Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 95 : Diobati Ray


__ADS_3

Ciiitttt...ccciiittt...


Terdengar suara burung yang terdengar kuat di telingaku, aku membuka kedua mataku dan melihat tangan kananku dan kaki kananku membiru, aku mencoba menggerakkannya dan benar-benar terasa kaku.


"Haaah ya sudahlah..." desahku menatap laut yang masih terlihat sangat gelap sedangkan langit semakin lama semakin terang menyerangi bumi.


Karena tidak bisa melakukan apapun, aku hanya terdiam menatap laut dari pagi sampai ke petang dan kembali ke pagi lagi dan balik ke petang hari berikutnya. Selama dua hari lebih aku hanya terdiam tanpa makan tanpa melakukan apapun dan hanya menatap laut di depanku. Tangan dan kakiku semakin lama semakin membiru dan benar-benar kaku untuk aku gerakan. Aku tidak mengharapkan bantuan, yang aku harapkan hanya ajal yang segera menjemput saja.


"Haaah... Uuuhhhuukkk...uuhhhuukkk..." desahku terus terbatuk-batuk.


"Ternyata sedikit menyakitkan ya..." desahku kembali menutup kedua mataku, entah kenapa tapi sakitnya semakin lama semakin menyakitkan.


"Tunggu...sepertinya dia Sani!!" teriak seorang pria di belakangku, tanpa memperdulikannya aku hanya terdiam memejamkan kedua mataku.


"Eehh tangan dan kakinya membiru, jangan bilang...Sani!! Sani!! Kau masih hidup kan!! Heei dengar teriakku tidak!!" teriak Fadil menggoyang-goyangkan tubuhku, tapi tidak aiu pedulikan. "Astaga kenapa mereka tahu aku ada disini sih!" gerutuku dalam hati.


"Sanii jawab Sani!!" teriak Fadil kencang sambil terus menggoyang-goyangkan tubuhku, aku membuka mataku dan menatap Fadil dingin.


"BERISIK!" gerutuku dingin.


"Kau...kau masih hidupkan? Astaga syukurlah!!" teriak Fadil memelukku erat.


"Syukurlah kamu masih hidup.." gumam guru Rendi tersenyum kearahku.


"Haish kenapa kalian tahu aku disini sih!" gerutuku kesal.


"Kau memang sengaja meninggalkan lencanamu dan handphonemu agar tidak ada yang menemukanmu kan?" ucap Guru Rendi dingin.


"Memang, kan sudah aku bilang....aku memang ingin mati,"


"Kamu kira semua orang mengizinkanmu mati dengan mudah?" gerutu guru Rendi dingin.


"Lalu kenapa juga...kayak gak ada yang lebih hebat dari pada aku saja..." desahku kembali memejamkan kedua mataku.


"Kenapa perbannya kamu lepas!" protes Fadil kesal.


"Karena ingin saja, lalu kenapa?"


"Perban itu untuk menghalangi racun menyebar cepat tahu!" gerutu Fadil kesal, Fadil mengambil sebuah obat dan air dari dalam tas kecilnya.


"Minumlah!"


"Gak mau!"


"Sani, nanti kau mati tahu!"


"Biarlah!"


"Kau ingin Ray bersedih dan merasa bersalah karena membunuh istrinya sendiri!" ucap guru Rendy dingin, aku menatap kebelakang dan melihat Ray yang sedang menundukkan kepalanya dengan mata Ray yang begitu sembab.


"Ohh...mmm..." desahku kembali menutup mataku.


"Cepetan minum obat tahu!" gerutu Fadil kesal.


"Aku pengen kak Ray yang memberikanku obat dan kalian berdua pergilah!" ucapku membuka mataku dan menatap matahari yang kembali terbenam.


"Kau kira aku akan meninggalkan kalian berdua lagi!" gerutu Fadil dingin.


"Fadil, biarkan...kita awasi dari jauh saja..." gumam guru Rendi menarik Fadil menjauh.


"Tapi guru kalau Sani terluka lagi bagaimana? Astaga guru dengarkan aku!" protes Fadil dari jauh.

__ADS_1


Kini hanya tinggal aku dengan Ray yang terus terdiam sambil terdengar sesenggukan pelan. Aku menghela nafas dan berusaha berdiri tapi rasa nyeri yang tidak tertahankan terasa di tubuhku.


