Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 73 : Pergi Ke Pesta Mafia


__ADS_3

Setelah aku bangun tidur, Ray benar-benar memasakan makanan untukku. Setiap hari Ray merawatku dengan baik lebih baik dari pada Han ataupun Sino dan Fiyoni. Ray dengan sabar merawatku dan menjagaku, kadang kalau aku mengidam sesuatu Ray selalu menuruti apapun keinginanku bahkan Ray tidak lupa untuk rutin mengajakku melakukan pemeriksaan dengan dokter.


"Keadaan kandungan Nyonya Khun baik tuan muda, ini sudah memasuki minggu ke 7 kehamilan jadi sebentar lagi anak anda akan lahir tuan, tuan muda harus ekstra menjaga kehamilan Nyonya Khun."


"Baik dokter, mmm tapi apakah bisa istriku kalau aku ajak ke pesta?" tanya Ray pelan.


"Tidak masalah yang penting jangan sampai terjatuh atau terbentur di bagian perut atau banyak pikiran, takutnya akan menyebabkan keguguran."


"Oh mmmm baik dokter..."


"Saya sudah meresepkan obat untuk Nyonya, jangan lupa untuk meminumkannya tuan muda...Saya permisi dahulu tuan muda..." gumam dokter pergi meninggalkan kamar.


"Hmmm..." desah Ray mengusap rambutku lembut.


"Ada apa sayang?"


"Aku deg-deg an istriku. Akan menjadi seorang ayah membuatku takut."


"Tenang saja sayang, ada aku...kita akan merawat anak kita bersama ya.." gumamku menggenggam erat tangan Ray.


"Ya sayang, mmm kamu beneran jadi ikut pesta mafia ini?" tanya Ray serius.


"Iya...memangnya kenapa? Apa tidak boleh?"


"Boleh, kalau mau ikut kamu harus terus bersamaku apa kamu mengerti?"


"Ya aku mengerti kok sayang..." gumamku beranjak dari tempat tidur dan segera berganti pakaian.


"Sayang apa aku terlihat gendut?" tanyaku pelan.


"Sedikit, tapi tidak apa kamu masih sangat cantik. Pantas saja kedua adikku sangat tergila - gila padamu sayang, walaupun hamil tetap cantik..." gumam Ray mencium keningku lembut.


"Tidak juga, aku gadis biasa kok..." gumamku menyembunyikan senjataku.


"Kamu kenapa membawa senjata?"


"Buat jaga-jaga saja."


"Tidak perlu. Ada aku jadi aku yang akan menjagamu!"


"Tidak mau, disana banyak mafia musuhku kalau aku tidak membawanya takutnya nanti...mereka melukai anak kita..." gumamku pelan.


"Tapi apa kamu bisa bergerak dengan keadaan hamil?"


"Bisa... tapi kalau misi tidak bisa, aku sedang cuti sayang jadi aku tidak memiliki misi apapun..."


"Oh baiklah tapi jangan jauh-jauh dariku ya..." gumam Ray menggandengku keluar kamar.


"Ya aku mengerti..." gumamku mengikuti Ray turun dari lantai dua, di bawah ruang keluarga aku melihat kakakku, Victory dan Fadil sedang menunggu kami di sofa ruang keluarga.


"Loh ketua kenapa kamu ikut juga?" tanyaku pelan.


"Ini dua pria di sampingku memintaku untuk menjagamu dan mengawasimu. Kalau hamil jangan ikut pesta tahu!" gerutu Victory kesal.


"Disana ada banya musuh dan pastinya beberapa mafia lainnya. Pasti ketua memiliki misi kan ya bisa tuh ketua menyelesaikan misi dengan baik..." sindirku pelan.


"Haish kamu ini ya Sani kenapa harus hamil segala jadi aku yang melakukan tugas berat ini, seharusnya tugas berat kan kamu tahu? Aku malah di sandingkan dengan dia!" gerutu Victory menunjuk seorang pria yang sedang merokok di depan pintu. Aku melihat pria itu dan ternyata pria itu Wahyu ketua mafia rahasia.


"Dengan...Wahyu?" tanyaku terkejut.


