Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 64 : Pagi Bersama Ray


__ADS_3

Suara bunyi kapal yang membangunkanku, aku membuka mataku dan melihat wajah Ray yang sangat tampan berbeda dengan wajahnya yang semalam, aku menekan lembut pipinya yang membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Pagi istriku sayang.." gumam Ray menatapku yang membuatku terkejut.


"Eeehh mmm maaf aku membangunkanmu." gumamku menyembunyikan wajahku.


"Tidak kok, aku sudah bangun dari tadi kok sayang."


"Oh mmm, ka..kak Ray, kenapa aku merasa wajahmu berbeda dengan yang semalam?"


"Kenapa? Apa wajah asliku jelek?"


"Tunggu dulu, wajah asli?" tanyaku terkejut.


"Ya, aku menggnakan topeng wajah palsu dimanapun dan hanya kamu, Soni dan kedua adikku yang bodoh yang tahu wajah asliku. Apa wajah asliku terlihat jelek?"


"Ti...tidak kak Ray, wa...wajahmu sangat...tampan..." gumamku menatap Ray dengan wajah memerah.


"Oh benarkah? Apa kamu hanya menghiburku?"


"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Mmm padahal wajahmu tampan kenapa kamu memakai topeng?" tanyaku pelan.


"Aku ketua umum organisasi mafia bayangan, identitas kami tidak ada yang tahu bahkan keluarga besar atau pasangan sendiri apalagi kami melakukan aktifitas kami dalam bayangan orang-orang sekitar. Ya kamu pasti tahulah masalah itu sayang."


"Tapi kenapa kamu menunjukkan wajah aslimu kepadaku?" tanyaku terkejut.


"Karena kamu istriku dan aku sudah berjanji kepada Soni kalau aku akan menunjukkan wajah asliku kepadamu."


"Seharusnya jangan kamu bertahukan kepadaku."


"Memangnya kenapa?"


"Nanti bagaimana kalau aku jatuh cinta kepadamu?" tanyaku dengan wajah memerah.


"Ya baguslah, apalagi nantinya kamu akan mengandung anakku pastinya anak kita akan cantik dan tampan seperti kita..." gumam Ray dengan wajah merahnya.


"Mmm ya semoga saja..." desahku beranjak dari tempat tidurku.


"Sebentar, aku mau mandi dulu.." gumamku segera mandi pagi segera memakai pakaianku.


"Tunggu...bukannya aku hanya memiliki satu pakaian lagi disini ya? kenapa disini ada banyak pakaian dan mewah?" gumamku memilah pakaian yang terlihat mewah bagiku.


"Itu pakaian untukmu sayang, pakai saja manapun yang kamu inginkan."


"Apa kamu menyiapkannya?" tanyaku pelan.


"Ya, mulai saat ini kemanapun kamu pergi tidak perlu membawa pakaian, aku akan menyiapkannya untukmu."


"Tidak perlu repot-repot kak Ray, aku..."


"Panggil aku suami..." gumam Ray dingin.


"Eeeh mmm maaf..." gumamku pelan, menatap wajah aslinya kalau terlihat marah sangat menakutkan bagiku.


"Hmmm sayang dengar, kamu istriku dan ak suamimu jadi aku harus membahagiakanmu. Aku tidak mau permaisuriku terlihat lusuh, apa kamu mengerti?"


"Ba..baik, mmm terimakasih sayang." gumamku pelan.

__ADS_1


"Tidak masalah, apapun yang kamu inginkan katakan saja tidak perlu ragu.."


"Ya mmm baiklah." desahku mengambil salah satu gaun pakaian di depanku dan pergi keruang ganti. "Haish ya sudahlah lakukan saja Sani yang terpenting mereka tidak tahu alasanmu disini kenapa." gumamku dalam hati.Aku segera menggunakan pakaian itu dan keluar ruang ganti.


"Bagaimana menurutmu?" tanyaku pelan.


"Kenapa kamu memakai rok pendek?" tanya Ray serius.


"Ini tidak terlalu pendek, kalau terlalu panjang takutnya aku tidak bisa berjalan lagi pula dansanya sudah kemarin hari ini malam terakhir kan makanya aku pakai ini saja, jadi bagaimana menurutmu?"


"Ya kalau kamu nyaman tidak masalah, kamu malah terlihat sangat cantik istriku..." gumam Ray memelukku erat.


"Oh benarkah? Terimakasih atas pujiannya suamiku."


"Tidak masalah, kamu mau sarapan?"


"Tidak, aku tidak pernah sarapan."


"Lalu kamu sehari makan berapa kali?"


"Ya mungkin susu dan roti seharinya dan kalau ada wine aku paling minum wine."


"Pola makanmu sangat buruk ya istriku."


"Aku terbiasa makan dikit semenjak kematian keluargaku aku tidak nafsu makan lagi."


"Tapi kamu harus makan sayang, tubuhmu benar-benar kurus. Aku kira gaun-gaun itu akan tidak muat kepadamu tapi Soni bilang kamu sangat kurus dan pasti muat, ternyata kamu benar-benar sangat kurus istriku."


