
"Sayang kamu mau nambah makan lagi?" ucap Ray di sebelahku, aku menatapnya dan menggelengkan kepalaku.
"Baiklah nanti makan lagi ya..." ucap Ray berjalan masuk ke dalam ruang perawatan lagi, sedangkan aku terdiam menatap pemandangan di depanku
"Jadi Sani... kamu dapat petunjuk apa dari Samuel?" tanya Fadil yang berdiri di sampingku.
"Tempat ayah sekarang aja."
"Oh benarkah? Dimana?"
"Katanya sih di bawah laut tapi dia tidak memberitahukanku bawah laut yang mana. Apa kamu tidak menginterogasi dia?" tanyaku pelan.
"Dia benar-benar membisu, di pukul sekeras apapun tetap saja diam."
"Emangnya dia sama sekali tidak mau mengatakan apapun?"
"Tidak ada, oh ya Han ingin bertemu denganmu nanti."
"Han? Kenapa?" tanyaku terkejut.
"Semua orang tahu kalau Samuel ada di tanganmu dan tanpa kamu ketahui kalau Samuel adalah seorang perencana yang sangat cerdas sama sepertimu, kalau Samuel ada ditanganmu secara otomatis Alan yang masih terluka akan kesulitan untuk mengalahkanmu."
"Lalu apa hubungannya dengan Han ingin bertemu denganku?" tanyaku serius.
"Entahlah, nanti kita tanyakan saja langsung setelah mereka berempat pergi rapat..." gumam Fadil melirik ketiga kakakku dan Ray yang ada di dalam ruang perawatanku.
"Oh baiklah, ternyata kamu bisa sepolos itu ya menyembunyikan semuanya kak Fadil."
"Kau kira aku bisa melakukannya dengan mudah? Kalau bukan karena Ray yang benar-benar menyayangimu dan sampai tidak mau makan hanya karena mengkhawatirkanmu, aku sudah mengatakannya kepada Soni tahu."
"Yaaah tidak aku sangka dia benar-benar menahan laparnya selama itu karena mengkhawatirkanku, padahal dalam rencanaku tidak ada sama sekali keinginanku untuk melibatkan dia dalam jangka panjang."
"Ya namanya juga pria kalau sudah jatuh cinta, sama halnya Han, walaupun dia milik Lia dia masih mencintaimu dan kamu tahu akan hal itu bukan?"
"Aku tahu...kak Fadil, aku rindu Satria..." gumamku pelan, aku menatap fotoku dengan Satria yang masih kecil di layar handphoneku.
"Hmmm sabar, Satria sudah bahagia jadi jangan khawatir."
"Tapi kak Fadil..."
"Sani ingat, jangan buat Satria bersedih apa kamu paham!"
"Baiklah..." desahku pelan.
"Sayang aku rapat dulu sebentar ya, kamu disini dengan Fadil ya..." gumam Ray memelukku erat dan aku hanya mengangguk pelan.
"Jangan lama."
"Ya aku gak akan lama kok, Fadil jaga istriku tahu!" gerutu Ray menciumku lembut dan pergi bersama ketiga kakakku.
"Benarkan mereka akan pergi..." gumam Fadil pelan.
__ADS_1
"Emang mereka rapat apa?" tanyaku pelan.
"Ya...kau tahulah Ray ketua mafia apa dan ya dia akhir-akhir ini sibuk cuma mungkin karena kamu belum sadar-sadar membuatnya khawatir dan sering pulang ditengah-tengah rapat, ya akhirnya mereka berempat sering bertengkar karena hal itu."
"Oh, jadi kata Kak Viu jika aku terluka maka akan melelahkan itu karena itu?"
"Ya, semua capek bertengkar sedangkan Ray yang terus membelamu membuat ketiga kakakmu tidak memiliki cara lain kecuali mengalah, tapi ya nantinya akan bertengkar lagi sih."
"Oh begitu ya, lalu dimana Han katanya mau bertemu denganku?" tanyaku pelan.
"Mungkin sebentar lagi sampai, aku ingin ke toilet jadi jangan kemana-mana"
"Baiklah..." desahku menatap kembali wajah Satria kecil di handphoneku.
Disaat aku terus menatap wajah Satria kecilku, tiba-tiba ada seseorang yang memelukku erat. Dengan aroma parfum yang khas dan menyengat di hidungku yang membuatku tahu kalau yang memelukku adalah Han.
"Lama tidak bertemu denganmu wanitaku..." gumam Han pelan.
"Sudah aku katakan kan aku bukan wanitamu!"
"Kamu tetap wanitaku."
"kita sudah sama-sama menikah Han!"
"Aku tidak peduli yang jelas, kamu adalaha wanitaku!" ucap Han memelukku erat.
"Terserah kau lah, jadi kenapa kamu ingin bertemu denganku?"
"Ada yang ingin ku katakan."
