
Rasa sakit dileherku tidak aku pedulikan sama sekali, pasrah... hanya itu yang aku lakukan saat ini dan kematian yang tenang benar-benar aku inginkan untuk menyelesaikan semuanya sejak dulu. Tapi tidak lama kemudian Saputra melepaskan gigitannya dan menatapku sedih sama seperti yang terjadi sebelumnya.
"Apa kau ingin terbunuh?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Tidak ada alasannya, jadi lakukanlah..." gumamku pelan.
"Apa kau kira aku akan membunuhmu?"
"Tentu saja, dan itu yang terjadi bukan?" Tanyaku pelan dan Saputra hanya terdiam sambil meneteskan air matanya.
"Bunuh aku Saputra, itu adalah jawabanku di masa lalu saat kau bertanya apa yang aku inginkan... hanya itu yang aku inginkan jadi lakukanlah..." gumamku pelan. Saputra terduduk di perutku sambil memegang senjata khusus milih Fadil di tangannya.
"Saputra! Apa kau gila akan membunuh dia?" Teriak Fadil kencang.
"Kalau kau sampai berani membunuh adik kembarku... akan ku bunuh kau!" Teriak Raesya dan Raetya bersamaan.
"Lakukanlah..." teriakku kencang dan Saputra mengangkat senjata itu keatas.
"Hentikan Saputra!!!" Teriak seorang pria kencang, aku menoleh ke kananku dan melihat Revaro yang berjalan kearah kami berdua dengan tatapan dingin menakutkannya.
"Revaro?" Teriak ayah dan kedua kakakku terkejut.
"Saputra, kau tidak boleh membunuhnya!"
"Tapi dia ingin aku membunuhnya!"
"Sudah aku katakan kan, jangan sakiti adik kecilku! Apa kau masih tidak mengerti!" protes Revaro kesal.
"Tapi dia yang ingin."
"Walaupun begitu kau tidak boleh melakukannya!" protes Revaro kesal tapi Saputra hanya terdiam mengayunkan senjata itu ke arahku yang membuat semua orang teriak dengan kencang padahal Saputra menancapkan senjata itu ketanah sambil menundukkan kepalanya.
"Aku tahu... aku tidak bisa melakukannya... aku sangat mencintai dia... aku tidak bisa melakukannya..." rengek Saputra menangis dengan kencang.
"Aku sangat mencintai Raelyn, dia... dia wanita yang sangat spesial bagiku... aku tidak bisa melakukannya... maaf... aku tidak bisa melakukan keinginanmu Raelyn..." rengek Saputra memelukku erat dan aku hanya menghela nafasku berat.
"Seharusnya kau melakukan keinginanku Redgar." Gumamku mendorong Saputra dan mencoba berdiri.
"Kau mau kemana?" Teriak Revaro kencang tapi aku hanya terdiam dan terus berlari pergi sekuat semampuku untuk bisa menghilang.
Gagal mati benar-benar membuatku frustasi, aku sangat ingin kematian yang damai tapi selalu saja gagal oleh orang lain. Aku terduduk di tanah dan menangis tanpa suara agar tidak ada siapapun yang mengetahui keberadaanku.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa selalu gagal? Kenapa aku ingin mati selalu gagal? Kenapa!!!" teriakku kesal dan membenturkan kepalaku di pohon dengan keras. Saat aku terus mmbenturkan kepalaku tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dan menahan tubuhku sehingga aku tidak bisa membenturkan kepalaku.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh melakukan itu!!" Ucap pria itu pelan.
"Bunuh aku Saputra! Bunuh aku!" rengekku kencang tapi Saputra hanya terdiam memelukku dengan tangan yang sangat bergetar.
"Tidak, aku tidak bisa melakukannya... aku tidak ingin kehilangan wanita yang aku cinta, aku tidak ingin kehilanganmu Raelyn, aku sangat mencintaimu... kamu sudah menyelamatkanku hari ini.. kamu sudah menyelamatku saat kecil, aku tidak bisa membunuhmu, aku tidak bisa melakukannya..."
"Tapi Saputra..."
"Raelyn aku mohon... jangan terus meminta aku untuk membunuhmu, aku tidak bisa melakukannya. aku benar-benar tidak bisa melakukannya!"
"Kenapa... kenapa kamu..."
"Raelyn, aku sangat mencintaimu... aku benar-benar mencintaimu... aku tidak bisa melihatmu mati, aku tidak bisa... aku sangat mencintaimu... jadi aku mohon padamu... tetaplah bersamaku... hidup bersamaku..." Rengek Saputra terus memelukku erat yang membuatku hanya menghela nafas panjangku dan membalas pelukannya.
"Terimakasih..." gumamku pelan tetapi Saputra terus menangis di pelukanku.
