
Pagi harinya aku melatih Pangeran ketujuh kembali, dia nampak biasa saja padahal semalam ada pembunuh bayaran yang datang ke tempat kami berada bahkan mayat yang semalam aku lemparpun juga tidak ada sama sekali.
"Aneeh..."
Hanya kata itu yang terus terucap di mulutku, aku benar-benar penasaran seperti apa kerajaan Arre itu yang sebenarnya apalagi tidak ada yang tahu tentang kerajaan Arre.
"Apa yang kau lamunkan?" Ucap pria itu berjongkok di depanku.
"Eehh mmm tidak ada kok tuan muda, hanya... menikmati hari ini saja..." gumamku menatap matahari di atasku.
"Oh benarkah?"
"Ya begitulah."
"Apa kau memiliki semangat hidup?"
"Tidak juga, terkadang aku hanya... ingin mati."
"Kenapa?"
"Hidupku sangat rumit hanya itu alasanku."
"Jadi itu alasanmu tidak takut mati?"
"Ya begitulah."
"Lalu apa alasanmu datang kemari?"
"Alasanku ya, hanya ingin menjadi guru anda."
"Lalu? Apa kau tidak memiliki alasan lainnya?"
"Alasan lainnya ya... aku ingin bertemu dengan seseorang..." gumamku pelan.
"Seseorang? Siapa itu?"
"Dia... mmm tapi sebelumnya saya ingin bertanya... siapa nama anda sebenarnya?" Tanyaku serius.
"Aku Raechan."
"Apa itu nama asli anda?"
"Tidak, itu nama samaran adikku. Adikku pergi menghilang yang membuatku dipanggil Raechan."
"Adik?" Tanyaku terkejut.
"Ya begitulah."
__ADS_1
"Lalu siapa nama asli anda?" Tanyaku serius.
"Apa nama asli penting bagimu?" Ucap pria itu menatapku dingin.
"Ohh mmmm tidak juga, ma-maaf kalau saya lancang tuan muda..." gumamku pelan. "Apa dia Saputra ya? Tapi... aku harus mencoba mencari tahu!" Gumamku dalam hati.
"Hmmm lalu siapa yang kau cari di kerajaan ini?"
"Saya mencari....Saputra."
"Saputra???" Tanya pria itu terkejut.
"Ya, saya mencarinya. Saya dengar dia berada di kerajaan Arre dan..."
"Untuk apa kau mencarinya?" gumam pria itu menundukkan wajahnya.
"Saya hanya ingin meminta maaf padanya."
"Meminta maaf?"
"Ya, saya merasa bersalah padanya karena saya gagal menyelamatkannya saat dia kritis setelah perang mafia dan saya..."
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya pria itu menatapku serius.
"Saya Raelyn atau bisa dipanggil Sani."
"Kamu? Kamu Sani Shin?" Tanya pria itu terkejut.
"Oh astaga..." desah pria itu pelan.
"Eehh emang ada apa tuan muda?" Tanyaku bingung.
"Mmm t-tidak ada kok..." gumam pria itu mengembalikan lencanaku dan aku hanya menatapnya bingung.
"Ya udah aku kembali berlatih dulu, lain kali jangan terlalu formal padaku apa kamu mengerti..." gumam pria itu kembali berlatih di depanku sedangkan aku hanya menghela nafas pelan dan memainkan ranting di tanganku.
"Raelyn..." ucap seorang pria di belakangku yang membuatku terkejut, aku memutar tubuhku dan melihat seorang pria tampan di depanku.
"Mmmm... i-iya tuan muda."
"Hari ini ada acara di kota, maukah kau menemaniku nanti..." ucap pria itu menatapku dengan tatapan senang, aku menatap pangeran ke tujuh dan terlihat dia terlihat sangat kesal yang membuatku hanya menghela nafas panjang.
"M-maaf tuan muda, saya sedang mengajari tuan muda berlatih..."
"Biarkan saja dia!"
