
Selama perjalanan Ray terus menggenggam erat tanganku, aku tidak tahu kenapa tapi dari tatapannya terlihat kalau Ray tidak ingin pengawasannya lengah untuk mengawasiku.
Selama di perjalanan Fadil, Wahyu dan Soni membahas beberapa permasalahan yang serius. Jika aku ikut pembicaraan mereka pasti mereka selalu melarangku yang membuatku kembali terdiam menatap keluar jendela.
"Eeh Ray aku terlupa memberimu ini..." gumam Soni menatap Ray serius, aku melihat Soni memberikan sebuah kertas hitam kepada Ray.
"Apa ini?" tanya Ray serius.
"Lihatlah sendiri..." gumam Soni pelan, Ray membaca kertas itu dan memberikannya kembali kepada Soni.
"Oh aku sudah tahu..."
"Benarkah? Dari mana?"
"Dari mata-mataku..." gumam Ray mengusap rambutku lembut.
"Oh mata-mata ya, ya sudah mari kita turun dulu..." gumam Soni turun bersama dengan wahyu sedangkan Ray menggandeng tangan turun dari mobil.
Di depanku, aku melihat gedung pertemuan yang dipenuhi banyak tamu yang memakai pakaian mewahnya, Ray merangkulku erat dan tidak mau melepaskannya.
"Sayang, kamu tidak boleh jauh dariku..."
"Kenapa?" tanyaku bingung, di pojok ruangan aku melihat Han dan Hans yang terus menatapku yang membuatku terkejut. "Eeh kenapa mereka ada disini?" gumamku dalam hati.
"Yaah intinya kamu harus tetap di sampingku, lagi pula...aku tahu apa yang kau pikirkan..." gmam Ray melihat Han dan Hans di pojok ruangan.
"Apa? Aku tidak memikirkan apapun dan... mmmppphhh..." Ray menciumku yang membuatku terkejut, saat Ray menciumku banyak tamu undangan yang terkejut dan terus menatap kami.
"Kamu milikku dan tidak akan aku ijinkan siapapun memilikimu!" ucap Ray menatapku serius.
"Emang kamu tahu apa yang aku pikirkan?" tanyaku pelan.
"Menurutmu..." bisik Ray dingin.
"Aku tidak memikirkan yang aneh-aneh kok."
"Tapi bagiku itu sama saja, intinya... kamu milikku dan kamu..." gumam Ray menggigit bibirku lembut.
"Kamu tidak boleh melihat manapun kecuali melihatku, apa kamu mengerti?" ucap Ray dingin, aku memeluknya erat dan mengigit bibirnya lembut. "Astaga dia cemburu? Padahal aku hanya tidak segaja melihatnya saja loh..." gumamku dalam hati.
"Aku cemburu, aku sangat cemburu walaupun kamu hanya menatap pria lain aku tetap cemburu..." gumam Ray terus menggigit bibirku sampai berdarah, aku tahu Ray menginginkan darahku tapi karena di pesta dia hanya bisa menggigit bibirku biar tidak ada yang menyadarinya dan orang disekitar kami berpikirnya kami hanya berciuman.
"Haish kalian berdua masih saja seperti itu, lebih baik segera menikah resmi!" ucap guru Rendi berjalan kearah kami.
"Tenang saja tetua, nanti setelah anak keduaku lahir kami akan menikah resmi, benarkan sayang..." gumam Ray mengusap bibirku lembut.
"Apa Sani sedang hamil?" tanya tetua Rendi menatapku terkejut.
"Ya benar, sebentar lagi istriku akan melahirkan."
"Oh begitu ya.... kalau begitu jaga istrimu, dia cucuku yang aku sayang jadi jangan sakiti dia!" ucap tetua Rendi serius.
"Ya, aku tahu kok tetua. Aku tidak akan membuat istriku menderita!" ucap Ray serius.
"Baguslah, ya sudah mari ke pertemuan Ray..." ucap tetua Rendi berjalan pergi.
"Pertemuan apa?" tanyaku penasaran.
"Pertemuan ketua mafia."
"Oh begitu ya..."
__ADS_1
"Ada apa sayang?"
"Mmm enggak ada, apa Han juga ikut pertemuan?"
"Ya, makanya aku tidak memperbolehkanmu menatap apapun selain menatapku, apa kamu mengerti!"
"Baiklah aku mengerti kok sayang, tenang saja..." gumamku menggenggam erat tangan Ray.
"Hmmm..." desah Ray terduduk di sebuah kursi dan aku terduduk di sebelahnya. Di sekitarku aku melihat banyak ketua mafia yang telah memenuhi ruangan dan terduduk di sekitarku.
"Mmm baiklah, acara pertemuan kali ini kita mulai..." gumam Tetua Rendi serius.
Pertemuan dimulai di sore ini, aku kira membahas sesuatu yang lain ternyata melanjutkan pembahasan yang tertunda selama bertahun-tahun lalu. Aku benar-benar lupa dulu membahas masalah tentang apa apalagi itu sudah bertahun-tahun yang lalu.
"Hmmm..." desahku bersandar di lengan Ray, melihatku menyandarkan kepalaku, Ray langsung mendudukanku di pangkuannya dan mendekap tubuhku erat.
"Kalau kamu mengantuk tidurlah sayang."
"Aku hanya lelah saja kok..." gumamku memainkan kancing pakaian Ray sedangkan Ray hanya mengusap lembut rambutku saja.
"Oh ya Sani, eeeh dimana Sani?" tanya tetua Rendi terkejut.
