Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 150 : Berdua Dengan Saputra


__ADS_3

Setelah beberapa saat aku meminum darah Saputra membuatku melepaskan gigitanku dan pelukan Saputra, aku menatap wajah Saputra dan kedua matanya terlihat bengkak seperti habis menangis, aku mengusap pipinya dan menatapnya bingung.


"Kenapa mata kamu bengkak? Apa kamu menangis? Apa gigitanku menyakitkan?" Tanyaku pelan.


"Yaah sedikit menyakitkan tapi... aku sedih... ternyata rasanya sesakit ini ya? Kenapa kamu nampak biasa saja?" Tanya Saputra pelan.


"Aku... sudah biasa digigit dan aku sudah terbiasa saja..." gumamku mengusap mulutku dengan selembar tisu.


"Benarkah? Tanda dilehermu juga?"


"Eehh mmm bagaimana kamu tahu tanda di leherku?" Tanyaku terkejut.


"Aku melihatnya kemarin, apa kamu tidak sadar karena tanda itu?"


"Mungkin, aku tidak tahu apapun."


"Hmm, tidurlah."


"Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa?" Tanya Saputra pelan.


"Aku memang tidak bisa tidur kalau..."


"Tidurlah!" Ucap Saputra membaringkanku di pahanya.


"Tapi..."


"Tutuplah matamu, kamu nanti lambat laun akan tertidur kok."


"Hmmm.. kenapa kamu terlihat peduli padaku Saputra?" Tanyaku pelan.


"Kamu juga sangat peduli denganku, apa aku salah jika peduli denganmu?"


"Tidak juga, tapi aku tidak melakukan apapun..." gumamku pelan.


"Kamu selalu menyelamatkanku dan aku berhutang budi padamu."


"Benarkah? Aku hanya berusaha membantumu saja..." gumamku pelan, aku menggenggam tangan Saputra dan menatap benang merah kami berdua.


"Ada apa?"


"Tidak ada, hanya ingin seperti ini saja."


"Hmmm..." desah Saputra mengusap lembut rambutku.


Tookkk...ttookk...toookkk


"P-permisi yang mulia..." ucap seorang pria masuk ke dalam kamar.


"Ya?" ucap Saputra dingin, suaranya benar-benar berubah berbeda jika denganku.

__ADS_1


"Mmm itu anu..."


"Ada apa?"


"Eehh mmm ini ada rapat pertemuan mafia yang mulia." Pria itu memberikan selembar kertas undangan bewarna hitam dan membacanya.


"Kamu dapat undangan kah sayang?" Tanya Saputra pelan.


"Tidak, aku dan kak Fadil sedang cuti."


"Oh begitu ya..." desah Saputra mengembalikan undangan itu.


"Katakan saja aku sedang sibuk."


"Tapi tetua berkata kalau..."


"Aku bilang sibuk ya sibuk apa kau tidak mengerti!" Protes Saputra kesal.


"Eehh mmm b-baik yang mulia... gumam pria itu berjalan pergi.


"Haish..." desah Saputra kesal.


"Pertemuan apa?" Tanyaku pelan.


"Entahlah, aku tidak peduli."


"Kenapa kamu tidak ikut?"


"Eehhh malas?"


"Ya, lebih baik aku disini bersamamu."


"Benarkah? Bilang saja kau takut kalau aku kabur kan?"


"Tidak juga, kenapa kamu berpikiran seperti itu?"


"Ya wajar aja sih, aku tahanan organisasi kemiliteran mafia dan juga tahanan organisasi tertinggi pastinya kamu juga akan..."


"Tidak juga, aku sudah membebaskanmu dari status tahanan itu."


"Eehh tunggu? A-apa?" Tanyaku terkejut.


"Emang aku yang sudah membebaskanmu, aku raja kerajaan Arre, aku berhak membebaskan tahanan organisasi manapun apalagi kau permaisuriku."


"Permaisuri? Sejak kapan aku menikah denganmu?" Tanyaku bingung.


"Kita memang belum menikah, dan kita akan menikah!" Ucap Saputra serius.


"Menikah ya? Untuk apa kau menikah dengan wanita kotor sepertiku? Lebih baik kau menikah dengan wanita lain yang..."


"Untuk apa aku menikah dengan wanita lain yang tidak bisa menerimaku dan menerima kutukan di tubuhku ini? Tidak hanya sekali aku menikah tapi berkali-kali sampai akhirnya aku memutuskan menikah kembali untuk terakhir kalinya dan benar-benar menyembunyikan kutukan itu dengan topeng hitamku, aku melarang keras untuk siapapun membukannya bahkan istriku sendiri. Tapi suatu ketika istriku terakhirku terus meyakinkanku jika dia akan menerimaku dan menerima kutukan ini apapun yang terjadi dia akan mencintaiku, tapi saat mengetahuinya dia berbohong dan memilih membawa anakku untuk bunuh diri terjun ke sungai di depan itu..." gumam Saputra pelan, tangannya benar-benar bergetar hebat dan menggenggamku erat.