"Ya, aku disuruh tetua petinggi menggantikanmu Sani, kalau berparner denganmu aku yakin bisa tapi dengan Victory? Aku sama sekali tidak yakin!" gerutu Wahyu kesal.


"Ya sudah nikmati saja, kadang ketua Victory banyak bermain-mainnya."


"Haish kau ini masih saja suka mengejek orang Sani! kamu gantikan aku saja biar aku menggantikanmu hamil!" gerutu Victory kesal.


"Idih ogah masa aku menghamili pria, gila aja kau!" gerutu Ray dingin.

__ADS_1


"Anggap saja aku wanita."


"Ogah, aku orang yang pemilih apalagi istri. Tidak sembarang orang menjadi istriku!" gerutu Ray memelukku erat.


"Sudahlah kalian, mmm ngomong-ngomong apa misi kalian?" tanyaku penasaran, Wahyu memberikanku secarik kertas dan ternyata tugasnya membunuh anggota mafia dan mata-mata mafia secara diam-diam serta mengambil beberapa dokumen.


"Kalau ini aku tidak yakin kalian berhasil..." gumamku mengembalikan kertas itu.


"Makanya aku pusing Sani apalagi parnerku si Victory pasti akan susah melakukannya padahal dia ketuamu kan tapi...ya kamu tahu sendiri Sani. Apalagi akan ada hukuman berat kalau tidak berhasil..." desah Wahyu pelan.


"Jadi tolonglah kami Sani!!" gumam Victory memohon.


"Tapi kan..."


"Aku mohon Sani bantulah ketuamu ini..." gumam Victory serius.


"Nanti kalau aku bisa membantu aku akan membantu tapi aku mungkin hanya bisa melumpuhkan mereka saja selebihnya kalian yang melakukannya."


"Sekalian juga boleh kok hehehe."


"Istriku tidak boleh banyak bergerak, dia harus tetap bersamaku!" gerutu Ray memelukku erat.


"Hilih kau selalu saja pelit Ray!" gerutu Victory berjalan keluar rumah.


"Ya lah aku suaminya jadi semua keputusan ada ditanganku!" ucap Ray kesal.


"Sudahlah sayang ketua memang seperti itu..." desahku pelan.


"Ya aku tahu kok sayang..." gumam Ray menggandeng tanganku keluar rumah menuju mobil mewah milik Ray.


Di dalam mobil aku melihat Victory, Chen, Wahyu dan wakilnya berada di dalam mobil.


"Heeei, kenapa kalian disini?" tanya Ray dingin.


"Ya kami ikut berangkat bersama, mobil Wahyu terjebak lumpur..." gumam Victory santai.


"Haish sudah tau ketua Victory gak bisa menyetir mobil tapi kamu suruh nyetir." gumamku menggelengkan kepalaku.


"Ya mau bagaimana lagi, jadi kami bareng ke pesta..."


"Ya sudah terserahlah..." gumam Ray menutup pintunya dan mobil langsung bergerak pergi.


"Jangan pelit-pelit kau Ray, kami sekutu dengan Sani tahu!" gerutu Victory dingin.


"Ya aku tahu.." gumam Ray mengusap lembut rambutku.


"Oh ya ngomong-ngomong kenapa kamu menikahi Sani kan bisa dibilang Sani itu musuhmu Ray?"


"Aku tahu tapi kami terikat dari dulu..." gumam Ray menunjukkan cincin kami berdua.


"Tunggu...itu cincin pernikahan awal?" tanya Wahyu terkejut.


"Ya begitulah..." desah Ray merangkulku lembut.


"Kalau kamu tidak menghamili Sani kamu masih bisa terlepas loh."


"Aku tahu, kau kira aku hanya asal bermain dengan wanita?" gumam Ray dingin.


"Apa alasanmu menanyakan wanita yang menjadi pembunuh di perang madia masa lalu hanya untuk mencari Sani?" tanya Wahyu terkejut.


"Betul sekali, kau kira aku tidak terkejut kalau ternyata Sani hebat bahkan kakaknya saja sangat melindungi Sani, dia sama sekali tidak memberitahukan keberadaan Sani..."