"Mohon maaf tuan muda. ini tugas saya jadi saya tidak bisa meninggalkan tugas saya..." gumamku pelan dan pria tampan tadi pergi dengan kesal. "Haish ini masih dua hari loh disini! Astaga! Banyak banget ya cobaannya!" Gerutuku dalam hati dan aku kembali terduduk menatap matahari di atasku.
__ADS_1
"Andai saja mimpiku itu kenyataan... apa mungkin aku akan bernasib sama dengan kakakku Sani ya?" Gumamku pelan.
"Tapi... apa surat DNA itu ditujukan kepada kak Sani yang asli bukan kepadaku? Kalau dipikif-pikir memang untuk kak Sani deh apalagi... secara tidak langsung Rani, Rina dan Lani juga kembarannya. Haish kenapa silsilah keluargaku rumit sih!!" gerutuku pelan.
"Aku sudah selesai!" Ucap pria di depanku mengusap peluhnya dengan handuk keringnya di bahunya.
"Oh mmm apa anda ingin pelajaran yang lainnya?"
"Tidak, kau diajak kakakku pergi maka aku tidak ingin mengganggu."
"Saya tidak.."
"Tidak apa, kalau ingin pergilah!"
"Saya wanita yang tidak suka keramaian, kalau anda membutuhkan saya... saya ada di kamar..." ucapku pelan dan berjalan pergi menuju ke dalam kamar.
Di dalam kamar aku kembali menulis di buku catatanku dan sesekali menghela nafas panjang. Pikiranku tentang diriku yang sebenarnya di tambah tugas yang berat pasti akan menyulitkanku apalagi banyak rintangan yang ada di kerajaan Arre ini.
"Kapan sih bulan purnamanya?" gumamku mengecek ponselku.
"Astaga... jadi kemarin... bulan purnama?" ucapku terkejut.
"Tunggu dulu, tapi kenapa tidak seperti di mimpiku ya? Apa ada waktu khusus hal itu terjadi?" Gumamku pelan dan kembali mencari tahu.
"Pemilik penyakit langka atau disebut kutukan ini akan kambuh saat bulan purnama merah dan akan berakhir jika matahari terbit menyinari tubuhnya, jika belum terbitnya matahari pasti akan susah menyembuhkannya kecuali di beri darah langka..." gumamku membaca artikel mafia.
"Bulan purnama penuh terjadi beberapa minggu lagi tapi bulan purnama merah terjadi beberapa tahun lagi? Astaga..." desahku membaringkan tubuhku.
"Apa yang akan aku lakukan? Kenapa tidak ada dua kembaranku disini? Apa informasi dari tetua tidak benar?" Gumamku pelan.
Disaat aku melamun sendiri, aku mendengar suara ketukan di depan pintuku, aku segera membukannya dan terlihat seorang wanita berdiri di depan pintu.
"Nona muda, ini makanan anda..." ucap wanita itu memberikan sebuah nampan padaku.
"Eehh mmm terimakasih ya."
"Tidak masalah nona muda, oh ya nona muda... sebaiknya anda segera pergi sebelum anda terbunuh oleh tuan muda."
"Terbunuh?" Tanyaku bingung.
"Ya, penyakitnya membuatnya menjadi monster dan menggigit siapapun sampai meninggal. Ada banyak guru pangeran ke tujuh dan mereka mati dibunuh tuan muda."
"Oh begitu ya, tapi tenang saja aku bisa menjaga diriku sendiri..." gumamku tersenyum manis dan menutup pintu kamarku.
"Penyakit? Menggigit orang? Jangan bilang dia benar-benar Saputra!!" Ucapku terkejut, aku meletakkan nampan dan berjalan kearah pintu kamar tapi aku hanya terdiam memegang gagang pintu.
"Jangan dulu, aku tidak punya bukti jadi aku harus sabar dahulu!" Gumamku pelan.
__ADS_1
"Aku harus waspada, aku harus mencari tahu dan aku harus meminta tolong ayah untuk masalah ini..." gumamku memainkan ponselku dan menelepon ayahku.
Walaupun ayah telah melakukan kesalahan padaku tapi dia tetap ayahku dan aku tidak punya alasan membencinya lagi pula hanya ayah dan kakak-kakakkulah keluarga yang aku punya jadi aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi.