
Setelah berjalan melewati beberapa lorong, akhirnya kami berdua sampai di sebuah aula yang sangat besar dan dipenuhi oleh banyak orang yang memakai pakaian mewah, aku berusaha melepaskan genggaman Ray tapi Ray tidak mau melepaskan genggamannya jadi aku putuskan untuk berjalan di belakang Ray.
Selama berjalan, aku melihat banyak wanita yang terus menatap Ray dan ada pula yang berbisik-bisik pelan, aku berusaha mendengarkan ucapan para wanita itu dengan teliti.
"Eeh lihat pangeran tampan datang." ucap seorang wanita pelan.
"Ya benar, aku benar-benar ingin memilikinya!" ucap wanita yang lain pelan.
"Siapa yang tidak ingin memiliki pria paling tampan di Asia ini bahkan dia benar-benar dingin dan misterius."
"Kita lihat saja siapa yang bisa meluluhkannya di malam ini dan menang melawan semua wanita disini, dia lah yang harus menikahinya, sama seperti ucapan tetua."
"Ya benar, aku harus bisa meluluhkannya!" ucap beberapa wanita serius.
"Tetua? Tetua di Asia kah?" gumamku dalam hati, aku mengamati sekitarku dan melihat seorang pria tua yang sedang terduduk di balkon bersama guru Rendi sambil tersenyum dingin kearah kami.
"Oh apa dia ya..." gumamku dalam hati, aku menarik tangan Ray dan Ray sedikit memperlambat langkahnya.
"Aku ada rencana, lepaskan tanganku kalau kamu ingin rencanaku berhasil..." gumamku pelan.
"Tidak mau!"
"Sayang dengar, aku juga memiliki tugas dari guru Rendi malam ini jadi aku harus melakukan rencanaku dahulu,ikuti saja arahanku ya apa kamu mengerti?"
__ADS_1
"Hmmm baiklah, jangan biarkan aku membuat kesalahan lagi..." gumam Ray melepaskan genggamannya.
"Tenang saja..." gumamku memakai topeng wajahku dan berjalan pelan jauh di belakang Ray.
Aku mengamati sekitarku sambil mencari mata-mata yang dimaksud guru Rendi sekalian mengamati Ray di depanku. Belum saja berjalan beberapa langkah, banyak wanita yang berusaha menawari Ray sebuah wine dan wiski dengan rayuan-rayuan gombalnya, walaupun Ray terlihat tidak peduli dan dingin tapi sebenarnya disisi lain dia merasa takut, takut kalau menyakitiku lagi.
Setelah mengamati sekelilingku, aku menemukan beberapa pria dan wanita yang menjadi mata-mata di pesta malam ini, aku menyuruh bawahanku yang menyamar juga untuk mengamatinya dan menangkapnya jika Fadil memberikan mereka kode selain itu Fadil juga memberiku informasi kalau tetua mafia Asia adalah musuh ayah dimasa lalu bahkan sekarang, pesta pertemuan kali ini adalah untuk menjebak Ray agar dia melakukan kesalahan dan mengadu dombanya dengan guru Rendi yang sedang terduduk di sebelahnya, dengan demikian dia bisa menggantikan kedudukan Ray dengan anaknya yang bernama Samuel yang dulu adalah mantan kekasihku.
Dalam pesta pertemuan ini, memiliki peraturan kalau Ray sebagai pemilik wilayah tidak boleh mengeluarkan senjata sama sekali dan yang boleh mengeluarkan senjata hanya wanita yang berusaha merebut Ray, semua orang tahu kalau aku adalah istri Ray dan aku adalah murid kesayangan guru Rendi, saat ini Ray menjadi korbannya karena dengan rencana tetua itu akan membuat aku dan guru Rendi marah dan memenjarakan Ray apalagi Ray adalah orang terkuat setara denganku dan kelemahannya hanyalah aku seorang dan semua orang tahu akan hal itu.
"Tuan Ray anda sangat tampan maukah anda berdansa denganku..." ucap beberapa wanita di depan Ray sedangkan Ray terus menolak dengan nada dinginnya tapi dia tampak benar-benar terpojok oleh wanita-wanita itu.
