Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 144 : Bertemu Ibu Dan Kakak Pertama


__ADS_3

Aku benar-benar tidak percaya diikat oleh dua pria bahkan benang merahku bercabang di dua pria yang dulu snagat aku cintai. Kalau Rhys dijodohkan denganku sedangkan Raechan... apa yang membuatku terikat dengannya? Hanya itu yang ada di kepalaku.


Reaksi panas tanda di leherku benar-benar membuat badanku ikut terasa panas, dengan jubah kotor milikku aku menyelimuti tubuhku dan terus menerus menggigil kedinginan sedangkan badanku terasa sangat panas. Aku menatap telapak tangaku yang sedikit membiru dan benar-benar terasa sangat dingin.


"Sani aku ada... Eehh Sani!!!" Teriak seorang pria yang sedang membuka pintu ruangan ini, aku sedikit menolehkan kepalaku dan melihat Fadil menstapku terkejut.


"Sani... Sani kau kenapa ada di sini?" Tanya Fadil menyentuh lenganku dan dahiku dengan tatapan khawatir.


"Aduuuhh badanmu sangat panas lagi..." gumam Fadil berusaha mencari obat untukku.


"Aduuh obatmu habis lagi, meminta obatmu ke Xiao Min enggak bakal bisa cepat lagi..." gumam Fadil bingung.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Rhys menatap Fadil dingin. Fadil menatapku dan menatap sekitarku dengan teliti, Fadil langsung berdiri dan menatap Rhys dingin.


"Kau memang gila ya Sebastian! Kau berjanji untuk tidak menghalangi kami dan kau tidak akan melukai Sani tapi kau malah menempatkannya di tempat kumuh dan kotor ini seperti ini bahkan kau membiarkan Sani sakit seperti ini? Kau memang gila tahu!" Teriak Fadil kesal.


"Apa katamu? Sakit?" Tanya Rhys terkejut, Rhys menyentuh lengan dan dahuiku lembut yang membuat tatapannya khawatir.


"Badanmu sangat panas..." gumam Rhys bersiap menggendongku tapi Fadil langsung mrnahan Rhys dsn menatapnya dingin.


"Kau mau membawanya kemana?"


"Ke dokter, badannya sangat panas dan..."


"Tidak! Aku yang akan membawanya sendiri! Aku tidak percaya ucapanmu Rhys!" Protes Fadil langsung menggendongku.


"Tapi dia istriku!"


"Aku tidak peduli! Kalau kau tidak bisa menempatkan dirimu sebagai suaminya lebih baik... enyahlah kau dari kami!" Ucap Fadil dingin dan terus berjalan pergi sambil menggendongku.


Melihat pertengkaran itu membuat kepalaku pusing dan aku hanya terdiam dan kembali memejamkan kedua mataku. Disaat aku memejamkan kedua mataku, aku merasa angin yang dingin menerpa tubuhku, aku membuka kedua mataku dan terlihat aku kembali di alam yang berbeda kembali.


"Haish kau suka banget mati ya Sani..." ucap seorang wanita di sampingku. aku menatapnya dan ternyata wanita itu Sania.


"Yaaahh entahlah."


"Ada apa? Apa yang membuatmu terlihat banyak beban?"


"Mmm yaah begitulah."


"Sani... apa kau ingin bertemu dengan ibu?"


"Ibu?" Tanyaku terkejut.


"Yaah kemarin ibu berkata kalau dia ingin bertemu denganmu. bukan wanita yang kau sebut ibu selama ini loh..." guman Sania santai, aku terduduk dan menatap Sania serius.


"Eehh kenapa bisa?"


"Ibu sudah lama meninggal karena dibunuh seseorang tepat disaat sebelum kedua kakakmu, ayahmu dan saudaramu pergi menghilang meninggalkanmu. Kau hidup dengan ayahku dan kembaran dari ibu."


"Kembaran ibu? Kenapa bisa kembaran ibu yang..."


"Karena ayahku tidak ingin kau sedih jadi ayahku menikahi kembaran ibu agar kau tidak sedih karena kematiannya."


"Benarkah? Lalu siapa yang membunuhnya?"

__ADS_1


"Ryhan... kakak kandung Sebastian."


"Kenapa bisa dia membunuh ibu?" Tanyaku serius.


"Karena Ryhan menolak adiknya menikah denganmu dan karena itulah ayah membunuh orang tua Sebastian karena dendam ayah atas kematian ibu..." ucap seorang wanita di belakangku, aku menoleh ke belakang dan terlihat wajah wanita cantik yang tidak asing bagiku.


"I-ibu?" Ucapku terkejut, aku segera beranjak dan berlari memeluk ibu. Aku tidak menyangka kalau aku bisa bertemu ibu saat ini.


"Hai anakku, kamu sekarang sudah dewasa ya..." gumam ibu mengusap rambutku lembut.


"Ibu... Sani rindu ibu... Sani ingin ikut ibu!" rengekku kencang dan ibu hanya tersenyum kearahku.


"Ibu Sani ikut ibu!"


"Haish ada apa anakku?"


"Sani tidak kuat ibu, Sani tidak ingin hidup lagi!"


"Haish kenapa kamu berbicara seperti itu? Tidak baik anakku.."


"S-Sani..."


"Ibu tahu kok kesalahanmu tapi itu juga kesalahan ibu, ibu tidak menemanimu dan kesalahan yang pernah ibu lakukan dulu yang membuatmu mendapatkan karma ibu anakku..." ucap ibu pelan, aku terdiam meneteskan air mataku dan sesekali ibu menatapku sambil mengusap air mataku yang menetes di pipi.


"Anakku maafkan ibu ya, kesalahan ibu membuatmu menderita anakku..."


