Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Suasana hening mencekam menyelimuti ruang tengah di kediaman Shafa. Amel dan Vira nampak saling lirik sedangkan Shafa tengah duduk tenang di samping Rayyan dengan mulut yang terus mengunyah donat yang di bawakan oleh Vira.


"Tidak lebih dari 5 menit!" Ujar Rayyan pada dua orang sahabat Shafa yang terlihat sedang mengetik sesuatu di layar handphonenya. Mereka pun mengangguk setuju.


"Ha..halo Mas, ini Vira. Emm... aku lagi di rumah Shafa. Mungkin Nisa ingin bicara dengan Shafa..." Ujar Vira degan lawan bicaranya di telfon.


"Loudspeker!" Perintah Rayyan. Vira pun segera menekan tombol loudspeker di ponselnya. Terdengar suara lelaki memanggil nama Nisa. Sudah bisa di tebak, itu adalah suara Aryo kakak Nisa.


"Nduk, Temanmu Shafa mau bicara" Ujar Aryo lembut yang bisa terdengar dari balik telfon.


"Halo.... Shafa"


"I..iya... Halo mas Aryo ya? Ini Shafa" Jawab Shafa terbata. Ia melirik suaminya yang sejak tadi menunjukan ekspresi datar.


"Alhamdulillah kamu mau bicara, ini Nis" Ujar Aryo.


"Ha...halo... Shafa" Suara Nisa terdengar tersedat.


"Iya Nis, ini aku Shafa" Shafa tak kuasa menahan air matanya. Tut...tut... Tiba-tiba panggilan telefonnya mati.


"Loh kok mati Vir?" Ujar Shafa.


"Eh dia mau Video Call... Duh gimana dong ini?" Shafa nampak panik karena handphone Vira menunjukan panggilan video call.


"Pakai kerudungmu!" Ujar Rayyan sambil melirik istrinya yang hanya memakai daster dengan rambut yang di jepit satu.


"Nisa kan perempuan mas." Ujar Shafa.


"Nisa memang perempuan, tapi pemilik handphone itu adalah laki-laki yang bisa saja melihatmu secara tidak sengaja." Ujar Rayyan, ia memberikan kembali handphone Vira yang sedang berdering.


"Halo, Nis.. Tunggu ya, Shafa masih pake kerudung" Ujar Vira yang mengangkat panggilan tersebut. Amel dan Vira memperhatikan dengan seksama Rayyan yang dengan sigap mengambilkan kerudung instant istrinya dan memakaikannya dengan hati-hati.


So sweet banget sih suami lo Fa, meski kelihatannya galak tapi aslinya lembut banget.


"Sini sini hapenya, aku udah selesai" Ujar Shafa yang sudah memakai kerudungnya. Ia mengambil handphone dari tangan Vira dan menghadapkannya di wajahnya. Sesaat ia terpaku melihat wajah Nisa dalam layar handphone. Wajahnya terlihat pucat dengan cekungan mata yang begitu nampak. Tulang tulang lehernya pun nampak jelas yang menggambarkan tubuhnya yang kurus. Shafa tak tahan lagi untuk tidak menangis melihat kondisi sahabatnya yang terlihat begitu menyedihkan. Rambut pendeknya pun terlihat begitu acak-acakan seperti tak terurus.


"Nisa...Hiks...Hiks"


"Shafa... Aku mohon maafkan aku Fa! Aku menyesal..Hiks... Aku berdosa padamu Fa Hiks...Hiks"

__ADS_1


"Aku sudah maafin kamu Nisa, Aku udah lupain semuanya" Ujar Shafa dengan wajah sedihnya.


"Gara-gara aku keluarga kamu dalam masalah. Maafkan aku Fa, tolong jangan benci aku. Kamu adalah sahabatku yang paling baik Fa..Hiks...Hiks" Balas Nisa dengan di sertai tangis pilu. Bisa dilihat, ada penyesalan yang amat mendalam di hatinya.


"Aku nggak benci kamu Nisa, aku tetap sayang kamu seperti Amel dan Vira. A...Aku udah nggak marah Nisa. Aku minta maaf karena pernah memutuskan persahabatan kita...Hiks..hiks" Shafa pun ikut menangis begitu juga dengan Amel dan Vira. Shafa bergeser duduk di sebelah Amel dan mengarahkan handphonenya agar menangkap gambar mereka bertiga.