"Aku memang kurus, bertahun ini aku tidak suka makan."


"Kalau kamu tidak suka makan, kenapa kamu datang ke pesta di kapal mewah ini? Semua orang datang hanya ingin merasakan makanan mewah yang gratis disini."


"Urusan apa itu istriku sayang?"


"Kamu tidak perlu tahu."


"Aku suamimu jadi beritahu aku!" gerutu Ray memelukku erat sambil menatapku dingin.


"Ba...baiklah, tapi setelah urusanku selesai bagaimana?"


"Kenapa kamu tidak memberitahukannya sekarang?"


"Kalau aku mengatakannya sekarang takutnya ada mata-mata di sekitar sini, jadi nanti saja ya suamiku sayang..." gumamku menjinjitkan kakiku dan mencium Ray.


"Haish baiklah, lagi pula kamu akan terus bersamaku juga..." gumam Ray mengusap rambutku lembut.


"Oh ya sayang mari kita pergi."


"Pergi kemana?" tanyaku terkejut.


"Kan kamu memiliki janji dengan kakak tirimu, jangan buat dia marah."


"Oh mmm ya baiklah..." desahku pelan.


"Sebelum itu kamu harus makan dulu."


"Tidak mau."

__ADS_1


"Haish, sayang... kamu baru saja sembuh sakit jadi kamu harus banyak makan mengerti."


"Hmmm baiklah aku mengerti..." desahku mengalah.


"Baguslah," gumam Ray menggandeng tanganku pergi dari kamar.


Saat aku berada di dalam lift aku melihat Sino dan Fiyoni yang berdiri bersama dengan kedua adik tiriku. Melihat ada Sino dan Fiyoni di depanku, dengan cepat Ray memelukku sampai pintu lift tertutup.


"Kenapa?" tanyaku bingung.


"Aku hanya tidak ingin kamu masih memiliki rasa kepada adik kembarku yang bodoh itu."


"Hmmm...tenang saja, aku tetap milikmu suamiku..." gumamku menarik kerah pakaian Ray dan menciumnya lembut.


"Kamu sangat genit ya sayang..." gumam Ray kembali menciumku.


Tiba-tiba pintu lift terbuka dan semua orang yang ada di restoran terkejut melihat kami berciuman. Melihat pintu lift terbuka, Ray menggandeng tanganku menuju ke arah Soni yang sudah berdiri di depan pintu yang bertuliskan VVIP.


"Astaga mentang-mentang kalian sudah tidur bersama bisa-bisanya ciuman di depan umum!" sindir Soni dingin.


"Biarlah, dia istriku. Kau tahu sendiri kan aku sudah menunggunya selama bertahun-tahun."


"Salah kamu sendirilah, sudah aku bilang kalau adikku sekarang kuat dari pada yang dahulu kamu tidak percaya."


"Kan kamu tahu sendiri aku tidak mau punya istri yang lemah. Kalau misalnya Sani tidak kuat, cantik, dan pintar seperti Sani pasti aku sudah membunuhnya untuk memutuskan ikatanku dengannya." gumam Ray memelukku erat.


"Membunuhku?" gumamku terkejut.


"Ya memang, tapi tidak aku sangka kamu benar-benar melebihi ekspektasiku. Aku jadi sangat jatuh cinta padamu dan aku sangat mencintaimu istriku..." gumam Ray terduduk di sampingku sambil memelukku erat.


"Mmmm..." desahku pelan.


"Selamat datang kalian berdua, sekarang kalian jadi sangat romantis ya?" sindir Viu dingin.


"Makanya kau menikahlah biar bisa romantis dengan pasanganmu."


"Hilih kau jadi ngeselin ya semenjak dengan adikku yang cengeng itu!" gerutu Viu kesal.


"Tidak juga, aku masih sama seperti biasanya..." gumam Ray terus mengelus rambutku.


"Hmmm... oh ya bagaimana keputusanmu Sani?"


"Aku..."


"Hei biarkan dia makan dulu, dia belum makan dari kemarin tahu!" gerutu Ray dingin.


"Kamu belum makan sama sekali?" tanya Soni terkejut.


"Aku kemarin hanya makan selembar roti dan segelas susu kak Sino."


"Kamu tidak makan lagi?"


"Tidak, hanya meminum wine saja."


"Haish sudah aku katakan jangan banyak meminum wine, tidak baik buat kesehatanmu!"


"Aku memang tidak suka makan banyak dan kakak tahu akan hal itu..." gumamku pelan.

__ADS_1


"Ya sudah makanlah dulu habis itu berikan aku jawabanmu!" ucap Viu memanggil pelayan dan memesankan beberapa makanan.


Melihat makanan yang datang, Ray mengambil satu makanan di depanku dan menyuapiku, dengan perlahan Ray menyuapiku dan sesekali tersenyum kepadaku. Walaupun apapun yang dia inginkan harus terpenuhi tapi dia nampak seperti pria yang berusaha untuk membahagiakan istrinya. Aku menggenggam erat tangan tangan kiri Ray dan tersenyum ke arah Ray.


__ADS_2