__ADS_1


"Setelah itu aku tidak percaya siapapun lagi, jika saja aku tidak bertemu dengan Fadil saat itu mungkin aku tidak ingat kalau aku masih memilikimu. Aku berusaha mencarimu dan mengikuti setiap pertemuan tapi aku sama sekali tidak bertemu dengan kalian berdua bahkan dengan Fadil.. aku sama sekali tidak pernah bertemu di pertemuan lainnya, benar-benar seperti kalian berdua telah menghilang di telan bumi..." gumam Saputra pelan.


"Lalu... bagaimana kamu tahu keberadaanku?" Tanyaku penasaran.


"Aku awalnya tidak tahu tapi di jalan kota kemarin saat Fadil memanggilmu Raelyn membuatku terkejut, aku ingat pernah memdengar nama itu tapi lupa dimana tepatnya sampai kedua wakilku bilang kalau Raelyn itu Sani Shin membuatku terkejut, aku berusaha mengikuti kalian tapi setelah dari kedai kemarin aku kehilangan jejak kalian yang membuatku benat-benar depresi. Tapi tidak lama aku berjalan aku bertemu denganmu yang sedang berlari dengan tatapan panik, tanpa memikirkan apapun aku berusaha menyusulmu dan sesekali kehilangan jejakmu, saat melihat Fadil yang berlari di hutan terlarang membuatku langsung berlari mengikutinya dan aku menemukanmu!!" Jelas Saputra terus menatapku serius, "Eeehh dia menceritakan semuanya?" Gumamku dalam hati.


"Yaaah begitulah ceritanya."


"Ohh mmm kenapa kamu berusaha mencariku?" Tanyaku pelan.


"Karena... aku mencintaimu, aku memang dulu tidak mencintaimu karena aku masih kecil waktu itu tapi sekarang aku mencintaimu Sani, aku sangat mencintaimu."


"Benarkah? Kalau begitu..." gumamku terduduk menatap Saputra serius.


"Buktikan kalau kamu mencintaiku, aku sudah bosan kata-kata manis pria. Jadi... apa kau bersedia?" Tanyaku dingin, Saputra mendekatkan wajahnya dan tersenyum dingin kearahku.


"Baiklah, tidak masalah... aku akan menunjukkan betapa aku sangat mencintaimu permaisuriku..." ucap Saputra menciumku lembut, aku menatap wajahnya dan mengusap pipinya lembut, aku mengerti sekarang alasan benang merahku terhubung dengan Saputra... mungkin karena dia sangat mencintaiku dan aku dulu juga sangat mencintainya.


Tiba-tiba muncul seorang pria dengan jubah hitam masuk ke dalam kamar dengan wajah kesal, Saputra terdiam dan mengusap pipiku lembut.


"Ada apa?" Tanya Saputra serius.


"Kenapa kau membantahku? Aku tetuamu tahu!"


"Aku tahu."


"Lalu kenapa kau melakukannya?"


"Yaaah karena aku hanya ingin bersama istriku saja."


"Istri? Istri yang mana lagi?" Tanya pria itu kesal, pria itu berjalan mendekati kami dan menatapku terkejut.


"Tunggu... di-dia kan... dia kan Raelyn?" ucap pria itu terkejut.


"Memang, aku menemukan istriku jadi aku ingin berdua dengannya..." ucap saputra memelukku erat.


"Oh mmm ya aku tahu, tapi ini pertemuan penting dan kamu harus ikut."


"Tapi istriku..."


"Dia ketua organisasi tersembunyi pasti dia harus ikut, ini undangan yang mendadak jadi semua ketua organisasi mafia harus datang dan mengikuti pertemuan!"


"Oh mmm bagaimana istriku?" Tanya Saputra menatapku serius.


"Aku hanya menunggu informasi dari tetua saja, aku tidak memiliki hak apapun."


"Tapi kan kau ketuanya?"


"Memang, tapi aku khusus melakukan apapun yang penting dan jika tidak penting aku langsung menolaknya."


"Oh kalau begitu nanti aku akan menyusul dengan istriku tetua..." ucap Saputra memelukku erat.

__ADS_1


"Oh hmmm baiklah kalau begitu..." desah pria itu berjalan pergi dan Saputra kembali menciumku. Melihat tingkahnya membuatku menyayanginya walaupun belum seratus persen tapi aku berusaha agar bisa mencintainya sepenuh hatiku.


__ADS_2