"Kita semua sayang ama kamu Nis, kamu tetap sahabat kita. Aku mohon kamu cepat sembuh, karena kita semua kangen sama kamu" Ujar Shafa yang tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Ia memberikan ponsel tersebut pada Amel, sedangkan dirinya menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Time is Up!" Ujar Rayyan seakan tidak mengerti dengan kondisi sahabat yang tengah terharu. Shafa segera menoleh kepada suaminya dengan tatapan mata kesal, sednagkaan yang di lirik malah terlihat santai tanpa rasa bersalah.


"Ya udah ya Nis, lo istirahat dan minum obat. Lekas pulih supaya bisa kumpul kumpul lagi." Ujar Amel memberikan semangat.


"Iya Nis, nanti kita reunian kalau Shafa lahiran yah. Lo lihat ini perutnya udah segede gini" Sahut Vira sambil mengusap perut Shafa.


"See you Nisa, jaga diri lo baik-baik ya, lekas sembuh." Ujar Shafa.


"Makasih teman-teman. Aku nggak tau kalau ada kalian mungkin aku lebih baik mati." Ujar Nisa yang masih sesunggukan.


"Ya udah gue tutup ya Nis, da... Assalamualaikum"


"Wa alaikum salam"


"Mommy...Huaa.....huaaa....." Tiba-tiba Zafran keluar dari kamar tidurnya menghampiri Shafa dengan menangis kencang.


"Eh, Nak kenapa nangis sayang? Anak Mommy kenapa nangis?" Ujar Shafa sambil berusaha menenangkannya. Tapi Zafran malah semakin kencang menangis.


"Mas, gimana dong? Bantuin nenangin Zafrannya ini" Ujar Shafa yang panik karna Zafran menangis dengan kencang. Sementara Rayyan malah duduk santai.


"Itukan karena dia lihat Mommy nya menangis, makanya dia ikut menangis. Bukan hanya Zafran mungkin adik Zafran di dalam pun sama" Ujar Rayyan sambil berjalan mendekati Zafran.


"Ayo, sini sama Ayah" Rayyan mencoba menenangkan tapi Zafran tetap menangis sambil memegang daster Shafa.


"Gue nggak ikut-ikut deh. Fa kita pamit dulu ya? Sorry ya pak Rayyan sudah buat Shafa nangis..he.he.he" Ujar Amel sambil cengengesan.


"Kita permisi pak Rayyan, Assalamualaikum" Pamit Vira.


"Waalaikum salam"


Begitu Vira dan Amel pulang, Zafran langsung diam dan menatap mommynya dengan sesunggukan.

__ADS_1


"Apa tante itu nakal mommy?" Tanyanya.


"Tidak sayang tante itu tidak nakal" Jawab Shafa sambil mengusap air mata Zafran. Ia sedikit bergeser agar Zafran bisa duduk di sebelahnya bersama ayahnya.


"Kanapa mommy nangis? Apa mommy sakit?" Tangan mungil itu menyentuh wajah Shafa.


"Mommy nggak sakit sayang, mommy nangis karena teman mommy ada yang sakit. Tapi sekarang kan udah nggak nangis lagi" Ujar Shafa. Yang membuat bocah kecil itu langsung telihat seperti biasa.


Hari libur panjang bagi anak sekolah telah berakhir. Bagi yang berprofesi sebagai pengajar, hari ini semua kembali ke aktifitas masing-masing tak terkecuali Rayyan. Tahun ajaran baru telah di mulai, anak-anak kembali ke sekolah dengan kelas baru dan sebagian barang baru pula.


"Mommy cepat! atu tellambat nanti" Ujar Zafran yang sudah bersiap dengan seragam paud, tas gendong bergambar batman lengkap dengan sepatu sekolahnya. Ia sangat bersemangat di hari pertamanya masuk PAUD, bahkan sejak subuh ia sudah bangun ikut shalat berjamaah dan segera minta bersiap.


