Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 132 : Dilukai Rhys


__ADS_3

Suara ombak yang keras terdengar di telingaku, genggaman erat ditanganku dan nafas yang dalam juga terasa disaat aku benar-benar tidur, aku membuka mataku dan melihat Sanjaya yang memelukku dan membiarkan aku masih tertidur di pangkuannya. Di luar aku melihat cuaca yang mendung dan banyak burung-burung laut yang terbang di sekitar kapal pesiar ini.


"Kamu sudah bangun sayang, apa kamu masih mengantuk?" Tanya Sanjaya pelan, aku menghela nafas dalam dan menganggukkan kepalaku pelan.


"Ya sudah tidurlah..."


"Nanti saja, dimana kakak dan Fadil?"


"Itu mereka sedang berdiskusi..." gumam Sanjaya pelan.


"Kamu tidak ikut?"


"Tidak, aku malas berdiskusi. Aku sama sepertimu, aku memilih langsung ke target dari pada harus ribet berdiskusi..."


"Oh mmm..." desahku kembali memejamkan mataku.


"Sani! Aku... eehh dia masih tidur? Tumben dia tidur lama..." gumam Fadil menatapku terkejut.


"Apa?" Tanyaku pelan.


"Oh ku kira kau masih tertidur..." Fadil memberikan sebuah kertas padaku.


"Menurut informasi organisasi misterius kalau kerjasama ini tidak diketahui organisasi manapun dan bisa dibilang kita bekerjasama secara diam-diam. Target kita tidak ada disini jadi kita tidak bisa langsung melakukannya saat ini dan mungkin saat ini akan ada pertarungan antar ketua mafia yang mungkin membuat kapal pesiar ini akan penuh denhan darah."


"Kau dapat informasi dari siapa?" Tanyaku dingin, Fadil menunjuk Sanjaya dan Alvaro.


"Oh begitu ya, lalu apa ada yang lain?" tanyaku pelan.


"Untuk saat ini hanya itu sih."


"Ya sudahlah biarkanlah bertarung aku malas meladeni mafia-mafia kecil itu..." ucapku dingin.


"Jadi kau tidak akan ikut pertatungan itu?" Tanya Alvaro serius.


"Tidak, aku hanya berfolus dengan targetku apalagi untuk apa aku melakukan semua itu?"


"Lalu apa yang kau lakukan? Target dari tuan Ben yang ada disini sudah kau bunuh semua lalu apa yang kau lakukan?"


"Aku yaahh... masih ada urusanku dengan Ryu Lucian, kalau kak Fadil ingin bertarung juga tidak masalah."


"Urusan? Jangan katakan urusan..."


"Tidaklah, aku tidak akan melakukan apa yang kau pikirkan kak Fadil... aku hanya ingin sedikit berdiskusi dengan Ryu Lucian masalah urusan kami sendiri, benarkah suamiku..." gumamku menatap Sanjaya dingin.


"Oh mmm kamu ingin membahas masalah kita berdua sekarang?" Tanya Sanjaya pelan.


"Menurutmu? Aku juga tidak mau membuang waktuku juga, lagi pula... kau juga tidak sabar mengakhiri ini semua, benarkan?" gumamku dingin.


"Memang, tapi saat ini aku malas membahas hal itu."


"Aaahh!! Kau menyebalkan lah Lucian!" gerutuku kesal.

__ADS_1


"Hei nama samarannya Ryu Lucian bukan Lucian! Uvap Vica dingin.


"Biarlah suka-sukaku!" Gerutuku kesal.


"Kau masih suka memanggiku Lucian ya dari pada Ryu Lucian."


"Nama itu juga aku yang memberikannya padamu kok! Jadi suka-suka akulah!" protesku kesal.


"Oh kamu masih ingat ya istriku..." gumam Sanjaya memelukku erat.


"Tentu saja, tapi... aku memang tidak tahu adikmu yang mana dan dimana aku membunuhnya aku benar-benar tidak ingat..." gumamku pelan.


"Jadi nama Ryu Lucian itu, Raelyn yang menamainya? Bukan tetua?" Tanya Alvaro terkejut.


"Bukan, istriku yang memberikanku nama samaran itu dan saat aku katakan kepada tetua, tetua setuju jika aku menggunakan nama itu."


"Oh kapan dia memberimu nama itu?"


"Saat kami kecil, sebelum kami terpisah selama bertahun-tahun Raelyn memberikanku nama Ryu Lucian, aku menemukan dia juga karena aku mencari nama Raelyn bukan nama Sani itulah kenapa aku sangat sulit mencarinya selama ini.." gumam Sanjaya memelukku erat.


"Hooaaammm..." desahku menguap kencang.


"Tidurlah sayang kalau masih mengantuk..." gumam Sanjaya pelan.


