu Shafa!!! Kamu sudah sangat keterlaluan. Rasa cemburumu yang berlebihan membuat mu buta" Ujar Rayyan yang mulai kehilangan kesabaran.
"Jadi kamu nyalahin aku mas? Iya? Kalau begitu ceraikan aku, agar kamu bisa puas bermain dengan Hana mu atau bahkan dengan Yola" Teriaknya dengan lantang.
PLAAAKK..!!!!
Rayyan tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Tangan yang selama ini ia jaga agar tidak menyakiti orang lain, ia gunakan untuk menampar istrinya. Ucapan Shafa membuat amarah Ray semakin tersulut.
Rayyan menatap mata Shafa dengan tatapan dingin dan tajam begitu pun dengan Shafa. Ia menatap Rayyan dengan tatapan tatapan tajam kemudian menjadi sendu saat air matanya mulai mengalir.
"Tante benar! ****** sepertiku tidak cocok bersanding dengan mas Rayyan. Kalian lah yang pantas. Silahkan kamu pilih Mas" Ujar Shafa kemudian meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
___________________
Demi kalian aku begadang ampe jam 2 malam nulis episode ini.🤗🤗 Please Vote and Like nya ya! Semakin banyak Vote and Like, Semakin semangat author updatenya.😍😍