"Aaauuuu..." rintihku pelan.


"kamu tidak apa? Eehh..." tanya Ray khawatir.


"Ti...tidak apa kok..." desahku pelan dan Ray kembali menundukkan kepalanya.


"Kamu gak mau ngasih obat padaku?" tanyaku pelan.


"Obat apapun tidak akan berguna, aku yang harus menghisap lagi racun itu...tapi aku tidak begitu yakin dan lagi...aku tidak mau membuatmu terluka lagi, aku takut kamu tidak percaya padaku lagi..." gumam Ray pelan.


"Ya mau mengobatiku atau tidak itu keputusanmu, lagi pula aku juga tidak masalah kalau harus mati. Aku anggap aku sudah menebus kesalahanku telah membiarkan Satria kecilku mati ditangan Han."


"Kenapa kamu ngomong seperti itu!" protes Ray menatapku serius.


"Ya itu kenyataannya, aku juga tidak mau Satria kesepian sendiri di surga."


"Tapi kamu punya Pangeran!"


"Aku tidak masalah, ada kamu yang menjaga Pangeran jadi aku tidak masalah...uuhhuuukkk...uuuhhhuuukkk..." gumamku terus terbatuk-batuk.


"Ka...kamu batuk darah?" gumam Ray terkejut.


"Tidak apa...aku...uuggghhhh..." rintihku pelan saat Ray kembali menggigit leherku dengan kuat.


"Hmmm..." desahku menutup kedua mataku sambil menahan rasa sakit. Aku benar-benar lelah dan masuk angin selama dua hari lebih terkena angin laut dan tidak makan atau minum sama sekali.


"Sani...kenapa jantungmu begitu lemah?" tanya Ray pelan tapi aku hanya terdiam.


"Sani...kamu kenapa hanya terdiam? Sani!!" teriak Ray menggoyangkan tubuhku kuat.


"Sani!! Bangun!!" teriak Ray terus menggoyangkan tubuhku, aku membuka mataku dan melihat Ray yang menangis.


"Kamu lapar?" tanya Ray pelan.


"Lumayan, aku tidak makan dan minum dua hari..." gumamku pelan.


"Hmmm..." desah Ray menjentikkan tangannya dan tercium aroma makanan yang sangat lezat, aku membuka mataku dan melihat makanan di tangan Ray. Aku menatap tangan dan kakiku sudah benar-benar tidak membiru sama sekali yang membuatku sedikit terkejut, ya walaupun tangan dan kakiku masih terasa kaku.


"Makan dulu ya..."


"Siapa yang buatin ini?" tanyaku pelan.


"Mmm a..aku...aku membuatnya sebagai permintaan maafku padamu karena sudah melukaimu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan demi membalas kesalahanku yang ceroboh dan membuatmu terluka..." gumam Ray pelan, aku membuka mulutku yang membuat Ray terkejut.


"Kamu...kamu tidak takut memakan makanan buatanku?" tanya Ray menatapku terkejut.


"Tidak, aku biasa saja kok..." gumamku pelan, Ray menyuapiku dan sesekali menatapku khawatir.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyaku pelan.


"A...aku takut kamu tidak suka setelah aku...


"Makananmu enak kenapa juga aku tidak suka? Kalaupun aku mati karenamu aku tidak keberatan kok, aku berpikir saja mungkin cara ini yang diinginkan ayahku untuk membunuhku..." gumamku pelan.


"Ti...tidak seperti itu Sani, tidak mungkin ayahmu melakukan hal itu! Kamu tahu kan di pesannya saja menuliskan namamu."


"Aku tahu tapi itu sekarang, kalau yang dulu..."


"Ya memang, ayahku meminta bantuan ayahmu untuk membiayai semua biaya ayah selama melakukan percobaan kepadaku, sebenarnya aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi padaku saat kecil, aku hanya tahu dan ingat kalau keluargaku membenciku sejak kecil dan aku terikat gadis lemah dari keluarga Shin saja. Mendengar fakta dari bawahanku tentang masa laluku membuatku sedih dan aku tidak bisa mengatur emosiku jadinya malah aku melukaimu..." gumam Ray kembali menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dan ikatan kontrak kita dan pernikahan kita sebagai jaminan keluarga Khun agar aku tidak pergi darimu dan agar aku selalu menjagamu yang lemah di masa kecilmu..." gumam Ray pelan. Suara perut Ray yang berbunyi membuatku terkejut. "Apa dia tidak makan juga?" gumamku dalam hati.


