Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 54 : Mengutarakan Isi Hati


__ADS_3

Aku membuka kedua mataku dan melihat Sio dan Fiyoni berdiri di depanku sambil menatapku dingin, aku mencoba melepaskan diri ternyata aku di ikat lagi di ruangan yang dulu saat Sino menyiksaku, aku menundukkan kepalaku dan menghela nafas panjang.


"Apa yang kalian inginkan?" gumamku dingin.


"Tidak ada, hanya penasaran saja."


"Penasaran tentang apa?"


"Kenapa beberapa hari ini kamu berubah?"


"Berubah? Tidak, aku sama seperti dulu."


"Apa yang kamu lamunkan dan kamu pikirkan, istriku?" gumam Sino mengangkat daguku tinggi.


"Tidak ada.."


"Kamu tidak bisa membohongiku Sani!"


"Kenapa kalian ingin tahu apa yang aku lakukan? Urus saja Lia dan Rafaela, gak perlu urusi aku!" gerutuku kesal.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Fiyoni menatapku dingin.


"Kalian kira dengan mengurungku di rumah aku tidak tahu apapun? Heeeh semua pria itu sama saja!" gerutuku kesal.


"Kami punya alasannya... kami..."


"Aku tidak perlu alasan kalian, kalau kalian hanya menjadikanku alat kalian dan kalian bermain dengan wanita lain, tau gak kalian sama kayak keluarga Li!" gumamku pelan, mendengar ucapanku Sino mendekatkan wajahnya dan menatapku dingin.


"Jangan samakan kami dengan mereka. Kami tidak menjadikanmu alat, kami tidak butuh sebuah alat tapi membutuhkan seorang istri, apa kamu mengerti!" ucap Sino dingin sedangkan Fiyoni mendekatkan bibirnya di telingaku.


"Dan satu lagi, kami sama sekali tidak bermain dengan dua wanita busuk itu. Kami tidak seperti Han ataupun Hans, kami hanya mencari informasi di pesta mafia saat kamu hamil dan informan satu-satunya hanya mereka berdua. Kamu tahu sendiri kan mereka susah kalau di tanya orang lain selain kami apalagi mereka masih mencintai kami?"


"Terserah kalian saja...uuuggghhhh..." rintihku kesakitan saat Fiyoni menggigit leherku.


"Kamu tidak percaya kan? Ekspresimu begitu terlihat istriku!"


"Tidak...aku tidak mempercayai siapapun, dari dulu aku memang tidak mempercayai siapapun. Bahkan keluargaku sendiri...aku tidak percaya...dan kalian tau hal itu!" gumamku pelan.


"Hidupku dari dulu hanya dijadikan alat pembunuh bahkan oleh keluargaku sendiri, apa yang aku percayai? Tidak ada sama sekali tidak ada...dan ya seperti dugaan kalian...aku memang ingin balas dendam, aku hanya ingin itu!" lanjutku pelan


"Kan sudah kami bilang, kami akan membantumu!"


"Membantu ya? Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan siapapun bahkan kalian orang yang ku cintai dari dulu. Aku hanya ingin melakukan sendiri, apalagi perang mafia ini adalah perang terakhir bagiku. Hidupku juga tidak akan lama lagi." gumamku pelan.


"Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal Sani!!" protes Fiyoni kesal.


"Kalian kira menanggung janji jiwa yang sebanyak ini jiwaku bisa bertahan lama? Jiwaku sangat lelah apalagi di tambah masalah hidupku yang sungguh rumit ini membuatku bertambah lelah," gumamku serius.


"Seumur hidupku aku hanya menangung beban derita sendiri, dari aku kecil...tidak ada yang tahu apa yang aku inginkan dan tidak ada siapapun yang tahu akan penderitaanku. Hidupku hanya dipenuhi oleh kegelapan, lalu untuk apa aku tetap hidup. Seumur hidupku aku hanya sendirian aku tidak memiliki teman hanya memiliki musuh, aku juga ingin seperti wanita lain di luar sana yang pergi kemanapun dengan teman sedangkan aku...aku kemanapun pergi hanya melihat musuh dan mayat. Asal kalian tau kak Lan... Fiyoni... aku sudah tidak sanggup..." desahku pelan, Sino melepaskan ikatan di tanganku dan memelukku erat.


"Ka...kamu!" ucap Fiyoni terkejut melihatku sedih.


"Aku mengucapkan apa yang hatiku katakan, aku benar-benar..."