"Uuugghh nanti saja lah..." desahku merenggangkan tubuhku.


"Ada yang harus aku lakukan..." gumamku mengambil catatanku dan pergi ke balkon, aku menatap langit mendung di atasku dan menulis beberapa rencana di bukuku.


"Kau memang suka mengintip ya..." gerutuku menutup bukuku dengan cepat.


"Kenapa? Emang aku salah membaca rencanamu?"


"Ya salahlah! Tidak ada yang boleh membacanya kecuali Fadil."


"Benarkah?" Gumam Sanjaya merebut buku itu yang memhuatku terkejut.


"Hei kembalikan!" Protesku kesal.


"Mlleekk ambil sendiri kalau berani hahaha!" Tawa Sanjaya kencang yang membuatku kesal.


"Iiihhh kembalikan Lucian!!" Teriakku kesal tapi Sanjaya tidak menghiraukannya.


Disaat asik menggodaku, tepat di depaku aku melihat sebuah benda mengkilap terbang kearah Sanjaya. Dengan cepat aku mendorong Sanjaya yang membuatku terluka karena benda itu.


"S...Sani!!" Ucap Sanjaya terkejut.


"Kamu tidak apa?" Tanya Sanjaya panik melihatku terluka.


"Ada apa ini?" Tanya Fadil berjalan menuju ke balkon.


"Kenapa kau bisa terluka?" Tanya Alvaro terkejut, Fadil menatap sekitarku dan melihat sebuah senjata kecil di lantai.

__ADS_1


"Raelyn... sepertinya tikus kembali berulah..." gumam Fadil memberikan senjata itu padaku.


"Oh begitu ya..." gumamku mengarahkan lenganku yang berdarah kepada Sanjaya.


"Kenapa kamu..."


"Sudah terluka jadi ambillah."


"Apa kau gila! Kau kan terluka!"


"Sudah lakukan saja nanti keburu Sani terkena racun..." gumam Fadil dingin.


"Racun? Kau ingin membunuh kembaranku apa!" Protes Vica dingin.


"Racun ini tidak akan membunuhnya, tapi kalau tidak mau ya sudah..." gumamku pelan tapi Sanjaya langsung meminummya tanpa ragu.


"Apa kau gila Sanjaya! Kalau kau mati bagaimana!" Protes Vica kesal.


"Tidak terasa apapun kok."


"Ya pastilah, itu bukan racun mematikan hanya racun khusus untuk menyakiti Sani..." gumam Fadil santai.


"Racun khusus? Siapa yang ingin membuat adik kecilku menderita?" Ucap Alvaro dingin.


"Seseorang yang menginginkan Sani mati dengan penderitaan."


"Siapa? Katakan padaku!" Ucap Alvaro dingin.


"Hei kau itu musuh atau kawan sih sebenarnya?" Tanya Fadil menatap Alvaro dingin.


"Walaupun organisasiku dengan Sani bertentangan tapi, dia adik kecilku... aku akan menjaga adik kecilku!" Ucap Alvaro dingin.


"Dia... bukan lawanmu kak..." gumamku dingin.


"Bukan lawan Alvaro? Alvaro sangat hebat dan pastinya dia bisa melindungimu sayang..." guman Sanjaya menatapku serius.


"Benarkah? Lalu apa kalian bisa menjamin kalau kakak bisa menang melawan.... Rhys."


"Rhys? Maksudmu Rhys dari organisasi kegelapan?" Tanya Alvaro terkejut.


"Ya, Rhys yang memberikan nama untuk mafiaku saat aku kecil. Kami sebenarnya dekat tapi saat aku memutuskan di organisasi tersembunyi Rhys selalu berusaha membunuhku jika dia tahu dimana keberadaanku..." gumamku pelan.


"Tenang saja, aku akan menjagamu sayang."


"Aku saja bukan tandingannya apalagi kamu Sanjaya, dia sangat hebat bahkan lebih hebat dari pada tetua Ben."


"Yaah wajar sih organisasi kegelapan termasuk organisasi terkuat sampai sekarang."


"Memang dan aku tidak ingin kalian ikut terlibat dalam urusanku dengan Rhys, sampai kapanpun urusanku dengan dia tidak akan berakhir dengan cepat..." gumamku menatap sebuah helikopter yang letaknya lumayan jauh dari kapal pesiar.


Saat helikopter itu melewati kapal pesiar ini dengan ketinggian yang rendah membuatku bisa melihat seseorang pria tampan bermata merah keunguan tersenyum dingin ke arahku. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya tapi melihat dia pertama kali setelah bertahun-tahun membuatku sedikit takut kalau harus menghadapi Rhys sendirian.

__ADS_1


__ADS_2