
Setelah selesai makan, aku dan Fadil bergegas pergi ke organisasi kegelapan. Karena aku tidak akan ikut Fadil maka setelah berhasil masuk ke organisasi kegelapan, aku segera pergi meninggalkan Fadil sendirian memasuki hutan.
Sebenarnya aku tidak tahu kemana tujuanku, tapi siapapun penghianat pasti akan masuk ke dalam hutan yang sangat luas berada di sekitar organisasi kegelapan ini untuk bersembunyi. Aku sebenarnya tidak yakin tapi aku berharap bisa bertemu kembaranku sebelum tugas Fadil selesai.
Berbulan-bulan aku mencari ke hutan dan ke markas musuh dengan cara menyamar tapi aku sama sekali tidak menemukan kembaranku dan juga Revaro. Benar-benar keberadaan tiga orang itu susah di cari saat ini.
"Sani!!" Teriak seorang pria di belakangku, aku memutar tubuhku dan melihat Fadil berjalan kearahku.
"Eeehh kak Fadil? Sudah selesai?" Tanyaku bingung.
"Ya, sudah berbulan-bulan tahu! Oh ya bagaimana dengan urusanmu?"
"Nihil, Revaro juga susah di lacak."
"Ya sudah tidak apa, nanti kita cari lagi. Mari kita pulang."
"Baik kak Fadil..." gumamku melepas penyamaranku dan berjalan mengikuti Fadil.
"Tidak ku sangka aku sudah berbulan-bulan menyamar kak Fadil."
"Ya kau yang terlalu hobi menyamar Sani.."
"Tidak juga sih..." gumamku pelan.
"Oh ya kau dapat undangan."
"Undangan apa?"
"Pesta di kerajaan Arre."
"Kerajaan Arre? Mmm tidak lah aku tidak mau datang."
"Tapi ayah mengharuskanmu untuk ikut anakku!" Ucap ayah berdiri di depanku.
"A-ayah? Kenapa ayah bisa ada disini?" Tanyaku terkejut.
"Ya ayah baru dari urusan ayah. Jadi apa kau menemukan saudara kembarmu?"
"Tidak, mereka tidak ada di markas musuh."
"Yaah mungkin mereka ada ditempat lain..." gumam ayah berjalan kearahku dan berhenti tepat di depanku.
"Nak, hari ini bulan purnama merah jadi kamu harus ikut ke kerajaan Arre, ayah bisa memasukanmu ke kerajaan Arre karena ayahnya meminta ayah agar kamu bisa membantu mereka."
"Membantu apa?" Tanyaku terkejut.
"Membantu mengamankan orang-orang yang ada di sana dari amukan pangeran ke tujuh."
"Amukan?" Tanyaku terkejut.
"Ya karena penyakitnya yang membuat dia seperti itu dan ditambah istri dan anaknya bunuh diri setelah tahu penyakitnya."
__ADS_1
"Eehh bunuh diri?" Tanyaku terkejut.
"Benar, mereka melompat ke sungai di depan kerajaan!"
"Eehhh kalau begitu..." gumamku terkejut.
"Ya emang pria itu Saputra, tapi ya saat ini entah kemana perginya. Dia terlihat sangat depresi sampai-sampai sering pergi keluar dari kerajaan."
"Oh mmm kapan pesta itu dimulai?"
"Hari ini."
"Oh hmmm baiklah ayah, Sani tahu apa yang akan Sani lakukan."
"Astaga kau jangan melakukan hal gila lagi Sani!" Ucap Fadil serius.
"Aku tidak akan melakukan apapun, aku janji kak Fadil... yaah walaupun aku tidak yakin sih."
"Tidak yakin bagaimana?"
"Ya hanya tidak yakin saja..." gumamku pelan.
"Lebih baik kau fokus keselamatan orang-orang, banyak korban jiwa yang melayang gara-gara dia dan jangan sampai kau menjadi korban Sani!"
"Ya kak Fadil tenang saja..." gumamku pelan.
Walaupun aku terlihat meyakinkan mereka tapi sebenarnya aku memiliki rencanaku sendiri. Entah kenapa tapi aku benar-benar ingin membantunya sama seperti di mimpiku sebelumnya.
"Mmm aku sembilan belas tahun ini ayah."