"Sebagai kakak siapa yang ingin adiknya kau bunuh sia-sia Ray, Soni pastilah memikirkan hal yang sama!" sindir Wahyu dingin.


"Aku tahu, yang penting dia sekarang istriku dan tidak aku izinkan siapapun memilikinya apalagi menyentuhnya!" gerutu Ray dingin.


"Haish benarkan Wahyu dia akan tergila-gila kalau tahu tentang adikku, padahal dia dulu tergila-gila dengan..."

__ADS_1


"Diam kau Soni!" gerutu Ray dingin yang membuat Soni terdiam, mendengar ucapan Soni membuatku penasaran.


"Tergila-gila dengan siapa?" tanyaku pelan.


"Tidak ada."


"Kata kamu, kamu tidak akan menyembunyikan apapun dariku?" desahku melepaskan rangkulan Ray tapi Ray langsung memelukku erat.


"Seorang wanita yang dulu membuatmu ingin kabur dari rumahku..." gumam Ray pelan.


"Ohh..." desahku pelan.


"Dia sudah tahu?" tanya Soni terkejut.


"Ya, surat yang kau berikan padaku saat itu kebetulan Sani membacanya dan membuatnya marah, apa kau tahu Soni kalau dia marah aku bisa merasakan rasa sakit..."


"Rasa sakit? Karena cincin kalian?"


"Ya benar... itu sangat menyakitkan!" gumam Ray mengusap lembut rambutku.


"Oh jadi tidak hanya adikku tapi kamu merasakannya juga?"


"Ya begitulah..." desah Ray pelan.


"Baguslah, kau bisa setia dengan adikku. Aku tidak tega melihat adikku terus menderita, aku ingin melihat adikku bahagia..." gumam Soni pelan.


"Kau ternyata sangat peduli dengan adik tirimu ya Soni padahal adik kandungmu kau bunuh loh..." gumam Wahyu pelan.


"Adik kandung?" tanyaku terkejut.


"Ya, dulu aku punya adik kandung. Mungkin karena aku tidak tahan melihat sekeluarga lebih memilih adikku dari pada aku membuatku kesal dan emosi, mmm jadi ya bagitulah.." desah Soni pelan.


"Hmmm aku mengerti kok kak."


"Kamu gak takut punya kakak yang kejam itu?" tanya Wahyu terkejut.


"Aku lebih kejam dari pada kak Soni, buat apa aku takut?" tanyaku pelan.


"Hmmm benar sih, kau membunuh tanpa ampun Sani..."


"Ya begitulah..." desahku memberikan sekotak jarum kepada Wahyu.


"Kenapa kamu memberikan kotak itu?" tanya Victory serius.


"Ya takutnya aku tidak bisa membantu."


"Tapi Sani hanya kamu yang bisa baca siapa anggota mafia target dan juga mata-mata mafia lain. Lagi pula mencuri dokumen adalah keahlianmu jadi..."


"Itu bukan misi dia jadi lakukan sendiri!" gerutu Ray dingin.


"Apaan sih kau Ray!" gerutu Wahyu kesal.


"Aku akan membantuku sebisa mungkin tuan Wahyu, aku sedang cuti kalau aku ketahuan membantu kalian takutnya..."


"Oh benar juga ya... ya sudah kamu tandai saja siapa mereka Sani kalau kamu sempat..." gumam Wahyu mengembalikan jarum kepadaku.


"Aku tidak bisa menggunakan jarum, untukmu saja."


"Baiklah, nanti kalau bisa aku bantu tuan Wahyu." gumamku pelan.


"Ya kamu juga hati-hati dengan Cantika, dia hebat.."


"Baik aku mengerti..." desahku memasukkan kembali kotak jarumku dan bersandar di bahu Ray.


"Ada apa sayang?" tanya Ray pelan.


"Tidak ada, hanya ingin bersandar saja..." gumamku pelan.

__ADS_1


Aku berfikir Cantika? Siapa Cantika itu? Aku sama sekali tidak mengenal nama Cantik sama sekali bahkan sekali ini mendengar namanya. Tapi mau bagaimanapun juga aku harus hati-hati.


__ADS_2