
Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh akhirnya kami sampai di pelabuhan, sebelum masuk ke dalam kapal pesiar itu Sanjaya bersikap tidak peduli padaku dan begitupun aku yang berjalan mendahului mereka bersama dengan Fadil.
"Sani..." Ucap Fadil pelan.
"Ada apa kak Fadil?"
"Tidak ada, hanya aku... tidak yakin jika kita menghabisi semuanya."
"Aku juga berpikir seperti itu..." gumamku pelan.
"Oh ya Sani, kau terlihat sangat nyaman dengan Sanjaya... apa kau sudah lupa tugasmu?" Tanya Fadil menatapku serius.
"Tidak, aku tidak melupakannya. Hanya saja agak sulit melakukannya dengan cepat.." desahku mengambil gelas wine di depanku dan meminumnya.
"Apa sesulit itu kah? Tapi aku lihat-lihat kau benar-benat jatuh hati padanya."
"Yaaah kau tahulah kak Fadil, aku tidak peduli dengan laki-laki... yang aku pikirkan tentang tugasku."
"Benarkah? Tapi kau masih dendam kan sama Han dan Ray apalagi Fiyoni dan Sino gara-gara memainkanmu?"
"Aku tidak masalah, hanya aku sedikit kesal juga seseorang tidak menghargai wanita!" gerutuku kesal.
"Haish ternyata kau masih sama seperti dulu, rela mengorbankan masa depan demi tugas mafia dan martabat wanita."
"Kita dari organisasi mafia tersembunyi kak Fadil, kita lakukan semua ini hanya demi mendapatkan informasi itu tapi ya aku akui tugas tetua organisasi sangat berat."
"Kau juga terlalu menikmati aktingmu sebagai gadis polos yang hebat di mafia internasional padahal kau tahu kalau kau hanya menyamar saja bahkan di organisasi mafia tertinggi dan dewan keadilan."
"Memang..." desahku memainkan lencanaku yang asli.
Aku teringat tentang masa kecilku, memang aku tidak ingat apapun bahkan yang aku ketahui hanya tugas dan tugas, aku gadis yang sangat lemah dan sering di siksa keluargaku tapi saat itu aku diam-diam mengikuti organisasi musuh yang tidak siapapun mengetahuinya yaitu organiasi mafia tersembunyi.
Awalnya tugasku sangat mudah dan hanya ditugaskan membunuh orang tapi suatu ketika aku harus mencari tahu semua organisasi mafia di dunia ini dan melaporkannya kepada tetuaku, namun belum selesai tugasku... aku diberi tugas mencari tahu mafia bawah tanah dan membunuhnya. Aku kira tugasku akan berjalan lancar tapi semua benar-benar diluar rencanaku dan benar-benar berbeda apalagi sejak aku tahu aku harus membunuh jodohku sendiri membuatku benar-benar bimbang melakukannya.
"Sani, kau melamunkan apa?" Tanya Fadil mengagetkanku.
"Hmmm tidak ada..." desahku meminum wineku dan menghabiskannya.
"Disini akan datang tetua, mungkin kau akan diberi tugas lainnya."
"Tugas apa?"
"Entah. aku tidak tahu. Lagi pula sudah bertahun-tahun kita tidak mendapatkan tugas lagi..." gumam Fadil pelan.
"Ya... Semoga tidak merepotkan..." desahku menatap sekitarku. Fadil menepuk bahuku pelan dan memberiku kode kearah pria di atas.
"Tuh di panggil tetua..." gumam Fadil pelan, aku menatap sekitarku dan berjalan pelan.
"Jangan sampai orang lain tahu Sani..." gumam Fadil pelan.
"Aku tahu kok..." desahku berjalan keluar kapal dan menemui seorang pria bertopeng dan berjubah hitam di atas kapal, aku menundukkan badanku kearah pria itu. Pria itu adalah tetua mafia tersembunyi atau biasa aku sebut sebagai Tuan Ben.
"Aahh sudah lama tidak bertemu denganmu... Raelyn..." ucap Tuan Ben dingin, Raelyn adalah nama samaranku di mafia tersembunyi. Nama itu diberikan Tuan Ben khusus kepadaku saat itu.
"Iya Tuan Ben..."
"Kau terlihat sangat kurus dan pucat, apa kamu sedang sakit?"
__ADS_1
"Tidak Tuan, saya baik-baik saja tuan... anda jangan khawatir."
"Oh ya aku dengar kamu kesulitan melakukan tugas itu dan selalu menderita? Apa kamu ingin menyerah? Kalau kamu menyerah aku akan menggantikanmu dengan..."
"Tidak perlu tuan, saya yang akan melakukannya sendiri tuan."
"Apa kau yakin?"
"Saya..."
"Targetnya saja jodoh yang dijodohkan oleh ayahnya apa bisa dia melakukan tugasnya!" Sindir Freya berjalan kearahku. Freya adalah musuh bebuyutanku di organisasi tersembunyi, dia selalu berusaha memojokkanku agar aku dikucilkan di organisasi tersembunyi dan keluar dari organisasi tersembunyi sehingga dengan mudah dia mengambil posisiku di organisasi tersembunyi.
"Oh benarkah? Apa itu benar Raelyn?"
"Mmm iya benar Tuan Ben."
"Kalau dia jodohmu, apa kau yakin bisa menyelesaikan tugasmu? Kalau tidak biar Freya yang..."
"Tidak perlu Tuan! Saya akan melakukannya sendiri!" Ucapku serius.
"Halah kalau tidak mampu bilang aja gak perlu sok..."
"Diam kau!" Gerutuku melempar senjataku kesal yang membuat Freya terdiam.
"Freya, pergilah... lakukan pekerjaanmu sana!" Ucap Tuan Ben dingin dan Freya pergi dengan kesal.