Walaupun Saputra tidak membunuhku tapi kehilangan banyak darah bisa membunuhku secara perlahan, walaupun terasa sangat sakit tapi aku tidak ingin Saputra menyadarinya. Aku kira kehilangan darah membuatku bisa mati dengan mudah tapi ternyata penyakitku kambuh dan aku terbatuk tanpa henti.
"Raelyn... kamu kenapa?" Tanya Saputra khawatir tapi aku hanya terdiam sambil terus terbatuk.
"Haish kalian disini ternyata..." desah Fadil mengatur nafasnya.
"Huuuhh itu... penyakitnya kambuh... apalagi kamu meminum banyak darahnya..."
"B-benarkah? Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Beri saja darahmu."
"Darahku?" gumam Saputra menatap pergelangan tangannya.
"Eehh j-jangan nanti... mmppphhh..." Saputra langsung memelukku erat
"Udah minumlah Raelyn..." gumam Saputra dan aku menggigitnya pelan.
"Hmmm untung kau menemukannya Saputra, kalau tidak pasti akan susah mencarinya."
"Benarkah? Dia selalu menyelamatkanku dan aku sangat berterimakasih padanya."
"Berterimakasih?"
"Ya, dia sedikit mengurangi rasa sakit akibat kutukanku."
"Tapi dia tidak melakukan apapun loh, dia masuk ke kerajaan hanya ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf dan setelah itu dia akan pergi menghilang."
__ADS_1
"Pergi? Kemana?"
"Entah, tapi yang pasti dia ingin meminta maaf padamu karena tidak berhasil menyelamatkanmu waktu itu."
"Hmmm ya aku dengar dari orang yang menjadi penggantiku, tapi dia tidak bersalah apapun kok. Jadi... tidak akan aku ijinkan kamu pergi meninggalkanku lagi Raelyn!" Ucap Saputra memelukku erat dan aku melepaskan gigitanku.
"Kenapa? Kalau kau ingin membunuhku maka bunuhlah..." gumamku pelan.
"Tidak! Aku tidak akan melakukan itu!"
"Tapi kan..."
"Tidak ada tapi! Aku mencintaimu dan aku tidak ingin kau pergi dariku!"
"Tapi aku seorang janda sekarang, aku sudah pernah punya anak dan..."
"Dan kau kira aku akan mempermasalahkan itu? Aku tidak peduli Raelyn!"
"Kenapa kau tidak peduli? Kau seharusnya memilih wanita lain dari pada aku!" Protesku kesal tapi Saputra menekan kedua pipiku dengan tangannya.
"Raelyn dengar... aku mengetahuimu lebih dari siapapun, aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu... aku... dan kamu... akan tetap bersama selamanya..." ucap Saputra menciumku lembut dan aku hanya terdiam.
"Kenapa kamu melakukan hal itu?"
"Karena aku mencintaimu dan itu adalah faktanya."
"Tapi kan..."
"Dengar Raelyn sayang, aku sangat mencintaimu sejak kita bersama di perang mafia tapi disaat aku tersadar dari lukaku... kamu tidak ada disisiku yang membuatku depresi di tambah kutukanku kambuh yang membuatku benar-benar tidak memiliki semangat hidup, keluargaku mengurungku agar aku tidak membunuh orang lain dan hidup terantai selama bertahun-tahun tapi... kau datang dan menyelamatku untuk kesekian kalinya. Aku sama sekali tidak percaya kalau aku akan bertemu denganmu malaikat kecilku..." gumam Saputra terus menerus menciumku lembut.
"Jadi kutukanmu sejak lahir?" Tanya Fadil terkejut.
"Ya benar, tapi tidak pernah kambuh."
"Oh begitu ya..." desahku pelan dan Saputra kembali menekan kedua pipiku.
"Raelyn aku mohon jangan meninggalkanku ya, terus temani aku di suka dukamu dan suka dukaku... aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu Raelyn... berjanjilah padaku untuk terus bersamaku..." ucap Saputra menatapku sedih sedangkan aku hanya terdiam menganggukkan kepalaku pelan.
"Benarkah? Aaaaa terimakasih... terimakasih Raelyn!! Mulai sekarang... kau adalah istriku!!!" teriak Saputra senang.
"Eehh tapi kan..."
"Ucapan seorang putra mahkota tidak bisa dibantah!" Ucap saputra dingin dan kembali menciumiku.
"Haish terserahlah..." desahku menyandarkan tubuhku di pohon dan menatap langit yang mulai cerah karena matahari perlahan-lahan terbit. Antara senang dan tidak sama sekali tidak bisa aku bedakan, tapi aku harus mencoba mengubah hidupku di kehidupanku yang ini dan lagi aku harus mencari tahu tentang ritual terlarang yang dilakukan kembaranku kepadaku.
__ADS_1