"Kamu tidak sendiri istriku, aku dan Fiyoni akan selalu ada untukmu..." gumam Sino memotong pembicaraanku sambil mengusap lembut rambutku.


"Untuk apa kalian tetap bertahan menemaniku bahkan melindungiku? Tidak perlu buang waktu kalian untuk hal yang tidak berguna itu..."

__ADS_1


"Diseumur hidupku, aku hanya menginginkanmu saja. Saat Fiyoni menikah dengan Rafaela, sebenarnya aku menolak ajakan Fiyoni untuk menikahi Rafaela"


"Tunggu, menolak? Lalu Putri itu?" tanyaku terkejut.


"Ya, kak Sino menolak. Putri murni anakku." gumam Fiyoni pelan.


"Ohh lalu Lia itu mantan kak Lan kan? Jadi untuk apa..."


"Ya dia mantanku tapi...aku tidak mencintainya, aku sudah pernah bilang kan... Lia meninggalkanku karena dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan..." bisik Sino pelan.


"Oh yang kamu bilang Lia ingin anak darimu itu?" tanyaku pelan.


"Ya, aku memang tidak mau memberikannya karena aku hanya memberikannya kepada orang yang aku cinta." gumam Sino memelukku erat.


Tookkk .. Tookkk...Tookkk


Tiba-tiba pintu terketuk keras dan masuklah pria berjubah hitam yang sedang menunduk kearah kami.


"Ada apa?" tanya Fiyoni dingin.


"Mohon maaf tuan, rapatnya akan segera dimulai."


"Oh baiklah... Aku pergi dulu kak Sino." gumam Fiyoni keluar ruangan bersama dengan bawahannya sedangkan Sino terus memelukku erat.


"Hmmm kak Sino bisa tidak lepasin pelukanmu?"


"Tidak."


"Tapi.."


"Hmmm..." desahku mengalah, aku menghembuskan nafas panjang dan mengusap lembut punggung Sino.


"Kak Sino, dulu kenapa Lia menjadi wanitamu?" tanyaku pelan.


"Dulu aku mencari keberadaanmu, jadi aku berfikir dengan mendekati Lia aku bisa mendapatkan informasi tentangmu, tapi bukannya aku mendapatkan informasi itu malah Lia mengajak berhubungan badan denganku yang membuatku kesal karena dari awal aku tidak menginginkan itu."


"Lalu kenapa kamu sedih dan kecewa melihat Lia dengan Han?"


"Aku tidak sedih atau kecewa karena itu, hanya aku kecewa karena Lia membohongiku...itu saja." gumam Sino pelan.


"Ohh..." desahku membenamkan wajahku di dada Sino.


"Sayang, kalau kamu memiliki dendam atau memikirkan rencana, kamu jangan memikirkannya sendiri. Kamu memiliki Fiyoni dan kamu juga memiliki aku, kamu tidak sendiri istriku. Seberusaha apapun kamu menyembunyikannya dari kami apalagi dariku, aku akan tahu Sani. Dari kecil kita bersama-sama ingat!" gumam Sino melepaskan pelukannya dan menatapku serius. Aku membuka kancing pakaian Sino dan melihat bekas luka di tubuhnya.


"Ya aku ingat, tapi kak Sino... Aku tidak ingin kamu terluka karena berusaha melindungiku seperti dulu. Kak Sino selalu melakukannya sendiri dan tidak memperbolehkan aku melakukannya, aku tidak mau kamu terluka lagi." desahku mengusap bekas luka itu.


"Tidak apa, bisa mati karena melindungi orang yang aku cinta...tidak masalah untukku."


"Tapi bermasalah untukku kak Sino. Setelah tahu kamu terluka parah dulu... Aku meminta Fadil pergi dari Asia karena aku tidak bisa menunjukkan wajahku di depanmu lagi. Sampai akhirnya kita bertemu lagi di markas rahasia yang membuatku senang ternyata kamu masih hidup walaupun di hatiku rasa tidak enak menunjukkan wajahku di depanmu yang dulu terluka parah karenaku." gumamku pelan.


"Aku hanya ingin melakukannya sendiri, aku tidak ingin kamu terluka apalagi saat aku tahu kamu adalah kak Lan Shi ku yang dulu selalu melindungiku. Aku tidak mau kamu...mmpphh..." Sino mencium bibirku yang membuat wajahku memerah karena terkejut.


"Sayang... dengarkan aku... aku akan selalu melindungimu dan menjagamu, ini janjiku padamu sejak dulu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membuatmu terluka istriku...apa kamu mengerti?" gumam Sino mentapku serius.


