Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 164 : Pergi Ke Markasku


__ADS_3

Matahari muncul di ufuk timur dan suhu udara yang sangat dingin menusuk tulang, aku membuka kedua mataku dan tidak menemukan siapapun di sampingku.


"Bukannya... semalam Saputra tidur denganku ya?" gumamku pelan, aku mengusap kedua mataku dan merenggangkan tubuhku, tiba-tiba pintu kamar terketuk dengan kuat dan terdengar suara Fadil dari luar.


"Sani, kau sudah bangun belum?"


"Udah, masuklah kak Fadil!" Ucapku pelan dan Fadil masuk ke dalam kamar.


"Ada apa kak Fadil?" Tanyaku serius.


"Tidak ada. Hanya saja kamu dicari tetua organisasi saja."


"Tetua organisasi? Kenapa?"


"Tadi mau memberikanmu ini..." gumam Fadil memberikan sebuah kotak padaku, aku segera membukanya dan melihat sebuah kertas tugas di dalamnya.


"Oh baiklah, oh ya kak Fadil... Kemana Saputra?" Tanyaku serius.


"Dia pergi."


"Pergi kemana?" Tanyaku serius.


"Dia ada urusan di organisasinya."


"Organisasi? Organisasi apa?"


"Yaahh bisa dibilang organisasi terkuat yang menjadi musuh organisasi tersembunyi."


"Benarkah? Organisasi musuh? Organisasi dia itu seperti apa?" Tanyaku bingung.


"Yaah susah di jelaskan, intinya ya organisasi dia adalah organisasi musuh dari organisasi tersembunyi."


"Ohh begitu ya..."


"Ya udah ayo kita pulang, ayahmu sudah pulang tadi."


"Pulang? Kenapa ayah pulang tidak mengatakan padaku?"


"Ayahmu ada urusan di organisasinya jadi ayahmu pulang dahulu."


"Oh mmm begitu ya, kak Fadil aku ingin pergi ke markasku."


"Pergi ke markas? Apa yang ingin kamu lakukan?"


"Hanya ingin membahas sesuatu denganmu kak Fadil."


"Di rumah kan bisa, untuk apa ke markas?"


"Di luar banyak mata-mata lagi pula... aku tidak yakin dengan kehidupanku ini, aku takut kalau tidak seperti kehidupanku sebelumnya kak Fadil..." gumamku pelan.


"Ya sudah mari pergi... aku sudah berpamitan dengan orang-orang di kerajaan ini sebelum mereka juga pergi rapat antar kerajaan tadi."

__ADS_1


"Oh mmm baiklah..." desahku segera berjalan pergi. Selama di menyusuri kerajaan Arre ini aku sama sekali tidak menemui siapapun selain pembantu dan bawahan para putra mahkota kerajaan saja.


"Apa yang kamu cari Sani?" Tanya Fadil menatapku bingung.


"Mmm tidak ada kok..." gumamku melangkahkan kakiku dengan cepat melewat hutan belantara di sekitar kerajaan.


"Kau cepat sekali jalannya, emang kau tahu dimana letak markas kita?"


"Tahulah, aku yang mencarinya kok!"


"Tapi markas kita sudah berpindah tempat saat kamu masih tidak sadarkan diri Sani, apa kau tidak ingat kalau kau terluka karena kita diserang musuh di markas lama?" Tanya Fadil yang membuatku menghentikan langkahku.


"Di serang musuh?" Tanyaku terkejut.


"Iya loh, kau terluka parah dan akhirnya kau tidak sadar selama berbulan-bulan."


"Tapi kan markas kita sangat aman dan..."


"Kau yang membuat musuh tahu keberadaan markas kita."


"Aku? Emang apa yang aku lakukan saat itu? Aku ingat aku tidak pernah melakukan kesalahan sewaktu aku kecil!"


"Itu di kehidupanmu yang lain Sani, ini kehidupanmu yang baru dan seperti yang kau katakan kalau kehidupanmu ini sangat berbeda dengan kehidupanmu yang sebelumnya di tambah lagi aku yakin banyak orang-orang baru yang tidak pernah kau jumpai di kehidupanmu sebelumnya kan?"


"Oh mmm benar juga sih, dan itulah yang membuatku belum mengerti celah di kehidupanku kali ini."


"Nah itu kamu tahu!" Gumam Fadil berjalan mendahuluiku memasuki ke sebuah pintu yang tertutupi semar belukar.


"Ini salah satu akses masuk ke markas kita, aku membuat ada tiga jalur yang panjang dan dua jalur pendek untuk bisa masuk ke dalam markas kita, ini salah satu jalur panjangnya..."


"Bedanya apa?"


"Ya jelas beda, nanti kamu akan tahu apa bedanya..." gumam Fadil menutup pintu itu dan berjalan menuruni tangga yang gelap di depanku.


"Oh mmm kak Fadil, aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"Bertanya apa?" Tanya Fadil serius.


