Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 204 : Bertemu Adik Tiri


__ADS_3

Dengan perkataan Valentino untuk menunda pertemuan yang membuat pertemuan benar-benar ditunda ditambah musuh kembali menghilang sampai beberapa bulan setelah pertemuan khusus itu dilakukan. Hari ini adalah bulan ke 9 aku hamil anakku dengan Valentino dan karena hamil tua inilah Valentino dan Satria benar-benar menjagaku dan melarangku melakukan apapun ditambah Satria tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali.


Tepat di siang hari aku melahirkan dua kembar laki-laki dan perempuan yang sangat tampan dan cantik, selama aku melahirkan Valentino benar-benar menungguku dan sengaja tidak membawa ponsel kemanapun karena dia fokus menjagaku. Disaat anak kami lahirpun Valentino langsung menggendong keduanya dengan sangat senang, wajah yang senang tidak bisa dia sembunyikan dariku.


"Terimakasih istriku, aku akan menjaga kalian..." bisik Valentino pelan dan kembali menciumku lembut.


Dengan kehadiran dua anak kami benar-benar membuat hidup kami sangat bermakna, anak laki-laki kami bernama Adelio yang memiliki sikap sangat dingin dan keras kepala tapi peduli dengan adiknya sedangkan anak kedua kami bernama Adelia, sikapnya berbeda dengan Adelio karena dia lebih suka cengeng dan manja sama sepertiku saat dulu yang suka sekali menangis.


"Ibu..." ucap Adelia pelan sambil menatapku yang sedang membaca sebuah catatan dari Fadil.


"Ooohh mmm ya Adelia, ada apa?" Tanyaku pelan sambil mengusap rambutnya lembut.


Adelia dan Adelio kini berumur 6 tahun dan selama 6 tahun inilah hanya Fadil yang mengikuti seluruh pertemuan dan pesta sedangkan aku hanya di rumah mengurusi kedua anakku ini bersama dengan Valentino.


"Adelia baru saja pulang sekolah ibu."


"Lalu kemana kakakmu?" Tanyaku bingung.


"Kakak sedang di depan rumah ibu."


"Depan rumah?"


"Ya, kakak sedang berlatih bersama ayah."


"Oh mmm ya sudah cepat ganti baju."


"Baik ibu!" Ucap adelia pelan dan pergi meninggalkanku.


"Hmmm..." desahku pelan dan melihat Raelan dan Ravaro yang tiba-tiba terduduk di sofa depanku dengan santai.


"Kenapa kalian datang tidak memberitahuku terlebih dahulu?" Tanyaku pelan.


"Aku ayahmu jadi untuk apa aku memberitahukan kedatanganku?" Ucap Raelan dingin.


"Eehh kakek!!!" teriak Adelia berlari memeluk Raelan.


"Aah ternyata kamu sudah besar ya Adelia..."


"Ya dong kakek, umur Adelia sudah 6 tahun!"


"Benarkah?"


"Benar kakek!" Ucap Adelia senang.


"Kakek ada sesuatu untukmu..." gumam Raelan mengeluarkan beberapa mainan di dalam tas ransel Ravaro.


"Buat Adelia ini kakek?"


"Ya, tapi jangan lupa kakak diberi ya!"


"Baik kakek!" Ucap Adelia senang.


"Jadi... Tumben kakak dan ayah kemari?" Ucapku menutup buku catatanku dan menatap kedua pria di depanku dengan serius.

__ADS_1


"Hanya ingin bertemu dengan cucuku, apa itu salah?"


"Ooh ku kira kalau ada hal penting..." desahku kembali membuka catatanku.


"Yaaah ditambah ayah ingin mengenalkanmu dengan seseorang..." ucap Raelan pelan dan masuk seorang wanita cantik yang terlihat seumuranku masuk ke dalam rumah yang membuatku terkejut.


"S-siapa dia?" Tanyaku terkejut melihat wanita itu.


"Dia adik tirimu."


"Tunggu, adik tiri? Anak ayah?" Tanyaku terkejut, aku menggenggam senjataku dengan berhati-hati.


"Ya, anak ayah dan beberapa pria lain dengan ibumu juga... Yaah mungkin bisa dibilang adik kandungmu dan..." aku langsung mengarahkan senjataku kearah wanita itu yang membuat semua orang terkejut.


"Raelyn apa yang kau lakukan!!" Protes Ravaro menatapku dingin dan Adelia menangis ketakutan.


"Pergi kau!" Ucapku dingin.


"K-kakak aku..."


"Pergi kau!!" Teriakku kencang yang membuat Valentino masuk ke dalam rumah.


"Ada apa ini?" Tanya Valentino terkejut.


"Aku bilang pergi kau!!" Teriakku kesal.


"T-tapi aku adikmu kak dan..."


"Aku tidak peduli! Pergi kau!!!" Teriakku kesal.


"Aku tidak peduli! Kau kira aku akan terpengaruh oleh akal-akalan mereka? Tidak Valentino!!" Protesku kesal.


"Aku sekarang hidup dengan ayah dan..."


