
Karena merasa bersalah akhirnya ayah merawatku selama di rumah sakit, bisa di rawat ayah kandung membuatku sangat senang apapagi aku tidak pernah di perhatikan bahkan di mimpiku juga. Berminggu-minggu sudah aku di rumah sakit akhirnya aku di perbolehkan pulang dan ayah membawaku ke rumahnya dan aku tinggal disana.
Ayah sudah mendaftarkanku sebagai guru untuk pangeran ke tujuh di kerajaan Arre dan mereka menyetujuiku untuk menjadi guru di sana bahkan menjadi guru pribadi pangeran ke tujuh, hari ini ayah mengantarkanku ke kerajaan Arre sedangkan Fadil akan melakukan tugas lainnya dan tinggal bersama ayah dan kedua kakakku.
"Disana kamu harus hati-hati anakku, jangan sampai kamu melakukan kesalahan apapun. Mereka tidak akan memberikan toleransi apapun jika kamu melakukan kesalahan!" Ucap ayah serius.
"Baik ayah."
"Oh ya jangan lupa, jangan beritahu siapapun tentang tugasmu!"
"Baik ayah, aku tahu kok..." gumamku pelan.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa kabari ayah ya."
"Baik ayah..." gumamku pelan dan ayah pergi meninggalkanku, aku menghela nafas dan berjalan masuk ke dalam kerajaan di temani seorang penjaga gerbang yang bertubuh kekar.
Didalam istana sudah hadir beberapa orang bahkan di antara mereka aku melihat seorang pria berwajah seperti Saputra yang duduk dengan wajah dingin yang khasnya dengan topeng wajah menutupi sebagian wajahnya.
"Apa dia Saputra? Apa mimpiku benar-benar terjadi ya?" gumamku dalam hati.
"Apa kamu Raelyn Valentina Shin?" Tanya seorang pria paruh baya di depanku.
"Iya, saya Raelyn..." gumamku pelan.
"Oh baiklah, apa kau akan menjadi guru dari Raechan?" tanya pria paruh baya itu serius.
"Raechan?" Tanyaku terkejut.
"Ya dia pangeran ke tujuh."
"Oh mmm i-iya benar tuan."
"Dia ada di dalam, dia pria yang aneh jadi kamu harus hati-hati..." gumam pria itu menunjukan sebuah pintu dengan wajah serius.
"Oh mmm baik tuan..." gumamku menundukkan kepalaku, disaat aku kembali menegakkan badanku aku melihat Raechan yang berjalan duduk di kursinya yang membuatku terkejut.
"Raechan kan disini?" gumamku dalam hati.
"Barang-barangmu biar mereka yang membawanya, kamu langsung saja ke ruangannya..." gumam pria itu serius dan dua wanita langsung merebut tas pakaianku lalu berjalan pergi yang membuatku bingung.
__ADS_1
"Silahkan datangi Raechan..." ucap pria itu serius yang membuatku segera berjalan ke sebuah pintu di depanku.
"Astaga, kalau dia Raechan lalu... seperti apa Raechan yang sesungguhnya..." gumamku pelan, aku membuka pintu ruangan dan melihat seorang pria bertopeng sedang membaca sesuatu di tangannya.
"Mmm permisi tuan muda, s-saya Raelyn... saya yang akan menjadi guru pribadi anda..." gumamku pelan dan pria itu menutup bukunya sambil menatapku serius, melihat tatapannya saja benar-benar membuatku merinding.
"Guru ya? Apa kau ingin mati di tanganku?" Ucap pria itu serius yang membuatku bingung.
"Eehh? Apa maksudnya?" gumamku dalam hati.
"Jawab!" Ucap pria itu kesal
"Eehh hmmm kalaupun saya mati di tangan seorang pangeran tidak akan masalah buatku lagi pula saya akan merasa terhormat jika bisa mati di tangan anda..." gumamku menundukkan badanku dan berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Oh..." desah pria itu kembali membaca bukunya dan kami kembali terdiam tanpa kata beberapa menit sampai akhirnya pria itu menutup bukunya kembali.
"Apa yang akan kau ajarkan padaku?" Ucap pria itu pelan.
"Apapun yang tuan muda inginkan, saya akan ajarkan."
"Kalau begitu... ajarkan aku bertarung."
"Bertarung?"
"Baiklah, tuan muda ingin kapan dimulainya?"
"Sekarang saja..." gumam pria itu berjalan mendahuluiku.