"Kamu yang pernah melalui kehidupan ini kan? Coba ceritakan padaku semuanya sampai kau menemukanku di atas makam Satria?"


"Cerita? Itu pasti akan panjang dan..."


"Ya sudah intinya saja, aku ingin mendengar darimu apalagi kan kamu yang sedari dulu bersamaku kak Fadil."


"Oh mmm baiklah, dulu saat kamu kecil yaahh sama seperti kehidupanmu yang lalu malah mirip dengan cerita masa kecilmu tetapi semua berubah disaat kamu berumur delapan tahun."


"Umur delapan tahun?" Tanyaku terkejut.


"Yaah di umur delapan tahun kau mengenal pria yang bernama Han, kau benar-benar sangat mencintainya bahkan apapun itu kau berikan padanya tanpa kau sadari itu cara terbaik untuk menyerang markasmu, Han hanya alat musuh mafia kita untuk bisa menghancurkanmu."


"Tunggu, jadi Han yang..."

__ADS_1


"Yups benar sekali, di belakang Han ada beberapa mafia dan organisasi musuh yang menginginkanmu mati. Keinginan mereka benar-benar terjadi dan kamu tidak sadarkan diri selama berbulan-bulan ya bisa dikatakan hampir tiga tahun kau tidak sadarkan diri dan kau mulai sadar saat ayah kandungmu mendatangimu dan memberikan obat padamu ya akhirnya kamu sadar dan kembali melalui kehidupanmu secara normal..."


"Lalu?" Tanyaku serius.


"Lalu di umurmu sepuluh tahun kau mendapatkan tugas dari tetua organisasi untuk menyelidiki mafia milik Putra Angeliam itu tapi ya kau malah terjatuh di perangkap Putra Angeliam dan kau memiliki anak laki-laki yang kalian beri nama Satria itu."


"Sepuluh tahun? Tapi kan aku memiliki Satria di umur..."


"Sani dengar ini kehidupanmu sekarang dan berbeda dengan kehidupanmu yang lalu, lagi pula aku mendengar dari Saputra kalau kedua kembaranmu sedikit melakukan kesalahan pada ritual terlarang mereka."


"Kesalahan?"


"Ya, tapi Saputra tidak tahu apa kesalahan itu hanya saja dia mengatakan kalau perbedaan di kehidupan ini dan dikehidupanmu yang lalu itu karena kesalahan itu."


"Benarkah? Apa semua ini harus sama?" Tanyaku serius.


"Ya benar, semua harus sama seperti kehidupanmu sebelumnya tapi kan kenyataannya di kehidupanmu yang sekarang sangat berbeda dengan kehidupanmu yang lalu."


"Oh begitu ya, lalu menurut kak Fadil... apa aku memiliki musuh atau seseorang yang harus diwaspadai?" Tanyaku menatap Fadil yang sedang membuka pintu di depan kami dan terlihat sebuah ruangan yang luas dengan penjagaan yang ketat di setiap pintunya.


"Ada, banyak sekali musuhmu tapi ada satu orang yang harus kau waspadai."


"Satu orang? Siapa?" Tanyaku penasaran.


"Nama aslinya Raelan Putra Permata, dia adalah seorang pria yang terkenal licik, kejam, dan menakutkan... Dia seorang ketua organisasi terkuat di wilayah utama."


"Wilayah utama? Tunggu, aku tidak pernah mendengar hal itu di kehidupanku sebelumnya?" Tanyaku terkejut.


"Kan memang kenyataan di kehidupan ini berbeda dengan kehidupanmu sebelumnya jadi jangan terpaku dengan kehidupan yang lalu Sani."


"Oh mmm baiklah, lalu apa ada yang lain?"


"Kalau orang yang harus sangat kau waspadai hanya itu saja sih, selebihnya kau harus berhati-hati dengan musuh mafia kita saja."


"Musuh kita? Siapa saja?" Tanyaku serius, Fadil memberikanku sebuah buku dan aku langsung membacanya.


"Eehh sebanyak ini?"


"Ya, dan pastinya ada beberapa musuh yang kau kenal."


"Benar tapi sebagian besar tidak aku ketahui kak Fadil."


"Yaah kau akan tahu nantinya, umurmu masih muda dan kau masih punya banyak waktu untuk memahami kehidupanmu yang baru ini."


"Mmm kak Fadil... kenapa organisasi Saputra itu musuh kita?"


"Yaah sebelumnya kau harus tahu dulu siapa Saputra yang sebenarnya..." gumam Fadil meletakkan secangkir coklat hangat di meja depanku.


"Siapa? Jelaskan padaku!!" Ucapku serius.


"Nanti dulu, aku mau mandi dahulu..." gumam Fadil berjalan meninggalkanku sedangkan aku hanya terdiam membaca kembali buku pemberian Fadil yang aku pegang ini.

__ADS_1


__ADS_2