
Seperti yang dibicarakan Ryraen sebelumnya, hari ini Ryraen mengajakku untuk pertama kali keluar dari ruangan setelah berbulan-bulan dia menculikku. Disaat aku mengelilingi rumah, aku menyadari kalau tempat ini bukan rumah tapi markas milik Ryraen dengan begini aku mudah melakukan tugasku dari tetua.
"Jadi, markasnya seperti ini ya..." gumamku dalam hati.
"Kau kemana saja?" Ucap Ryraen di belakangku.
"Aku hanya melihat-lihat saja."
"Apa yang kau cari?" Tanya Ryraen menekan daguku dari belakang.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat-lihat, apa itu tidak boleh?" Tanyaku dingin.
"Tidak ada yang boleh masuk ke markasku tapi saat kau..."
"Aku hanya ingin melihat-lihat saja apa itu salah? Kau malah bermain dengan wanita hamil yang..."
"Jika aku bisa menghamilimu sudah ku hamili kau!" Gerutu Ryraen kesal dan melepaskan tangannya di daguku.
"Tuan permisi..." ucap seorang pria berjubah di depan kami.
"Ya?"
"Musuh sudah menyerang wilayah utara tuan."
"Musuh? Ciihhh!! Perintahkan untuk memukul mundur!" Ucap Ryraen kesal dan pria itu pergi.
"Musuh? Siapa?" Tanyaku bingung.
"Yaahh musuh dari wilayah bayangan juga, walaupun aku ketua di wilayah bayangan tapi banyak wilayah bayangan yang ingin merebut kekuasaanku."
"Oh mmm apa mereka juga menyerang wilayah lain?" Tanyaku pelan.
"Ada, nama mafianya mafia bayangan tertutup."
"Bayangan tertutup ya? Apa mereka menyerang wilayah lain yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya?" Tanyaku serius
"Ya, yang menyerang wilayahku ini dan wilayah lain memang mafia itu."
"Oohh begitu, lalu ketuanya siapa?" Tanyaku penasaran.
"Entah aku tidak tahu."
"Kan kau ketua wilayah ini tidak mungkin kau..."
__ADS_1
"Wilayah bayangan sangat misterius, tidak ada yang tahu antara satu ketua dengan ketua yang lainnya!" Ucap Ryraen serius.
"Oh mmm begitu ya... Lalu bagaimana dengan mafia bayangan yang hadir di pertemuan khusus dulu?" Tanyaku serius.
"Mereka ya? Mereka hanya mafia tiruan dari wilayah kalian saja."
"Benarkah?" Tanyaku terkejut.
"Untuk apa aku berbohong, kami mafia bayangan bekerja di bawah bayang-bayang dan tidak menunjukkan bagaimana kami yang sebenarnya, apalagi untuk pertemuan wilayah lain kami tidak ingin ikut campur!" Ucap Ryraen serius.
"Lalu untuk apa kamu datang ke wilayah lain?" Tanyaku serius.
"Hanya ingin memastikan kalau ketua organisasi tersembunyi itu... Kamu."
"Lalu apa untungnya kamu tahu tentang hal itu?" Tanyaku dingin.
"Hanya menjalankan tugas saja."
"Tugas? Tugas apa?" Tanyaku bingung.
"Tugas rahasia pastinya untuk apa kau ingin tahu?" Tanya Ryraen dingin.
"Hanya ingin tahu, apa itu salah?" Tanyaku dingin.
"Tentu saja! Tugas itu tidak ada yang tahu lagi pula target tugasmu itu aku kan?" Ucap Ryraen dingin.
"Kau tidak bisa membohongiku Raelyn, kau pandai segala hal semenjak kehidupan kedua dan kau bisa melepaskan diri walaupun aku menculikmu, tapi kau sama sekali tidak melarikan diri..." gumam Ryraen dingin, Ryraen memakai jubahnya dan topeng di wajahnya.
"Walaupun tugasku tentangmu aku juga tidak bisa melepaskan diri, ikatanmu sangat kuat ditambah tali yabg kau gunakan tali khusus, jika sebuah tali besi pasti aku bisa melarikan diri dengan mudah!" Ucapku dingin.
"Oohh ternyata kamu tahu tentang tali khusus itu ya..." gumam Ryraen mendekatkan wajahnya di depanku.
"Ingat Raelyn, lakukan tugasmu atau aku akan menjadi suamimu..." ucap Ryraen dingin.
"Aku tahu dan mmmppphhh...." Ryraen menciumku dan berjalan mendahuluiku.