Melihat Ray terpojok, aku segera berlari keluar aula dan berganti pakaian yang telah disiapkan bawahanku dan tidak lupa menyembunyikan senjataku di balik gaunku, setelah mengganti pakaianku aku segera kembali ke dalam aula. Di dalam aula aku melihat banyak orang yang berdansa dan Ray hanya berdiri di tengah lantai dansa sambil di kelilingi banyak wanita genit yang membuat Ray tidak melakukan apapun.
"Haahahah istri? Untuk apa anda memperdulikan istri anda kalau anda saja datang ke pesta sendirian, kami datang kemari hanya ingin menikah denganmu tuan Ray!" protes seorang wanita kesal.
"Ya benar!" protes semua wanita kesal.
Aku mengambil gelas wine di depanku dan sedikit mengangkat gelasku yang membuat Ray terfokus menatapku, aku sedikit menggerakkan bibirku yang membuat Ray mengangguk pelan. Aku menyuruh Ray untuk menantang mereka agar aku bisa menyerang mereka semua disini dan sekalian membalaskan demdamku kepada Samuel yang pastinya ada di pesta ini juga.
Ray menggerakkan kedua matanya dan ada seorang bawahan Ray yang memberikanku sebuah obat lalu aku segera meminumnya, aku tidak tahu obat apa itu tapi aku tetap meminumnya.
"Baiklah kalau kalian ingin bermain denganku malam ini kalian bisa menunjukkan ya kepadaku kalau kalian pantas mendapatkanku, lagi pula...aku sangat benci seorang wanita yang sangat lemah!" ucap Ray dingin, Ray berjalan mundur ke depan meja yang di penuhi makanan itu dan mengambil segelas wiski di tangannya.
__ADS_1
"Haaah hahaha baiklah aku tunjukkan kehebatanku!" teriak seorang wanita cantik mengangkat senjatanya ke atas.
"Aku akan menunjukkan bagaimana kekuatanku yang sesungguhnya!" teriak wanita lainnya mengangkat pedang mereka dan tanpa aba-aba apapun mereka saling membunuh satu sama lainnya. Melihat kericuhan yang terjadi aku melihat tetua Asia itu berbicara sesuatu kepada guru Rendi, walaupun guru Rendi sudah tahu semuanya tapi dia menatap Ray dengan muka kesal.
"Heeh apa mereka benar-benar bodoh!" gerutuku berjalan melewati wanita-wanita itu bertarung, dengan jubah hitam milikku mungkin mereka kira aku hanya pelayan di pesta ini.
Aku berjalan mendekati Ray dan dengan nampan yang berisi beberapa botol wine aku berpura-pura seperti pelayan pesta. Saat aku berada di dekat Ray, Ray langsung menggenggam erat tanganku dengan tangan gemetarnya tapi Ray berusaha terlihat baik-baik saja.
"Apa kamu yakin Sayang?" tanya Ray pelan.
"Tenang saja, jangan khawatir..." gumamku pelan.
"Hmm baiklah..." desah Ray melepaskan tanganku.
Setelah beberapa saat pertarungan para wanita itu berlangsung, aku melihat beberapa wanita yang terlihat kuat masih berdiri tanpa luka sama sekali di tubuh mereka, mereka nampak senang bisa mengalahkan banyak wanita yang menjadi lawannya di pertarungan malam ini.
"Hahaha hanya segitu kekuatan kalian!" tawa seorang wanita cantik mengangkat pedangnya dengan bangga.
"Kau jangan sombong dulu! Banyak wanita yang belum mati kau tahu!" gerutu wanita lainnya kesal.
"Kalian bukan tandinganku! Ray sampai kapanpun adalah milikku!!" teriak wanita cantik itu kesal dan menyerang beberapa wanita yang bertahan.
"Astaga demi memiliki Ray sampai segitunya dong? Apa tidak ada pria lain apa gimana sih!" gerutuku dalam hati kesal.
__ADS_1
Aku mengambil racun di sakuku dan meneteskan racunku di tempat pedang milikku, aku harus mempersiapkan semuanya sebelum menyerang mereka. Dengan tubuhku yang belum sembuh seutuhnya aku takut kalau aku akan gagal mengalahkan mereka dan kejadian menyakitkan kembali terjadi di malam ini.