"Aku tidak peduli! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap kau adikku dan satu hal lagi... Jika ayah tetap memungutnya maka... Jangan anggap aku anakmu!" Ucapku dingin dan berjalan pergi.


"Tapi Raelyn..."


"Jika ayah tidak mengikuti ucapanku maka jangan harap aku mau melindungi ayah dan kak Ravaro!" Ucapku dingin dan menutup pintu ruangan dengan keras.


"Sayang!! Tunggu!!!" Teriak Valentino di belakangku tapi aku terus melangkahkan kakiku pergi ke meninggalkan rumah Valentino.


"Sayang!!" Ucap Valentino menggenggam erat tanganku.


"Apa!"


"Kamu kenapa begitu kesal melihat adik kandungmu dan..."


"Aku membencinya! Aku tidak akan menganggapnya!"


"Tapi dia benar-benar adik kandungmu..."


"Aku tidak peduli!"

__ADS_1


"Dengar sayang, biar Raelan menjelaskannya padamu..." gumam Valentino pelan dan muncul Raelan di belakangku dengan Ravaro serta wanita itu.


"Raelyn dengar, dia adikmu dan dia tidak dianggap ibumu sama sepertimu, dia hidup dengan ayah kandungnya yang lain sebelum bertemu denganku, dia darah daging ayah sama denganmu dan deritanya sama denganmu..."


"Derita dia sama denganku? Haah aku tidak salah dengar?" Ucapku menepis tangan Valentino dan menatap Raelan dingin.


"Aku sering disiksa apa dia pernah? Aku sering di permainkan para laki-laki apa dia pernah? Aku sering kehilangan anakku apa dia pernah? Aku sering hampir dibunuh apa dia pernah? Aku sering diinjak-injak harga diriku apa dia pernah? Hidupku sangat mengenaskan apa dia pernah merasakannya?" Teriakku kesal dan wanita itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Naaah itu kau tahu! Kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasa jadi... Enyahlah dari hadapanku!" Gerutuku kesal dan kembali berjalan pergi.


"Haish ayah kenapa ayah tidak mengejar ibu sih! Dia akan bunuh diri kalau tidak segera di cegah!" Protes Satria kesal dan berusaha mengejarku.


Aku terduduk di bawah pohon sambil memegang senjataku, kehadiran wanita itu membuatku sangat kesal dan bahkan ayah, kakak, dan suamiku sendiri memihak pada wanita itu dari pada perasaanku yang membuatku sangat sedih dan kesal.


"Ckckckck nampaknya ada yang sedang sakit hati nih!" Ucap seorang pria di atas pohon dan saat aku melihatnya ternyata dia adalah Han.


"Bukan urusanmu!" Ucapku dingin dan mengarahkan senjataku ke perutku.


"Bukan urusanku ya? Jika kau mati tanpa peperangan akan sangat tidak seru loh Sani Shin!" Ucap Han berdiri di depanku dan menatapku dingin.


"Aku tidak peduli dengan peperanganmu!" Gerutuku kesal dan menusuk senjataku di perutku.


"Uuuggghhh..." rintihku pelan.


"Ciiih kau masih saja suka bunuh diri ya Sani."


"Yaahh kebiasaanku tidak bisa aku rubah..." desahku pelan.


"Aku pikir di inkarnasi kali ini aku bisa memilikimu tapi kenapa aku selalu tidak mendapatkanmu?" Ucap Han pelan dan berjongkok di depanku yang membuatku muak.


"Heeehh memilikiku ya? Apa aku tidak salah dengar?" Ucapku dingin.


"Ya itu yang sebenarnya, kau dan aku selalu berbeda keinginan dan juga berbeda jalan membuatku sangat muak Raelyn Valentina!" Ucap Han mendekatkan wajahnya di depanku.


"Raelyn!!!" Teriak beberapa orang di belakangku dengan kencang.


"Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi incaran musuh Raelyn Valentina..." bisik Han pelan dan pergi meninggalkanku sendirian.


"Raelyn! Astaga kau tertusuk!" Ucap Valentino terkejut dan langsung menarik senjata itu dari perutku.


"Kamu tidak apa sayang?" Tanya Valentino menggendongku tapi aku hanya terdiam menahan sakit.


"Valentino bagaimana Raelyn?" Tanya Raelan di samping kami dan Valentino segera membawaku pergi menjauh.


"Dia dilukai musuh dengan pedangnya sendiri dan lukanya dalam."


"Terluka? Bagaimana bisa?" Tanya Raelan mengikuti Valentino dari belakang.


"Entah aku tidak tahu."


"Valentino kau tahu dimana... Eeehh astaga Sani! Kau kenapa bisa-bisanya bunuh diri!" Protes Fadil yang berdiri di depanku dengan tatapan serius.


"Bunuh diri?" Tanya Valentino dan Raelan terkejut.

__ADS_1


"Ya, kita harus segera mengobatinya, racun di pedangnya adalah racun yang langka!" Ucap Fadil dingin dan Valentino segera membawaku pergi sedangkan aku hanya terdiam memejamkan kedua mataku ini.


__ADS_2