Di sebuah halaman yang berada di belakang kerajaan aku mengajari pria itu dengan serius, melihat tingkahnya terlihat dia itu Saputra tapi aku tidak mengerti kenapa dia dipanggil dengan nama Raechan. "Dia terlihat sangat hebat tapi kenapa dia menutupi kemampuannya ya?" gumamku menatap pria itu yang sedang berlatih.
"Aaduuuhhh!!" Rintih pria itu terjatuh yang membuatku terkejut.
"Eehhh tuan muda.." gumamku membantu pria itu berdiri.
"Tuan muda tidak apa?" Tanyaku pelan.
"Tidak, aku hanya sedikit melamun."
"Kalau begitu anda istirahat saja dulu tuan muda..." gumamku pelan dan pria itu terduduk di bawah pohon sambil memegang pedang di tangannya, tatapannya terlihat sedih yang membuatku terduduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa tuan muda bersedih? Apa saya tidak cocok menjadi guru anda? Kalau tidak maka..."
"Tidak kok, aku hanya... meratapi nasibku saja."
"Meratapi nasib?" Tanyaku bingung.
"Ya, aku pria yang tidak berguna dan..."
"Dan?" Tanyaku serius.
"Eehhhh tidak kok, ya udah aku berlatih lagi..." gumam pria itu kembali berlatih, aku yang masih terduduk di tanah bingung dengannya.
"Siapa sebenarnya pangeran ke tujuh ini ya? Lalu..." gumamku menatap beberapa pangeran yang berjalan di taman bersama pria paruh baya tadi.
"Dimana Saputra yang sebenarnya?" Gumamku pelan.
Selama pria di depanku ini berlatih, aku hanya mengamatinya dan sesekali mengajarinya jika dia melakukan kesalahan. Walaupun bukan mimpi tapi aku ingat bagaimana Saputra dulu mengajariku bertarung dan bertahan hidup di hutan terlarang saat aku masih kecil. Saputra terus mengajariku sampai malam dan bahkan setelah mengajariku dia tidak pernah tidur dan lebih memilih menjagaku di malam sunyi, yaah walaupun itu sudah berlalu tapi masih aku ingat di pikiranku.
"Raelyn!" Panggil seseorang di sekitarku, suara khas Saputra yang memanggilku membuatku terkejut, aku menatap sekitarku dan tidak menemukan siapapun.
"Raelyn!" Panggil pria didepanku dengan kencang yang membuatku terkejut.
"Eeehh hmmm i-iya tuan muda..." gumamku pelan.
"Hari sudah malam, istirahatlah..." gumam pria itu berjalan pergi.
"Oh mmm tapi aku tidak tahu dimana kamarku?"
"Kamarmu memiliki tulisan namamu di pintu dan kamarmu berada di lantai dua."
"Oh mmm terimakasih tuan muda... "gumamku pelan dan berjalan menuju kamarku. Sesampainya di kamar aku langsung mengunci pintu kamar dan merebahkan tubuhku.
"Aahh capeknya..." desahku pelan.
"Dekorasi kamar ini mirip dengan yang ada di mimpiku ya? Apa ini sebuah kebetulan?" gumamku pelan dan memejamkan kedua mataku.
Belum sampai aku tertidur, aku merasa ada seseorang yang berjalan kearahku. Aku membuka mataku dan terkejut ternyata ada pembunuh bayaran yang mencoba membunuhku, aku segera menangkis serangannya dan membunuhnya langsung tanpa basa basi.
"Pembunuh bayaran? Bagaimana bisa ada pembunuh bayaran ya? Alasannya.... Apa karena aku orang asing di kerajaan Arre ini? Atau karena aku guru dari pangeran ke tujuh ya?" gumamku pelan, aku menarik tubuh pembunuh bayaran itu dan melemparnya melewati balkon. Setelah aku akan kembali ke dalam kamar, aku melihat pria bertopeng tadi duduk dengan santai di antara beberapa mayat di sekitarnya.
__ADS_1
"Tunggu... d-dia juga? Tapi kenapa dia berlagak biasa saja? Aneh..." Gumanku pelan dan kembali berjalan di kamar dan menatap langit-langit kamar lagi.
Melihat kejadian itu membuatku terkejut, kejadian yang aneh dan membuatku sangat penasaran. Aku benar-benar ingin tahu, apakah mimpiku itu kenyataan atau tidak? Kalau tidak... Tapi kenapa hampir mirip? Dan kenapa ada pembunuh bayaran di kerajaan yang ditakuti seluruh mafia ini.