"Ada apa kakek?" gumamku pelan.
"Eehhh astaga, kamu disitu ternyata."
"Ada apa kakek?" tanyaku pelan.
"Haish, mmmm ini ada sesuatu yang harus kamu tahu..." gumam kakek memberikanku beberapa carik kertas. Aku membaca kertas itu dan ternyata itu informasi tentang Alan yang sangat aku butuhkan.
"Dari mana kakek mendapatkannya?" tanyaku terkejut.
"Dari Han?" tanyaku terkejut, aku terduduk dipangkuan Ray sambil terus menatap Han serius.
"Kenapa kau mau memberitahukan ini padaku?" tanyaku serius.
"Pasti kamu tau apa alasanku!" gumam Han tersenyum dingin kearahku.
"Tapi kan... haish enggak gitu juga!" protesku kesal.
"Aku tidak peduli!"
"Kau tidak peduli? Kau tidak mengerti aku buat apa kau..."
"Aku mengerti kamu!"
"Apa yang kau mengerti tentang aku? Apa masih kurang kau sakiti aku!!" protesku kesal.
"Sudah aku bilang kan aku tidak akan menyakitimu lagi!"
"Apa kau kira aku... mmmpphhh..." melihatku berdebat dengan Han, Ray langsung menciumku dan mendekapku erat.
"Tidak ada yang boleh memiliki milikku!" ucap Ray dingin.
"Aku tidak peduli!" ucap Han dingin sambil menatap Ray, tatapan mereka benar-benar penuh kebencian yang membuat suasana menakutkan terasa di pertemuan kali ini.
"Eehheemmm, ya sudahlah kita bahas urusan ini dulu!" ucap Soni mencoba menyairkan suasana.
"Yaah benar, keadaan mafia saat ini benar-benar kacau dan tidak terkendali sama sekali!" ucap tetua Rendi serius.
"Benar, apalagi ada mafia yang lebih menyebalkan dari mafia milik Alan dan benar-benar rumit."
__ADS_1
"Mafia yang menyebalkan?" tanyaku terkejut.
"Yups benar, walaupun tidak ada sangkut pautnya denganmu tapi mau tidak mau kamu juga ikut serta Sani."
"Kenapa begitu?" tanyaku terkejut.
"Ya karena benar-benar akan terjadi pertempuran yang sangat besar nantinya."
"Lalu aku harus ikut pertempuran itu gitu?"
"Ya benar, ini berbeda dengan Alan atau dengan mafia musuh. Mereka berada di kelompok lain yang berbeda dengan kita, yaah hampir mirip dengan Ray..." ucap Soni dingin.
"Ray? Maksudnya?" tanyaku bingung.
"Eehh kamu tidak tahu Ray dari kelompok apa?" tanya Soni menatapku serius.
"Tidak, aku sendiri tidak tahu aku dari kelompok apa..." gumamku pelan.
"Eeehhh astaga, jadi selama ini kamu tidak tahu?" tanya Hans serius.
"Tidak, dan aku tidak peduli juga."
"Sudahlah, wajar Sani tidak mengerti apapun. Dia berada di antara kelompok lain dengan waktu yang lama dan dia termasuk salah satu mafia internasional..." ucap tetua Rendi serius.
"Be...benarkah?" tanya semua orang terkejut.
"Ya, itulah kenapa Sani memiliki musuh dan teman yang bertaraf internasional, bahkan Ray dibilang adalah ketua yang terkenal kuat di seluruh dunia!" jelas tetua Rendi yang membuat semua orang terkejut.
"Kalau tuan Ray adalah suami nona muda berarti kita memiliki bantuan!" ucap seorang ketua senang.
"Tidak, Ray tidak akan bisa membantu dan Sani juga tidak akan bisa membantu."
"Eeehh kenapa?" tanya beberapa orang terkejut.
"Karena adikku dan Ray juga termasuk kedalam ketua mafia internasional dan seharusnya... mereka ada di pertemuan lainnya sekarang!" ucap Viu dingin, aku melihat Viu berjalan ke dalam ruangan dengan Xiao Min.
"Oh sudah waktunya ya?" tanya Ray santai.
"Astaga kalian berdua ditunggu dari tadi malah berada disini ternyata!"
"Yaah tetua mengundangku jadi aku kesini sebelum ke pertemuan itu."
"Haish alasan kali kau Ray! Bilang saja kau malas!!" gerutu Viu kesal.
"Ya itu juga sih."
"Kau harus ikut tahu! Kau selalu saja begitu!" gerutu Viu kesal.
"Eehh pertemuan apa?" tanyaku bingung.
"Pertemuan mafia internasional, kamu mau ikut?" tanya Ray serius.
"Hei dia harus ikut juga tahu!" protes Viu serius.
"Ya kalau dia tidak mau ya tidak apa, tapi..." gumam Ray menatap Han dingin.
"Gak jadi! Kamu harus ikut!" ucap Ray segera menggendongku pergi.
"Wahyu, kamu ikuti pertemuan ini!" ucap Ray dingin.
"Haish baiklah, Kalau disana bisa Soni dan Fadil yang menemanimu!" ucap Wahyu santai dan tanpa berkata apapun Ray hanya berjalan meninggalkan gedung pertemuan masuk ke dalam sebuah mobil, aku sebenarnya tidak tahu apa inti dari pertemuan tadi tapi dengan sedikit informasi dari Han sedikit membantuku memikirkan rencanaku.
__ADS_1