Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Season 2 : Episode 3 : Menyelamatkan Rayan


__ADS_3

Suara angin yang kencang terdengar diluar tempat persembunyianku, aku membuka kedua mataku dan melihat Rayan yang sedang memasak sesuatu di perapian, aku langsung beranjak menemui Rayan dan melihat Rayan membakar sebuah daging.


"Kamu sudah bangun Raelyn?" Tanya Rayan pelan, aku terduduk disampingnya dan menatap wajahnya yang membiru.


"Kamu pergi di tengah badai?" Tanyaku pelan.


"Ya aku tadi memburu beberapa rusa untuk kamu makan." Rayan menunjuk setumpuk beberapa ekor rusa di pojok ruangan.


"Kenapa kamu tidak membangunkanku?"


"Kamu tidur dengan lelap jadi aku tidak berani membangunkanmu."


"Oh ya?" Gumamku menatap darah yang bercucuran di pakaian Rayan.


"Rayan, apa kamu terluka?" Ucapku dingin.


"Mmm tidak, aku hanya..." aku menarik bahu Rayan dan menatapnya dingin.


"Rayan kau tidak bisa menipuku!" Ucapku dingin dan melepaskan pakaian Rayan, tubuh yang penuh dengan darah membuatku terkejut, aku merobek pakaianku dan menjilat sedikit darah dengan tanganku.


"Racun itu ya..." gumamku mencampurkan beberapa botol racun dan meminumkannya kepada Rayan yang membuatnya terkejut.


"Uuhhuukkk... Uuhhuukkk..." Rayan terus terbatuk-batuk sedangkan aku langsung membalutnya dengan selembar kain yang telah aku lumuri obat khususku.


"Sudah, bagaimana rasanya?" Tanyaku pelan.


"Aku... Haus Raelyn..." gumam Rayan pelan dan aku langsung melukai lenganku lalu membungkam mulut Rayan dengan tanganku.


"Oh ya kau masih punya utang penjelasan padaku Rayan!"


"Mmm apa yang ingin kamu ketahui?"


"Siapa yang melukaimu?"


"Saat itu... Musuh."


"Musuh?"


"Ya musuh yang mencarimu."


"Tadi juga?"


"Ya tapi beda musuhnya..." gumam Rayan pelan.


"Coba jelaskan padaku detailnya."

__ADS_1


"Saat itu aku dan Ray ditipu Valentino setelah aku bilang aku ingin mencari kepala mafia tersembunyi, Valentino awalnya marah lalu dia menipu kami pergi kesebuah tebing di atas tempat kamu menemukan Ray."


"Lalu apa yang terjadi?" Tanyaku serius.


"Valentino langsung menembakkan busur panah ke Ray dengan cepat aku melindunginya dan tidak aku sangka itu berisi racun. Melihatku terluka Ray mengajakku menjatuhkan diri ke bawah tebih yang sedikit bersalju, dengan panik Ray bingung untuk mengobatiku akhirnya aku memukul kepala belakang Ray dan aku pergi bersembunyi agar Ray tidak menemukanku."


"Apa itu juga yang kamu lakukan di kehidupan lalu?" Tanyaku pelan.


"Ya benar, aku melakukannya juga. Aku tidak tega melihat adik kembarku menderita... Hanya itu."


"Tapi kamu membuatku menderita Rayan..." desahku pelan.


"Maafkan aku istriku, aku tidak memiliki niat itu... Aku..." gumam Rayan pelan sedangkan aku hanya terdiam menundukkan kepalaku, Rayan mencoba terbangun dan memelukku erat.


"Maafkan aku istriku, maaf kalau aku membuatmu menderita, aku saat itu memang sangat bodoh, seharusnya aku memilih hidup agar bisa bertemu denganmu tapi aku memilih sebaliknya jadi maafkan aku istriku..."


"...Aku berjanji akan menjagamu dan membuatmu bahagia istriku untuk menebus dosaku jadi jangan sedih lagi ya..." desah Rayan menciumku lembut.


"Ya, aku tahu."


"Sayang kenapa kamu terlihat sangat sedih?"


"Tidak ada, aku hanya..." desahku pelan.


"Katakan saja istriku."


"Sayang dengar, tubuhmu adalah milikku, hatimu adalah milikku, setetes darahmu adalah milikku, sejengkal apapun yang kamu milikki adalah milikku. Jadi tidak aku ijinkan siapapun memilikinya ataupun menyentuhnya!" Ucap Rayan dingin dan aku hanya terdiam menganggukkan kepalaku pelan.


"Ohh mmm baiklah terimakasih Rayan."


"Tidak perlu berterimakasih, ini caraku menebus kesalahanku padamu istriku."