"Bisa tidak kau lembut sedikit, jangan membentakku seperti itu!"
"Jangan mulai lagi Han!"
"Aku sudah lama tidak bertemu denganmu dan bermanja denganmu jadi bukankah aku wajar ingin manja kepadamu?"
"Haish, kalau bisa ku bunuh sudah ku bunuh kau!" gerutuku meminum wine di depanku.
"Tapi kau sama sekali tidak bisa membunuhku kan Sani? Padahal di dalam hatimu kamu ingin sekali membunuhku?"
"Yaah...kalau bukan karena Satria sudah ku bunuh kau Han..." gumamku menatap foto Satria kecil di handphoneku.
"Kau masih menyimpan foto itu?"
"Dia anakku jadi apa aku salah menyimpan foto anakku?"
"Tidak, dia anakku juga jadi tidak masalah kamu menyimpan foto itu."
"He kau masih menganggapnya anak ya Han..."
"Anak yang sabar dan hebat siapa yang tidak bangga, andaikan aku kuat waktu itu aku...aku pasti menjaganya dan tidak mungkin aku membiarkan dia terbunuh dengan tanganku sendiri..." gumam Han pelan,
__ADS_1
"Untuk melawan Alan saja aku tidak bisa, apalagi melindungi kalian berdua..." desah Han pelan.
"Ya sudahlah tugasmu sekarang hanya melindungi Lia dan anakmu Putri saja."
"Tapi Sani..." ucap Han menatapku serius.
"Eeh kau sudah disini Han!" ucap Fadil berjalan dari dalam kamar perawatanku yang membuat Han bersikap biasa saja.
"Yaa begitulah."
"Jadi apa yang ingin kau katakan?" tanya Fadil bersandar di pagar balkon.
"Hmmm...tentang perang nantinya."
"Perang nantinya?" tanyaku terkejut.
"Iya, sekarang kan Samuel ada ditanganmu kan?" tanya Han menatapku serius.
"Benar, lalu kenapa?"
"Mmm ya karena Samuel ada di tanganmu jadi Alan benar-benar murka tapi tidak aku sangka Ray, Soni, Viu, dan Xiao Min bisa melindungimu dengan baik."
"Melindungiku dengan baik?" tanyaku pelan.
"Ya pastilah sampai-sampai aku hanya disuruh menunggumu di ruang perawatan sendirian tau padahal aku ingin ikut bertarung!" gerutu Fadil dingin.
"Kalau kau tidak ada disamping Sani pasti dia sudah terbunuh."
"Memang, aku masih heran saja kenapa kamu tidak membunuhnya saat aku kalah bertarung denganmu?" gumam Fadil memainkan gelas wine di tangannya.
"Aku...tidak bisa..." gumam Han menggenggam erat tanganku yang membuatku sedikit terkejut.
"Saat melihat wajah Sani yang tertidur...aku teringat Satria. Tangan dan kakiku benar-benar lemas seketika, aku...aku tidak bisa melakukannya... aku tidak bisa membunuhnya..." gumam Han pelan.
"Kau harus bisa Han, kalian musuh dan kalian di pihak yang berbeda!" ucap Fadil serius.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa dan Sani juga berpikir seperti itu. jika melihatnya aku benar-benar melihat Satria kecilku dan aku...aku jadi ingat bagaimana Satria kecilku mati di depanku, aku...aku benar-benar tidak bisa melukai Sani dia masih aku anggap istriku dan Satria juga tidak ingin aku melukai ibunya, jadi a...aku..." ucap Han terus menggenggam erat tanganku.
"Haish kau masih saja seperti itu Han!" ucap Soni yang keluar balkon.
"Ka..kakak.." teriakku terkejut, aku berusaha menarik tanganku tapi Han tidak melepaskannya.
"Kenapa kau ada disini? Kau tidak ikut rapat?" tanya Fadil dingin.
"Tidak, dia bersama dengan wakil lainnya Wahyu. Lagi pula itu urusan Ray dengan Wahyu bukan denganku."
"Wahyu? Wahyu Li?" tanya Han terkejut.
"Ya, saudaramu itu wakil mafia Ray sedangkan aku wakil mafia tetapnya."
"Oh ya aku pernah mendengarnya, dia mengganti marganya menjadi Khun agar terhindar dari Alan kan?"
__ADS_1
"Yups benar sekali, sebentar aku mau membuat kopi jadi ceritakan apa yang kau inginkan karena datang kemari..." gumam Soni berjalan kembali ke dalam ruang perawatanku.
Aku melihat Han yang terus menerus menggenggam erat tanganku, aku masih terkejut dengan pengakuannya yang tidak bisa membunuhku dan selalu teringat Satria jika melihatku, setelah ini aku harus melihat rekaman CCTV ruang perawatanku. Aku ingin tahu bagaimana perilaku Han saat akan membunuhku di ruang perawatan pada hari itu.