"Tapi kak Sino..."


"Aku janji tidak akan terluka di depanmu lagi Sani...aku akan melindungimu!"

__ADS_1


"Hmmm...baiklah, kalau kamu terluka lagi...jangan larang aku melakukan balas dendam seperti dulu kak Sino!" gumamku serius.


"Ya, lakukanlah sesukamu istriku. Ngomong-ngomong apa rencana yang kamu buat?"


"Mmmm tidak ada."


"Tunggu? Apa kamu serius?" tanya Sino terkejut.


"Ya... Setelah mendengarkan perkataan kakak, aku mengganti semua rencanaku. Aku belum memikirkan rencana lagi, apalagi sejak tahu tuan X yang sekarang adalah Hans. Walaupun aku berada di rumah keluarga Li bertahun-tahun tapi aku sama sekali tidak pernah melihat Hans bertarung di depan mataku. Pembantaian di keluargakupun Hans hanya duduk santai di kursi kerja ayah, makanya aku belum memiliki rencana." gumamku pelan.


"Tidak apa sayang, jangan terlalu dipaksakan.Oh ya informasi yang kami dapatkan dari pengakuan Rafaela dan Lia kalau tujuan perang mafia ini adalah menghancurkan seluruh mafia dan menjadikan mereka mafia tertinggi dan satu-satunya mafia yang tersisa."


"Aku sudah tahu kalau hal itu, bahkan aku juga tahu kalau...menjadikanku budak itu agar aku bisa menjadi kaki tangan mafia mereka seperti perlakuan ketua tertinggi di masa lalu kepadaku."


"Ya benar selain itu mereka ingin menggunakan Satria sebagai pembunuh sama sepertimu Sani, apalagi Satria adalah salah satu keturunan keluarga Li yang diakui oleh keluarga Li."


"Tunggu...lalu anak Lia itu?"


"Itu...aku juga belum yakin pastinya karena hanya Satria yang masih diakui mereka."


"Ohh...aku mengerti...makasih kak Sino." gumamku menyembunyikan wajahku kembali.


"Istriku, mari makan...kamu belum makan seharian pasti kamu lapar!" gumam Sino melepaskan pelukanku


"Mmm oh ya kak Sino. Nanti aku akan membawa Satria berziarah ke rumah ya...sekalian aku mau mengambil suatu barang disana."


"Tapi Putri, Rio dan Ria bagaimana?"


"Oh mmm tolong jaga ya hehehe, aku mana mungkin bisa menjaga mereka sendirian." tawaku pelan.


"Memang kapan kamu akan pergi?"


"Beberapa hari lagi."


"Mmm tunggulah aku selesai rapat, biar aku antar kamu!"


"Tidak... tidak... aku bisa sendiri kak Sino, lagipula beberapa hari lagi tepat delapan tahun keluarga besarku meninggal dan tepat ayahku meninggal."


"Tapi kan beberapa hari lagi natal!"


"Ya memang, tapi aku usahakan saat malam natal aku sudah kembali kak Sino."


"Mmm baiklah, tapi jangan menghilang lagi loh!"


"Kalau kamu takut, kamu bisa meminta anak buahmu ikut denganku, lagipula kak Sino ada rapat penting dengan Fiyoni dan tidak mungkin kak Sino bisa ikut." gumamku meyakinkan Sino


"Oh mmm baiklah, nanti biar Caca dan Cici menjagamu."


"Iya suamiku, terimakasih sudah mengizikanku!"


"Tapi yang terpenting ingat... sebelum natal kamu harus sudah pulang!"


"Baiklah, semoga saja tidak ada badai salju..." gumamku pelan.


"Ya sudah mari makan sayang, dari tadi perutmu bunyi mulu loh!" gumam Sino menggandeng tanganku keluar ruang penyiksaan itu.


Sebenarnya aku malas izin kepada dua orang itu apalagi kepada Sino karena biasanya dia tidak akan mengizinkan aku keluar sendiri dengan Fadil semenjak aku bersama dengan mereka. Tapi aku bingung, tumben Sino mengizinkan bahkan menyuruh dua anggota terkuatnya ikut denganku. Pasti akan terjadi sesuatu yang sudah diketahui Sino dan sesuatu yang tidak ku ketahui, tapi bagaimanapun juga aku harus mengambil senjata rahasiaku di rumah sebelum puncak perang mafia benar-benar terjadi.

__ADS_1


__ADS_2