"I-ibu tidak salah kok, ini memang kesalahan Sani ibu... Sani... salah ibu."


"Hmmm..." desah ibu memelukku erat, pelukan ibu benar-benar terasa sangat hangat bahkan membuatku tidak berhenti menangis.


"Sani, kamu hebat... ibu bangga padamu anakku..."


"Tentu saja, kamu anak ibu yang paling hebat. Oh ya... kemarin kakakmu bertemu dengan anak kecil yang bernama Satria, kakakmu bilang Satria itu anakmu ya?"


"Satria? Kakak? Kakak siapa?" Tanyaku pelan.


"Kakak kandungmu, dia mati bersamaan dengan ibu..." gumam ibu menatap pria yang sedang terduduk di bawah pohon sambil menggambar sesuatu di tanah.


"Kakak? Aku tidak tahu kalau aku..."


"Pastinya kamu masih sangat kecil dan dia tidak pernah ada di rumah. Cuma kebetulan saja dia di rumah dan malah dia terbunuh karena melindungi ibu!" Jelas ibu serius.


"Dia... kakak kandung? Apa dia lebih tua dari kak Alvaro dan Elvaro?"


"Benar, dia kakak kembar mereka berdua. Selisih lahir hanya beberapa hari saja."


"Jadi aku punya tiga kakak kembar?"


"Benar, kakakmu bermana Revaro. Dulu dia sama sekali tidak memperdulikan apapun bahkan kamu tapi saat melihatmu sangat tersiksa membuatnya benar-benar dendam. Kematiannya dikarenakan oleh seseorang yang bukan dari keluarga yang membunuh ibu."


"Maksudnya?"


"Kematianku dengan kakakmu di sebabkan oleh orang yang berbeda jadi..." desah ibu pelan.


"Siapa ibu?" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Ibu tidak tahu siapa tapi kakakmu yang tahu."


"Hmmm ibu... aku bertanya boleh..."


"Bertanya apa anakku?"


"Ibu sebenarnya... siapa jodohku? Kenapa benang merah ini menghubungkan kepada dua pria?" Tanyaku pelan.


"Benarkah? Kalau begitu... pilih salah satu yang kamu inginkan."


"Tapi ibu aku tidak bisa memilihnya jika..."


"Coba tanyakan kepada kakakmu!" Ucap ibu pelan. aku menghela nafas panjang dan berjalan kearah pria yang terduduk itu, tanpa mengatakan apapun aku langsung memeluknya yang membuat pria itu terkejut.


"S-Sani? Kenapa kamu disini?" Tanya pria itu pelan tapi aku hanya terdiam memeluk erat pria itu.


"Yaah biasa dia mati suri lagi..." Gumam Sania pelan.


"Haish adikku kenapa kamu terus menerus ingin mengakhiri hidupmu?"


"Lelah... Aku lelah kakak! Aku lelah dengan hidupku!!"


"Hmmm maaf ya adikku, aku tidak bisa menjagamu dengan baik dan maaf kedua adikku yang bodoh itu juga tidak bisa menjagamu."


"Kakak, aku ikut kakak!"


"Ikut? Tidak boleh, kamu masih hidup Sani."


"Tapi... aku sudah lelah dengan hidupku kakak, banyak beban yang aku tanggung dan... aku sangat berdosa kakak..." gumamku pelan.


"Hmmm... tenang saja adikku, ada kakak... kakak akan menjagamu dan..."


"Kakak sudah mati! Bagaimana kakak akan menjagaku? Kak Alvaro dan kak Elvaro saja mengutamakan tugasku dari pada keselamatanku, perasaanku selalu disakiti pria, banyak pria yang mempermainkanku... aku lelah kakak!!!"


"Kamu benar-benar bermuka dua ya Sani, kamu nampak biasa dan pintar merayu pria demi mendapatkan informasi tapi di depan kakakmu kau berkata lelah, sebenarnya kau merasakan yang mana?" Tanya sania menatapku bingung.


"Aku melakukan apapun demi tugas, aku tidak pernah memperdulikan diriku karena tujuanku hanya agar tugasku selesai. Tapi bullyan orang lain karena Rani menghasut orang lain agar membullyku membuatku kesal, perasaanku yang semula baik-baik saja kini menjadi sakit, aku memang terlihat wanita murahan tapi aku bukan wanita murahan!!" teriakku kesal.


"Hmmm aku tahu bagaimana perasaanmu adikku..."


"Kalau kakak tahu jadi ijinkanlah aku ikut kakak!"


"Tidak boleh! Kau harus terus hidup!"


"Tapi kakak!" Ucapku menatap Revaro kesal.


"Aku akan menjagamu adikku, aku berjanji padamu."


"Tapi kakak sudah mati!"


"Dia memang sudah mati tapi dendamnya melebihi dendammu pada orang-orang uang menyakitimu anakku, karena dendamnya itu dia akan berinkarnasi di tubuh seorang pria tapi kami tidak tahu pria yang mana..." gumam ibu pelan.


"Kakak akan berinkarnasi?" Tanyaku serius.


"Ya, entah kapan aku tidak tahu tapi anakmu Satria sudah berinkarnasi lebih dulu."

__ADS_1


"Satria? Kenapa Satria..."


"Dendam Satria lebih besar Sani, dia melihatmu hidup menderita di ruangan yang kumuh dan kotor tanpa makan dan minum selama beberapa minggu membuatnya dendam, Satria tidak terima kalau ibunya sangat menderita seperti itu!" Ucap Sania serius sedangkan aku hanya terdiam di pelukan Revaro. "Satria... seharusnya kamu tidak perlu berinkarnasi, ibu tidak ingin kamu merasakan pahitnya dunia lagi anakku..." gumamku dalam hati.


__ADS_2