"Haish kalian ini tidak bisa akur ya..." desah Tuan Ben pelan.
"Kalau anda mengijinkanku membunuhnya pasti akan akur Tuan Ben!" gerutuku pelan.
"Nanti kalau sudah waktunya saja, oh ya aku ada tugas yang baru untukmu..." gumam Tuan Ben pelan.
"Kamu harus membunuh beberapa orang di organisasi lain."
"Membunuh?" Tanyaku terkejut.
"Ya benar, nama-namanya ada di kertas itu tapi kamu harus hati-hati dengan beberapa orang apalagi seorang pria yang bernama Ryu Lucian."
"Ryu Lucian? Siapa itu tuan?" tanyaku serius.
"Entah namanya aslinya siapa tapi nama samarannya Ryu Lucian, jika ada orang yang mengatakan Ryu Lucian berarti orang tersebut memiliki permintaan kepadanya."
"Permintaan? Permintaan apa itu tuan?"
"Ya sama sepertimu jika orang lain memanggilmu Raelyn pasti kamu mendapatkan sebuah tugas."
"Jadi Ryu Lucian itu sama sepertiku?" Tanyaku terkejut.
"Benar sekali..."
"Orangnya seperti apa tuan?"
"Aku tidak tahu dia pria seperti apa tapi menurut mata-mata kalau pria itu memiliki mata merah darah dan anting panjang di telinga kanannya...." ucap Tuan Ben serius.
"Mata merah darah? Anting panjang?" gumamku terkejut.
"Ya, sama seperti... pria itu..." gumam Tuan Ben menunjuk dua orang di balkon luar kapal pesiar tepat di bawahku, aku menatap pria itu dan ternyata Sanjaya.
__ADS_1
"Oh mmm dia target saya di tugas sebelumnya tuan..." gumamku pelan.
"Benarkah? Jadi dia dijodohkan denganmu?"
"Benar tuan."
"Bagaimana dengan pria itu?"
"Saya belum terlalu mengerti tuan soalnya saya baru bertemu dengannya tuan..." gumamku pelan.
"Oh begitu ya... kalau begitu cari tahu tentang pria itu dan jangan sampai kamu gagal dalam tugas ini."
"Tapi... saya butuh waktu melakukannya tuan, pria itu sangat licik bahkan saya kalah bertaruh dengan dia..." gumamku pelan.
"Oh tidak masalah, lakukan sebelum perang organisasi dimulai."
"Apakah perang organisasi jadi dilakukan tuan?"
"Jadi, tapi waktunya kapan tidak tahu apalagi perang mafia belum jadi dilakukan sampai saat ini. Masalah perang tidak perlu kau pikirkan, kau akan serumah dengan pria itu kan jadi akan mempermudahmu melakukan tugasmu dan yang terpenting lakukan saja tugasmu..." gumam Tuan Ben berdiri menatap dua pria di bawahku.
"Baik tuan..." gumamku pelan, aku menatap bawahku dan ternyata Sanjaya juga menatapku dengan tatapan dinginnya. Disebelahnya aku melihat seorang pria bertopeng dan berjubah hitam dengan tatapan matanya yang sangat tajam menatap kami. Di bibir Sanjaya terlihat bergerak cepat, aku berusaha memahami ucapananya tapi sama sekali tidak bisa mengerti.
"Pria bertopeng itu tetua organisasi misterius."
"Apa dia target saya tuan?"
"Tidak, tugasmu ada di daftar nama itu. Kamu harus berhati-hati dengan mereka jadi jaga dirimu Raelyn..." gumam tuan Ben pergi dan pria di bawahku juga berjalan pergi.
"Huuffttt..." desahku berdiri di ujung atap kapal pesiar sambil menutup mataku.
"Tumben kau sangat menikmati hari ini Raelyn?" gumam seorang pria di belakangku, aku membuka mataku dan melihat seorang pria bertopeng berjalan kearahku.
"Yaaah hanya mencoba menikmati hidup saja..." gumamku pelan.
"Oh benarkah? kau sudah tidak ingin mati?"
"Sudah lelah, aku mau matipun tetap tidak bisa yang membuatku kesal..." gumamku pelan.
"Apa pria itu yang mencegahmu mati?" Tanya pria itu menatap Sanjaya yang sedang menatap kami berdua dengan tatapan dingin.
"Yaahh bisa dikatakan seperti itu..." desahku memakai lencanaku dan membalikkan badanku.
"Aku dengar pria itu pria yang di jodohkan denganmu, apa itu benar?"
"Ya... jadi jangan terus mengejarku Frey..." gumamku dingin, pria itu menggenggam erat tanganku dan menahan langkahku.
"Sampai kapanpun... aku tetap mengejarmu... Raelyn!" Aku melepaskan genggaman pria itu dan berjalan pergi kembali di aula pesta.
"Sani.. kenapa lama?" Tanya Fadil menatapku serius.
"Tidak ada, hanya beberapa tugas saja..." gumamku memberikan kertas tadi kepada Fadil.
"Sepertinya tugas yang sulit..."
"Memang dan tuan Ben mengatakan agar kita hati-hati dengan Sanjaya dan orang-orang yang menjadi pelindung target kita."
"Oh begitu ya..." Fadil memberikan kertas itu kepadaku dan aku mengembalikannya kepada Fadil.
__ADS_1
"Kamu bawa saja, kalau aku pasti tidak akan aman..." gumamku meminum wine santai. Di ujung aula aku melihat Sanjaya yang meminum wine di tangannya sambil tatapannya benar-benar dingin, mungkin dia mendapatkan tugas yang berhubungan denganku jadi dia sedang memikirkan sebuah rencana.