"Jika kau terlambat maka aju akan menibggalkanmu disini!" Ucap Ryraen dingin dan aku langsung mengikutinya dari belakang menuju ke mobilnya.
"Pakai topengmu!" Ucap Ryraen terduduk di mobil dan aku memakai topeng itu.
Selama perjalanan Ryraen terdiam sambil berpikir, entah apa yang dia pikirkan tapi yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana caraku melawan kakak kandungku sendiri apalagi aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya. Aku menyembunyikan rambutku dan tudung jubahku yang membuat Ryraen menatapku bingung.
"Kau mau menutupi identitasmu?"
__ADS_1
"Ya begitulah... Oh ya nanti jangan ikut campur masalahku dengan jika kau ingin rencanaku berhasil!" Ucapku dingin.
"Terserah kau."
"Oh ya. Kamu tahu siapa namanya?"
"Namanya Valentina Rycha Shin."
"Benarkah? Rycha ya..." gumamku menatap keluar jendela dan berpikir kenapa namaku, Raesya, Raetya, dan Rycha itu sama hanya berbeda nama tengah saja? Tidak mungkin kami kembar empat bukan? Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di pikiranku.
"Raelyn, mari kita turun!" Ucap Ryraen serius dan aku mengikuti Ryraen dari belakang.
Ryraen melangkahkan kakinya menuju ke sebuah bangunan yang sangat besar bahkan di sekeliling kami banyak orang-orang yang memakai jubah dan topeng hitam yang membuatku bingung apa mereka juga berbeda-beda mafia.
Di dalam ruangan yang berada diujung lorong aku melihat banyak orang yang memenuhi kursi dan kosong, Ryraen menaruk kursiku dan aku terduduk di kursi sebelah Ryraen. Aku menatap sekelilingku untuk mencari tahu dimana keberadaan Rycha berada.
Di depanku, aku melihat seorang pria yang memakai kalung yang sama denganku sedangkan di sebelahnya aku melihat seorang wanita yang terus menempel pada Lyraen yang membuatku kesal.
"Ciiih menyebalkan!" Gerutuku kesal tapi Ryraen menggenggam tanganku dan mendekatkan wajahnya di telingaku.
"Aku akan memancing dia nanti kamu yang melanjutkannya..." bisik Ryraen pelan dan aku mengangguk mengerti.
"Baiklah mari kita mulai pertemuan ini!" Ucap seorang pria bertopeng biru tua dengan serius.
Aku mengingat semua ucapan mereka semua dan merekamnya dengan anting yang sudah aku modifikasi menjadi sebuah perekam suara yang bisa aku gunakan untuk bukti atas semua tugasku.
"... Begitu hasil pemaparan dari saya, apakah ada yang setuju?" Ucap seorang wanita dengan tatapan dingin tapi tidak ada yang bertanya sama sekali.
"Haish, baiklah apakah mafia bayangan senja setuju?" Tanya pria bertopeng biru tua itu menatap wanita di depanku denganku serius.
"Tidak, pemikiran kalian seperti anak kecil sama seperti pria itu!" Ucap wanita itu mengarahkan telunjuknya ke arah Ryraen.
"Apa katamu?" Ucap Ryraen kesal dan aku langsung menggenggam erat tangannya.
"Bilang gini... Memangnya menurutmu bagaimana?" bisikku pelan.
"Oohh mmm memangnya menurutmu bagaimana rencana yang tepat itu?" Ucap Ryraen dingin.
"Semua itu harus dilakukan oleh bawahan jadi untuk apa ketua harus ikut campur? Benarkan sayang..." gumam wanita itu sedikit memeluk Lyraen dengan manja yang membuatku muak.
"Benar sekali sayang..." ucap Lyraen manja yang membuatku benar-benar muak.
"Lalu kau mengorbankan semua bawahanmu hanya untuk melindungimu?" Ucap Ryraen dingin.
__ADS_1
"Tentu saja. Itu tugas bawahan jadi harus dilakukan jika tidak maka percuma tidak bisa menjaga ketuanya!" Ucap wanita itu dingin sambil terus bermanja dengan Lyraen.
"Tidak bisa seperti itu!!" Protes Ryraen dingin dan mereka berdua terus saja berdebat sedangkan aku menatap Lyraen dengan kesal, aku tahu Lyraen menatapku dengan bingung tapi dia terus menerus bermanja dengan wanita itu yang membuatku benar-benar muak di buatnya.