"Hmmm tidak ayah sangka kamu sudah tumbuh dewasa anakku, tapi maaf ayah terlupa membelikan hadiah untukmu tapi nanti ayah segera cari anakku."
"Tidak perlu ayah, aku... tidak membutuhkan hadiah."
"Lalu kamu ingin apa nak?"
"Aku hanya ingin ayah dan saudaraku bisa hidup bersama dan menemaniku sampai tua dengan kasih sayang kalian saja. Apalagi aku tidak pernah merasakan rasa sayang sama sekali."
"Oh mmmm baiklah, ayah mengerti... walaupun tanpa kamu memintapun ayah tetap melakukannya anakku..." guman ayah mengacak rambutku lembut.
"Terimakasih ayah."
"Ya sudah mari kita pergi, kita harus pulang dulu sebelum pergi ke kerajaan."
"Baik ayah..." desahku mengikuti langkah kaki ayah menuju ke rumah.
Di rumah, Aku menceritakan semua yang aku dapatkan selama penyamaranku kepada ayah dan kedua kakakku yang membuat ayah terkejut.
"Apa kau serius?" tanya ayah menatapku serius.
"Ya ayah, itu yang aku dapatkan."
__ADS_1
"Oh baiklah, terimakasih informasinya anakku... kamu sangat hebat seperti Sani anakku..." gumam ayah senang. "Disamakan lagi dengan orang lain..." gumamku dalam hati, aku tidak masalah sebenarnya tapi kalau di bedakan atau disamakan dengan orang lain sedikit menggangguku apalagi sebelumnya aku disamakan dan dibedakan dengan Sania.
"Ayah!" Ucap Elvaro menatap ayah serius.
"Eehh mmm maaf anakku..."
"Tidak apa kok ayah, maaf kalau aku tidak bisa seperti kak Sani..." gumamku pelan.
"B-bukan begitu anakku..."
"Tidak apa ayah serius, ohh mmm aku ijin ke kamar mandi dulu..." gumamku berjalan pergi."
"Raelyn, apa kamu membenci ayah?" Tanya ayah yang membuatku menghentikan langkah kakiku.
"Tidak ada yang menjadi alasanku untuk membencimu ayah...." gumamku pelan dan berjalan pergi.
Di kamar mandi aku terdiam menatap wajahku di cermin dan terlihat kedua mataku yang sangat sedih, sebenarnya bukan sedih tapi kecewa. Aku selalu disamakan ataupun di bedakan dengan orang lain padahal aku dengan orang lain itu berbeda.
"Naakkk! Kamu kenapa? Kenapa tidak keluar dari kamar mandi??" Teriak ayah dari luar.
"Oh mmm ya ayah bentar..." gumamku pelan dan segera mandi,
"Aku sudah selesai ayah.." gumamku keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kamu mandinya lama?"
"Mmm kan aku wanita ayah jadi wajar aku mandi lama."
"Tapi kamu di kamar mandi satu jam lebih, ayah khawatir.."
"Oh mmm maaf membuat ayah khawatir."
"Ya sudah mari kita pergi anakku."
"Mmmm tunggu sebentar ayah, aku belum bersiap-siap."
"Baiklah, ayah akan menunggumu di bawah. Oh ya sekalian bawa pakaian ganti mungkin kita akan menginap disana."
"Apa kakak juga menginap?"
"Ya kakakmu sangat menyayangimu jadi mereka tidak ingin jauh darimu jadi mereka akan mengawasimu apalagi nanti akan banyak mafia yang datang."
"Oh mmm baik ayah..." gumamku pelan dan ayah berjalan pergi.
"Banyak mafia yang datang ya?" gumamku pelan.
"Kalau begitu pasti akan merusak pesta jika penyakitnya Saputra kambuh, dan... pastinya dia akan lebih di permalukan dan di kucilkan dong....
"...Astaga!! Tapi... kenapa aku memikirkan hal itu? Dia kan bukan siapa-siapaku bahkan aku... aku tidak yakin dia jodohku..." gumamku memasukkan beberapa pakaianku ke dalam tas jinjing milikku.
Ya walaupun aku mencoba tidak peduli tapi pangeran ketujuh adalah muridku dan tidak mungkin aku mempermalukan pangeran ketujuh dan juga mempermalukanku yang merupakan gurunya.
__ADS_1