"Oh begitu ya..." desahku berbaring di kaki Ray.


"Eeh makanlah lagi..."


"Tidak, aku sudah kenyang. Kamu makanlah, kamu belum makan juga kan."


"Tapi kan..."


"Makan saja tidak apa, aku sudah kenyang kok...tanganku masih kaku jadi aku tidak bisa menyuapimu..." gumamku menutup kedua mataku.


"Mmmm baiklah..." desah Ray mengusap lembut rambutku.


"Kamu tidak makan?"


"Nanti saja."


"Makanlah, kamu ingin aku marah karena kamu tidak makan!" gerutuku dingin.


"Ba...baik-baik aku akan melakukannya..." gumam Ray makan dengan lahap, melihat Ray makan membuatku sedikit tenang dan aku kembali memejamkan kedua mataku. Aku benar lelah jadi aku ingin tidur untuk sebentar saja.


"Sayang...maaf ya aku melukaimu dan membuatmu merasakan racunku..." gumam Ray pelan tapi aku hanya terdiam.


"Sayang...kamu tidak apa kan?" tanya Ray khawatir.


"Sayang!!" teriak Ray menggoyangkan tubuhku dengan kuat.


"Aku ingin tidur, ada apa?" tanyaku dingin.


"Hmmm kamu membuatku khawatir tahu..." desah Ray pelan.


"Ada apa?" tanyaku pelan.


"Maafkan aku yang sudah melukaimu dan membuatmu merasakan racunku..." gumam Ray menatapku serius.


"Ya, tidak masalah."


"Kamu tidak marah dan dendam padaku?"


"Tidak, aku biasa saja."


"Tapi kan aku sudah membuatmu hampir kehilangan nyawamu!"


"Kamu ingin aku membencimu?" tanyaku serius.


"Tidak, aku...aku tidak ingin istriku membenciku juga. Aku sudah capek sendirian, aku memilikimu yang mau menerimaku yang seperti ini saja benar-benar membuatku sangat senang."


"Aku...aku sebenarnya tidak ingin kamu melihatku yang benar-benar lemah ini, aku tidak ingin kamu melihat bagaimana aku menangis dan marah, aku tidak ingin kamu melihat betapa tidak bergunanya aku. Aku berusaha agar aku bisa kuat, aku berusaha agar aku bisa melindungimu, aku berusaha agar aku bisa menutupi semua kekuranganku. Tapi...aku...aku malah membuatmu terluka, aku malah membuatmu takut kepadaku, aku malah membuatmu membenciku...aku...aku..." gumam Ray kembali meneteskan air matanya. Karena aku belum bisa menggerakkan menggerakkan tangan dan kakiku, aku hanya menggerakkan kepalaku yang membuat Ray mengusap air matanya dan tersenyum ke arahku.


"Aku tidak peduli kekuranganmu, walaupun aku keracunanpun itu memang sudah resikoku sebagai istrimu dan sebagai stok kantong darahmu. Aku menerimamu apa adanya, aku sendiri juga lemah jadi jangan permasalahkan apapun kekuranganmu, mau menangis di depanku mau marah didepanku tidak akan membuatku takut padamu Kak Ray...aku sudah terbiasa denganmu jadi jangan bersedih seperti itu..." gumamku pelan.


"Hmmm..." desah Ray terus tersenyum ke arahku.


"Kenapa kamu dari tadi tersenyum kearahku?" tanyaku pelan.


"Hanya senang saja, aku benar-benar bersyukur memilikimu istriku..." gumam Ray mengusap rambutku lembut.


"Begitu ya..." aku memejamkan kedua mataku.


"Kamu mengantuk sayang?"

__ADS_1


"Ya...sedikit," gumamku memejamkan mataku dan tertidur di pangkuan Ray.


Gara-gara Ray mengambil racunnya yang ada ditubuhku membuat tubuhku terasa sangat lelah dan mataku benar-benar tidak bisa terbuka sama sekali jadi aku mau tidak mau harus tidur.


__ADS_2