"Mmm lalu bagaimana kamu bisa terluka lagi hari ini?" Tanyaku pelan


"Aku tadi memang ingin berburu untukmu Raelyn, aku berpikir karena hari ini sedang badai jadi tidak mungkin kita pergi ke mafia pusat pagi ini jadi aku berinisiatif mencari daging untuk kita makan."


"Lalu. Apa yang terjadi?"


"Di tengah aku membawa daging terakhirku ke persembunyian, aku bertemu dengan Valentino dan Randi. Mereka menanyakan kenapa aku bisa hidup dengan racun langka milik Valentino dan Randi berkata kalau hanya kamu yang bisa menawarnya, mengetahui hal itu mereka bertanya dimana keberadaanmu yang membuatku berpikir aku harus menjauh dulu dari tempat ini agar mereka tidak menemukanmu."


"Lalu luka ini?" tanyaku menyentuh pembalut di dada Rayan.


"Karena aku tidak mau memberitahukan keberadaanmu membuat Valentino dan Randi langsung melukaiku, awalnya aku bisa menghindar tapi tidak aku sangka aku terpeleset dan terluka di dada. Sakit yang sangat menyiksa membuatku pingsan dan saat tersadar aku hampir mati kedinginan tapi mereka berdua sudah pergi menghilang."


"Lalu kamu membuat perapian dan memasakkan daging untukku agar aku tidak tahu lukamu, bagitu?" Tanyaku pelan dan Rayan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya, aku tidak ingin kamu khawatir."


"Astaga, tidak ingin aku khawatir? Dengar ya Rayan! Kau milikku! Benang merahku terhubung denganmu! Jika kau mati aku akan hidup menderita seperti kehidupan sebelumnya dan aku tidak mau! Jadi mulai sekarang tubuhmu, hatimu, darahmu dan seluruh yang kau punya adalah milikku dan tidak bisa terganggu gugat! Paham!!!" Teriakku kencang yang membuat Rayan tersenyum manis kearahku.


"Ya, aku mengerti Raelyn. Maaf aku salah..." desah Rayan pelan.


"Haish baiklah aku maafkan tapi ingat apapun yang terjadi padamu, kau harus mengatakannya padaku! Apa kamu mengerti!" Ucapku dingin dan Rayan menganggukkan kepalanya.


"Baik aku mengerti istriku..."


"Haish kalian berdua kenapa sih teriak-teriak!" protes Ray kesal.


"Yaah mengganggu tidurku saja!" Gerutu Fadil kesal dan mereka berdua kembali tertidur.


"Haish..." desahku menatap langit-langit kamar dan Rayan menatapku bingung.


"Apa yang kau pikirkan Raelyn?" Tanya Rayan bingung.


"Entahlah, aku padahal ingin membalas dendam tapi kenapa inkarnasiku malah kembali ke masa kecil, kenapa tidak berinkarnasi sebagai orang lain yang..."


"Sayang dengar, mungkin ini cara Tuhan untuk mempertemukan kita lagi pula jika kamu berinkarnasi dengan tubuh lain malah membuatmu tidak bisa balas dendam apalagi jika tubuh yang kamu milikki adalah tubuh yang lemah."


"Oh mmm benar juga sih..." desahku pelan.


"Ya sudah jangan dipikirkan istriku, mmm oh ya besok setelah kamu bertemu dengan pemimpin organisasi mafia pusat, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Mengajakku kemana?" Tanyaku pelan.


"Ada deh besok kamu akan tahu sendiri, intinya aku akan meminta ijin pemimpin organisasimu."


"Memang masalah apa? Apakah tugas mafia?"


"Bukan, itu adalah tugas yang lainnya..." gumam Rayan tersenyum kearahku.


"Oh mmm baiklah..." desahku pelan.


"Oh ya sekarang usiamu berapa?" Tanya Rayan pelan, aku mengambil kartu tanda pengenalku dan menunjukkan kartu itu kepada Rayan.


"Usiaku sekitar 17 tahun... Entahlah aku juga terkejut, padahal seingatku perang mafia pertama dan aku bertemu dengan Ray saat aku usia 15 tahun."


"Oh baguslah, berarti kehidupan ini tidak sama persis dengan kehidupan yang lalu."


"Oh kenapa? Kenapa kamu tanya usiaku?"


"Hanya bertanya saja."

__ADS_1


"Hmmm..." desahku menatap keluar jendela dan ternyata badai sudah reda.


"Baiklah hari ini kita berangkat ke organisasi mafia pusat!" Ucapku serius dan menatap salju yang memenuhi jalanan di luar tempat persembunyianku, besok adalah hari ulang tahunku ke 17 tahun dan aku benar-benar tidak menyangka usiaku kehidupan ini selisih 2 tahun dari kehidupan yang lalu.


__ADS_2