Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 118 : Mengasingkan Diri


__ADS_3

Melihat wajah Vincent yang sangat memucat membuatku memutuskan memberikan darahku padanya, aku mengambil beberapa kantong darah di kotak obat yang aku bawa dan aku langsung melukai lenganku agar darahku bisa tertampung dengan baik di kantong darah itu.


Memberikan darahku, hanya itu yang bisa aku lakukan jika penyakit kami sama, yang sebenarnya ingin mati itu aku dan jika yang mati Vincent pasti aku yang akan bersalah apalagi Vincent seorang tetua dewan keadilan dan pasti aku disangkakan membunuh seorang petinggi di dewan keadilan.


Disaat aku membalut lukaku dengan perban, tiba-tiba dua wanita tadi yang bukan lain Vica dan Vera masuk ke dalam kamar dengan wajahbyang sangat khawatir.


"Apa yang kau lakukan dengan adik kecilku!" Ucap Vica sambil menatapku dingin. Dengan darah yang masih menetes karena perban yang aku balutkan tidak cukup menampung darahku yang keluar, aku memberikan beberapa kantong darah itu dan sedikit melangkah mundur.


"Berikan pada Vincent, beberapa kantong darah itu cukup untuk membuatnya tersadar dan sedikit mengobati penyakitnya..." gumamku pelan dan dua wanita itu terdiam menatapku terkejut.


"Jika dia membutuhkan darahku mintalah kepada Fadil, dia menyimpan banyak darah milikku dan juga katakan pada Vincent untuk berhenti mencariku ataupun mencintaiku, aku memang tidak pantas untuk dia..." gumamku memakai jubahku dan membalikkan tubuhku.


"Kau mau kemana Sani?" Tanya Fadil serius.


"Tidak ada, jagalah dia jangan khawatirkan aku."


"Tidak bisa kau ketuaku!"


"Karena aku ketuamu makanya aku memberimu tugas itu dan kau tidak bisa membantah permintaanku..." gumamku dingin dan segera pergi dari gedung itu dengan cepat.


"Mendengar perkataan menyakitkan, penghinaan dan kebenaran yang ada membuatku menyimpulkan kalau aku tidak pantas untuk hidup dengan siapapun bahkan dengan Ray dan jodohku sendiri, aku hanyalah pengganggu dan pengrusak hidup orang lain apalagi fakta ibuku yang melakukan sewenang-wenang dengan pria lain yang membuatku menganggap hidupku adalah karma atas perbuatan ibuku dimasa lalu.

__ADS_1


Aku berjalan masuk ke dalam hutan dan benar-benar jauh ke dalam hutan belantara ini, aku sama sekali tidak membawa ponsel, obat, bahkan persediaan makanan. Hanya dengan membawa diri dan senjata ini aku benar-benar mengasingkan diri di dalam hutan belantara ini.


Aku membangun sebuah pondok kecil yang aku bangun di dekat sungai kecil serta dengan memakan hasil buruan yang aku dapatkan masih memberikanku hidup selama berbulan-bulan lamanya. Menyendiri di tengah hutan benar-benar membuatku sangat tenang, tanpa memikirkan rencana dan mafia sama sekali.


Empat tahunpun telah berlalu, benang merah di tanganku masih terlihat jelas di tanganku tapi terlihat sama-sama jika mencoba melihat ujung benang merah itu.Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba benang merah itu muncul tapi walaupun terlihat jelas di kedua mataku tapi benang itu sama sekali tidak bisa disentuh sama sekali sehingga aku membiarkan hal itu terjadi.


Hari ini seperti biasanya aku berburu untuk makan malamku, ditengah perjalanan aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang tersesat. Aku menyembunyikan senjataku dan menghampirinya.


"Hei adik kecil, kenapa kamu ada disini?" Tanyaku pelan.


"A-aku tersesat dan aku tidak tahu jalannya..." rengek anak kecil itu kencang.


"Oh hmmm baiklah aku beritahu jalannya ya rapi jangan menangis..." gumamku menggandeng tangannya menuju jalan setapak.


"Ayaahhh....kakaaakk!!!" Teriak anak kecil itu berlari ke arah dua pria itu.


Melihat anak kecil itu bisa bertemu orang tuanya membuatku lega, aku menatap tiga orang itu dengan bahagia.


"Bagitu kak, bibi ini membantuku tadi kak Pangeran!" Ucap anak kecil itu senang. "Pangeran?" Ucapku pelan aku menatap anak laki-laki di depanku dan benar sama wajahnya mirip dengan anakku Pangeran, di tangan pria tampan disebelahnya aku melihat sebuah benang merah yang terhubung langsung dengan benang merah ditanganku yang membuatku terkejut kalau dua pria itu Pangeeran dan Vincent.


"Benarkah? Mmmn oh ya terimakasih ya nyonya..." ucap pria paruh baya itu menundukkan badannya pelan dan karena aku takut dia mengetahui identitasku membuatku segera pergi tanpa menjawab ucapannnya.

__ADS_1


"Ciiihhh menyebalkan!!" Gerutuku kesal dan segera kembali ke dalam rumah, diperjalanan ternyata pria itu berusaha mengejarku yang membuatku kesal


"Heeei tunggu!"


"Ciihh kenapa dia mengikutiku sih!" Gerutu kesal, aku segera bersembunyi di sebuah pohon yang besar dan melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya.


Tepat di depan rumah, aku benar-benar mengatur nafasku dan membaringkan tubuhku di tanah. Berlarian dan melompati pohon aku lakukan agar terhindar dari Vincent.


"Oh astaga aku jadi seperti burunan mafia, haish kenapa aku membantu gadis kecil itu sih!" gerutuku kesal.


"Tapi tunggu dulu, kenapa Pangeran bersama dengan Vincent dan... siapa gadis kecil itu?" gumamku terkejut, tiba-tiba hatiku terasa sakit yang membuatku sedikit meneteskan air mataku.


"Astaga Sani! Kenapa kau menangis sih! Bagus dong dia bisa melupakanmu!" gerutuku berusaha menghibur diriku sendiri.


"Ya udah, masak aja deh..." gumamku beranjak untuk memasak hasil buruanku tadi.


Disaat aku akan makan dan mencoba melepaskan lencana dan jubah hitamku, aku terkejut kalau ada satu lencanaku yang hilang.


"Haaahhh, eehhh dimana lencanaku yang satunya?" gumamku mencoba mencari salah satu lencana yang akubbawa tadi tapi aku tidak menemukannya.


"Aaahhh menyebalkan!!!" Teriakku kesal.

__ADS_1


Setelah kejadian itu aku benar-benar jarang keluar rumah bahkan aku juga hanya berburu di sekitar rumah dan tidak mau terlalu jauh dari rumah. Kehilangan lencanaku membuatku takut, aku takut kalau Vincent tahu keberadaanku apalagi aku sudah bertahun-tahun mengasingkan diri di hutan ini.


__ADS_2