"Sayang, ini masih jam setengah 6, Bu gurunya masih belum berangkat sayang." Jawab Shafa yang tengah merapikan dasi Rayyan.


"Itu tandanya dia disiplin waktu kaya Ayah. Mommy buruan pake kerudung, Ga usah pake make up. Ayah sama Zafran tunggu di meja makan " Ujar Rayyan setelah rapi. Ia menggandeng Zafran menuju meja makan tak jauh dari ruang tengah.


"Ayah juga ikut antal Zaflan kan?" Tanya Zafran sambil memakan rotinya.


"Iya, ayah antar tapi nanti di tungguinnya sama mommy karena ayah harus kerja. Nanti pulangnya di jemput sama pak Madi" Jawab Rayyan memberikan pengertian pada putranya.


"Mommy cantik!" Ujar Zafran saat melihat Shafa keluar dari kamar dengan memakai rok plisket panjang berwarna putih dengan tunik panjang berwarna berbahan sifon berwarna kuning muda. Ia memakai khimar segitiga berwarna cream dan menenteng tas jinjing hitam super mahal hadiah dari mommynya pada saat ulang tahunnya.


"Aku nggak dandan mas, ini cuma pake lipstik dengan maskara doang." Ujarnya saat Rayyan terus memperhatikannya.


"Kok cantik?"


"Kan udah dari sononya" Jawabnya singkat sambil meraih gelas berisi susu yang di buatkan langsung oleh suaminya. Setelah selesai sarapan mereka segera berangkat menuju sekolah Zafran yang letaknya tak jauh dari kediaman mereka. International Child School atau yang lebih di kenal dengan sebutan ICS merupakan salah satu yayasan pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak yang cukup terkenal. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai di sekolah tersebut karena letaknya tepat di depan gerbang kompleks perumahan Rayyan.


"Mommy itu Aila" Tunjuk Zafran pada gadis cantik berdarah Tiongkok yang selalu menjadi teman bermainnya. Mami Aira merupakan keturunan Tionghoa sedangkan Papinya merupakan orang asli jawa. Namun wajah Aira dominan menyerupai maminya. Maminya merupakan kepala sekolah PAUD tersebut sementara Papinya merupakan salah satu pejabat pemerintahan Kota.


"Zaflan.." Panggil Aira sambil melompat lompat begitu melihat Zafran bersama orang tuanya. Mereka pun ngobrol bersama, saling pamer barang baru yang mereka miliki seperti tas dan sepatu baru sembari menunggu instruksi dari ibu guru. Rayyan dan Shafa pun masih setia menunggu di sebuah bangku yang telah di sediakan bagi orang tua murid. Mereka berbincang dengan orang tua murid yang lainnya termasuk papi Aira yang juga turut mengantarkan Aira ke sekolah.


"Aira senang sekali bermain bersama Zafran, sampai-sampai tidak mau sekolah kalau tidak ada Zafran" Ujar Johan sambil memperhatikan dua orang bocah yang tengah ngobrol dengan bahasa yang kafang sulit dimengerti orang dewasa.


"Iya pak, mungkin karena di kompleks hanya Aira teman Zafran. Padahal kalau lagi berantem mommynya sampai pusing mendiamkan" Balas Rayyan.


"Begitulah anak-anak, hari ini bertengkar besok sudah akur lagi. Berbeda dengan orang dewasa, hari ini bertengkar tahun depan belum teentu akur" Ujar Pak Johan sambil tertawa kecil.


"Shafa Azura?" Shafa menoleh saat mendengar namanya dipanggil.

__ADS_1


"Kak Jeff!" Shafa terkejut melihat Jeffri juga ada di tempat itu. Jeffri adalah salah satu intelejen Polda Metro Jaya yang sering di panggil oleh Daddy Shafa untuk membantunya saat menghadapi masalah serius. Salah satunya untuk memantau putri semata wayang tersebut. Dia pula yang memasang GPS di ponsel Shafa kala itu. Jeffri sangat dekat dengan Shafa dan juga keluarganya. Jeffri bahka sering kali mendampingi Shafa ketika menghadiri pesta dan sejenisnya, karena kala itu Daddynya hanya percaya pada Jeffri.


__ADS_2